menu melayang

Selasa, 25 Juni 2024

Panduan Praktis Daurah Rekrutmen

 Panduan Praktis Daurah Rekrutmen


 Mengelola banyak orang merupakan kegiatan yang memerlukan keterampilan dan kesabaran yang besar. Terlebih lagi mengelola kegiatan daurah yang terdiri dari berbagai macam orang dengan latar belakangnya yang berbeda-beda. Apalagi untuk diarahkan kepada nilai-nilai kebaikan, aktifitas ini memerlukan keterampilan tersendiri. 


Kegiatan daurah sering kali menjadi sarana awal untuk memperkenalkan kepada banyak orang tentang nilai-nilai Islam yang selanjutnya dihimpun dalam kegiatan rutin berupa taklim (halaqah). Oleh karena itu diperlukan kiat dan keterampilan untuk mengefektifkan kegiatan tersebut sehingga menjadi produktif (muntijah) dan optimal. 


Berikut ini panduan praktis dalam mengelola Daurah Rekrutmen dari berbagai pengalaman yang pernah dilakukan selama ini: 


 


I.                  Sebelum Pelaksanaan Daurah


1.      Buat undangan/pamplet. Membuat berbagai pamplet/undangan untuk mengikuti kegiatan daurah dengan beraneka ragam nama, seperti: SWITER (Studi Wisata Islam Terpadu), TAKSI (Ta'aruf Singkat Studi Islam) dll. Nama-nama ini diupayakan agar lebih menarik dan familiar sehingga tidak asing bagi masyarakat yang belum tersentuh dengan kegiatan keislaman.


2.      Isi pamplet yang jelas, mudah dipahami, singkat dan padat. Isi pamplet/undangan dapat memperjelas orang untuk dapat mengikuti kegiatan tersebut. Misalnya berisi acara/kegiatan apa yang akan dilaksanakan, tempat kegiatannya yang menarik, mata acara yang akan disajikan dan keuntungan yang dapat diperoleh ketika mengikuti kegiatan tersebut. 


3.      Dakwah Fardiyah. Mengajak orang perorang untuk ikut serta dalam kegiatan tersebut. Bisa pendekatan kenalan pribadi, teman lama, teman wilayah sekitar, alumni suatu lembaga atau pendekatan lainnya. 


4.      Menawarkan kerja sama. Kerja sama dengan lembaga yang juga akan melaksanakan kegiatan daurah bagi pegawai/siswa/karyawannya. Mereka yang akan menyediakan calon peserta atau menjadi sponsor kegiatan tersebut. Penawaran ini dapat dilakukan dengan intens dan profesional sehingga menarik simpati lembaga untuk turut serta berpartisipasi.


5.      Persiapan yang matang. Mempersiapkan berbagai sarana keperluan untuk daurah, baik tempat, perlengkapan acara, transportasi, denah atau keperluan lainnya. Persiapan ini penting sekali dilakukan sejak awal agar kegiatan tersebut berlangsung dengan baik dan memuaskan banyak pihak. Bila perlu selalu dievaluasi sejauh mana kesiapan yang sudah dimiliki panitia maupun peserta.


6.      Penjelasan agenda acara. Menyampaikan agenda acara kepada peserta agar mereka mempersiapkan diri untuk mengikuti kegiatan tersebut. Dengan kesiapan peserta sejak awal mereka akan dapat memahami alur pelaksanaan daurah yang akan dilaksanakan. 


7.      Muwajih. Menghubungi para muwajih yang akan menyampaikan materi dalam acara tersebut. Kemudian dapat ditindak lanjuti dengan membuat kesepakatan materi apa yang akan disampaikan, pada waktu kapan materi akan disampaikan serta kesepakatan kedatangan muwajjih apakah akan dijemput atau datang sendiri.


 


 


 


II.               Saat Pelaksanaan


1.      Buat jadwal. Membuat jadwal kegiatan serinci mungkin tentang kegiatan yang akan berlangsung agar acara dapat tersusun dan terealisir dengan baik. Perlu juga menyiapkan alternatif acara bila ada sesuatu yang di luar perhitungan. Misalnya keterlambatan waktu akan menggeser acara yang telah disusun. Atau bila muwajih tidak hadir, maka perlu dicarikan pengganti atau memunculkan acara lainnya.


2.      Mengelompokkan peserta. Pengelompokkannya diberi nama/sebutan dengan nama-nama Islam agar mengakrabkan mereka dengan Islam dan mendorong mereka supaya memahami Islam lebih mendalam, seperti nama-nama para sahabat atau peperangan dalam sejarah Islam. Bila dipandang perlu pengelompokkannya dari berbagai macam latar belakang peserta. Hal ini diharapkan agar sesama peserta dapat saling mengenal yang kemudian menjadi akrab dan berukhuwah. Pengelompokkan ini pun untuk pembagian tugas dan kerja. Seperti  adanya pembagian kerja untuk merapikan tempat, perlengkapan acara, peralatan makan maupun peralatan lainnya sehingga mereka terbangun amal jama'i sesamanya. 


3.      Buat tata tertib. Menyampaikan tata tertib acara agar dapat berlangsung dengan baik dan optimal hasilnya. Penyampaian ini dapat dilakukan sebijak mungkin sehingga tidak terkesan memaksa dan membelenggu kebebasan peserta. Sebaiknya tata tertib tersebut menjadi kesepakatan bersama antara panitia dan peserta untuk mendapatkan manfaat dan kemaslahatan bersama dari acara tersebut. 


4.      Mendampingi muwajih. Penyampaian materi dari seorang muwajih agar didampingi panitia. Hal ini untuk menambah pengetahuan dan kepahaman panitia bila ada pertanyaan yang muncul dari peserta sementara muwajihnya sudah tidak ada di tempat, panitia dapat memberikan jawaban. Di samping itu untuk memantau jalannya acara dan perhatian peserta terhadap materi tersebut. Panitia yang mendampingi muwajih juga dapat mengingatkan muwajih mengenai batasan waktu penyampaian agar tidak terlalu panjang.    


