menu melayang

Selasa, 25 Juni 2024

BUKU 1

01. Al Qur’an & Ulumul qur’an

Adabut Tilawah

Kode: 1A1.1 | Sarana: Taujih

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Mengetahui kedudukan Al-Qur’an sebagai kalamullah yang harus dimuliakan 

2.   Mengetahui adab-adab yang harus dipelihara selama membaca Al-Qur‘an

3.   Komitmen dengan adab-adab tilawah di saat membaca Al-Qur'an 

TITIK TEKAN MATERI

Dengan komitmen terhadap adab-adab tilawah maka akan terbentuk salimul aqidah dalam diri seseorang (2: 11) Perlu dijelaskan tujuan di turunknnya Al-Qur'an. 

Materi ini menjelaskan gambaran kemuliaan Al-Qur‘an sebagai kalamullah sekaligus petunjuk bagi manusia. Karenanya, membaca Al-Qur‘an harus sesuai dengan adab. Antara lain, suci dari hadats besar dan kecil, tilawah sesuai makhrajnya, berupaya mengerti isinya, dan mentadabburinya. Perlu dijelaskan tentang sikap para salafush shalih dan adab-adab mereka ketika membaca Al-Qur'an.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Tujuan diturunkannya Al-Qur’an

2.   Dalil-dalil hadits Nabawi tentang adab membaca Al-Qur‘an

3.   Hadits tentang perumpamaan manusia dalam menerima ilmu (lihat Bukhari: Keutamaan orang yang mengajar)

4.   Sikap para salafush shalih ketika membaca Al-Qur‘an

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN 

Berikan prolog bahwa pada saat ini terjadi kesenjangan antara kaum muslimin dengan Al-Qur‘an. Al-Qur‘an hanya dibaca ketika orang akan meninggal misalnya. Atau, Al-Qur‘an yang hanya diperlombakan pembacaannya. Sementara di sisi lain, tidak diterapkan isinya. Untuk mengembalikan fungsi Al-Qur‘an maka harus diperkenalkan dan diterapkan adab-adab yang harus dilakukan ketika membaca Al-Qur‘an.

MARAJI’

Imam An-Nawawi, Kitab Riyadhus shalihin, Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Said Hawwa, Mensucikan Jiwa, At-Tibyan fi adab hamalatil Qur’an Sayyid Quthb, Mukadimah Zhilal, Bahi Al Khuli, Tadzkiratud Du’ah, 

Hifzhil Qur‘an Juz 30

Kode: 1A1.2 | Sarana: Taujih dan tugas hafalan

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Mengetahui ahammiyah hifzhil Qur-an

2.   Mengetahui fadhilah tahfizul Qur’an

3.   Menghafal Al-Qur‘an minimal satu juz

TITIK TEKAN MATERI

Dengan memiliki hafalan Al-Qur'an juz 30 ini, maka akan dapat dicapai karakter shahihul ibadah dalam dirinya (2: 13). Materi ini berisi uraian tentang pentingnya menghafal Al-Qur‘an merujuk pada penjelasan hadits Rasulullah. Orang yang memiliki hafalan Al-Qur’an, sangat membantu stabilitas ruhiyahnya. Minimal, seorang muslim dapat menghafal satu juz Al-Qur‘an dan harus ada upaya keras untuk mencapai target minimal tersebut. Titik tekan utama materi ini, yaitu peserta harus hafal juz 30.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Dalil-dalil tentang ahamiyah hifzhil Qur-an.

2.   Dalil-dalil hadits dan atsar tentang fadhilah tahfizul Qur‘an

3.   Fadhilah Qur‘an sebagai sarana menjaga stabilitas ruhiyah

4.   Metode menghafal Al Qur’an

5.   Bagaimana para salafush shalih menjaga hafalan Al-Qur‘an 

6.   Diskusi singkat tentang kendala menghafal Al-Qur‘an

7.   Penugasan dan evaluasi (mutaba’ah) hafalan

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN 

Berikan pendahuluan tentang sejarah dan latar belakang dibukukannya Al-Qur‘an, saat sejumlah besar sahabat penghafal Al-Qur‘an syahid dalam perang Yamamah. Uraikan perkataan Umar yang akhirnya setuju dengan pembukuan Al-Qur’an. Beri gambaran fenomena sekarang tentang sedikitnya orang yang menghafal Al-Qur’an. Setelah itu, sampaikan sejumlah fadhilah dan manfaat menghafal Al-Qur‘an. Dari sinilah dibuat penugasan untuk memulai penghafalan, minimal satu juz. Penugasan pemberian hafalan dapat di atur sesuai dengan kemampuan hafalan masing-masing peserta. Jika memungkinkan, maka peserta dapat dianjurkan mengikuti program tahfizhul Qur'an pada lembaga formal yang ada atau seseorang yang direkomendasikan. Perlu diperhatikan untuk selalu memotivasi akan tugas hafalan, jangan sampai seseorang menjadi tidak ikut/datang kegiatan ta’lim karena terasa terbebani hafalan Quran dan menjadi minder. Bertakwalah kamu sekemampuan kamu. Hasilnya dievaluasi mealalui pertemuan pekanan.

MARAJI’

Imam An-Nawawi, At-Tibyan fi aadabi hamalatil Qur'an, 

Imam An-Nawawi, Riyadhus shalihin, 

Said Hawwa, Mensucikan Jiwa, 

Ust. Abdul Aziz Lc, Menjadi Da’i yang hafal Al-Qur‘an, 

Manna Al Qaththan Studi Ilmu Al Qur-an: Bab Jam’ul Qur-an.

Tilawah Yaumiyah

Kode: 1A1.3 | Sarana: Penugasan, taujih khafif

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Memahami hakikat kita harus dekat dengan Al-Qur'an

2.   Menjelaskan bahwa dengan tilawah yang rutin maka kita akan dekat dengan Al-Qur'an 

3.   Melakukan tilawah harian hingga mencapai target (yang disepakati) sesuai kemampuan

TITIK TEKAN MATERI

Dengan memiliki tilawah harian yang rutin, baik dan stabil, maka akan membuat shahihul ibadah pada diri seseorang. (2: 14) dan dimilikinya mutsaqqaful fikr (5: 2). 

Materi ini berisi penugasan bagi peserta untuk mengaplikasikan sejumlah taujih sebelumnya tentang tilawah Al-Qur‘an. Para peserta apabila mungkin (harus) memiliki lembar mutaba’ah tilawah harian yang akan dievaluasi setiap pekan. Pembina harus terus menerus melihat perkembangan prestasi yang dicapai peserta didik, sekaligus memberi saran bila ada permasalahan yang mereka alami. Misalnya, tentang cara menyiasati kesibukan, kapan waktu alternatif membaca al-Qur‘an dan sebagainya. Sampaikan pula bahwa ibadah yang baik tidak hanya pada aspek kuantitatifnya, tapi keistiqamahan atau konsistensi seseorang melakukannya, meskipun sedikit.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Urgensi Tilawah yaumiah

2.   Al Qur’an adalah Nur

3.   Penugasan dan mutabaah terhadap rutinitas harian membaca Al-Qur‘an

4.   Amal yang baik adalah kontinyu

5.   Bagaimana Salafush shaleh membaca Al Qur-an

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Berikan prolog bahwa tilawatul Qur‘an merupakan aktivitas ibadah yang sangat baik untuk memberi kedamaian dan ketenangan hati. Peliharalah semangat ini melalui kontrol setiap pekan terhadap prestasi tilawah peserta didik. Tilawah harian bersifat individu. Untuk memacu dan meningkatkan semangat tilawah, yaitu dengan melakukan secara teratur tilawah majelis setiap pertemuan secara berurutan ayat yang dibaca dan bergiliran membacanya.

MARAJI’

Imam An-Nawawi, Kitab Riyadhus shalihin, 

Hasan al-Banna, Majmu’atur Rasail 

Said Hawwa, Mensucikan Jiwa, 

Hadits Amr bin Ash tentang Khatamkan Qur-an dalam waktu 1 bulan s/d khatamkan Qur-an dalam waktu 3 hari, …

Tafsir Al-Qur‘an Juz 30

Kode: 1A1.4 | Sarana: Penugasan

TUJUAN INTRUKSIONAL 

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

a.   Mengetahui urgensi tadabbur ma’na Qur’an

b.   Membaca minimal satu juz Tafsir Al-Qur‘an.

TITIK TEKAN MATERI

Dengan mendapatkan tafsir Al-Qur'an juz 30 ini, maka sesorang memiliki mutsaqqaful fikr (5: 2) dan shahihul ibadah (2: 13). 

Al-Qur‘an sebagai kitab petunjuk tidak hanya wajib dibaca tapi diikuti isinya. Maka, mengetahui isi dan menggali makna ayat-ayat Al-Qur‘an menjadi kewajiban yang harus dilakukan setiap muslim. Saat ini sudah banyak beredar terjemahan tafsir Al-Qur‘an dengan bahasa Indonesia. Ada pula tafsir Al-Qur‘an karya ulama Indonesia seperti tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka. Seorang muslim harus senantiasa melakukan pendalaman terhadap Al-Qur‘an sehingga ia memiliki bashirah dalam memandang berbagai masalah. Ayat 4: 82, 48: 24, 62: 5 Mukaddimah Zhilal.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Urgensi tadabbur Qur’an

2.   Tafsir Al-Qur'an juz 30

3.   Tafsir Al Fatihah-Mukaddimah Zhilal

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Penugasan membaca satu juz tafsir Al-Qur‘an Tafsir Al Fatihah-Mukaddimah zhilal

MARAJI’

Mafatih lit ta’amul ma’al Qur’an, Terjemah tafsir Ibn Katsir atau tafsir Al azhar, atau Tafsir Depag 

Hadits Amru bin Ash, tentang khatamkan Qur-an dalam waktu 1 bulan s/d khatamkan Qur-an dalam waktu 3 hari jangan lebih cepat dari itu karena sulit memahami. 

Tafsir juz 30 dari zhilal 

Wasiat Imam Syahid, wajibatu al akh ash shadiq

Hukum Tilawah

Kode: 1A1.5 | Sarana: Taujih dan Daurah

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Membaca Al-Qur‘an sesuai makhraj dan hukum tilawah yang benar

2.   Membaca Al-Qur'an penuh dengan kenikmatan bahasa (dzauq lughawi)

TITIK TEKAN MATERI

Dengan memiliki wawasan dalam membaca Al-Qur'an sesuai hukum tilawah (tajwid) maka akan membantu dalam menghafal Al-Qur'an (muwashafat 2: 13) dan meningkatkan kualitas tilawah hariannya (muwashafat 2: 14). 

Membaca Al-Qur‘an harus dilakukan sesuai hukum tilawah yang benar. Salah mengucapkan makhraj atau panjang pendeknya bacaan dalam al-Qur‘an bisa merubah arti yang seharusnya. Karena itu, setiap muslim harus mampu membaca Al-Qur‘an dengan benar. (2: 121). Jumlah ayat Al-Qur'an sangat banyak, sehingga untuk dapat menyelesaikan dengan penuh penghayatan diperlukan membaca secara rutin. 

Siapa yang membaca Al-Qur'an akan mendapatkan pahala, selain itu dapat menambah kekuatan spiritual dan intelektual bagi yang membacanya. Membaca adalah bagian dari ketrampilan, jika seseorang jarang membaca Al-Qur'an maka dapat menyebabkan kekakuan ketika membacanya. Degan demikian maka kita perlu membaca Al-Qur'an dengan rutin

POKOK-POKOK MATERI

1.   Urgensi membaca Al-Qur‘an dengan benar (2: 121/Jumu’ah: 2/75: 17-19)

2.   Penugasan mengikuti daurah Al-Qur‘an

3.   Al-Qur'an diturunkan dengan bertahap, sehingga membacanya pun lebih bertahap.(17: 106)

4.   Larangan menghatamkan Qur'an dalam satu hari.

MARAJI’

Panduan membaca Al-Qur‘an “Iqra” atau “Qira‘ati” 

CD Qur-an Al Burhan (tajwid) Panduan Daurah

Ta’riful Qur’an

Kode: 1A1.6 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu: 

1.   Memahami definisi AL-Qur’an dan dapat menunjukkan keutamaan-keutamaannya berdasarkan definisi tersebut.

2.   Termotivasi untuk senantiasa membaca Al-Qur’an dalam rangka beribadah kepada Allah SWT.

3.   Memahami kandungan nilai-nilai Al-Qur’an yang terdapat dalam nama-namanya dan termotivasi untuk memiliki nilai-nilai tersebut dalam dirinya.

4.   Memahami kedudukan Al-Qur’an serta termotivasi dan mampu memfungsikannya dengan benar.

TITIK TEKAN MATERI

Al-Qur'an adalah Kitab Suci yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasul SAW. Dengan mengenal Al-Qur'an dengan dalil-dalil naqli bahwa Qur'an sebagai: Kalam Allah SWT, Mu’jizat, Al-Qur'an diturunkan kepada Nabi Muhammad, disampaikaan secara mutawatir sehingga terpelihara keasliannya dan Membaca Al-Qur'an adalah Ibadah maka akan menambah keyakinan kita akan keberadaan Al-Qur'an tersebut. 

Dalam Al-Qur'an Allah SWT menyebut Al-Qur'an sendiri dengan berbagai nama. Setiap nama-nama tersebut memiliki makna yang memberikan tashawur terhadap sifat dan peranan yang dimiliki oleh Al-Qur'an sesuai dengan kandungannya.Dengan pengenalan nama-nama Al-Qur'an lebih mendalam, maka dapat menghapuskan sangkaan-sangkaan bahwa Al-Qur'an itu hanyalah kitab biasa.

POKOK-POKOK MATERI

 

A. Difinisi Al-Qur’an: 

1.   Kalam Allah SWT (53: 4), 

2.   Mu’jizat (2: 23, 11: 14, 17: 88)

3.   Al-Qur'an diturunkan kepada Nabi Muhammad (26: 192-195), 

4.   Disampaikaan secara mutawatir sehingga terpelihara keasliannya. 

5.   Membaca Al-Qur'an adalah Ibadah. 

 

B. Nama-nama Al-Qur’an: 

1.   Al-Kitab (2: 2), 

2.   Petunjuk (2: 2, 2: 185), 

3.   Rahmat (3: 138), 

4.   Cahaya (5: 15-16), 

5.   Ruh (42: 52), 

6.   Obat (10: 57), 

7.   Kebenaran (2: 147), 

8.   Penerangan (3: 138), 

9.   Pelajaran (3: 138, 54: 17, 22), 

10. Pengingat (15: 9), 

11. Berita Gembira (16: 89), 

 

Fungsi Al-Qur’an:, 

13. Kitab berita dan kabar (78: 1-2), 

14. Kitab hukum Syari’ah (5: 49-50), 

15. Kitab Jihad (29: 69), 

16. Kitab Tarbiyah (3: 79), 

17. Pedoman Hidup (28: 50), 

18. Kitab Ilmu Pengetahuan (96: 1-5)

 

MARAJI’

Depag RI, Tarjamah al Qur’anul Karim

Bidang studi: 
hadits dan ulumul hadits

Hadits Arba’in (1-20)

Kode: 1.A2.1 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Mengetahui kandungan hadits Arba’in Nawawi no 1 sampai 20.

2.   Mengartikan dalam bahasa Indonesia hadits Arba’in Nawawi no 1 sampai 20.

3.   Menghafalkan 20 hadits pilihan dari Arba’in Nawawi

4.   Berusaha untuk mengamalkan kandungan hadits Arba’in Nawawi no 1 sampai 20.

TITIK TEKAN MATERI

Dengan mengetahui dan menghafalkan setengah hadits arbain ini maka sesorang akan memiliki mutsaqaful fikr (mu 5: 4). 

Menghafalkan hadits sangat membantu kita memahami, menyakini dan mengaplikasikan syari’at Islam dengan baik. Karenanya, setiap muslim diusahakan dapat memiliki hafalan hadits sebatas kemampuannya. Pada waktunya, maka hafalan tersebut dapat digunakan sebagai bahan berdakwah.

POKOK-POKOK MATERI

Membacakan dan menterjemahkan hadits Arba’in Nawawi no 1 sampai 20. Menjelaskan hadits Arba’in Nawawi no 1 sampai 20.