5.      Tugas membuat kesimpulan. Menugaskan peserta untuk membuat kesimpulan setiap materi. Setelah selesai penyampaian setiap materi peserta diminta untuk mengumpulkan kesimpulan dari materi tersebut. Dengan tugas ini panitia dapat memperhatikan tingkat keseriusan peserta mengikuti acara tersebut.


6.      Penghargaan kepada peserta. Panitia memberikan hadiah bagi peserta yang serius dan antusias dalam mengikuti setiap mata acara sebagai penghargaan bagi mereka. Hadiah yang diberikan tidak perlu mahal dan mewah.


7.      Kultum di setiap ba'da shalat berjamaah. Setelah selesai melaksanakan shalat berjamaah salah seorang peserta yang telah ditunjuk memberikan kuliah tujuh menit (kultum) dengan berbagai materi. Mungkin peserta akan menyampaikan pengalaman hidupnya atau masalah yang lainnya yang aktual. Hal ini untuk melatih mereka memberanikan diri menyampaikan ide dan gagasannya. 


8.      Makan secara bersama-sama. Saat waktu makan diupayakan agar dapat makan secara bersama-sama, apakah dalam satu nampan, dalam ruang yang sama atau berkumpul bersama. Makan dengan cara ini akan menambah ikatan kekeluargaan dan persaudaraan serta menghilangkan rasa jijik terhadap kawannya. Sering dulu ada istilah nampan daurah karena dipakai pada saat makan di kegiatan daurah. Ada pula istilah krupuk daurah, krupuk yang pinggirannya berwarna-warni, krupuk ini sering sekali dijumpai saat daurah. 


9.      Acara selingan. Bila waktu peserta dalam keadaan letih diupayakan melakukan penyegaran dengan acara selingan misalnya nasyid, game, dialog atau rehat sebentar untuk menyegarkan kembali badan yang letih atau mengantuk. 


10.  Ronda malam. Saat malam peserta dari kelompoknya masing melakukan tugas ronda malam dengan membagi tugas jam jaga untuk masing-masing orang. Pembagian tugas jaga malam (ronda) sejak mata acara terakhir di malam hari selesai hingga saat qiamulail tiba.


11.  Qiamulail. Waktu malam peserta dibangunkan untuk melaksanakan shalat malam (qiamulail) baik secara berjamaah maupun sendiri-sendiri. Pelaksanaan ini sebagai stimulant agar di rumah para peserta dan panitia terbiasa melaksanakannya. Di samping itu acara ini untuk bermuhasabah atas perbuatan diri yang banyak kekeliruan dan kelemahan.


12.  Olah raga. Setelah Subuh peserta diharapkan mengikuti kegiatan olah raga bersama. Olah raga untuk menyegarkan dan menyehatkan badan.


13.  Muhasabah. Di malam akhir acara melakukan muhasabah atas amal yang telah dilakukan. Muhasabah ini sebagai stimulant bagi peserta untuk selalu mengevaluasi diri. Bila dipandang perlu muhasabah dilakukan dengan menyentuh perasaannya yang halus untuk menyesali diri dari perbuatan buruk dan berjanji untuk melakukan berbagai perilaku yang baik.


14.  Penyampaian peserta terbaik. Panitia mengumumkan peserta yang terbaik mengikuti acara tersebut dan diberi penghargaan sebagai partisipasinya yang serius dan antusias. Sedapat mungkin semua peserta mendapatkan hadiah. Hal ini sebagai motivasi untuk menimbulkan gairah keislaman mereka.


15.  Pernyataan sikap. Sebelum berakhirnya acara masing-masing peserta diminta untuk menuliskan kesan-kesan mengikuti acara tersebut. Selanjutnya mereka diminta untuk membuat pernyataan sikap yang mengarah untuk kelanjutan acara tersebut setelah daurah itu selesai.


 


III.           Pasca Daurah


1.      Menghubungi peserta. Semua peserta agar dihubungi untuk mengikuti follow up kegiatan daurah tersebut. Panitia berupaya untuk mengetahui alamat masing-masing peserta agar dapat menghubungi mereka untuk mengikuti acara follow up dari kegiatan daurah yang baru dilaksanakan. 


2.      Pertemuan pertama. Mengadakan pertemuan pertama  bagi alumni peserta daurah. Pertemuan bisa dalam bentuk silaturahmi antar peserta atau ceramah umum atau bentuk lainnya sebagai sarana untuk mengumpulkan mereka pertama kalinya setelah daurah. Acara ini untuk menunjukkan bukti perhatian pengelola terhadap acara dan peserta yang mengikuti kegiatan tersebut. Pada pertemuan ini diusahakan untuk mengambil kesepakatan perlunya pertemuan rutin sebagai kelanjutan dari acara daurah yang lalu.


3.      Pertemuan rutin. Setelah disepakati oleh masing-masing peserta maka dilanjutkan dengan pertemuan rutin yang akan mengarahkan mereka pada taklim rutin berikutnya (halaqah).


Demikian panduan singkat, semoga dapat dijadikan bahan masukan dalam pengelolaan daurah rekrutmen. Selamat mencoba, semoga keberkatan dari Allah SWT. selalu menyertai amal kita. Amin.


 


 




Panduan Praktis Mengelola Halaqah


 


Mengelola halaqah diperlukan kesabaran yang besar, karena menghimpun banyak orang dengan berbagai problematikanya akan menghadapi aneka ragam kendala dan rintangan. Oleh karena itu mengelola halaqah perlu memperhatikan masalah-masalah yang akan meningkatkan kualitas penyelenggaraan halaqah. Berikut ini panduan praktis mengelola halaqah sebagai berikut : 


 


Melaksanakan agenda halaqah setiap pekan yang pokok, semaksimal mungkin dilakukan secara tertib adalah sebagai berikut:


1.       Iftitah (pembukaan) bisa berupa taujih (pengarahan) dari murabbi atau sekilas info berupa analisis masalah dakwah atau kejadian-kejadian yang actual di masyarakat.


2.       Infaq, kotak infaq (sunduq infaq), diedarkan di awal acara selagi konsentrasi para peserta halaqah masih penuh, karena jika diakhir acara dikhawatirkan konsentrasi sudah buyar, ada saja yang lupa atau peserta-peserta sudah telanjur bubar.