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Penugasan penghafalan hadits Arba’in Nawawi no 1 sampai 20. Penghafalan hadits dapat dilakukan beriringan setelah pemberian materi shahihul ibadah dan matinul khuluq. Untuk membuat dinamika lebih baik, maka selain penugasan hafalan juga dilakukan evaluasi dan Tasmi’

MARAJI’

Imam Nawawi, Arba’in Nawawiyah, 

Sarah hadits Arba’in Nawawiyah.

Hadits Riyadhus Shalihin

Kode: 1.A2.2 | Sarana: Halaqah, Penugasan

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

a.   Memahami 20 hadits pilihan dari kitab Riyadhus Shalihin

b.   Mengartikan 20 hadits pilihan dari kitab Riyadhus Shalihin

c.   Menghafal 20 hadits pilihan dari kitab Riyadhus Shalihin

d.   Termotivasi untuk mengamalkan 20 hadits pilihan dari kitab Riyadhus Shalihin

e.   Memiliki standard wawasan hadits minimal sebagai bekal amaliyah pribadi

f.

TITIK TEKAN MATERI

Dengan memahami dan memiliki hafalan dari 20 hadits pilihan dari kitab Riyadhus Shalihin maka akan dimilikinya mutsaqaful fikr pada diri seseorang (mu 5: 5) 

Seorang muslim harus memiliki wawasan standar terhadap Hadits Nabawi, sebagai acuan kedua dari syari’at Islam. Penguasaan sekaligus penghafalan hadits, akan sangat berdampak bagi individu muslim dalam menjadikannya sebagai rujukan amal-amal harian yang dilakukannya. Selanjutnya, hafalan hadits juga sangat berguna sebagai salah satu sarana berda’wah. Kitab Riyadhus Shalihin, merupakan salah satu kitab kumpulan hadits yang mu’tabar, dan sangat baik dijadikan pegangan. Penguasaan dan penghafalan 20 hadits bisa disesuaikan dengan materi-materi “matinul khuluq” dan “shahihul ibadah” yang sudah diajarkan

POKOK-POKOK MATERI

1. Pengajaran salah satu materi matinul khuluq atau shahihul ibadah

2.   Pemilihan salah satu hadits yang paling menarik, dari materi yang diajarkan

3.   Penugasan penghafalan 

4.   Evaluasi pada pekan berikutnya

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Penugasan penghafalan hadits Riyadhus Shalihin. Penghafalan hadits dapat dilakukan beriringan setelah pemberian materi shahihul ibadah dan matinul khuluq. Untuk membuat dinamika lebih baik, maka selain penugasan hafalan juga dilakukan evaluasi dan Tasmi’ atau musabaqah sesuai tingkatan marhalah peserta.

MARAJI’

Kitab Riyadhus Shalihin dari bab: Fardlu Qiraati Qur’an-Sunnatul Jumu’ah 

Lampiran Hadits-hadits yang harus dihafal

Bidang studi: 
aqidah islam

Ma’rifatu diinul Islam

Kode: 1.A3.1 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Memahami definisi Islam, secara bahasa dan Istilah dengan baik, agar mampu menyebutkan 5 kata bahasa Arab dan artinya, yang ada kaitannya dengan sumber pengambilan kata Islam.

2.   Memahami konsep kesempurnaan Islam pada sisi waktu, ruang dan aktifitas kehidupan manusia, agar ia mampu melakukan perbandingan dengan agama lain pada 3 sisi tersebut.

3.   Menunjukkan keyakinan bahwa Islam adalah pedoman hidup yang bersumber dari Allah SWT dan sempurna, sehingga ia mampu menjelaskan 3 sisi kesempurnaan Islam.

4.   Menunjukkan penerimaan dan ketundukan sepenuhnya kepada Islam, sehingga tidak menjalankan pedoman hidup dalam kehidupannya kecuali al-Islam.

TITIK TEKAN MATERI

Titik tekan yang harus disampaikan dalam materi ini adalah: 

Definisi Islam secara bahasa dan istilah, serta meyakinkan kepada peserta bahwa Islam bersumber dari Allah SWT, dan ia adalah pedoman hidup yang sempurna, meliputi semua waktu, ruang dan sisi kehidupan manusia, serta komparasi dengan agama-agama lain dalam hal kesempurnaan. Selanjutnya, karena Islam adalah bersumber dari Allah SWT dan sempurna, maka tidak ada yang pantas kita jalankan dalam kehidupan kita kecuali Islam.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Definisi Islam secara bahasa/Kata-kata dasar yang membentuk dari Islam:

a.   Islamul wajh: menundukkan wajah (4: 125).

b.   Al-istislam: berserah diri (2: 131, 3: 83).

c.   Assalamah: Suci bersih (26: 89) 

d.   Assalam: Selamat dan sejahtera (6: 54)

e.   Assilmu: Perdamaian (47: 35)

f.   Sullam: tangga, yang bermakna tadarruj/bertahap

 

2.   Definisi Islam secara Istilah, yaitu Islam adalah ketundukan (alkhudhu’) kepada wahyu Ilahi (53: 4, 21: 7) yang diturunkan kepada para nabi dan rasul (2: 136, 3: 84) khususnya Muhammad saw, sebagai hukum/aturan Allah SWT (5: 48-50) yang membimbing umat manusia ke jalan yang lurus (6: 153) menuju ke kebahagiaan dunia dan akhirat (16: 97, 2: 200, 28: 77).

3.   Islam adalah pedoman hidup yang sempurna, yang meliputi: 

1.   Semua waktu (21: 90, 34: 28, 21: 107).

2.   Semua ruang (22: 40)

3.   Semua sisi kehidupan manusia; Aqidah (2: 255); Ibadah; Akhlaq; Ekonomi; Politik sosia; Negara dll.

MARAJI’

Said Hawa’Al-Islam jilid 1 dan 2

Abdul Karim Zaidan, Dr, Ushulud Dakwah,. 

Abul A’la Almaududi, Prinsip-prinsip Islam,. 

Qaradhawi, Yusuf, DR. Karakteritik Islam, 

Abdullah Al-Muslih, Dr, Prof dan Shalah Assyawi, Prinsip-prinsip Islam Untuk Kehidupan

Pokok-pokok Ajaran Islam

Kode: 1.A3.2 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INTRUKSIONAL

 Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Memahami makna iman dengan benar 

2.   Menjelaskan dan meyakini hakekat rukun-rukun iman dengan benar

3.   Memahami makna Islam dengan benar

4.   Menjelaskan dan meyakini hakekat Rukun-rukun Islam

5.   Memahami makna Ihsan

TITIK TEKAN MATERI

Titik tekan yang harus disampaikan dalam materi ini adalah: Dengan materi ini, maka tergambar gambaran iman, Islam dan ihsan serta mengimaninya dengan baik, sehingga terbentuk salimul aqidah pada diri seseorang (1: 11). 

Materi ini menjadi salah satu pintu utama untuk beberapa materi dalam Bidang Studi Aqidah Islam, karena pada materi ini terkandung pokok-pokok pikiran perlunya pengenalan tuntas terhadap: Nilai-nilai Syahadat, Pengenalan Allah SWT, Pengenalan Islam, Pengenalan Nabi dan Rasul..

POKOK-POKOK MATERI

1.   Makna iman 

2.   Rukun-rukun Iman: 

a.   Allah SWT, 

b.   Malaikat, 

c.   Kitab Suci, 

d.   Nabi-Rasul, 

e.   Hari kiamat, 

f.   Qadha dan qadhar 

3.   Makna Islam 

4.   Rukun-rukun Islam: 

a.   Syahadat, 

b.   Shalat, 

c.   Zakat, 

d.   Puasa, 

e.   Naik Haji 

5.   Makna Ihsan

MARAJI’

Said Hawa’Al-Islam jilid 1 dan 2

Abdul Karim Zaidan, Dr, Ushulud Dakwah,. 

Abul A’la Almaududi, Prinsip-prinsip Islam,. 

Qaradhawi, Yusuf, DR. Karakteritik Islam, Gusti Ilahi. 

Abdullah Al-Muslih, Dr, Prof dan Shalah Assyawi, Prinsip-prinsip Islam Untuk Kehidupan

Ma’rifatullah (Mengenal Allah SWT)

Kode: 1.A3.3 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Memahami urgensi manusia mengenal Allah SWT dengan baik dan benar, sehingga dapat memberikan minimal 3 alasan, mengapa manusia perlu mengenal Allah SWT.

2.   Memahami eksistensi Allah SWT dan dalil-dalilnya lengkap dengan contoh-contohnya, sehingga dapat menjelaskan minimal 3 dari dalil-dalil yang ada. 

3.   Memahami cara yang tepat dalam mengenal Allah SWT, dengan menggunakan dua pendekatan ayat qauliyah dan kauniyah, sehingga dapat menjelaskannya kepada yang lain.

4.   Menunjukkan keyakinan akan eksistensi Allah SWT, sehingga ia mau menjadikan seluruh aktifitasnya ikhlas karena Allah SWT.

5.   Membentuk sistem nilai akan manfaat mengenal Allah SWT sehingga ia menerima dan tunduk penuh kepada-Nya dan tidak bertahkim kepada selain hukum Allah SWT.

TITIK TEKAN MATERI

Titik tekan yang harus disampaikan dalam materi ini adalah: Perlunya manusia mengenal Allah SWT, karena Allah SWT adalah Tuhan yang menciptakan, memberikan rezeki, memelihara mereka dst. Karena jika manusia tidak mengenal Allah SWT, pastilah mereka menyembah Allah SWT dengan salah, yang dengan sendirinya ibadah yang mereka lakukan sia-sia. 

Adapun dali-dalil eksistensi Allah SWT adalah: naqli, akal, fitrah, panca indera dan sejarah. Kesemua dalil itu terdapat dalam ayat-ayat Allah SWT, baik qauliyah maupun kauniyah, yang menjadi landasan metode mengenal Allah SWT dengan dua jalan; jalan Islam dan bukan Islam. Disamping itu dalam materi ini dipaparkan manfaat-manfaat yang dapat diperoleh dari mengenal Allah SWT Sehingga seseorang dapat mengikhlaskan semua amalnya hanya kepada Allah SWT dan hanya ingin tunduk kepada Allah SWT dan hukum-hukumnya saja.

POKOK-POKOK MATERI

I. Pentingnya mengenal Allah SWT (47: 19, 3: 18, 22: 73, 39: 67): 

1.   Karena Allah SWT adalah Tuhan semesta alam (13: 16, 6: 19, 27: 59, 24: 35-37, 2: 255).

 

2.   Kerena wujud (eksistensi) Allah SWT didukung oleh dalil-dalil yang kuat:

a.   Dalil naqli (tekstual) (6: 19).

b.   Dalil Akal (3;190).

c.   Dalii fitrah (7: 172) dan (75: 14-15). 

d.   Dalil panca indera (29: 53).

e.   Dalil Sejarah.

3.   Manfaat-manfaat dari mengenal Allah SWT

a.   Hurriyah atau kebebasan (kemerdekaan) (6: 82)

b.   Tuma’ninah atau ketenangan (13: 28)

c.   Barakat atau berkah yang banyak (7: 96) 

d.   Hayat Thayyibah atau kehidupan yang bagus (16: 97)

e.   Jannah atau syurga (10: 25-26)

f.   Mardhatillah atau keridhaan Allah SWT (98: 8) 

 

II. Allah SWT dapat dikenal melalui dua jenis ayat-ayat Allah SWT. Yaitu ayat-ayat Qauliyah (95: 1-5) dan Kauniyah (41: 53, 3: 190). Sedang cara mengenal-Nya terdapat 2 metode: 

1.   Metode Islam: Ayat-ayat Allah SWT-Qauliyah dan Kauniyah-didekati dengan akal dan naql (10: 100-101, 65: 10, 67: 10) yang melahirkan pada diri seseorang pembenaran eksistensi Allah SWT (3: 191, 50: 37), yang pada akhirnya ia menjadi beriman.

 

 

2.   Metode tidak islami: Ayat-ayat Allah SWT-Qauliyah dan Kauniyah-didekati dengan perasangka dan hawa nafsu (2: 55, 10: 36, 6: 115), yang melahirkan pada diri seseorang keragu-raguan terhadap eksistensi Allah SWT (22: 55, 24: 50), yang pada akhirnya ia dapat menjadi kafir.

 

MARAJI’

Said Hawa, Al-Islam, jilid... ‘ 

Dr. Yusuf al Qardhawi, Wujudullah (eksistensi allah)

Abdul Karim Zaidan, Dr.Ushulud Dakwah, 

Abul A’la Almaududi, Prinsip-prinsip Islam, 

Abdullah Al-Muslih, Dr, Prof dan Shalah Assyawi, Dr Prinsip-prinsip Islam Untuk Kehidupan, Terbitan LP2SI ALHARAMAIN 1998

Tauhidullah

Kode: 1.A3.4 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Memahami 3 macam tauhid, yaitu tauhid rububiyah, mulkiyah dan uluhiyah Allah SWT.

2.   Menunjukkan kepercayaan diri akan kebenaran tauhid rububiyah, mulkiyah dan uluhiyah agar terhindar dari perbuatan-perbuatan kemusyrikan, diantaranya: 

(a) berhubungan dengan jin dan meminta tolong kepada orang yang berhubungan dengan jin; 

(b) meramal dengan telapak tangan atau datang hadir dalam majelis-majelis dukun dan peramal.

3.   Menunjukkan keyakinan akan kebenaran tauhid rububiyah, sehingga bersyukur atas segala nikmat Allah SWT, dan tidak menjadi kufur nikmat.

4.   Menunjukkan keyakinan akan tauhid mulkiyah, agar seluruh aktifitasnya sejalan dengan hukum-hukum Allah SWT.

5.   Menunjukkan keyakinan akan tauhid uluhiyah agar setiap amal, ditujukan kepada Allah SWT, dan agar hidup tidak sia-sia.

TITIK TEKAN MATERI

Titik tekan yang harus disampaikan dalam materi ini adalah: 

Pertama: 3 fungsi tauhid rububiyah Allah SWT dan alasan dijadikannya sebagai landasan bersyukur; 

Kedua: Tauhid uluhiyah dan yang meliputinya, serta alasan dijadikannya sebagai landasan operasional; 

Dan yang ketiga: Tauhid uluhiyah dan alasan dijadikannya sebagai landasan tujuan setiap amal. 

Dengan demikian, sesorang akan terhindar dari berbagai bentuk kemusyrikan, yang dapat membuat amal mejadi sia-sia di sisi Allah SWT dan mendapatkan ganjaran Neraka di hari kemudian.

POKOK-POKOK MATERI

Pembagian tauhid dalam surat Annas (rububiyah, mulkiyah dan uluhiyah).

1.   Pengertian tauhid rububiyah: Rububiyah berasal dari kata rabba-yarubbu artinya sesuai dengan fungsinya pada point ketiga. Sedang difinisinya adalah mengesakan Allah SWT dalam penciptaan, pemeliharaan, pemilikan dst.

 

Tauhid Rububiyah Allah SWT (1: 2, 7: 54), terbagi atas 3, menurut fungsinya:

a.   Khaliqan (pencipta) (25: 2, 2: 21-22).

b.   Raziqan (pemberi rezeki) (51: 57-58).

c.   Malikan (pemilik) (2: 284, 1: 4, 114: 2, 62: 2). Tauhid rububiyah sebagai landasan bersyukur, sebab Allah SWT yang menciptakan, menjamin rezeki dan memiliki kita.

2.   Tauhid mulkiyah adalah, berasal dari kata (malika-yamliku), artinya memiliki, berkuasa penuh atas yang dimiliki. Sedang definisnya adalah: mengesakan Allah SWT sebagai satu-satunya pemimpin, satu-satunya pembuat hukum dan pemerintah.

 

      Tauhid mulkiyah Allah SWT (3: 2 dan 189) meliputi: 

a.   Waliyyan (pemimpin) (7: 196). 

b.   Hakiman (pembuat hukum) (12: 140). 

c.   Amiran (pemerintah) (3: 54). 

      

      Tauhid mulkiyah menjadi landasan operasional. Karena ketika Allah SWT menciptakan manusia Allah SWT telah menentukan ‘blue print’ bagi mereka, yaitu Qur’an dan sunnah sebagai pegangan hidup di dunia.

3    Tauhid uluhiyah adalah berasal dari kata (Aliha-ya’lahu), artinya ; menyembah. Sedang definisinya adalah mengesakan Allah SWT dalam penyembahan.

1.   Tujuan (6: 162) dari kedua tauhid sebelumnya adalah tauhid uluhiyah, atau menjadikan Allah SWT sebagai Ilahan Ma’budan (Tuhan Yang Disembah) (114: 3, 109: 1-6).

2.   Tauhid uluhiyah sebagai landasan tujuan setiap amal kita, karena Allah SWTlah yang kita sembah.

3.   Contoh-contoh kemusyrikan yang timbul karena pengingkaran atau ketidak fahaman terhadap tauhid rububiyah, mulkiyah dan uluhiyah.

MARAJI’

Qardhawi, Yusuf, DR Hakikat Tauhid,. Terjemahan Musyaffa, Rabbani Press

Tauhidul Asma’ was Sifat

Kode: 1.A3.5 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Memahami kaidah-kaidah ahlussunnah tentang tauhid asma’ wassifat. 

2.   Menjelaskan minimal 4 kaidah dan contoh-contohnya.

3.   Menunjukkan penghayatan dan keyakinan bahwa Allah SWT memiliki nama-nama baik dan sifat-sifat, yang tidak diserupakan dengan makhluk, disucikan dari segala kekurangan dan tidak dinafikan-walaupun hanya satu-dari nama dan sifat-sifat itu, tidak disimpangkan pengertiannya dan tidak boleh ditentukan sosoknya.

4.   Membentuk sistem nilai dan mampu menghayati akan kemaha besaran Allah SWT melalui asma’ wassifatnya, sehingga tidak menggunakan mantera kecuali menggunakan asma’ wassifat atau yang telah dicontohkan Rasulullah saw.

5.   Menunjukkan kesadaran akan kebenaran makna asma’ wassifat, agar setiap kali berdoa ia bertawassul dengan menggunakan asma’ wa sifat Allah SWT. Dan menggunakan al-asma’ul husna dalam memberi nama dengan cara yang benar.

6.   Meneladani akhlaq Rabbaniah dalam kehidupannya.

TITIK TEKAN MATERI

Titik tekan yang harus disampaikan dalam materi ini adalah: Kaidah-kaidah ahlussunnah waljamaah tentang tauhid asma’ wassifat, beserta contoh aplikasi dari kaidah-kaidah tersebut. Dan cara menggunakan asma’wassifat dalam tawassul/doa, serta menggunakan asma’ Allah SWT dalam memberi nama seseorang.

POKOK-POKOK MATERI

Kaidah-kaidah ahlussunnah waljamaah dalam tauhid asma’ wassifat:

a.   Nama-nama Allah SWT dan sifat-sifat-Nya bersifat tauqifiyyah. Contoh menggunakan asma’ wassifat dalam doa dan tawassul.

b.   Bahwa apa yang telah Allah SWT sifatkan tentang dirinya adalah benar (haq).

c.   Menetapkan sifat-sifat Allah SWT apa adanya tidak membuat padanan. 

d.   Sesungguhnya Allah SWT suci dari segala kekurangan.

e.   Setiap nama atau sifat Allah SWT yang tidak terdapat dalam Qur’an dan Sunnah tidak boleh dinisbatkan kepada Allah SWT. Tapi juga tidak boleh dihilangkan, melainkan dilihat maksudnya. Jika nama dan sifat itu hak/benar sesuai dengan keagungan Allah SWT, nama dan sifat itu dipertahankan maksudnya, bukan lafazhnya. Contoh mewujudkan bagian-bagian yang dapat di ambil oleh hamba dari sifat-sifat Allah SWT.

f.    Tidak membatasi jumlah nama-nama Allah SWT, kecuali jumlah yang mungkin ditetapkan adalah 99, tapi itu bukan jumlah keseluruhannya, tetapi bagian yang bisa di ambil oleh hamba dari sifat-sifat Allah SWT. Contoh menggunakan nama Allah SWT dalam memberi nama seseorang

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Berikan contoh-contoh konkrit yang ada di masyarakat, sehingga pemahaman tersebut akan lebih bermanfaat dan mampu memberikan keberkahan langsung.

MARAJI’

Hasan Al Banna Risalah Pergerakan, bab risalah aqidah dan risalah ta’lim, Intermedia 1998 

Said Hawwa, Mensucikan Jiwa, Jakarta: Rabbani Pres cetakan kedua 1999. hal. 413-441 

Syaikh Abdullah Qadiri, al Iman huwal asas

Pengantar studi aqidah Islam, terjemah: Anis Matta, Al-Manar 

Al qawaid Al Mutsla fil Asma’ wa sifat

Ma’na Syahadatain (Arti dua kalimat syahadat)

Kode: 1.A3.6 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Memahami urgensi arti dua kalimat syahadat. 

2.   Menerangkan kepada orang lain, minimal 4 urgensi ma’na syahadat

3.   Menunjukkan kepercayaan diri akan keyakinan terhadap Islam.

4.   Mengamalkan konsekwensi kandungan arti syahida (pernyataan, sumpah dan perjanjian).

5.   Membentuk sistem nilai dan mampu menghayati kebenaran Allah SWT sebagai Ilah dan Muhammad sebagai Rasul, yang menyatukan antara pernyataan, sumpah dan perjanjian dalam aktifitas keseharian sehingga setiap aktifitas, pendapat, produktifitas dls, adalah islami.

6.   Membentuk sistem nilai dan mampu menghayati kebenaran Allah SWT sebagai Ilah dan Muhammad sebagai Rasul yang dibuktikan dengan istiqamah atas pernyataan, sumpah dan janji yang ia ucapkan dengan syahadat, sehingga ia berani, tenang dan optimis dalam menghadapi masa depan.

TITIK TEKAN MATERI

Titik tekan yang harus disampaikan dalam materi ini adalah: 

Butir-butir urgensi memahami arti dua kalimat syahadat, baik bagi seorang muslim maupun seorang non muslim yang berniat, atau simpati dengan Islam. Dengan harapan setelah terpahami arti dua kalimat syahadat bagi seorang muslim dapat beristiqamah dalam keIslamannya. Sedang bagi non muslim sangat akan bermanfaat jika ia memilih Islam dengan tidak menyesal akan pilihannya di kemudian hari. 

Adapun arti kata syahida adalah; menyatakan, bersumpah dan berjanji. Dengan harapan orang-orang yang telah bersyahadat dapat istiqamah, sehingga ia menjadi berani, tenang dan senantiasa optimisme dalam menghadapi kenyataan hidup dan penantian akhirat. Yang dengan sendirinya akan memperoleh kebahagiaan dunia akhirat.

POKOK-POKOK MATERI

 

1.   Urgensi Syahadatain (4: 41, 2: 143, 70: 33):

a.   Pintu gerbang masuk ke dalam Islam.

b.   Intisari ajaran Islam; Ikhlas dan Ittiba’ (21: 25).

c.   Dasar-dasar Perubahan total: Pribadi dan Masyarakat (6: 128, 13: 11). 

d.   Hakikat dakwah para rasul (21: 25, 7: 59, 3: 81)

e.   Keutamaan yang besar.

2.   Kandungan kata ‘syahida’ (bersaksi):

a.   Pernyataan (3: 18 dan 81).

b.   Sumpah (63: 2, 24: 6 dan 8).

c.   Perjanjian (3: 81, 5: 7, 2: 26, 7: 172)

3.   Bersatunya pernyataan, sumpah dan perjanjian pada syahadat, sebagai syarat ‘IMAN’. Karena Iman harus:

a.   dinyatakan dengan lisan (alqaul).

b.   diyakini dengan hati (attashdiq).

c.   diamalkan dengan anggota tubuh (al’amal).

4.   Konsekwensi dari keimanan adalah ‘Istiqamah’ (41: 30). Dan bagi orang beriman yang istiqamah akan mendapatkan dalam dirinya:

a.   Keberanian (5: 52).

b.   Ketenangan (13: 28).

c.   Optimisme (24: 55).

5.   Dengan Istiqamah seseorang akan bahagia di dunia dan akhirat.

 

MARAJI’

Abdullah Al-Muslih & Shalah Assyawi, Prinsip-prinsip Islam Untuk Kehidupan, Jakarta: LP2SI Al Haramain, 1998. 

Said Hawwa, Al-Islam: Jilid 1

Syarat-syarat diterimanya syahadat

Kode: 1.A3.7 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Memahami bahwa syahadat yang diucapkan akan diterima oleh Allah SWT bila syarat-syaratnya terpenuhi, 

2.   Menyebutkan semua syarat satu per satu, yaitu; pengetahuan, penerimaan, keyakinan, keikhlasan, kejujuran, kecintaan dan kepatuhan (2P 5K).

3.   Memahami bahwa ada 7 sikap yang dapat menjadikan syahadat ditolak oleh Allah SWT..

4.   Menunjukkan penerimaan akan kebenaran 7 sikap yang dapat membuat syahadat diterima atau ditolak, sehingga sedapat mungkin dapat dihindari perbuatan-perbuatan yang diakibatkan oleh karena penolakan atau ketidak tahuan.

5.   Menunjukkan jati diri akan kerelaan diatur oleh Allah SWT, Rasulullah dan Islam dengan membuktikan dengan amal islami, misalnya dengan menutup aurat bagi wanita, atau disiplin menjalankan shalat lima waktu.

TITIK TEKAN MATERI

Titik tekan yang harus disampaikan dalam materi ini adalah: 

Syahadat sebagai rukun pertama Dinul Islam, juga memiliki syarat syah yang menjadi landasan diterima atau ditolaknya syahadat. Syahadat diterima oleh Allah SWT jika terpenuhi 2P dan 5K, yaitu; pengetahuan, penerimaan, keyakinan, keikhlasan, kejujuran, kecintaan dan kepatuhan. 

Demikian pula sebaliknya jika tidak terpenuhi atau ada salah satu sikap berikut ini, syahadat menjadi terolak. Sikap-sikap itu adalah: Kebodohan, ragu-ragu, syirik, dusta, benci, ingkar dan menolak (tidak) beramal. Contoh: meminta berkah dengan mengusap-usap kekuburan; meminta tolong kepada orang yang telah meninggal dls Jika syarat-syarat diterimanya syahadat telah terpenuhi, seyogyanya terdapat pada diri seorang muslim kerelaan untuk diatur oleh Allah SWT, Rasulullah dan Islam dalam kehidupannya sehari-hari.

POKOK-POKOK MATERI

 

1.   Syarat-syarat dikabulkannya syahadatain:

a.   Al-Ilmu almunafi liljahl (pengetahuan yang membatalkan kebodohan).

b.   Alqabulu almunafi lirrai (penerimaan yang membatalkan penolakan).

c.   Alyaqinu almunafi lissyakk (keyakinan yang membatalkan keragu-raguan). 

d.   Al-Ikhlasu almunafi lissyirk (keikhlasan yang membatalkan kemusyrikan).

e.   Asshidqu almunafi lilkadzib (kejujuran yang membatalkan kebohongan).

f.   Almahabbatu almunafiyatu lilbughdhi wal karahah (cinta yang membatalkan kemarahan dan kebencian).

g.   Al-Inqiyadu almunafi lilimtina’i wat tarki wa ‘adamil ‘amal (kepatuhan yang membatalkan pengingkaran, meninggalkan dan tidak beramal).

2.   Setiap muslim yang telah memenuhi syarat-syarat syahadat diatas akan timbul dalam dirinya sikap rela untuk diatur oleh:

a.   Allah SWT.

b.   Rasulullah.

c.   Islam. dalam kehidupan mereka sehari-hari, dan dalam setiap keadaan.

MARAJI’

Abdullah Al-Muslih & Shalah Assyawi, Prinsip-prinsip Islam Untuk Kehidupan, Jakarta: LP2SI Al Haramain, 1998. 

Said Hawa’, Al-Islam: Jilid 1

Beberapa Hal Yang Membatalkan Syahadatain

Kode: 1.A3.8 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Memahami bahwa syahadatain, setelah diucapkan dengan sadar, dapat pula menjadi batal, karena beberapa perbuatan yang disadari atau tidak, sehingga mau memperbaharui kembali syahadatnya.

2.   Menunjukkan citra diri gambaran seorang muslim yang tidak membatalkan syahadatnya, dengan perbuatan syirik besar maupun kecil, dengan kemampuan menyebutkan 5 contoh perbuatan yag dapat membatalkan syahadat.

3.   Membentuk sistem nilai akan akibat dan bahaya yang menghadang bagi seseorang yang syahadatnya batal, sehingga ia mampu menghindari perbuatan-perbuatan yang dapat membatalkan syahadat.

TITIK TEKAN MATERI

Titik tekan yang harus disampaikan dalam materi ini adalah: 

Terdapat banyak sikap/perbuatan-sadar atau tidak-dalam melakukannya dapat membatalkan syahadatain. Hal tersebut sangat perlu diketahui oleh peserta, agar dapat terhindar, atau kalau seandainya pernah melakukan atau bersikap seperti itu-sadar atau tidak-sehingga syahadatnya batal, perlu ia mengetahui bagaimana solusinya. 

Disamping itu, materi ini juga membekali peserta pengetahuan tentang bahaya kemusyrikan, sehingga dapat menjadi peringatan melekat agar tidak terjerumus kepada kemusyrikan. Juga dipaparkan contoh-contoh kemusyrikan yang harus mampu dihindari oleh peserta.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Hal-hal yang membatalkan syahadat:

a.   Bekerja untuk selain Allah SWT tanpa seizinnya.

b.   Memberikan kepada selain Allah SWT hak perintah dan melarang.

c.   Memberikan ketaatan kepada selain Allah SWT tanpa seizinnya. 

d.   Berhukum pada hukum yang tidak bersumber dari Allah SWT.

e.   Benci dan lari meninggalkan keyakinan pada keesaan Allah SWT.

f.   Tidak mengenal Allah SWT dengan cara yang benar.

g.   Menyembah kepada selain Allah SWT.

h.   Syirik-syirik kecil.

2.   Contoh-contoh kemusyrikan yang harus dihindari:

a.   Berjampi (meruqyah) yang tidak sesuai dengan Qur’an dan Sunnah.

b.   Berhubungan dengan jin.

c.   Meminta tolong kepada yang berhubungan dengan jin. 

d.   Meramal nasib, misalnya dengan melihat telapak tangan.

e.   Menghadiri majelis dukun dan atau paranormal.

f.   Meminta berkah kepada kuburan, misalnya dengan cara mengusap-usap.

g.   Meminta tolong kepada orang yang telah meninggal.

h.   Bersumpah dengan selain Allah SWT.

i.    Tathayyur, tasyaum atau merasa sial karena, melihat atau mendengar sesuatu.

3.   Bahaya-bahaya kemusyrikan:

a.   Zhulmun azhim (kezhaliman yang besar) (31: 13).

b.   Adamul gufran (tidak mendapatkan ampunan) (4: 48 dan 116).

c.   Itsmun ‘azhim (dosa besar) (4: 48). 

d.   Dhalalun ba’id (kesesatan yang jauh) (4: 60 dan 116).

e.   Hirmanul jannah (larangan masuk syurga) (5: 72).

f.   Dukhulunnar (masuk ke dalam neraka) (5: 72).

g.   Ihbathul ‘amal (penghapusan ‘amal/pahala) (39: 65, 6: 88).

 

 

MARAJI’

Abdullah Al-Muslih, Dr, Prof dan Shalah Assyawi, Dr Prinsip-prinsip Islam Untuk Kehidupan, Terbitan LP2SI ALHARAMAIN 1998. 

Abdullah bin Abdul Aziz bin Abdullah Sehat Jiwa Raga (seni berjampi), Almanar, 1998 

Said Hawa’, Al-Islam, jilid 1

Arti “la Ilaha illallah”

Kode: 1.A3.9 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Memahami arti “la Ilaha illallah” dengan benar, jelas dan menyeluruh.

2.   Menguraikan arti dan fungsi kosa kata “la Ilaha illallah” satu persatu

3.   Menunjukkan kepercayaan diri akan kemerdekaan dari segala ketergantungan kepada makhluk, dan hanya tergantung kepada Allah SWT, dengan tidak menjadikan syetan dan thagut sebagai kawan, dan tidak mengikuti langkah-langkahnya

TITIK TEKAN MATERI

Titik tekan yang harus disampaikan dalam materi ini adalah: 

Memahami “la Ilaha illallah” dengan benar, jelas dan menyeluruh, sehingga sesorang akan terhindar dari ketergantungan dengan selain Allah SWT, ia menjadi merdeka, mandiri dan percaya diri. Selanjutnya, alasan berikunya kalimat “La Ilaha illallah” perlu dipahami dengan benar kerena memiliki pengertian yang banyak, khususnya kata “ilah”..