3.       Tilawah dan tadabur. Hendaknya ditunjuk koordinator yang mengawasi yang dipilih dari peserta halaqah yang paling baik bacaannya. Hendaknya semua menyimak dan dilanjutkan bersama-sama mentadabburinya agar diperoleh keberkatan dan rahmat dari Allah.


4.       Talaqqi madah, murabbi lalu menyampaikan materi tarbiyah untuk mutarabbi (peserta halaqah) secara disiplin dan cermat agar sasaran yang diharapkan dari materi tersebut dapat terwujud dalam diri peserta halaqah. Penyampaian materi hendaknya dilakukan sejelas mungkin agar mudah dipahami oleh peserta halaqah dengan baik.


5.       Mutaba’ah/pemantauan dan diskusi


6.       Ta’limat/pemberitahuan-pemberitahuan tentang rencana-rencana berikut atau info-info penting yang mendesak


7.       Ikhtitam berupa do’a penutup yakni do’a rabithah atau do’a persatuan hati.


 


Ketika halaqah berlangsung hendaknya memperhatikan hal-hal berikut :


1.       Serius dalam segala urusan, menjauhi senda gurau dan orang-orang yang banyak bergurau. Yang dimaksudkan serius dan tidak bersenda gurau tentu saja bukan berarti suasana halaqah menjadi kaku, tegang, dan gersang, melainkan tetap diwarnai keceriaan, kehangatan, kasih sayang, gurauan yang tidak melampaui batas atau berlebih-lebihan. Jadi canda ria dan gurauan hanya menjadi unsur penyela/penyeling yang menyegarkan suasana dan bukan merupakan porsi utama halaqah.


2.       Berkemauan keras untuk memahami akidah Salafusshalih dari kitab-kitabnya seperti kitab Al-’Ubudiyah. Sehingga semua peserta halaqah akan terhindar dari segala bentuk penyimpangan akidah. 


3.       Istiqamah dalam berusaha memahami kitab Allah dan Sunah Rasul-Nya dengan jalan banyak membaca, mentadabbur ayat-ayatnya, membaca buku tafsir dan ilmu tafsir, buku hadits dan ilmu hadits dan lain-lain.


4.       Menjauhkan diri dari sifat ta’asub (fanatisme buta) yang membuat orang-orang yang taqlid terhadap seseorang atau golongan telah terjerumus ke dalamnya karena tidak ada manusia yang maksum (bebas dari kesalahan) kecuali Rasulullah yang dijaga Allah. Sehingga apabila ada perbedaan pendapat hendaknya dikembalikan kepada dalil-dalil yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya. Hanya kebenaranlah yang wajib diikuti, oleh karenanya tidak boleh menaati makhluk dalam hal maksiat pada Allah.


5.       Majelis halaqah hendaknya dibersihkan dari kebusukan ghibah dan namimah terhadap seseorang atau jamaah tertentu. Adab-adab Islami haruslah diterapkan antara lain dengan tidak memburuk-burukan seseorang.


6.       Melakukan Ishlah (koreksi) terhadap murabbi atau mutarabbi (peserta halaqah) secara tepat dan bijak karena tujuannya untuk mengingatkan dan bukan mengadili.


7.       Tidak menyia-nyiakan waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan menetapkan skala prioritas bagi pekerjaan-pekerjaan yang akan dilaksanakan berdasarkan kadar urgensinya.


 


 


 


STUDI SINGKAT

SOSOK  MURABBI TELADAN

 


 


Pernahkah anda mengalami suatu saat ketika anda membuka mushaf dan anda mulai membaca al-qur’an kemudian anak-anak anda datang mendekati anda sambil membawa buku Iqra’nya lalu mereka melakukan hal yang sama seperti apa yang tengah anda lakukan?, Pernahkah anda mendapatkan Mutarabbi anda mengerjakan shaum sunnah padahal anda secara eksplisit tidah pernah menyuruhnya ataau menginstruksikannya ?, hal tersebut dilakukan oleh Mutarabbi anda hanya karena ia mendapatkan anda juga melakukan shaum sunnah pada hari-hari sebelumnya. Pernahkah anda mengalami khadimat anda perlahan-lahan menyesuaikan diri dan penampilannya di tengah-tengah keluarga anda, mulai terbiaasa mengenakan gaun panjang, memakai kerudung walau pada awalnya cuma nempel di atas kepala, tapi toh lama kelamaan ia menjadi terbiasa berjilbab baik ketika ia bekerja di dalam rumah apalagi di luar rumah?, padahal isteri anda belum pernah berkata kepadanya bahwa memakai jilbab itu wajib, apalagi memperdengarkannya ayat al-Qur’an yang berkenaan dengan kewajiban menutup aurat baik dalam surat An-nur maupun Al-ahzab. 


 


Itulah buah dari keteladanan, ketealadaanan adalah cara berda’wah yang paling hemat karena tidak menguras enerji dengan mengobral kata-kata, bahkan bahasa keteladanaan jauh lebih fasih dari bahasa perintah dan larangan, sebagaimaana adagium mengaatakan : “Lisaanul hal afshohu min lisaaanil maqaaal”, bahasa kerja lebih fasih dari bahasa kata-kata. Dalam ungkapan lain keteladanan ibarat tonggak, dimana bayangan akan mengikuti secara alamiah sesuai dengan keaadaan tonggak tersebut, lurusnya, bengkoknya, miringnya , tegaknya dan lain sebagainya, sebagaimana pepatah mengataakan : “Kaifa yastaqqimudzdzhillu wal ‘uudu a’waj”, bagaaimana bayangan akan lurus bila tonggaknya bengkok.


 


Oleh karena itu penting bagi kita para Murabiyyin untuk berusaha semaksimal mungkin menjadi figur murabbi teladan, agar keteladanaan kita memberikan keberkahan bagi perkembangan da’wah dan peningkatan kwalitas maupun kwantitas para Mutarabbi yang kita bina . Untuk memudahkan kita mencontoh hal-hal yaang baik yang sepatutnya disikapi oleh seoarang figur Murabbi, maka melalui makalah ini kita akan berinteraksi dengan beeberapa tokoh yang tercatat sebagai figur murabbi teladan dalam sejarah, dengan menampilkan “Suratun Hayawiyyah” atau gambaran kehidupan mereka khusunya dalam melakukan aktifitas pentarbiyahan.