POKOK-POKOK MATERI

1.   Uraian makna dan fungsi kata dari “la Ilaha illallah”.

a.   La: tidak (tiada)                     Nafi/peniadaan.

b.   Ilah: Tuhan yang disembah     Manfa/yang dinafikan.

c.   Illa: kecuali                           Adatul istitsna/pengecualian. 

d.   Allah SWT                           Mustatsna/yang dikecualikan. 

 

2.   Tiada Ilah selain Allah SWT, memiliki beberapa arti, khususnya kata “ilah”, yaitu:

a.   Malik (4: 131-132, 2: 284): Tiada Pemilik/Raja selain Allah SWT, Tiada kerajaanselain untuk Allah SWT.

b.   Hakim (12: 40, 6: 114, 33: 36, 28: 68, 45: 18, 42: 20, 6: 137): Tiada Pembuat hukum selain Allah SWT.

c.   Amir (7: 54): Tiada Pemerintah selain Allah SWT. 

d.   Waliy (2: 257): Tiada Pemimpin selain Allah SWT.

e.   Mahbub (2: 165): Tiada Yang Dicintai selain Allah SWT.

f.   Marhub (2: 40, 9: 18): Tiada Yang Ditakuti selain Allah SWT.

g.   Margub (94: 8, 18: 110): Tiada Yang Diharapkan selain Allah SWT.

h.   Mustajar bihi (16: 98, 72: 6): Tiada Yang melindungi selain Allah SWT.

i.    Wakil (3: 159, 9: 52): Tiada Yang wakii selain Allah SWT.

j.    Haul dan quwwat: Tiada daya dan kekuatan selain Allah SWT. 

k.   Mu’zham: Tiada Yang diagungkan selain Allah SWT. 

l.    Musta’an bihi (1: 5): Tiada yang dimohonkan pertolongannya selain Allah SWT.

MARAJI’

Muhammad Quthb, la Ilaha illallah sebagai Aqidah, Syari’ah dan Sistem kehidupan

Siksa Kubur

Kode: 1.A3.10 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Mengimani kenikmatan dan siksa kubur

2.   Menunjukkan kepercayaan dari gambaran kenikmatan kubur yang diinginkan dengan menyebutkan 5 buah alasan mengapa dia ingin mendapatkan kenikmatan kubur.

3.   Membentuk sistem nilai dan berimajinasi akan keindahan kenikmatan kubur dengan selalu menceritakan sifat-sifat kenikmatan kubur kepada orang lain, khususnya kawan dan kerabatnya.

4.   Mennujukkan kepercayaan diri gambaran siksa kubur dengan perasaannya, dengan menyebutkan 5 buah bentuk siksa kubur.

5.   Membentuk sistem nilai dan menghayati kepedihan siksa kubur, sampai meneteskan air mata (karena Allah SWT) agar dijauhkan dari siksa kubur

TITIK TEKAN MATERI

Titik tekan dalam materi ini adalah: 

Dengan mendapatkan materi siksa kubur ini, maka seseorang akan mengimani kenikmatan kubur dan siksa kubur sehingga terbentuknya salimul aqidah pada diri seseorang. (1: 12) 

Memberikan keyakinan akan dibangkitkannya manusia kembali di kuburan setelah kematian, memberi keyakinan akan adanya pertanyaan malaikat, siksaan mereka bagi orang kafir dan munafik yang tidak mampu menjawab dengan benar. 

Materi ini juga menitik beratkan pada keyakianan adanya kenikmatan kubur bagi orang-orang yang beriman, bahkan sampai menjadi satu taman diantara taman-taman syurga. Sebaliknya keyakinan pada adanya siksa kubur yang sangat pedih, bahkan sampai menjadi lubang diantara lubang-lubang neraka. Cucuran air mata menunjukkan adanya penyesalan atas segala kesalahan dan ketakutan akan siksa kubur dapat menambah kesungguhan dalam ‘amal dan menambah produktifitas selama masih berada di dunia..

POKOK-POKOK MATERI

1.   Proses terjadinya kematian.

2.   Keadaan pertama yang dihadapi oleh simayyit setelah dikuburkan.

3.   Gambaran tentang kenikmatan kubur dan golongan manusia yang berhak mendapatkannya.

4.   Gambaran tentang siksa kubur, dan golongan manusia yang pantas menempatinya.

5.   Hikmah dari beriman kepada adanya kenikmatan dan siksa kubur.

MARAJI’

Ibnul Qayyim Aljauziyah, Roh, Pustaka Alkautsar, Cetakan I, 1999. 

Abdullah Al-Muslih, Dr, Prof dan DR. Shalah Assyawi, Prinsip-prinsip Islam Untuk Kehidupan, Terbitan LP2SI ALHARAMAIN 1998.

 

Ihsan

Kode: 1.A3.11 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu: 

1.   Memahami komitmen moral, operasional dan kualitas operasional dalam Islam.

2.   Termotivasi untuk berniat dan beramal secara ihsan berdasarkan keyakinan adanya kesertaan dan pengawasan Allah SWT.

3.   Menyadari nilai kasih sayang, pahala dan pertolongan Allah SWT yang di tuju oleh setiap muslim dalam berjihad.

TITIK TEKAN MATERI

Materi ini diharapkan memberikan kesadaran yang utuh kepada seseorang untuk mampu berbuat dan beramal dengan baik. Seseorang akan beramal dengan baik jika dilandasi keyakinan akan pengawasan dari Allah SWT. 

Dengan kesadaran yang utuh akan pengawasan tersebut, maka seseorang akan mampu beramal dengan tulus dan niat ikhlas hanya karena Allah SWT semata. Dengan niat yang ikhlas, maka seluruh pekerjaan akan menjadi baik. Ingat, bahwa seluruh amal tergantung dari niatnya.

POKOK-POKOK MATERI

 

1.   Pengawasan Allah SWT.

2.   Kebaikan Allah SWT.

3.   Niat yang ihsan-niat yang ikhlas-pekerjaan yang tertib-penyelesaian yang baik.

4.   Amal yang ihsan.

5.   Kecintaan dari Allah SWT.

6.   Pahala dari Allah SWT.

7.   Pertolongan dari Allah SWT.

Hizbusy Syaithan: Menjadikan syetan sbg musuh

Kode: 1A3.12 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Mengetahui definisi syaetan dan pembagiannya dengan rinci 

2.   menyebutkan perbedaan antara manusia, jin, syetan dan Iblis

3.   Menjadikan syaethan sebagai musuh. 

4.   Mengetahui langkah-langkah syetan menjerumuskan manusia dengan berbagai cara dan sarana, agar dapat memperingatkan diri dan lingkungannya akan bahaya syetan.

5.   Memahami bahaya langkah-langkah syetan, sehingga menyatakan permusuhan dengan syetan dan tidak mengikuti langkah-langkahnya.

TITIK TEKAN MATERI

Titik tekan yang harus disampaikan dalam materi ini adalah: 

Dengan mengetahui syaithan sebagai musuh maka dia tidak akan mengikuti langkah-langkah syaithan dan akan terbentuk karakter shalimul aqidah dalam diri seseorang. (1: 14-15) 

Definisi syetan, baik secara bahasa maupun istilah, agar diketahui perbedaan antara jin, manusia, syetan dan Iblis. Setelah itu mengetahui langkah-langkah yang dilakukan oleh syetan dalam menjerumuskan manusia berserta cara dan sarana yang digunakan untuk itu. Demikian pula mengetahui bahaya-bahaya yang mengancam ketika seseorang mengikuti ajakan syetan sehingga timbul dalam dirinya sikap dan pernyataan bahwa syetan itu adalah musuh, yang dengan sendirinya ia tidak menjadikan syetan sebagai teman dan tidak mengikuti langkah-langkahnya.

POKOK-POKOK MATERI

 

1.   Ayat al-Qur’an yang melarag orang-orang beriman mengikuti langkah langkah syetan (2: 168-169)

2.   Mufradatul ayat dan asbab nuzul.

3.   Definisi jin, manusia, syetan dan Iblis, asal penciptaan mereka dan pembagian syetan.

4.   Langkah-langkah, cara-cara dan saran-sarana yang digunakan syetan mempengaruhi manusia.

5.   Ancaman bagi orang-orang yang mengikuti syetan.

6.   Keuntungan bagi orang-orang yang menjadikan syetan sebagai musuh.

MARAJI’

Tafsir Q.S. 35: 6 Ainur Rafiq, Jin I

Kebutuhan Manusia Terhadap Rasul

Kode: 1A3.13 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu: 

1    Memahami bahwa fitrah manusia memerlukan keyakinan tentang eksistensi Sang Pencipta, beribadah kepada-Nya dan memiliki kehidupan yang teratur. 

2    Memahami bahwa petunjuk Rasul adalah satu-satunya jalan untuk mencapai hal itu

TITIK TEKAN MATERI

Setiap manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan fitrah, dimana manusia bersih, suci dan mempunyai kecenderungan yang baik dan kearah positif yaitu kearah Islam. Fitrah manusia diantaranya adalah memngakui kewujudan Allah SWTsebagai pencipta, keinginan untuk beribadah dan menghendaki kehidupan yang teratur. Fitrah demikian perlu diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari melalui petunjuk Al Qur’an (Firman-firman dan panduan dari Allah SWT) dan panduan Sunnah (Sabda Nabi dan perbuatannya). 

Semua panduan ini memerlukan petunjuk dari Rasul khususnya dalam mengenal pencipta dan sebagai panduan kehidupan manusia. Dengan cara mengikuti panduan Rasul kita akan mendapati ibadah yang shahih.

POKOK-POKOK MATERI

 

1. Fitrah Manusia (75: 14, 27: 14):

a.   Membutuhkan keberadaan Sang Pencipta: 23: 83-90.

b.   Mengabdi pada Sang Pencipta: 2: 21.

c.   Hidup yang memiliki Aturan: 28: 50 

2.   Petunjuk Rasul (36: 1-2; 42: 53; 3: 31):

a.   Mengenali Pencipta yang Sebenarnya: 31: 10

b.   Memberikan Aturan/Pedoman Kehidupan: 3: 19, 85; 33: 21.

c.   Cara beribadah yang benar: 21: 25

MARAJI’

Ta’rifur Rasul

Kode: 1.A3.14 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:

1.   Memahami definisi Rasul dan dapat menjelaskan fungsinya secara umum.

2.   Mangenal tanda-tanda kerasulan dan dapat menyebutkan contoh-contohnya secara tepat dan mengimaninya.

TITIK TEKAN MATERI

Rasul adalah seorang laki-laki yang terpilih dan yang diutus oleh Allah SWT dengan risalah kepada manusia. 

Definisi Rasul ini menggambarkan kepada kita bagaimana manusia sebagai Rasul yang terbaik diantara manusia lainnya. Sehingga apa yang dibawa, dibincangkan dan dilakukan adalah sesuatu yang terpilih dan mulia dibandingkan dengan manusia lainnya. Rasul sebagai pembawa risalah yang Allah SWT berikan kepadanya dan juga Rasul sebagai contoh dan teladan bagi aplikasi Islam di dalam kehidupan seharian. Untuk lebih jelasnya bagaimana mengenal Rasul yang menjalankan peranan pembawa risalah dan sebagai model, maka kita perlu mengenal apakah ciri-ciri dari Rasul tersebut. Ciri-ciri Rasul adalah pembawa sifat-sifat yang asas, mempunyai mukzizat, sebagai pembawa berita gembira, Ada berita kenabian dan memiliki ciri kenabian, dan juga nampak hasil perbuatannya.

POKOK-POKOK MATERI

 

1. Fungsi Rasul

a.   Definisi Rasul: Laki-laki yang dipilih dan diutus Allah SWT dengan risalah Islam kepada manusia.

b.   Pembawa Risalah: 5: 67, 33: 39.

c.   Tauladan dalam melaksanakan risalah: 33: 21, 56, 60: 4 

2.   Tanda-tanda Kerasulan

a.   Sifat Mendasar: 68:

b.   Mu’jizat: 54: 1, 15: 9

c.   Berita Kedatangannya: 61: 6

d.   Berita Kenabian: 25: 30.

e.   Hasil-hasil Perbuatannya: 6: 122

MARAJI’

Sa’id Hawwa, Ar-Rasul

Makanatur Rasul

Kode: 1A3.15 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:          

1.   Memahami kedudukan Rasulullah saw sebagai hamba Allah SWT dan sebagai pembawa risalah terakhir.         

2.   Termotivasi untuk membaca dan mengkaji sunnah atau hadits-hadits Nabi serta mempelajari     perjalanan hidup dan da’wah Rasulullah saw.        

3.   Menyadari bahwa memahami fiqhus sirah dan fiqhud da’wah adalah kewajiban setiap muslim.

TITIK TEKAN MATERI

Muhammad Rasulullah SAW adalah sebagai hamba diantara hamba-hamba Allah SWT yang lainnya. Sebagai hamba maka Rasul mempunyai ciri yang juga sama dengan manusia lainnya seperti beliau sebagai manusia, mempunyai nasab dan jasad

Sebagai hamba ini menunjukkan bahwa Nabi adalah manusia biasa yang Allah SWT berikan kemuliaan berupa wahyu dari Allah SWT. Untuk mengetahui Nabi sebagai hamba dapat kita ketahui secara pasti dari perjalanan sirah Nabi, khususnya di dalam fiqih sirah. Selain itu Nabi Muhammad SAW juga sebagai Rasul diantara para Rasul.Sebagai Rasul Nabi bersifat menyampaikan risalah, menjalankan amanah dari Allah SWT dan sebagai pemimpin umat. Perjalanan Nabi sebagai Rasul dalam menyampaikan dakwah dan misi dapat dilihat dari dakwah-dakwah Nabi seperti di dalam fiqih dakwah. 

Selain itu Nabi Muhammad SAW juga membawa sunnah yang dijadikan sebagai fiqul ahkam. Kedudukan Rasul dapat digambarkan dalam sirah Nabi, sunnahnya dan dakwahnya sehingga dari kedudukan ini banyak yang kita ambil sebagai fiqh sirah, fiqh ahkam dan fiqh dakwah.

POKOK-POKOK MATERI

 

1. Kedudukan Muhammad saw sebagai hamba diantara hamba-hamba Allah SWT:

a.   Keadaannya sebagai manusia: (25: 7, 13: 38): nasabnya dan jasadiahnya.

b.   Perjalanan kehidupan kenabiannya-fiqhus sirah: 12: 112

2.   Kedudukan Muhammad saw sebagai rasul diantara para rasul Allah SWT:

a.   Penyampai risalah: 72: 28.

b.   Penunai amanah: 5: 3, 33: 39, 5: 67.

c.   Pemimpin Umat: 4: 41, 17: 71.

d.   Perjalanan da’wah kenabiannya-fiqhud da’wah: 9: 40  e. Kebiasaan/adab-adab rasulul-Lah-fiqh hukum: 4: 65.

MARAJI’

Sa’id Hawwa, Ar-Rasul

Shifatur Rasul

Kode: 1A3.16 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:          

1.   Memahami sifat-sifat dasar yang mesti dimiliki setiap rasul dan dapat menunjukkan contoh masing-masing sifat tersebut pada pribadi Muhammad saw.          

2.   Memahami keagungan pekerti Muhammad saw sebagai pribadi Qur’ani dan hasil terbiyah robbaniyah.  

3.   Menyadari bahwa Rasulullah adalah uswatun hasanah bagi dirinya.

TITIK TEKAN MATERI

Mengenal Rasul perlu mengenal sifat-sifatnya. Bagian tingkah laku, personaliti dan penampilan diwarnai oleh sifat seseorang. Begitupun Nabi Muhammad SAW dapat digambarkan melalui sifat-sifatnya. 

Mengetahui sifat-sifat ini diharapkan kita menyadari siapa sebenarnya Rasul dan kemudian kita dapat mengikutinya. Sifat Nabi seperti manusia biasa yang sempurna dapat diikuti oleh kita, karena tingkah laku dan perbuatannya seperti yang dilaksanakan manusia, maka kita pun mesti dapat mengikutinya. 

Kemudian kita semakin percaya kepada apa-apa yang dibicarakan atau yang disampaikan Rasul adalah yang benar karena sifat beliau yang ‘ismah (terpelihara dari kesalahan), selain itu beliau dalah orang yang cerdas berarti apa yang dibawanya adalah hasil dari pemikiran dan analisa yang mendalam, tepat dan baik. Sifat amanah adalah juga sifat asas yang setiap manusia mesti menyenangi berkawan dengan mereka yang amanah, kita sebagai muslim perlu mengikuti sifat ini dengan sempurna begitupun dengan sifat lainnya seperti tabligh dan iltizam. 

Sifat-sifat ini menggambarkan akhlaq mulia yang diwarnai oleh akhlaq Al Qur’an dan sangatlah sesuai dijadikan contoh yang baik bagi kita.

POKOK-POKOK MATERI

 

1. Sifat-sifat rasul:

a.   Manusia sempurna: 25: 8

b.   Terpelihara dari kesalahan: 5: 67, 80: 1, 66: 1.

c.   Benar: 39: 33, 53: 3-4

d.   Cerdas: 48: 27

e.   Amanah: 4: 58, 69: 44-46

f.   Menyampaikan: 5: 67, 81: 24, 80: 1-2

g.   Komitment yang sempurna: 17: 73, 68: 6.

2.   Akhlaq yang agung: 68: 4

a.   Akhlaq Qur’ani

b.   Suri Tauladan: 33: 21.

MARAJI’

Sa’id Hawwa, Ar-Rasul

Wazhifatur Rasul

Kode: 1A3.17 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:

1.   Memahami tugas Rasulul-Lah sebagai pembawa risalah da’wah dan penegak dienul-Lah.

2.   Dapat menyebutkan bentuk-bentuk keteladanan Rasul dalam melaksanakan missinya.

3.   Termotivasi untuk meneruskan jejak risalah dalam menegakkan dienul-lah.

TITIK TEKAN MATERI

Tugas Rasul dapat dibagi dua yaitu menyampaikan risalah dan menegakkan dinullah. Kedua tugas ini adalah intisari dari perintah Allah SWTdan amalan dakwah Nabi Muhammad SAW. Risalatudakwah yang dibawa Nabi adalah memperkenalkan masyarakat jahiliyah kepada penciptanya, perkara ini tidaklah begitu sukar karena setiap manusia mempunyai fitrah untuk menerima khaliq. Setelah itu menjadikan mereka sebagai muslim. Sebagai muslim perlu untuk mengetahui bagaimana cara beribadah dan mengikuti Islam. Tugas Rasul diantaranya adalah menjelaskan Islam sebagai panduan hidup. Usaha menyampaikan risalah secara berkesan dengan melaksanakan tarbiyah Islamiyah yaitu dengan menekankan kepada arahan dan nasihat.

Tugas kedua adalah menegakkan dinullah. Tugas ini tidak semua muslim memahaminya atau tidak mengetahui bagaimana untuk merealisasikannya. Rasul sebagai pembawa risalah adalah suatu pengetahuan umum bagi kita tetapi tidak demikian dengan peranan untuk menegakkan agama Allah SWT. Beberapa aktifitas untuk menegakkan dien Allah SWT ini adalah menegakkan khilafah, membangun rijal, minhajud dakwah dan merealisasikan risalah.

POKOK-POKOK MATERI

 

1. Tugas rasul sebagai pengemban risalah da’wah: 5: 67, 33: 39

a.   Memperkenalkan Al Khaliq: 7: 175

b.   Menjelaskan Cara Beribadah (hadits)

c.   Menjelaskan pedoman hidup (h)

d.   Membina dengan arahan dan nasihat.

2.   Tugas Rasul sebagai penegak dienul-Lah: 42: 13-15

a.   Menegakkan khilafah: 24: 55

b.   Membina Kader: 3: 104

c.   Membuat konsepsi da’wah: 3: 159

d.   Melaksanakan pedoman hidup: 2: 208, 6: 162.

MARAJI’

Sa’id Hawwa, Ar-Rasul

Khasais Risalah Muhammad SAW

Kode: 1A3.18 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:

1.   Memahami keistimewaan risalah Rasulullah saw & perbedaannya dengan risalah rasul-rasul sebelumnya.

2.   Mampu menunjukkan dan menjelaskan inti dari risalah Muhammad saw           

3.   Menyadari perannya sebagai penerus risalah jihad sehingga termotivasi untuk berda’wah di jalan Allah SWT.

TITIK TEKAN MATERI

Nabi Muhammad SAW mempunyai ciri-ciri khusus dibandingkan para rasul lainnya. Diantara ciri-ciri tersebut adalah sebagai Nabi penutup, penghapus risalah sebelumnya, membenarkan Nabi sebelumnya, menyempurnakan risalah, diperuntukkan manusia seluruh alam, dan sebagai rahmat bagi lam semesta. Ciri-ciri ini dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW dan tidak dimiliki oleh para Rsul sebelumnya. Nabi Muhammad sebagai penutup berarti tidak ada lagi Nabi setelah Nabi Muhammad SAW, Iapun menghapus risalah sebelumnya yang berarti risalah sebelumnya tidak lagi digunakan setelah datangnya Nabi Muhammad SAW, beliaupun membenarkan nabi sebelumnya dan adanya Nabi Muhammad tidak untuk kaumnya saja tetapi untuk seluruh manusia dan bagi semesta alam.

Rasulullah tampil sebagai pembawa risalah Islam yang mencakup huda dan dienul haq. Selain itu lahirnya Rasulullah SAW ditengah kita adalah sebagai saksi, pembawa berita gembira dan peringatan, penyeru ke jalan Allah SWT dan sebagai pelita yang menerangi.

POKOK-POKOK MATERI

1. Kedudukan Muhammad saw:

a.   Penutup para Nabi: 33: 40

b.   Penghapus risalah sebelumnya: (h)

c.   Membenarkan para Nabi sebelumnya: 61: 8

d.   Penyempurna risalah sebelumnya       

 

e.   Ditujukan untuk seluruh manusia: 34: 28.         

f.   Ditujukan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam: 21: 107

2.   Risalah Muhammad adalah risalah Islam yaitu sebagai:

a.   Petunjuk

b.   Dien yang benar

3.   Kewajiban menda’wahkan ke-Islaman:

a.   Menjadi saksi: 33: 45 

d.   Menyeru ke jalan Allah SWT: 33: 46

b.   Memberi berita gembira: 33: 45

e.   Cahaya yang menerangi: 33: 46

c.   Memberi peringatan: 33: 45

MARAJI’

Sa’id Hawwa, Ar-Rasul

Wajibatul muslim nahwar rasul

Kode: 1A3.18 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:

1.   Memahami persaksian “Muhammad adalah Rasulullah “ dan termotivasi untuk merealisasikannya.

2.   Mampu menjelaskan kewajiban pribadi mu’min terhadap Rasulul-Lah sebagai konsekuensi persaksiannya.

3.   Menyadari perannya sebagai kader da’wah pelanjut risalah Rasulul-Lah saw.

TITIK TEKAN MATERI

Muslim yang menyebut bahwa Muhammad adalah Rasulullah di dalam syahadatnya, maka berarti individu tersebut akan membenarkan apa yang dikabarkannya, mentaati semua perintahnya, menjauhi apa yang dilarangnya, dan tidak dikatakan beribadah kecuali dengan mengikuti syariatnya. Penerimaan ketaatan dan ibadah kepadaNya melalui petunjuk Rasul adalah hasil dari persaksian atas Nabi yang kemudian dari sini muncul kewajiban-kewajiban yang perlu dijalankan.

Kewajiban muslim kepada Rasul adalah mengimaninya, mencintai, mengagungkan, membelanya, mencintai para pencintanya, menghidupkan sunnahnya, memperbanyak shalawat, mengikuti dan mewarisi risalahnya. Dengan kewajiban ini setiap muslim akan senantiasa menjaga dirinya berada didalam saf Islam. Kewajiban ini sebagai janji dan komitmen dari persaksian kita kepada Nabi bahwa Muhammad SAW adalah Rasulullah. 

POKOK-POKOK MATERI

 

1. Kewajiban terhadap Risalah Rasulul-Lah saw:

a.   Membenarkan apa yang dikabarkannya: h, 39: 33

b.   Menta’ati semua perintahnya: 24: 51

c.   Menjauhi apa yang dilarangnya: 59: 7

d.   Tidak dikatakan ibadah kecuali dengan mengikuti syaria’tnya: h, 4: 80

2.   Kewajiban terhadap Rasulul-Lah saw:

a.   Mengimaninya: h, 61:1.

b.   Mencintainya: h,

c.   Mengagungkan: 48: 7

d.   Membelanya: 9: 40, 61: 14.

e.   Menghidupkan sunnahnya: h, 3: 130

f.   Memperbanyak shalawat: 33: 56.

g.   Mengikutinya: 3: 31

h.   Mewarisi risalahnya: 48: 28

MARAJI’

Sa’id Hawwa, Ar-Rasul

Nataiju Risalah Muhammad SAW

Kode: 1A3.19 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:

1.   Memahami hasil yang akan didapat dari mengikuti Rasul

2.   Termotivasi untuk mengikuti jejak kehidupan Rasulul-Lah saw

TITIK TEKAN MATERI

Dalam kehidupan seharai-hari, maka apabila seseorang berbuat baik, maka sewajarnya ia dipuji oleh manusia apalagi Allah SWT. Apabila ia menjadi cerdas dan berperestasi, maka wajar akan dipuji oleh manusia apalagi Allah SWT. 

Maka jika kita mengikuti Rasul SAW dengan baik, maka kita akan memperoleh berupa: Dicintai, dirahmati, diberikan petunjuk oleh Allah SWT. Juga kita akan mendapatkan kemuliaan, pujian dan kemenangan. Itulah hasil yang akan didapat dari mengikuti Rasul dapat berupa Kebaikan di dunia. Kebaikan-kebaikan ini sangat bermanfaat sebagai kredibilitas sosial kita dalam dakwah. (al misdaaqiyyah al ijtimaiyyah). Sedangkan hasil yang akan didapat dari mengikuti Rasul SAW berupa kebaikan di akhirat, yaitu berupa: Syafa’at, Bercahayanya wajah, Bersama dengan rasulullah, Bersama dengan para orang baik lainnya, kemenangan akherat adalah kemengan hakiki, sehingga dengan kebaikan akherat ini kita akan lebih termotivasi. Bahwa apa yang kita usahakan bukanlah kebahagiaan yang semu, dia adalaah nyata di hadapan Allah SWT.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Kebaikan di dunia:

a.   Dicintai Allah SWT: 3: 31

b.   Dirahmati Allah SWT: 57: 28, 3: 132

c.   Petunjuk dari Allah SWT: 42: 53

d.   Kemuliaan: 63: 8, 48: 29         e. Kemenangan: 5: 56

 

2.   Kebaikan di akhirat:

a.   Syafa’at: hadits

b.   Bercahayanya wajah: hadits

c.   Bersama dengan rasulul-Lah: 4: 69

d.   Bersama dengan para orang baik lainnya: 4: 69           e. Kemenangan: 58: 22

MARAJI’

Sa’id Hawwa, Ar-Rasul

Bidang studi: fiqh

Kedudukan Niat dalam beramal

Kode: 1.A4.1 | Sarana: Taujih

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Mengetahui hukum dan urgensi niat di awal setiap perbuatan baik

2.   Menjaga orientasi amal kepada Allah SWT

3.   Berniat setiap melakukan perbuatan

TITIK TEKAN MATERI

Pentingnya niat dalam setiap amal (muwashafat 2: 10). 

Materi ini berisi seputar niat yang menjadi penentu bagi diterima atau tidaknya suatu amal. Sementara syaithan akan selalu memberi bisikan agar manusia memiliki niat yang salah dalam beramal. Penyimpangan niat, bisa berbentuk riya (berbuat karena orang lain) atau syirik (berbuat untuk selain Allah SWT), yang akan menjadikan amal seperti debu, tidak bernilai.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Dalil-dalil Al-Qur‘an dan hadits Nabawi tentang niat dan keikhlasan. 

2.   Urgensi niat

3.   Gangguan syetan agar amal seorang hamba tidak diterima oleh Allah SWT

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Berikan penjelasan bahwa niat sangat menentukan kualitas amal. Amal yang sedikit bila diniatkan dengan benar, akan bernilai besar, tapi sebaliknya amal yang banyak bila disertai niat yang salah, tidak bernilai apa-apa. Uraikan dalil-dalil al-Qur‘an dan hadits kemudian simpulkan fadhilah niat yang terdapat dalam dalil tersebut. Selanjutnya, sampaikan bagaimana syetan menggoda agar manusia memiliki niat yang keliru, ketika ia melakukan kebaikan.

MARAJI’

Arba’in Nawawi 

Imam An-Nawawi, Kitab Riyadhus shalihin 

Said Hawwa Mensucikan Jiwa Satu hari bersama syaithan, 

Yusuf al Qardhawi, An-Niat

Yusuf al Qardhawi, Al Muntaqa minat taghribi wat tarhib

Hukum Thaharah

Kode: 1.A4.2 | Sarana: Taujih atau Daurah

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu: 

1.   Mengetahui hukum thaharah 

2.   Mengetahui urgensi thaharah melalui dalil Al-Qur‘an dan sunnah Rasulullah

3.   Mengetahui ma’na sunatullah fitrah

4.   Senantiasa menjaga kondisi thaharah, jika memungkinkan 

5.   Memahami thaharah sesuai dengan sunnah nabi SAW.

6.   Meninggalkan bid’ah-bidah dalam thaharah yang tidak diajarkan nabi SAW.

TITIK TEKAN MATERI

Untuk memenuhi ibadah atau kebaikan lain diperlukan kesucian. Dengan Ihsan dalam Thaharah dan Senantiasa Menjaga Thaharah maka akan diperoleh shahihul ibadah (2: 2 dan 2: (27). 

Thaharah atau bersuci merupakan salah satu bagian penting dalam Islam. Hanya ajaran Islam yang memiliki syari’at lengkap tentang hukum bersuci. Thaharah mencakup wudhu, mandi, dan bersuci dari hadats besar dan kecil. Hukum thaharah sebagai syarat sahnya ibadah shalat, harus diketahui setiap muslim. Taujih masalah thaharah bisa juga dikaitkan dengan sejumlah materi tentang thaharah dalam bidang Shahihul Ibadah yang metodenya bisa dilakukan melalui daurah. 

Thaharah merupakan ciri terpenting dalam Islam yang berarti bersih atau sucinya seseorang secara lahir dengan sucinya badan, pakaian dan tempat shalat dari najis dan secara batin dengan membersihkan hatinya dari syirik, dengki dan iri hati. Kesucian merupakan syarat sahnya shalat dengan memahami thaharah, maka shalatnya menjadi sah dan diterima Allah SWT. Dengan memahami haid, nifas dan istihadhah, maka seorang muslimah dapat membedakan kapan diwajibkannya mandi dan atau kapan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang dilarang Islam.Wudhu sebagai salah satu amal yang memiliki nilai pahala besar. Karena berwudhu, bila dilakukan secara sempurna baik aspek hukum maupun ruhiyahnya, dapat memelihara organ-organ tubuh dari kemaksiatan, dan dapat dioptimalkan untuk melakukan ketaatan pada Allah SWT. Menjaga kondisi suci, seharusnya tidak hanya ketika seseorang akan melakukan shalat.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Urgensi thaharah, melalui dalil naqli dan aqli

2.   Thaharah sebagai salah satu keistimewaan syari’at Islam

3.   Macam-macam hadas dan najis dan cara membersihkannya

4.   Sunnanul Fitthrah Thaharah, pengertian, hakekat dan fungsi thaharah.

5.   Hubungan thaharah dengan kebersihan, kesehatan dan keindahan lingkungan.

6.   Wudhu’, mandi dan tayammum (syarat-syarat, rukun-rukun, cara-cara dan yang membatalkannya).

7.   Haid, nifas, istihadhah, pengertian, waktu dan lamanya, hal-hal yang terlarang dan yang dibolehkan.

8.   Kesempurnaan thaharah, dari sisi hukum fiqih dan ruhiyah

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Berikan pendahuluan tentang urgensi menjaga thaharah dan menjaganya. Dengan merujuk pada hadits Rasulullah, akan tergambar betapa besar fadhilah (keutamaan) berwudhu bila dilakukan secara sempurna. Berikan juga kisah menarik tentang sejumlah sahabat dan tabi’in yang memiliki kebiasaan menjaga thaharah. Namun penting disampaikan bahwa dalam mengerjakan wudhu, harus memperhatikan aspek hukumnya, beserta aspek ruhnya, sehingga dapat dilakukan dengan sempurna.