 


Secara runtut sesuai dengan urutan zamannya , kita akan mulai membahas keteladanan figur murabbi dari “Murabbi hadzihil ummah”, yaitu Rosululloh SAW, kemudian kita telusuri keteladanan figur murabbi para Sahaabatnya, para tabi’in ,ualam salaafusslaih hingga para Masayikh da’wah di zaman kita sekarang ini. “Aina nahnu minhum”, kita sungguh tidak ada apa-apanya dibanding mereka bahkan rasanya mustahil bisa sama dengan mereka, itulah satu perasaan yang akan terlintas pada benak kita ketika kita mengetahui keteladaanaan mereeka sebagai murabbi, akan tetapi kita dinasehati oleh satu pepatah : “Tasyabbahu in lam takuunuu mislahum, Innattasyabbuha bil kiraami falaahun”, Teladanilah meski tidak sama persis dengan mereka, sesungguhnya meneladanani oranorang mulia adalah satu keberuntungan.


 


Keteladanan Rosululloh SAW

Sebagai Murobbi Rosululloh SAW selalu melakukan pendekatan komunikasi sebagaimana yang telah direkomendasikan di dalam Al-Qur’an, bentuk-bentuk komunikasi yang digunakan diantaranya adalah : “Qoulan Layyinan” (  20 : 44 ), “Qoulan Maysuran” ( 17 : 28 ), “Qoulan Ma’rufan”  (  32 : 32 ), “Qoulan Balighan” (  4 : 63 ), “Qoulan sadidan” (  4 : 9  ), dan “Qoulan kariman” (  33 : 31 ).


 


Sebagai Murabbi Rosululloh SAW, tidak pernah memojokkan mutarabbi dengan kata-kata , apalagi hal itu dilakukan di hadapan orang lain, sebagaimana diriwayatkan oleh Abi Humaid Abdirrahman bin Sa’ad As-Sa’idy RA, Ia berkata : “Nabi SAW telah mengutus seseorang yang bernama Ibnu Lutbiyyah sebagai amil zakat, setelah selesai dari tugasnya lalu ia menghadap Rosululloh SAW seraya berkata : “ini hasil dari tugas saya , saya serahkan kepada mu, dan yang ini hadiah pemberian orang untuk saya”, lalu Rosululloh SAW segera naik ke atas mimbar, setelah menyampaikan puja dan puji kehadirat Alloh SWT beliau berkhutbah seraya berkata : “Sesungguhnya aku megutus seseorang di antaara kalian sebagai amil zakat sebagaimaana yang telah diperintahkan oleh Alloh SWT kepadaku, lalu ia datang dan berkata : “ini untuk engkau dan yang hadiah untukku, jika orang itu benar , mengapa dia tidak duduk saja di rumah bapak atau Ibunya sehingga hadiah tersebut datang kepadanya, demi Alloh tidaklah mengambil seseorang sesuatu yang bukan haknya melainkan kelak dia bertemu dengan Alloh SWT membawa barang yang bukan menjadi haknya “, lalu Rosululloh SAW mengangkat keduabelah tangannya hingga tampak ketiaknya, seraya berkata : “Ya Alloh, telah aku sampaikan” 3 x ( HR. Bukhari – Muslim )


 


Rosululloh juga tidak pernah menjaga  jarak dengan mutarabbinya, sehingga tidak terjadi kesenjangan psikologis antara mutarabbi dengan murabbi, hal ini dapat dilihat dari gambaran dialog lepas antara Jabir bin Abdillah dengan beliau sebagaimana yang telah diriwayatkaan sendiri olehnya : “Aku pernah keluar bersama rosululloh SAW pada peperangan Dzatirriqo’, aku mengendarai seekor onta yang lamban jalannya, sehingga aku tertinggal jauh dari rosululloh SAW, kemudian Rosululloh SAW menemuiku seraya berkata : “ Kenapa engkau hai,  Jabir “ “Ontaku Ya Rosulalloh…,jalannya lamban sekali” balasku. Kemudian Rosulluooh berkata lagi : “Berikan kepadaku tongkat yang ada di tanganmu atau berikan aku sepotong kayu”, lalu aku berikan kepadanya dan beliaupun memukulkan kayu tersebut secara perlahan ke onta saya, lalu beliau menyuruhku menaiki onta itu, demi Alloh tiba-tiba ontaku berjalan dengan sangat cepat”.  Kemudian obrolan berlanjut , Rosululloh SAW bertanya kepadaku : “Hai Jabir, apakah engkau sudah kawin?”, “sudah ya rosulalloh” jawabku, “dengan janda atau gadis”?, tanya beliau lagi, “dengan janda ya Rosul” tegasku, “Kenapa tidak dengan gadis saja sehingga engkau dapat “bersenang-senang dengannya” dan ia dapat “bersenag-senag denganmu”?, balas Rosululloh SAW dengan nada bertanya, lalu aku menjelaskan : “Ya Rasululloh sesungguhnya ayahku meninggal pada perang Uhud, dan meninggalkanku saudara perempuan sebanyak tujuh orang, maka dari itu aku menikahi seorang wanita yang sekaligus dapat meenjadi pengasuh dan pembimbing mereka”. Kemudian Rosululloh berkata : “Engkau benar insya Alloh”.


 


Keteladanaan Para Sahabat RA

Diantara para sahabaat yang paling menonjol keteladanannya adalah Abu bakar as-Shiddiq RA, bukan hanya karena ia adalah satu-satunya sahabat yang mendapat gelar as-sihiddiq, dan juga bukan hanya karena satu-satunya sahabat yang menemani Rosululloh SAW dalam perjalanaan hijrah ke Madinah, akan tetapi lebih dari itu karena Abu Bakar layak disebut sebagai “Murabbi hadzihil Ummah” sepeninggalnya Rosululloh SAW , beliaulah yang memandu akidah dan fikrah para sahabat yang lainnya ketika mereka masih belum legowo menerima berita wafatnya Rosululloh SAW termasuk Umar bin khattab RA. Pada saat itulah Abu bakar memberikan taujih tarbawy dengan membacakan firman Alloh SWT, dalam surat Ali Imron : 144, seraya menambahkan penjalasan dengan kata – kata hikmahnya : “Man kaana ya’budu muhamma dan fainna muhammad qod maata, wa man kaana ya’budulloha fainnallaha hayyun laa yamuutu” (Barang siapa yang menyembah Muhammad seseungguhnya Muhammad telah tiada, tetapi Barang siapa yang menyembah Alloh SWT sesungguhnya Alloh Hidup dan tidak akan mati). Itulah keteladanan abu Bakar dalan menyemai benih-benih tarbiyah, khusunya Tarbiyah Aqidiyah.


 


Ketika dua pertiga Jazirah Arab ditimpa oleh gerakan pemurtadan (Harakatul Irtidad), dalam bentuk pembangkangan tidak mau membayar kewajiban zakat, maka lagi-lagi Abu bakar RA tampil sebagai pelopor Murabbi dalam hal ketegaasan Amar Ma’ruf Nahi Munkar untuk memerangi mereka, banyak para sahabat termasuk umar bin Khattab RA masih beranggapan bahwa bukan itu jalan keluar untuk menghentikan gelombang kemurtadan, maka Abu bakar langsung memberikan pelajaran kepada para sahabat khusunya umar bil khattab RA seraya berkata : “ Hatta anta ya, Umar ajabbaarun fil Jahiliyah Khawwarun fil Islam ?, Wallaahi laa Yanqushuddinu wa anaa Hayyun, Lau mana’uuni  ‘Uqqoolu ba’iirin yuadduunahi ila Rosuulillah lahaarobtuhu hatta tansalifa saalifaty” (  sampai engaku juga Ya Umar, apakaah engkau hanya tampak perkasa pada masa jahiliyah kemudian jadi ragu pada masa islam ?, Demi Alloh tidak akan berkurang agama ini (Islam) sedikitpun selama akau masih hidup, Walaupun mereka tidak memberikan hanya seutas tali unta yang harus diberikan kepada Rasululloh, maka tetap akan ku pernagi mereka sampaai urat leherku terputus”).


 


Bahkan keteladan Abu bakar sebagai Murabbi bukan hanya dengan kata-kata tetapi juga langsung dibarengi dengan sikap dan tindakan kongkrit, agar menjadi contoh bagi para sahabat yang lain, sebagaiman terjadi pada saat sebagian besar para sahabat (Kibaarusshahabah) keberataan dengan diangkatnya Usamah Bin Zaid, padahal hal itu telah menjadi ketetapan komando Rosululloh SAW sebelum wafatnya, dan abu bakar berazam untuk tidak membatalkan apa yang telah ditetapkan Rosululloh SAW, seraya mengiringi pelepasan ekspedisi Usamah dengan meenuntun kudanya saampai perbatasan, sejak awal Usamah merasa tidak enak karena Abu Bakar berjalan kaki sementara Ia berada diatas kudanya, lalu usamah menawarkaan agar ia turun Abu Bakar saja yang naik kuda, lalu abu bakar berkata : “Wallohi maa rokibtu wa maa nazalta, wa maa lialaa ughabbira qadami fi sabilillaah” ( Demi Alloh, aku tidak mau naik dan engkau juga tidaak perlu turun, biarkanlah kakiku bersimbah debu di jan Alloh ) 


 


Keteladanan Ulama Salafusshalih

Salah satu di antara mereka adalah Atho bin abi Rabaah Rahimahulloh, yang memimpin halaaqah besar di masjidil haram, dimana Sulaiman bin abdil malik yang menjadi Khalifah pada saat itu juga sering menghadiri halaqohnya, Athu bin abi Rabah adalah seorang habsyi (Negro) yang pernah menjadi budak dari salah seorang wanita penduduk kota mekkah, lalu ia dimerdekakan karena kepandaiannya dalam mendalami ajaran islam.


 


Keteladanan Atho bin Abi Rabah sebagai Murabbi adalah kelembutannya dan ketajaaman nasehatnya serta pandangan dan perhatianya yang penuh kasih sayang, sebagaimana yang dikisahkan oleh Muhammad bin suqoh Salah seorang Ulama Kufah , bahwa suatu ketika Atho bin abi rabah menasehatinya : “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya orang-orang sebelum kita tidak menyukai pembicaraan yang berlebihan”, “lalu apa batasannnya pembicaran yang berlebihan”? tanyaku, beliau melanjutkan nasehatnya seraya beerkata : “Mereka mengkategorikan pembicaraan berlebih, bila dilaakukan selain dari Al-qur’an yang dibaca dan difahami, atau hadits Rosululloh yang diriwayatkan, atau berkenaan dengan amar ma’ruf nahi munkar, atau pembicaraan tentang satu hajat, kepentingan dan persoalan maisyah”, kemudian beliau mengarahkan paandangannya kepada ku seraya berkata : “Atunkruuna (Inna ‘alaikum laahaafidzhiin, kirooman kaatibiin) (Al-infithar : 10 – 11), wa anna m’a kullin (‘minkum malakaini Anil yamiini wa ‘anisshimaali Qa’iid, maa yalfidzhu min qaulin illaa laadaaihi raqiibun ‘atiid) ( Qaf : 17 – 18), Amaa yatahyii aahaduna lau nusyirat alaihi shahiifatuhullatii amlaa’aahaa shdra naahaarihi, faawaajada aktsara maa fiihaa laaisa min amri diinihi walaa amri dunyaahu”.