MARAJI’

1.   Imam Ghazali, Ihya Ulumidin

2.   Ibnu Rusyd., Bidayatul Mujtahid

3.   Imam An-Nawawi Kitab Riyadhus shalihin, 

4.   Kamil Muhammad Uwaidah,. Al-jami’ al fiqh an-nisa’

5.   Munawar Khalil Biografi empat Madzhab, 

6.   Sayyid Sabiq Fiqhus Sunnah 

7.   Wahbah Zuhaili, Al fiqh Al Islam wa Adillatuhu.

8.   Abd. Karim Zaidan, DR. Mufashshal Liahkamul Mar’ah

Thaharah dengan Siwak

Kode: 1.A4.3 | Sarana: Taujih dan penugasan

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Mengetahui hukum siwak atau membersihkan mulut

2.   Mengetahui fadhilah penggunaan siwak.

3.   Teknik penggunaan siwak (bahan, alat dan cara penggunaan siwak). 

4.   Menggunakan siwak atau membersihkan mulut, terutama menjelang shalat

TITIK TEKAN MATERI

Dengan materi ini maka seseorang akan menggunkan siwak dengan baik sehingga terbentuklah pribadi yang memiliki shahihul ibadah (muwashafat 2: 26). 

Materi ini menjelaskan perhatian Islam terhadap masalah kebersihan. Siwak adalah sarana untuk membersihkan mulut yang biasa digunakan para sahabat. Menggunakan siwak pada saat sekarang, adalah salah satu bentuk sunnah Rasulullah saw. Bila tidak ada siwak, 

POKOK-POKOK MATERI

1.   Hukum siwak 

2.   Fadhilah siwak

3.   Bahan-bahan yang dapat digunakan

4.   Peralatan diperlukan untuk bersiwak

5.   Tata-cara penggunaan siwak yang baik dan benar. 

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Sewaktu menyampaikan bahasan ini, maka siapkan contoh siwak dan bagaimana cara membuat peralatan siwak (jika dapat dibuat sendiri). Kemudian tunjukkan bagai cara menggunakannya siwak tersebut. Untuk memperluas wawasan membaca kitab Riyadushshalihin bab fadlu al siwak wa khishai al fithrah

MARAJI’

Imam An-Nawawi, Kitab Riyadhus shalihin, 

Said Hawwa, Mensucikan Jiwa 

Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 

Qardhawi, Yusuf, DR Fiqhu shaum, 

Hukum Shalat

Kode: 1.A4.4 | Sarana: Halaqah, Taujih, Daurah

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu: 

1.   Mengetahui hukum shalat (muwashafat 5: 9)

2.   Mengetahui urgensi shalat sebagai kebutuhan hidup yang memberi ketentraman jiwa

3.   Memahami cara shalat yang benar dan dalil-dalilnya

4.   Mengamalkannya dengan khusyu’ sehingga shalat menjadi pencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

TITIK TEKAN MATERI

Shalat menjadi pembeda antara mu’min dan kafir. Meninggalkan shalat wajib hukumnya berdosa. Para fuqaha berbeda pendapat menyikapi orang yang meninggalkannya karena malas. Selain sebagai kewajiban, shalat juga menjadi kebutuhan hidup. Ia sebagai terminal tempat perhentian setiap hamba Allah SWT yang dapat melepas semua penat dan beban yang dihadapi. “Was ta’inu bi shabri wa shalah, innaha lakabiratun illa ‘alal khasyi’in.” 

Juga Hadits Rasulullah: “Ya Bilal arihna bi shalah.” Shalat adalah ibadah yang diwajibkan Allah SWT pada ummat Islam disampaikan langsung pada nabi SAW tanpa perantara dan merupakan tiang Ad-dien, merupakan wasiat terakhir yang diamanatkan Nabi SAW pada ummatnya, sehingga shalat itu diharuskan mengerjakannya dalam kondisi apapun, baik di waktu mukim, diperjalanan, diwaktu damai maupun peperangan. Shalat merupakan amalan yang pertama kali di hisab oleh Allah SWT, oleh karena itu sangat menentang orang yang menyia-nyiakan shalat serta melalaikannya.

POKOK-POKOK MATERI

a.   Arti, kewajiban, dan hikmah shalat

b.   Rukun dan syarat shalat serta yang membatalkan shalat.

c.   Hukum shalat dari Al-Qur‘an dan sunnah, dan pendapat para fuqaha tentang orang yang meninggalkan shalat. 

d.   Shalat sebagai kebutuhan hidup yang menenangkan jiwa Keutamaan shalat dan hikmah shalat berjama’ah.

e.   Sikap para sahabat terhadap shalat 

f.   Pembagian shalat di tinjau dari berbagai aspek.

g.   Shalat jama’ah dan kaitannya 

h.   Shalat-shalat sunnah dan cara mengerjakannya 

i.    Persiapan-persiapan ruh, jasad dan makani sebelum menunaikan shalat.

MARAJI’

Abdul Karim Zaidan, DR.. Al-Mufashshal fi Ahkamil Mar’ah Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu 

Al-Kandahlawi, Hayatus Shahabah 

Ibnu Rusyd,. Bidayatul Mujtahid 

Kamil Muhammad, Uwaidah Al-jami’ al fiqh an-nisa’ Kifayatul Akhyar 

Yusuf Qardhawi, al Ibadah fil Islam

Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah: Buku.. 

Wahbah Zuhaili, Al fiqh Al Islam wa Adillatuhu

Ihsan dalam Shalat

Kode: 1.A4.5 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Mengetahui dalil-dalil al-Qur‘an dan hadits tentang shalat 

2.   Melakukan shalat dengan ihsan-benar, dari aspek hukum maupun aspek ruhiyah

3.   Mengetahui fadhilah (keutamaan) dan hikmah shalat

4.   Menghindarkan diri dari berbagai kekejian dan kemungkaran 

TITIK TEKAN MATERI

Dengan selalu ihsan dalam shalat maka akan dimiliki pribadi yang memiliki shahihul ibadah (mu 2: 5) 

Inti Materi ini berisi uraian bahwa shalat seharusnya dilakukan sesuai tuntutannya, baik tuntutan hukum fiqih (secara lahir) dan tuntutan ruhiyah (secara bathin). Inti kesempurnaan secara bathin, ada pada kekhusyu’an (kehadiran hati) dalam melakukan shalat. Shalat yang dilakukan dengan sempurna akan memberi banyak hikmah, antara lain menghindarkan pelakunya dari kekejian dan kemungkaran.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Dalil-dalil Al-Qur’an dan sunnah tentang shalat

2.   Kesempurnaan shalat dari sudut hukum fiqh 

3.   Kesempurnaan shalat dari sudut ruhiyah (bathiniyah)

4.   Mengkaji hadits Al Masyi fil Shalat dari: 

a.   Fathul bari, Shahih Bukhari

b.   Syarah Nawawi, Shahih Muslim

c.   Subulussalam, Bulughul Maram

5.   Kisah para sahabat dan tabi’in tentang shalat

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Berikan pendahuluan tentang urgensi shalat dalam kehidupan. Pada dasarnya, di samping kewajiban, shalat merupakan kebutuhan setiap orang dalam menghadapi berbagai problema kehidupan. Hanya shalat yang dilakukan secara benar, dari aspek fiqih maupun ruhiyahnya saja yang dapat memberi buah bagi pelakunya. Kemukakan bagaimana kualitas shalat para sahabat dan tabi’in. Dengan kualitas seperti itulah mereka mampu menanggung beban perjuangan dakwah Islam.

MARAJI’

Imam An-Nawawi Kitab Riyadhus shalihin, 

Imam Ghazali Ihya Ulumidin 

Sayyid Sabiq Fiqhus Sunnah, 

Yusuf Qardhawi, al Ibadah fil Islam

Zainab binti Muhammad Muharib, Kaifa takhsya’inna fish shalah

Said Hawwa Mensucikan Jiwa, 

Qiyamul lail

Kode: 1.A2.6 | Sarana: Halaqah/Mabit

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Mengetahui dalil-dalil qiyamul lail dengan benar

2.   Mengetahui tata-cara melaksanakan qiyamul lail

3.   Mengetahui fadhilah qiyamul lail

4.   Melaksanakan qiyamul lail secara rutin minimal sekali sepekan

TITIK TEKAN MATERI

Dengan materi ini maka akan terbentuk kebiasaan dan kesadaran melakukan qiyamul lain minimal sekali sepekan, sehingga seseorang memiliki karakter shahihul ‘ibadah (mu 2: 6) 

Materi ini menggambarkan tentang fadhilah (keutamaan) qiyamul lail yang sangat istimewa. Di antara fadhilahnya adalah, melatih keikhlasan dalam beribadah, dan melatih diri mengalahkan hawa nafsu. 

Di samping itu, suasana malam yang sangat tepat untuk beraudiensi dengan Allah SWT. Urgensi Qiyamul lail juga dapat dilihat ketika dakwah masih dalam tahap awal di Makkah, di mana Rasulullah dan para sahabat diperintahkan untuk melakukan qiyamul lail. Artinya, qiyamullail dapat menjadi suplai energi dan benteng ruhiyah yang sangat kuat dalam menghadapi berbagai ujian dan problematika perjuangan. 

Membiasakan qiyamul lail juga bisa bermanfaat untuk mengoptimalkan waktu malam, melakukan berbagai amal kebaikan. Misalnya, belajar, menulis, tafakkur, tilawah, dsb.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Dalil-dalil Al-Qur‘an dan hadits Nabawi tentang qiyamul lail 

2.   Fadhilah dan urgensi Qiyamul lail 

3.   Kisah sahabat dan tabi’in dalam melakukan qiyamul lail (membaca kitab Riyadushshalihin bab Fadlu Qiyamul lail)

4.   Kiat-kiat agar dapat melakukan qiyamul lail

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Berikan gambaran tentang urgensi dan fadhilah qiyamullail, merujuk pada dalil Al-Qur‘an dan hadits. Sampaikan apa tujuan kita membahas materi ini. Uraikan bagaimana pentingnya Qiyamul lail dalam membina kondisi ruhiyah seseorang, sehingga dia dapat menghadapi berbagai problematika dalam hidup. Baru setelah itu dijelaskan, bagaimana kiat-kiat yang bisa ditempuh agar seseorang mampu bangun malam. Berikan kesempatan bagi audiens tentang problem yang pernah dialami, yang menjadi hambatan ketika akan bangun malam.

MARAJI’

Imam An-Nawawi Kitab Riyadhus shalihin, 

Imam Ghazali, Ihya Ulumudin 

Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 

Adzan

Kode: 1.A4.7 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu: 

1.   Mengetahui latar belakang disyariatkannya adzan

2.   Mengetahui fadhilah adzan

3.   Memiliki sifat untuk tidak sungkan adzan apabila waktu shalat tiba

4.   Menjadi muadzin dengan benar ketika waktu shalat tiba

TITIK TEKAN MATERI

Shalat adalah ciri utama seorang muslim. Untuk memberi tanda waktu shalat maka dikumandangkan adzan. Maka dengan terbangunnya sifat untuk tidak sungkan adzan akan terbentuknya karakter shahihul ibadah. (2: 1) 

Materi ini memberi uraian tentang bagaimana keutamaan (fadhilah) adzan sebagai panggilan yang mulia bagi para hamba Allah SWT untuk menuju ke masjid. Seorang yang menyadari keutamaan itu akan berupaya keras mengumandangkan adzan, kendati untuk itu ia harus mengatasi kendala yang sangat berat. Selain memiliki nilai pahala yang istimewa, seorang muadzin akan mendapat perlakuan istimewa di hari akhir. Di sisi lain, seorang muadzin secara otomatis akan melakukan shalat di awal waktu, plus mendapatkan pahala shalat berjamaah.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Latar belakang disyari’atkannya Adzan

2.   Dalil-dalil dari hadits Nabawi tentang adzan.

3.   Al-azkar, Imam Nawawi 

4.   Fadhilah adzan, di dunia maupun di akhirat.

5.   Tinjauan fiqih tentang adzan (membaca kitab Raiyadushshalihin bab fadlul Azan)

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Berikan pengantar bahwa topik adzan yang akan di bahas memiliki nilai yang sangat penting. Sementara kondisi masyarakat kita, karena belum memahami keutamaan adzan, cenderung kurang responsif terhadapnya. Contoh, masih banyak di antara kita yang sungkan atau enggan melakukan adzan. Di sisi lain, ada pula masyarakat yang mengumandangkan adzan dengan cara yang tidak benar. Misalnya, menganggap adzan yang paling baik adalah yang memiliki nada paling bagus. Sampaikan juga bahwa kedudukan muadzin adalah mulia. Karena adzan dapat mengusir syaithan, dan menjadi salah satu amal yang mendapat balasan berlipat ganda. Apalagi, seorang muadzin pasti melakukan shalat di awal waktu secara berjamaah.

MARAJI’

Imam An-Nawawi, Riyadhus shalihin: Fadhilatul adzan. 

Imam Nawawi, Al Azkar 

Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah

Zakat

Kode: 1.A4.8 | Sarana: Halaqah, Taujih dan Penugasan

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu: 

1.   Membayar zakat dengan baik (muwashafat 4: 5)

2.   Mengetahui fadhilah dan urgensi zakat

3.   Mengetahui hukum zakat (tinjauan fiqh)

4.   Mengetahui adab dalam berzakat

5.   Mengetahui jenis-jenis zakat

TITIK TEKAN MATERI

Dengan pemberian materi ini maka seseorang akan membayar zakat dengan baik sesuai dengan nishabnya, sehingga terbentuknya shahihul ibadah pada diri seseorang. (2: 7) 

Materi ini menguraikan tentang kewajiban muslim membayar zakat. Juga bagaimana adab yang harus dipelihara dalam menunaikan zakat. Selain itu, ada banyak fadhilah dan hikmah yang ada di dalam menunaikan zakat. Misalnya, membina kepedulian sosial, membersihkan harta dari bagian yang harus dizakatkan (kewajiban muzakki dan sekaligus hak dari mustahiq), membersihkan jiwa dari keterikatan dengan dunia (cinta dunia), serta menyadarkan bahwa sesungguhnya harta itu milik Allah SWT.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Dalil-dalil Al-Qur‘an dan hadits Nabawi tentang zakat

2.   Fiqih zakat 

3.   Adab dalam berzakat 

4.   Fadhilah dan Urgensi zakat 

5.   Jenis-jenis zakat

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Berikan pendahuluan tentang kondisi kesenjangan di masyarakat karena ketiadaan rasa peduli dari si kaya terhadap si miskin. Di sinilah Islam memberi solusi dengan menetapkan kewajiban zakat. Sampaikan bahwa seorang muzakki posisinya tidak lebih mulia dari mustahiq, karena dalam Islam, harta yang dimiliki muzakki memang termasuk hak yang harus diberikan untuk si mustahiq. Setelah itu jelaskan sekilas tentang fiqhu zakat. Uraikan juga adab yang harus dipenuhi dalam zakat. Dan terakhir, ceritakan bagaimana kesenjangan sosial dan problematika ekonomi, akan berkurang bila zakat dilakukan oleh setiap muslim.