 


Kapabilitas  takwiniyah Atha bin Abi rabah dalam mentarbiyah bukan hanya kepada kalangan pembesar dan terpelajar tapi sampai seorang tukang cukur, sebagaimana dikisahkan oleh Imam Abu hanifah : “Aku melakukan kesalahan dalam lima hal tentang manasik haji, lalu aku diajarkan oleh seorang tukang cukur, yaitu ketika aku ingin selesai dari ihram, aku mendatangi salah seorang tukang cukur, lalu aku berkata kepadaanya :”berapa harganya”?, “semoga Alloh menunjukimu, ibadah tidak mensaratkan soal harga, duduk sajalah dulu, soal harga gampang” jawab tukang cukur, waktu itu aku duduk tidak menghadap kiblat, lantas ia mengarahkan duduku hingga menghadap kiblat, kemudian menunjukan bagian kiri kepalaku, lalu ia memutarnya sehingga mulai mencukur kepalaku dari sebelah kanan, ketika aku dicukur ia melihaatku diam saja, lalu ia menegurku : “Kenapa koq diam saja, ayo perbanyaklah takbir”, maka akupun bertakbir, setelah selesai aku hendak langsung pergi, lalu ia berkata : “mau kemana kamu”?, “aku mau ke kendaraanku” jawabku, tukang cukur itu mencegahku seraya berkata : “Shalat dulu dua rakaat, baru kau boleh pergi kemana kau suka” , Aku berkata  dalam hati, tidak mungkin tukang cukur bisa seperti ini kalu bukan dia orang alim, lalu aku berkata kepadanya : “Darimana engkau dapati mengenai bebrapa manasik yang kau perintahkan kepadaku’?, Demi alloh aku melihat Atha bin abi rabah mempratekan hal itu, lalu aku mengikutinya, dan aku arahkan orang banyak untuk belajar kepadanya”, jawab tukang cukur alim tersebut.


 


Di antara kebiasaan baik ulama salafusshalih dan keteladanan mereka dalam mentarbiyah adalah ketika memberikan materi mereka tidak terkesan bersikap santai atau memberikannya sambil duduk bersandar misalnya, akan tetapi mereka menunjukan sikap yang sigap dan penuh semangat, sebagaimana telah menjadi sikap umum di kalangan mereka ketika menyampaikan materi, hal itu terungkap dari pernyataan salah seorang diantara mereka : “Laa yanbaghi lanaa idzaa dzukira fiinasshalihuna jalasnaa wa nahnu mustaniduuna” (  Tidaklah pantas bagi kita ketika disebutkan di tengah-tengah kita orang-orang yang shaleh, lalu kita duduk sambil bersandar ).


 


Adalah Said ibnul Musayyib rahimahulloh, juga seoarang murabbi yang keteladanannya patut dicontoh oleh para Murabbiyyiin, beliau memimpin halaqoh yang cukup besar di Masjid nabawi, di samping beliau juga terdapat halaqohnya ‘Urwah bin Zubair, dan abdulloh bin ‘Utbah rahimahumalloh, Said ibnul Musayyib mempunyai seorang mutarabbi, namanya Abu Wada’ah, suatu ketika Abu Wada’ah beberapa kali tidak datang halaqoh, tentu saja Said bin Musayyib merasa kehilangan mutarabbinya yang sudah mustawa qowy ini, beliau kahawatir kalau-kalau ketidakhadirannya lantaran sakit atau ada masalah yang menimpanya, lalu beliau juga bertanya kepada ikhwah yang lainnya juga tidak ada yang tahu, akan tetapi bebrapa hari kemudian tiba-tiba Abu Wada’ah, datang kembali sebagaimana biasa, maka sang Murabbi teladan said bin Musayyib segera menyambut kedatangannya dengan sapaan yang penuh perhatian seraya berkata : “kemana saja engkau ya, aba wada’ah”?, “Isteriku meninggal dunia, sehingga aku sibuk mengurusinya” jawab Abu wada’ah. “Mengapa  tidak beritahu kami sehingga kami bisa menemanimu dan mengantarkan jenazah issterimu serta membantu segala keperluanmu” tanya Said kembali. “Jazaakallahu kahairan” jawab abu wada’ah yang terkesan memang sengaja tidak memberi tahu karena khwatir merepotkan murabbynya.


 


Tidak lama kemudian Said bin Musayyib menghampiri Abu Wada’ah dan membisikinya seraya berkata : “Apakah engkau belum terpikir untu mencari isteri yang baru ya Aba Wada’ah”, “Yarhamukalloh, siapa orangnya yaang mau mengawini anak perempunnya dengan pemuda macamku yang sejak kecil yatim, fakir dan hingga sekarang ini aku hanya memiliki dua sampai tiga dirham” tandas Abu Wada’ah yang tampaknya ingin bersikap waqi’ terhadap keadaan dirinya, “aku yang akan mengawinimu dengan anak perempuanku” tegas said, seraya terbata-bata Abu Wada’ah berucap : “ Eng,…engkau akan mengawiniku dengan anak perempuanmu, padahal engkau tahu sendiri bagaimana keadaanku”, “Ya,…kenapa tidak, karena kami jika seudah kedataangan seseorang yang kami ridho terhadap agamanya dan akhlaknya maka kami kawinkan orang iyu, dan engkau termasuk orang yang kami ridhoi” jawab Said meyakinkan mutarabbinya. Lalu dipanggilnyalah ikhwah yang ada di halaqah tersebut untuk menyaksikan akad nikahnya dengan mahar sebanyak dua dirham, Abu Wada’ah benar-benar terkejut tak tahu harus berkata apa, antara kaget daan girang, ia pulang menuju rumahnya sampai-sampai ia lupa kalau hari itu ia sedang shaum, karena di tengah perjalaanan ia terus berfikir darimana ia akan menafkahkan isterinya, atau berhutang dengan siapa?, tak terasa ia sudah sampai di rumah dan adzan maghribpun tiba, lalu ia berbuka dengan sepotong roti, baru saja menikmati rotinya, tiba-tiba ada suara yang mengetuk pintu, “siapa yang mengetuk pintu”, tanyanya dari dalam rumah, “Said” jawab suara di balik pintu yang sepertinya ia mengenalinya, setelah dibukanya tiba-tiba sang murabbi sudah ada di hadapannya, Abu Wada’ah mengira telah terjadi “sesuatu” dengan pernikahannya, lalu ia langsung menyapa sang Murabbi seraya berkata : “Ya, aba Muhammad mengapa tidak kau untus sesorang memanggilku sehingga aku yang datang menemuimu”, “Tidak, engkau lebih berhak aku datangi hari ini”, setelah dipersilahkan masuk Said langsung mengutarakan maksud kedatangannya seraya berkata : “Sesungguhnya anak perempuanku telah sah menjadi isterimu sesuai dengan sari’at alloh SWT sejak tadi pagi, dan aku tahu tidak ada seorangpun yang menemanimu, menghiburmu dan melipu kesedihanmu, maka aku tidak ingin engaku bermalam pada hari ini disuatu tempat sedang isterimu masih berada di tempat lain, maka sekarang aku datang dengan anak perempuanku ke rumahmu” , lalu said menoleh kee arah puterinya seraya berkata : “masuklah engkau ke rumah suamimu wahai puteriku, dengan menyebut asma Alloh dan memohon barokahNYA”, masuklah anak perempuan said , dan ketika melangkahkan kakinya nyaris keserimpet (terinjak gaunnya) hampir jatuh hampir  terpeleset karana saking malunya, “sedang aku juga cuma berdiri di hadapanya kaget campur bingung tak tahu harus berkata apa” kata Abu Wada’ah mengenang kejadian itu, tapi kemudian ia cepat-cepat mendahului isterinya ke dalam ruangan, lalu ia jauhkan cahaya lampu dari sepotong roti yang memang tinggal segitu-gitunya supaya tidak terlihat oleh isterinya. Baru setelah itu ia keluar rumah untuk mamanggil ibunya untuk menemui menantu barunya.