MARAJI’

Imam An-Nawawi, Kitab Riyadhus shalihin 

Imam Ghazali, Ihya Ulumudin 

Said Hawwa, Mensucikan Jiwa 

Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 

Qardhawi, Yusuf, DR, Fiqhu Zakat

Yusuf Qardhawi, al Ibadah fil Islam

 

Hukum Puasa Fardhu

Kode: 1.A4.9 | Sarana: Halaqah, taujih dan penugasan

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu: 

1.   Mengetahui hukum puasa (muwashafat 5 : 10)

2.   Mengetahui fadhilah puasa untuk kehidupan dunia dan akherat

3.   Mengetahui hikmah Puasa menurut kesehatan-kedokteran

4.   Melaksanakan puasa fardhu (Ramadhan) dengan baik

TITIK TEKAN MATERI

Materi ini menguraikan tentang wajibnya puasa di bulan Ramadhan. Puasa Ramadhan merupakan terminal pembersihan jiwa selama rentang satu tahun. Puasa, tidak hanya meninggalkan makan dan minum, tapi dengan menghindari semua organ tubuh dari kemaksiatan. Sekaligus mengoptimalkan fungsi anggota tubuh itu dalam kerangka taat kepada Allah SWT. Puasa dapat membina keikhlasan dalam beribadah, menumbuhkan rasa empati terhadap kaum papa, dan membina diri agar mampu mengendalikan hawa nafsu. Puasa merupakan salah satu sarana tarbiyah untuk tazkiyah nafs (penyucian jiwa) yang sangat efektif. Karenanya puasa sudah disyari’atkan dalam agama sebelum diutusnya Rasulullah saw. 

Urgensi puasa lebih terasa lagi, ketika menghadapi berbagai problematika zaman yang selalu mengganggu syahwat perut dan kemaluan. Allah SWT menetapkan puasa karena banyak hikmah di dalamnya. Antara lain, tumbuhnya rasa kedekatan jiwa dengan Allah SWT sehingga menciptakan suasana tenang dan tentram dalam menghadapi berbagai problema

POKOK-POKOK MATERI

1.   Dalil-dalil Al-Qur‘an dan Sunnah tentang puasa 

2.   Urgensi dan fadhilah puasa 

3.   Hikmah puasa fardhu 

4.   Pendapat para fuqaha tentang orang yang meninggalkan puasa 

5.   Kesempurnaan puasa secara ruhiyah

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Berikan prolog bahwa puasa merupakan salah satu syariat yang ditetapkan sebelum Rasulullah. Ini disebabkan karena nilai dan fadhilah puasa yang demikian besar. Setelah itu sampaikan tentang dalil Al-Qur‘an dan sunnah puasa. Jelaskan juga sekilas masalah fiqih shaum, dikaitkan dengan permasalahan yang ada pada masyarakat. Yang paling penting disampaikan, bahwa puasa tidak sekedar menahan lapar dan haus saja, tetapi juga dengan menahan segala anggota tubuh dari melakukan kemaksiatan.

MARAJI’

Al fiqh Al Islam wa Adillatuhu 

Imam An-Nawawi Kitab Riyadhus shalihin Kifayatul Adyar 

Qardhawi, Yusuf, Fiqhu shaum 

Yusuf Qardhawi, al Ibadah fil Islam

Said Hawwa Mensucikan Jiwa 

Sayyid Sabiq, Fiqhu Sunnah

Shaum Sunnah

Kode: 1.A4.10 | Sarana: Taujih dan penugasan

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Mengetahui waktu-waktu disunnahkannya dalam puasa atau jenis-jenis puasa sunnah

2.   Mengetahui fadhilah puasa sunnah 

3.   Mengetahui fadilah puasa sunnah di hadapan Allah SWT

4.   Mengetahui fadilah puasa untuk kesehatan jiwa dan kesehatan fisik

5.   Melaksanakan puasa sunnah minimal satu hari satu bulan

TITIK TEKAN MATERI

Materi ini menghantarkan seseorang untuk dapat melaksanakan dengan istiqamah shaum yang difardhukan dan menjalankan shaum yang disunnahkan minimal satu kali dan sebulan, dengan ibadah ini maka akan terbentuk sifat shahihul ibadah pada diri seseorang (muwashafat 2: 9). Materi ini menguraikan tentang keutamaan puasa sunnah sebagai motivasi melakukan puasa sunnah, minimal satu kali satu bulan. Puasa sunnah menjadi sarana yang efektif untuk tetap memelihara kualitas kondisi ruhaniyah yang sudah terbina selama satu bulan di bulan Ramadhan.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Jenis-jenis puasa sunnah

2.   Dalil-dalil hadits Nabawi tentang puasa sunnah

3.   Manfaat puasa terhadap kesehatan fisik dan kesehatan jiwa

4.   Mengetahui fadilah puasa untuk kesehatan jiwa dan kesehatan fisik

5.   Jenis-jenis puasa sunnah

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Berikan prolog bahwa suasana ruhiyah yang telah dibina selama bulan Ramadhan harus dipertahankan selama sebelas bulan selanjutnya. Karena puasa sebagai sarana tarbiyah ruhiyah yang efektif, maka sedapat mungkin puasa juga dilakukan pada waktu selain bulan Ramadhan. Jelaskan ada banyak alternatif puasa sunnah yang diberikan Rasulullah saw. Ceritakan pula sikap Rasulullah, para sahabat dan para tabi’in yang sangat memelihara kebiasaan puasa sunnah. 

Setelah itu berilah penugasan untuk melakukan puasa sunnah, minimal satu bulan sekali. Hasilnya bisa dievaluasi lewat form aktivitas bulanan. Penugasan untuk membaca kitab Riyadushshalihin bab Istihbabu shaumu salasati ayyami min kulli syahr.

MARAJI’

Imam An-Nawawi Kitab Riyadhus shalihin, S

aid Hawwa Mensucikan Jiwa, 

Sayyid Sabiq Fiqhus Sunnah, 

Qardhawi, Yusuf, DR. Fiqhu shaum, Al Ibadah fil Islam

I'tikaf

Kode: 1.A4.11 | Sarana: Taujih dan penugasan

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Mengetahui waktu diturunkannya Al-Qur'an

2.   Mengetahui makna lailatul qadar

3.   Mengetahui tata cara i'tikaf

4.   Melakukan i'tikaf pada bulan ramadhan, jika mungkin

TITIK TEKAN MATERI

Materi ini menghantarkan seseorang untuk dapat melaksanakan i'tikaf jika mungkin, dengan i'tikaf ini maka akan terbentuk sifat shahihul ibadah pada diri seseorang (muwashafat 2: 25). Bulan ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an. Pada malam ramadhan terdapat malam seribu bulan. Pad malam tersebut Allah SWT menurunkan banyak keberjahan dari langit. Rasul SAW menyunahkan untuk beri'tikaf pada 10 malam terakhir pada bulan Ramadhan. Untuk melakukan i'tikaf, maka perlu mengetahui rukun dan syarat, serta tempat-tempat untuk dapat melakukan i'tikaf. Untuk memberi semangat spiritual, maka kita perlu mengetahui tanda-tanda malam seribu bulan tersebut. I'tikaf adalah bentuk ritual yang sangat ruhiyah.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Ramadhan sebagai bulan Qur'an (syahrul Qur'an)

2.   Malam seribu bulan (lailatul qadr)

3.   I'tikaf Rasul SAW dan orang-orang shaleh

4.   Kaifiyah, Syarat dan hokum i'tikaf

5.   I'tikaf dan pembentukan kekuatan spiritual

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Pelaksanaan i'tikaf di beberapa tempat sudah menjadi tradisi sejak dahulu, sehingga kebiasaan tersebut tinggal mengisi dan melanggengkan. Tidak jarang dibeberapa tempat pelaksanaan pencarian seribu bulan atau i'tikaf mengalami penyimpangan, yaitu digunakan untuk berjalan-jalan melihat tanda-tanda dari langit, atau hanya dibuatkan acara maleman (dengan makanan yang khas) tetapi tidak melakukan i'tikafnya sendiri di masjid. Perlu dilakukan i'tikaf jamai’

MARAJI’

Imam An-Nawawi Kitab Riyadhus shalihin, 

Said Hawwa Mensucikan Jiwa, 

Sayyid Sabiq Fiqhus Sunnah, 

Qardhawi, Yusuf, DR. Fiqhu shaum, Al Ibadah fil Islam

Ibadah Haji

Kode: 1.A4.12 | Sarana: Taujih, halaqah, ta’lim

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Mengetahui hukum haji 

2.   Mengetahui rukun dan wajib haji

3.   Mengetahui anjuran dan larangan sewaktu pelaksanaan haji

4.   Mengetahui fadhilah haji sebagai sarana tarbiyah 

5.   Memancangkan niat melaksanakan haji bila mampu

TITIK TEKAN MATERI

Pemberian materi ini untuk mendorong seseorang berniat melaksanakan ibadah haji sehingga terbentuknya shahihul ibadah pada diri seseorang (muwashafat 2: 10). 

Materi ini berisi uraian tentang hukum wajibnya haji, satu kali seumur hidup, bila mampu. Banyak keutamaan dan hikmah yang terkandung dalam haji. Seperti memacu terbangunnya suasana ruhaniyah yang tinggi, memperoleh pahala berlipat karena beribadah di tempat istimewa, dapat berdo’a di tempat-tempat mustajab, haji sebagai momen universalitas persaudaraan Islam, dapat merasakan jejak peninggalan sejarah perjuangan da’wah Rasulullah dan para sahabat dan sebagainya.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Dalil-dalil Al-Qur‘an dan hadits Nabawi tentang haji 

2.   Urgensi dan fadhilah haji sebagai sarana tarbiyah

3.   Rukun dan wajib haji

4.   Anjuran dan larangan sewaktu pelaksanaan haji

5.   Membaca kitab Riyadushshalihin bab Wujubul haji wa fadilah 

6.   Kisah-kisah unik dalam haji, termasuk bagaimana haji yang dilakukan para salafu shalih

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Berikan pendahuluan bahwa haji, di samping merupakan kewajiban, juga menjadi salah satu sarana tarbiyah yang efektif. Banyak amal-amal yang dibalas secara berlipat ganda selama haji, bahkan Rasulullah menggambarkan haji yang mabrur sebagai penghapus dosa yang dapat mengantarkan seseorang masuk surga. Uraikanlah fadhilah dan urgensi haji lainnya untuk mendorong niat melakukan haji bila mampu. Adakan pula diskusi singkat tentang pengalaman unik orang-orang yang sudah berhaji. Terakhir, tanamkan niat kuat untuk dapat melakukan haji, bila mampu.

MARAJI’

Imam An-Nawawi Kitab Riyadhus shalihin, 

Said Hawwa Mensucikan Jiwa, 

Sayyid Sabiq Fiqhus Sunnah, 

Yusuf Qardhawi, Al-ibadah fil Islam

Aurat dan Pakaian

Kode: 1.A4.13 | Sarana: Halaqah, taujih dan penugasan

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu: 

1.   Memahami aturan menutup aurat dalam Islam.

2.   Mengamalkan dan memberi contoh pada anggota keluarganya (dengan dalil-dalilnya). 

3.   Memahami syarat-syarat berpakaian menurut aturan Islam.

4.   Mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan bermasyarakat.

TITIK TEKAN MATERI

Islam mewajibkan para Muslimah menutup auratnya, dan tidak ada perbedaan antara menutupinya pada waktu shalat ataupun pada saat berhadapan dengan orang lain. Islam itu indah dan bersih, sehingga muslimah harus pandai menjaga penampilan dirinya dihadapan wanita lain, tanpa berlebihan sepanjang masih dalam garis syar’i.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Aurat, pengertian, batas-batas dan hukumnya. 

a.   Berdasarkan jenis kelamin

b.   Berdasarkan usia (anak, dewasa, usia lanjut)

c.   Berdasarkan kondisi (sakit, sedang pemeriksaan medis)

2.   Pakaian, model dan warna, syarat-syarat pakaian secara syar’i.

3.   Akibat tidak mengindahkan aturan Islam dalam berpakaian dan menutup aurat.

MARAJI’

Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah 

Abdul Karim Zaidan., DR Al-Mufashshal fi Ahkamil Mar’ah 

Kamil Muhammad Uwaidah, Al-jami’ al fiqh an-nisa’. 

Qaradhawi, Yusuf, DR. Halal wal haram. 

Berdo’a pada waktu-waktu utama

Kode: 1.A4.14 | Sarana: halaqah

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu: 

1.   Mengetahui fadhilah do’a

2.   Mengetahui waktu-waktu utama untuk berdo’a 

3.   Berdo’a pada waktu-waktu utama 

4.   Mengetahui doa –doa istijabah (tempat, kondisi dan hal-hal lain)

TITIK TEKAN MATERI

Dengan berdoa pada waktu-waktu utama, maka akan membentuk shahihul ibadah pada diri seseorang (2: 15) 

Materi ini berisi uraian tentang fadhilah dan kedudukan do’a bagi seorang muslim. Ada sejumlah waktu utama untuk berdo’a yang patut diketahui. Perhatian terhadap waktu-waktu tersebut, dapat memelihara kedekatan dan ketawakkalan kepada Allah SWT. Di samping itu, akan tumbuh sikap memelihara waktu agar tidak terbuang secara percuma. Doa istijabah menurut waktu, tempat dan keadaan.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Dalil-dalil Al-Qur‘an dan hadits tentang kedudukan do’a. 

2.   Sikap positif yang tumbuh dari berdo’a

3.   Macam-macam doa: 

a.   Doa sesudah shalat

b.   Doa ketika konisi kritis

4.   Doa yang istijabah

a.   Dilihat dari tempat: Tiga Masjid Suci, antara ka’bah dan hajar aswat dll) 

b.   Dilihat dari waktu: (sesudah shalat, antara dua khatbah dll)

c.   Dilihat dari kondisi (orang tua pada anak, ditindas, puasa dll) 

5.   Hadits tentang waktu-waktu utama dalam berdo’a

6.   Membaca risalah Al Ma’tsurat bab Fadlud du’a bizhahril qaib dan bab Fi Masaail minad da’wat

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Berikan pendahuluan tentang kedudukan do’a yang menjadi inti dalam beribadah. Juga, masalah keterkaitan hubungan antara seorang hamba dengan Allah SWT, dalam segala hal, yang melalui do’a akan menumbuhkan rasa tawakkal. Kebutuhan dan problematika hidup ini banyak, dan untuk itu, Rasulullah telah meninggalkan banyak petunjuk tentang waktu-waktu utama berdo’a. 

Uraikan pula bahwa dengan memperhatikan waktu-waktu utama berdo’a, akan memberi banyak faidah dalam membangun kepribadian yang selalu memperhatikan waktu. Setelah itu cobalah beri tugas, selama satu bulan, yang dievaluasi setiap pekan, agar peserta didik melakukan do’a di waktu-waktu utama itu. 

Penugasan: Membaca kitab Riyadlus Shalihin bab Fadlud du’a

MARAJI’

Imam An-Nawawi Kitab Riyadhus shalihin, 

Said Hawwa Mensucikan Jiwa‎

Imam an Nawawi, Al Adzkar

 

Taubat dan Istighfar

Kode: 1.A2.15 | Sarana: Taujih dan penugasan membaca

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Mengetahui perintah istighfar dan taubat dalam Al-Qur‘an dan hadits

2.   Mengetahui fadhilah Istighfar dan taubat 

3.   Menutup hari-harinya dengan taubat dan istighfar 

4.   Menghafal hadits-hadits taubat dan istighfar

TITIK TEKAN MATERI

Dengan menutup hari-harinya dengan bertaubat dan beristighfar maka akan didapat pribadi yang memiliki shahihul ibadah (2: 16). 

Materi ini menekankan aspek pentingnya melakukan istighfar dan taubat sesering mungkin. Minimal pada setiap pergantian hari. Sebabnya, banyak sekali dosa yang dilakukan dalam satu hari, baik yang disengaja dan diketahui, maupun yang tidak sengaja dan tidak diketahui. Orang yang menyadari kesalahan dan dosa, lebih terlindung dari kemaksiatan. Menutup hari dengan taubat akan menumbuhkan sikap memelihara diri dari dosa atau berusaha mengulangi kemaksiatan yang pernah dilakukan pada masa yang akan datang.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Dalil-dalil Al-Qur‘an dan hadits tentang perintah taubat dan istighfar 

2.   Fadhilah istighfar 

3.   Membaca kitab Riyadushshalihin Bab istighfar dan bab taubat

4.   Sikap para salafushalih dalam melakukan istighfar

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Berikan prolog bahwa setiap manusia pasti melakukan dosa. Tapi sebaik-baiknya orang yang melakukan dosa adalah bertaubat. Apalagi, banyak dosa yang dilakukan dalam kondisi pelaku tidak menyadari itu sebagai dosa. Dari kenyataan inilah, setiap orang wajib beristighfar sesering mungkin. Kemukakan sejumlah perintah istighfar dalam Al-Qur‘an dan sunnah. Ambil pula intisari fadhilah yang bisa diambil dari hadits tersebut. Minimal, istighfar dapat dilakukan menjelang tidur, sambil melakukan muhasabah (evaluasi) terhadap amal dalam hari yang sudah dilalui. 