 


Itulah keteladanan Said bin Musayyib yang menolak pinangan Abdul malik bin Marwan Khalifah bani uamayyah yang ingin meminang putrinya, malah beliau segara meengawinkan putrinya dengan Abu Wada’ah mutarabbinya yang sederhana dan tidak diragukan lagi kualitas tarbiyahnya.


 


Subhanalloh,… ada ‘ngga ya, Murabbi seperti Said bin Musayyib rahimahulloh di zaman sekarang ini?, kalau ada alhamdulillah, kalau belum ada mudah-mudahaan selepas dauroh murabbi ini ada yaang berusaha meneladaninya. Amin Ya robbal alamin.


 


Lain lagi kisahnya dengan Imam abu hanifah, atau dikenal dengan nama Nu’man bin Tsabit rahimahulloh, beliau seorang murabbi yang wajahnya selalu enak dipandang, berseri-seri, dalam penegtahuannya, manis tuturkatanya, rapih penampilannya, dan selalu memakai wangi-wangian, jika beliau datang ke majlisnya, maka semua orang yang ada disitu sudah mengetahuinya sebelum mereka melihatnya lantaran semerbak wewangian yang dipakainya.


 


Di samping cerdas, alim, faqih, beliau juga dikenal sebagai Murabbi yang dermawan, karena beliau juga dikenal sebagaai seoarang saudagar, tepatnya sebagai pedagang pakaian, kain dan sutera, beliau berkeliling dari kota satu ke kota lainnya di wilayah irak.


 


Suatu ketika salah seorang muridnya datang ketempat jualannya, ia minta dicarikan baju, lalu beliau mencarinya, sesuai dengan warna yang dimintanya lalu diberikan kepadanya, “berapa harganya ?”, tanya sang murid, “sedirham” jawab Imam, “satu dirham” tegas sang murid lagi penasaran dan campur heran kok murah banget, “ya, segitu”, tegasnya lagi, “yang bener nih…” kata muridnya lagi, “Aku tidak main-main, aku beli baju ini dan yang serupa lagi dengannya seharga dua puluh dinar emas dan satu dirham perak, yang satu aku sudah aku jual, sedang yang siasanya ini aku jual kepadamu dengan harga sedirham, aku memang tidak mau mangambil untung terhadap murid-muridku”.


 


Suatu ketika Imam abu hanifah melahat salah seorang mutarabbinya berpakaian lusuh sehingga terkesan tidak enak dipandang, setelah yang lainnya keluar dari majlis, sehingga tidak ada seorangpun di dalam majlis itu selain Imam abu hanifah dengan mutarabbinya tersebut, lalu beliau berkata kepadanya, “angkatlah sajadah ini lalu ambil sesuatu yang ada di bawahnya”, setelah diambilnya ternyata uang sebanyak seribu dirham, “ambilah uang itu dan perbaikilah penampilanmu’ tegas imam abu Hanifah, lalu kata orang itu : “Aku sudah cukup, Alloh telah melimpahkan nikmatnya kepadaku, aku tidak membutuhkan uang ini”. Dengan cerdasnya imam abu hanifah menyanggah omongan mutarabbinya itu : “Jika memang benar-benar telah melimpahkan ni’matnya kepadamu, lalu mana bukti kenikmatanNYA itu, bukankah rosululloh SAW bersabda : “Innalloha yuhibbu an yaraa aaatsara ni’matihi ‘ala ‘abdihi” (sesungguhnya alloh SWT senang melihat bukti keni;matannya pada hambanya), karena itu sudah sepantasnya engkaumemperbaiki keadaanmu agar engkau tidak membuat sedih saudaramu”. 


 


Itulah beberapa keteladan Ulama Salafussalih dalm mentarbiyah para mutarabbinya, Wallohu ‘alamu bisshawaab.      


 


Keteladanan Masyaikh Da’wah kita

Imam As-syahid Hasan al-Banna, figur murabbi yang satu ini sudah barang tentu tidak asing bagi kita, juga bagi seluruh aktifis da’wah dan harakah islamiyah di mana saja berada. Adalah pantas bila beliau merupakan salah seorang sosok figur murabbi teladan abad.


 


Keteladanan Imam Hasan al-banna dapat disimpulkan dari pendekatan da’wahnya ke berbagai lapisan masyarakat, prinsip-prinsip pendekatan da’wah yang diisyaratkan dalam hadits Rosululloh SAW seperti :  “khoothibinnaasa ‘alaa qodri ‘uqulihim”, “khotibinnaasa ‘ala lughati qaumihim” (Ajaklah berbicara kaummu sesuai dengan kemampuan akal mereka, ajaklah berbicara kaummu sesuai dengan gaya bahaasa mereka). Tampak sekali hal ini dilakukan oleh beliau dalam menyemai benih-benih tarbiyah di tengah-tengah masyarakatnya.


 


Ketika beliau menetap di Ismailiyah, yang terkenal sebagai kota pelabuhan, di mana banyak buruh-buruh pelabuhan menghabiskan waktu malamnya dengan nongkrong di kedai-kedai kopi, dari sinilah beliau memulai da’wahnya, beliau mengadakan pendekatan yang sangat hati-hati dan perlahan, beliau menyampaikan hal-hal yang bersifat umum seperti ingat kepada Alloh dan hari akherat, tidak konfrontatif, penyampaian da’wah dikemas dengan sederhana, diselingi dengan bahasa ‘amiyah (pasaran), diselingi dengan cerita dan ilustrasi, dan lamanya hanya sepuluh menit atau paling laama seperempat jam.


 


Al-Ustadz umar Tilmitsani Allohu yarham, menceritakan tentang sosok Hasan al-banna sebagai Murabbi, bahwa halaqoh beliau yang kemudian dikenal dengan “kuliah selasa” sangatlah sederhana, seluruh mutarabbinya duduk di atas tikar putih, dan mereka disuguhi the dalam dua teko kecil, ini bukan karena beliau kikir, karena memang hanyalah itulah yang dapat beliau sediakan.


 


Imam Syahid sangat lembut , suka bergaul dan mudah dekat dengan orang lain. Beliau tidak pernah cemberut atau berpaling saat berbicara atau diajak bicara, sikap santun selalu menyertai pergaulannya baik dengan orang dewasa maupun anak kecil, bahkan beliau pernah memberikan ceramah di depan anak-anak sekolah dasar Mahmudiyah yang terletak di daerah Abbasiah, beliau berdiri di tengah-tengah mereka dan berbicara dengan mereka, seolah-olah belaiu bagian dari mereka. Beliau berbicara dan menggunakan bahasa yang dimengerti anak kecil. Ketika selesai beliau “dikeroyok” oleh anak-anak kecil tersebut seraya bergelantungan di tubuh beliau, seolah – olah tidak ingin berpisah dengannya. Ini adalah buah dari bahas lembut dan akhlak luhur yang tidak merasa risih dengan gurauan dan celotehan anak-anak kecil.



Allohu Yarhamuhu, Al-Ustadz hasan al-Hudhaibi Mursyid ‘am II, juga mempunyai keteladanan dalam hal mentarbiyah, diantaranya adalah kata-kata hikmahnya seperti “Nahnu Dhu’at laa Qudhot” (kami mengajak bukan memvonis), “Aqimiddaulata fii daarika taqum fii ardhika” (Tegakkanlah daulah di dalam rumahmu maka kelak akan tegak di negrimu). Selain itu apabila ada anggota Ikhwan yang bertengkar di hadapannya, beliau selalu mengucapkan perkataannya yang terkenal : “Apabila kalian berdua tidak sanggup memperbaiki hubungan yang ada di antara kalian, lalu bagaimana kalian bisa memperbaiki perselisihan yang terjadi pada orang lain”?. Dan di antara do’a yang paling sering meluncur dari mulut beliau adalah : “Ya Alloh pilihlah diriku menjadi hamba yang selalu taat kepadaMU”



Sebagai seoarang Murabbi, Imam As-Syahid Hasan Al-Banna bukanlah tipe orang yang kaku dan pelit senyum, sebagaimana diceritakan oleh Syekh umar Tilmitsani, bahwa suatu ketika ia diundang untuk makaan siang di kantor pusat. Sambil bercanda beliau berkata, “Hari ini kami jadi tukang masak, ayo makan siang bersama kami”. Di lain waktu ia diajak oleh Imam as-Syahid menghadiri sebuah acara, ketika makanan dihidangkan, ia melihat yang terhidang hanya telur goreng dan keju yang kelihatannya sudah kadaluarsa, lalu ia membisiki beliau seraya berkata : “Apaka anda mengajak saya ke tempat ini uuntuk membuat saya lapar”?. Sambil tersenyum beliau menjawab : “Diamlah, Semoga Alloh melindungimu”. Lalu beliau memanggil seorang akh, tak lama kemudian akh tersebut datang kembali dengan membawa daging goreng dan buah anggur. Sunguh beliau tidak memperlihatkan wajah yang tidak menyenangkan, meskipun Ustadz Umar tilmitsani sedikit membuatnya repot.



Sebagai seorang Murabbi Imam As-Syahid tidak hanya bersikap baik kepada kalangan ikhwah saja. Dalam suatu perjalanan beliau dengan sopirnya seorang al-akh, menjumpai sebuah kendaraan yang mogok, beliau menyruh sopirnya berhenti, lalu ia langsung turun dari mobilnya dan menanyakan apa yang dibutuhkan oleh laki-laki pemilik mobil tersebut, ternyata orang itu kehabisan bensin. Saat itu mobil belum ada klaksonnya yang ada hanya terompet terbuat dari logam yang diujungnya ada gelembungan karet, nah dengan gelembungan kare itulah beliau menuangkan bensin dari mobilnya dan beliau sendiri yang mengisinya ke dalam tangki mobil tersebut, dan haal itu dilekuakn berkali-kali, beliaun lakuak senua itu tanpa harus bertanya siapa, apa dar mmana dan agamanya apa kepada orang yang ditolongnya tersebut. Orang yang ditolongnya itu kemusdian berkata ; “Saya Muhammad Abdurrasul seorang hakim di kota Kairo, Anda ini siapa”? Imam as-Syahid menjawab  dengan sikap rendah hati : “Saya hasan al banna, saya seorang guru sekalh dasar di As-sibtiyyah”. Orang itu kemudian berkata lagi : “Apakah anda hasan al-Banna Mursyid Ikhwanul Muslimin?”, “Ya”, jawab Imam as-syahid jujur. Sejak saat itu kemudian Ustadz muhammad abdurrasul tampil sebagai salah seorang juru bicara Ikhwanul Muslimin, di tengah rimba pengadilan. Inialah buah keteladan seoarang Murabbi yang tawaddu dan ikhlas.



Wallohu ‘alamu bisshowaab.



Blog Post

Related Post

Back to Top

Cari Artikel

Label