Sampaikan pula, bahwa orang yang terbiasa melakukan hal ini akan lebih menghargai kesempatan hidup yang tak seorang pun tahu, sampai kapan ruhnya dicabut.

MARAJI’

Imam An-Nawawi, Kitab Riyadhus shalihin, 

Said Hawwa, Mensucikan Jiwa, 

Riyadushshalihin: Istighfar dan Taubat

Dzikir

Kode: 1.A2.16 | Sarana: Taujih dan penugasan

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu: 

1.   Mengetahui dalil Al Qur‘an dan Sunnah tentang dzikir 

2.   Mengetahui fadhilah dzikrullah

3.   Mengetahui dzikir ma’tsur di waktu pagi dan petang secara rutin, serta di setiap keadaan 

4.   Melakukan dzikir secara rutin di waktu pagi dan sore 

5.   Melakukan dzikir kepada Allah SWT dalam setiap keadaan

TITIK TEKAN MATERI

Pemberian materi ini agar seseorang dapat merutinkan dzikir pada pagi dan sore hari dan melakukan dzikir kepada Allah SWT dalam setiap keadaan, sehingga terbentuknya pribadi yang memiliki shahihul ibadah (muwashafat 2: 19-21) 

Materi ini berisi tentang urgensi dzikir, diambil dari dalil Al-Qur‘an dan Sunnah. Rasulullah menggambarkan orang yang berdzikir dengan orang yang tidak berdzikir, adalah antara orang yang hidup dengan yang mati. Ada sejumlah wirid ma’tsur yang dicontohkan Rasulullah agar dibaca setiap pagi dan petang. Memelihara rutinitas wirid harian tersebut, Insya Allah akan memelihara amal pelakunya sepanjang hari dari kemaksiatan dan marabahaya.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Dalil-dalil Al-Qur‘an dan hadits Nabawi tentang urgensi dzikrullah 

2.   Fadhilah dzikir

3.   Bentuk-bentuk bacaan dzikir yang diajarkan Rasulullah di waktu pagi dan petang

4.   Bentuk-bentuk bacaan dzikir yang dapat dilakukan di setiap kesempatan

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Membaca kitab Riyadusshalihin babul zikri wal hassu ‘alaihi dan bab Zikrullahu ta’ala Qa iman wa qa’idan. Menyuruh menghafalkan bacaan dzikir yang ma’stur, dapat merujuk doa-doa ma’sturat sughra. Setelah peserta menghafalkannya, maka memberikan tugas untuk membaca dzikir pada pagi dan sore hari secara rutin.

Tugas ini harus dimutabaah dan selalu dimotivasi dengan mengingatkan fadhilah-fadhilahnya, sehingga seorang melakukan dengan penuh kegembiraan dan mengharap keridhaan Allah SWT dan menjauhi sefat riya’ karena mutabbah.

MARAJI’

Hasan Al-Banna, Al-Ma’tsurat 

Imam An-Nawawi, Kitab Riyadhus shalihin, 

Imam Nawawi, Al Adzkar Said Hawwa, Mensucikan Jiwa, 

Bidang studi: 
sirah, akhlaq dan kepribadian muslim

Keutamaan Bangun pagi

Kode: 1.A5.1 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu: 

1.   Membiasakan diri bangun pagi

2.   Memahami bahwa bangun pagi adalah sunnah Rasul dengan menyebutkan satu dalil yang menyeru bangun pagi, atau contoh perbuatan dari Rasulullah SAW.

3.   Memahami bahwa bangun pagi mempunyai dampak positif pada sisi ruhiyah, kesehatan dan ekonomi.

4.   Menjadikan sistem nilai akan bangun pagi, sehingga senantiasa memprogram dirinya untuk bangun pagi dengan mengetahui manfaat dan dampak positifnya.

TITIK TEKAN MATERI

Titik tekan yang harus disampaikan dalam materi ini adalah: Dengan materi keutamaan bangun pagi ini maka seseorang akan selalu rutin bangun pagi, sehingga dalam diri seseorang terbentuk karakter haritsun ‘ala waqtihi. (muwashafat 9: 1).

Pentingnya bangun pagi bagi seorang muslim karena bangun pagi berdampak positif bagi rohani, kesehatan dan ekonomi. Dampak rohani adalah seorang muslim dapat bermunajat dan berdzikir kepada Allah SWT di pagi hari, sedang dampak kesehatan dapat dirasakan dari dari udara yang bersih dan olahraga. Adapun dampak ekonomi, seorang muslim di pagi hari dapat merancang rencana-rencana bisnisnya dan satuan-satuan pekerjaannya, apa saja yang ingin diraih pada hari itu dan malamnya ia dapat melakukan evaluasi dari kegiatan hari ini. 

Agar tidak menjadi sekedar arahan tapi dapat dipraktekan maka diperlukan contoh-contoh hidup yang sukses dalam kehidupan mereka karena disiplin bangun pagi. Disamping itu diperlukan arahan-arahan tehnik pelaksanaan bagaimana caranya bisa disiplin bangun pagi misal tidak bergadang, niat sebelum tidur, berpesan kapada keluarga dan atau menyediakan jam bekker atau semacamnya

POKOK-POKOK MATERI

1.   Dalil-dalil keutamaan bangun pagi dari Al Qur-an dan Al Hadits.

2.   Dampak-dampak positif bangun pagi (ruhani, kesehatan dan ekonomi)

3.   Publik figur orang-orang sukses karena bangun pagi.

4.   Kiat-kiat bangun pagi

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Proses pemberian Madah

MARAJI’

Qardlawi, Yusuf, DR., Karakteristik Waktu 

Muhammad Ghazali., Perbaharuilah Hidupmu; Membangun Kegiatan Positif, 

Hasan al Banna, wajibatul al akh ash shadiq

Akhlaq kepada Kaum Muslim

Kode: 1.A5.2 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu: 

1.   Menyayangi yang kecil dan mengharmati yangbesar

2.   Menyimpan rahasia.

3.   Menutupi dosa orang lain

4.   Mengetahui hak dan adab kaum muslimin.

5.   Mengetahui tiga perilaku Muslim dengan menyebutkan dalil-dalilnya dalam Qur'an dan Sunnah

TITIK TEKAN MATERI

Dengan pemberian materi tentang Akhlaq Muslim ini maka seseorang akan terbentuk pribadi yang memiliki sifat matinul khuluq. (3: 11-12, 16, 17). 

Materi ini menekankan akhlaq terhadap sesama muslim, yaitu memenuhi hak dan adab kaum muslimin. Menunaikan hak dan adab sesama muslimin merupakan ibadah kepada Allah SWT dan sebagai suatu cara mendekatkan diri kepada-Nya, karena hak dan adab tersebut telah diwajibkan Allah SWT kepada kaum muslimin untuk dilaksanakan. 

Hak dan adab kaum muslimin antara lain adalah: mengucapkan salam, mendoakannya waktu bersin, menengoknya bila sakit, menyaksikan jenazahnya bila meninggal, menghargai sumpahnya, memberi nasehat dalam hal haq, mencintainya seperti mencintai diri sendiri, menolongnya bila dibutuhkan, tidak menimpakan keburukan atau sesuatu yang tidak disenangi, merendahkan diri dan tidak sombong kepada sesama muslim, tidak memutuskan hubungan lebih dari tiga hari, tidak menggunjing-menghina-mengejek-memanggil dengan sebutan yang buruk, tidak mencaci dan mencerca tanpa hak di waktu hidup maupun sesudah meninggalnya, tidak iri hati-dengki-berprasangka buruk-membenci-mencari-cari kesalahan, tidak menipu dan mengecoh, tidak boleh berlaku khianat-mendustakan-menangguhkan pembayaran hutang, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda, berlaku adil seperti terhadap diri sendiri, memaafkan salahnya dan menutupi aibnya, dan memohonkan perlindungan serta mendoakannya. Menghormati yang tua dan menyayangi yang muda merupakan akhlaq muslimin. 

Bahkan Rasulullah bersabda: Bukan golongan kami orang yang tidak menghormati yang tua dan menyayangi yang muda dari kami. Sesama muslim hendaknya saling menjaga rahasia, yaitu rahasia yang berkenaan dengan pribadi muslim maupun rahasia yang berkenaan dengan perjuangan Islam. Menjaga rahasia merupakan janji, dan janji harus ditepati (QS 17: 34). 

Sesama muslim hendaknya saling menutupi aib/dosa. Allah SWT tidak menghendaki berita perbuatan keji tersebar diantara orang-orang beriman, bahkan Allah SWT mengancam azab pedih bagi yang menyebarkannya (QS 24: 19). Allah SWT mengibaratkan mereka yang menggunjingkan satu dengan lainnya seperti makan bangkai saudaranya sendiri (QS 49: 12). Rasulullah telah bersabda: Tidaklah seorang hamba menutupi aib hamba lainnya, kecuali Allah SWT menutupi keburukan dia pada hari kiamat. 

Hendaknya tiap muslim menerapkan akhlaq terhadap sesama muslim tersebut dalam berinteraksi keseharian maupun dalam beraktivitas. Penerapan akhlaq yang baik akan membawa kepada sikap dan perilaku saling memahami dan saling memaklumi yang dapat makin memperkokoh tali ukhuwah dan memperkokoh pelaksanaan amal jama’i dalam mengemban amanah da’wah.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Hak dan adab kaum muslimin: mengucapkan salam, mendoakannya waktu bersin, menengoknya bila sakit, menyaksikan jenazahnya bila meninggal, menghargai sumpahnya dll.

2.   Tiga akhlaq muslim: Menyimpan rahasia, menutupi aib orang lain, menyayangi yang muda dan menghormati yang tua.

3.   Dalil Qur'an dan Sunnah tiga akhlaq muslim (dalil perintah mengerjakan dan ancaman bagi yang meninggalkannya)

4.   Kiat-kiat menerapkan ketiga perilaku tersebut dalam berinteraksi dengan sesama muslim, baik dalam berinteraksi keseharian maupun dalam beraktivitas.

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Berikan pengantar bahwa topik yang dibahas adalah tentang akhlaq kepada sesama muslim dan sampaikan tujuan pembelajaran materi ini. Pancing peserta mengemukakan pendapatnya tentang akhlaq kepada sesama muslim. Luruskan dan lengkapi tanggapan peserta tentang akhlaq kepada sesama muslim, tekankan pada tiga perilaku berikut, yaitu menyimpan rahasia, menutupi dosa/aib orang lain, dan menyayangi yang kecil/muda dan menghormati yang besar/tua disertai dalil-dalil dalam Al-Qur'an dan Sunnahpendukungnya. 

Kemukakan kisah yang berkaitan dengan ketiga perilaku tersebut. Untuk menyimpan rahasia, kemukakan kisah Abu Bakr ra yang menyimpan rahasia Rasulullah ketika Umar ra menawarkan Hafsah untuk diperistrinya, dan kisah Fatimah yang menyimpan rahasia bisikan Rasulullah yang membuatnya menangis kemudian tertawa. Pancing peserta mengemukakan kiat-kiat menerapkan ketiga perilaku tersebut dalam upaya memperkokoh ukhuwah dan meraih ridha Allah SWT. Lengkapi tanggapan peserta tentang kiat-kiat tersebut sesuai target yang ditetapkan.

MARAJI’

Abu Bakr Jabir Al-Jazairi (1996). Pedoman Hidup Muslim (diterjemahkan oleh Hasnudin dan Didin Hafidhudin). Litera Antar Nusa, Bogor-Jakarta.

Memenuhi Janji

Kode: 1.A5.3 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu: 

1.   Memenuhi janji apabila sudah berjanji

2.   Membiasakan diri untuk tidak dusta apabila berjanji dan berkata 

3.   Mengetahui makna janji dan macam-macam janji.

4.   Memahami janji kepada Allah SWT dan janji kepada sesama manusia

5.   Memahami makna ‘Insya Allah’ dan mampu menempatkan posisi ‘Insya Allah’ secara benar dalam berjanji

TITIK TEKAN MATERI

Dengan pemberian materi tentang Memenuhi Janji ini maka seseorang akan terbentuk pribadi yang memiliki matinul khuluq. (3: 3 dan 3: 13). 

Materi ini memberi gambaran bahwa janji merupakan fenomena yang selalu terjadi dalam kehidupan manusia, baik janji manusia dengan al-Khaliq maupun janji dengan sesama manusia. Contoh janji seorang muslim kepada Allah SWT yaitu janji menyembah dan memohon pertolongan hanya pada-Nya (QS 1: 5), dan janji mempersembahkan shalat-ibadah-hidup-mati hanyalah bagi-Nya (QS 6: 162). Janji tersebut hendaknya dipenuhi dan dilaksanakan dengan ikhlas dan istiqamah. Bahkan salah satu ciri orang yang berilmu pengetahuan adalah berjanji untuk memenuhi janji dengan Allah SWT dan tidak merusak perjanjian (QS 13: 19-20). 

Dalam kaitannya dengan janji kepada sesama manusia, maka hendaklah diperhatikan bahwa janji harus untuk hal/perkara yang haq. Bila terlanjur janji untuk perkara yang bathil, hendaknya istighfar dan membatalkan janji tersebut. Memenuhi janji juga termasuk membiasakan untuk selalu memulangkan barang orang lain yang kita pinjam. 

Dalam kaitannya dengan janji, maka Allah SWT memerintahkan agar memenuhi janji (QS 7: 34, 5: 1, 16: 91). Rasulullah bersabda bahwa tidak memenuhi janji adalah salah satu ciri kemunafikan. Oleh karena itu tiap muslim hendaknya berhati-hati dalam berjanji. Kewajiban memenuhi janji tidak memandang kepada siapa janji diberikan; kepada sesama muslim, yang bukan muslim, anak kecil, khadam/khadimah, orang yang dihormati, dan fihak lain. 

‘Insya Allah’, yang artinya jika Allah SWT mengizinkan, hendaknya disampaikan pada saat berjanji. Hendaknya ‘Insya Allah’ tidak disalahgunakan berkilah bila diperkirakan tidak akan dapat memenuhi janji, lebih baik jangan berjanji. 

Janji hendaknya yang realistis dan diperhitungkan dapat dipenuhi. Jangan menjanjikan sesuatu yang diketahui tidak akan mampu dipenuhi dengan berlindung di balik ‘Insya Allah’. Ingatlah sabda Rasulullah Saw. bahwa kita dapat tergelincir menjadi golongan munafiq bila menyalahi janji atau tidak memenuhi janji sudah menjadi sifat yang melekat.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Janji dalam hubungan manusia dengan al-Khaliq dan dalam hubungan dengan sesama manusia

2.   Dalil-dalil Qur'an dan Sunnah untuk perintah memenuhi janji dan penggolongan orang yang tidak memenuhi janji

3.   Kiat-kiat dalam berjanji dan memenuhinya dalam hubungan antar sesama manusia

4.   Posisi memenuhi janji dalam Islam

5.   Ingkar janji

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN 

Berikan pengantar bahwa topik yang dibahas adalah tentang memenuhi janji dan sampaikan tujuan pembelajaran materi ini. Pancing peserta mengemukakan pendapatnya tentang macam-macam janji, baik janji kepada Allah SWT maupun janji kepada sesama manusia. Luruskan dan lengkapi tanggapan peserta tentang janji dan kewajiban memenuhinya disertai dalil-dalil dalam Al-Qur'an dan Sunnahpendukungnya. 

Uraikan dan tegaskan bahwa ada hubungan erat antara memenuhi janji kepada Allah SWT dengan memenuhi janji kepada sesama, yaitu bahwa orang yang mengabaikan memenuhi janji kepada Allah SWT akan cenderung berperilaku sama dalam kaitannya dengan memenuhi janji kepada sesama. Kemukakan kisah sahabat-tabi’in-salafus-shaleh yang berkaitan dengan memenuhi janji. 

Pancing peserta mengemukakan kiat-kiat dalam berjanji dan memenuhinya dalam upaya meraih ridha Allah SWT. Lengkapi tanggapan peserta tentang kiat-kiat tersebut sesuai target yang ditetapkan.

MARAJI’

An-Nawawi, Imam Abu Zakaria Yahya bin Syarf (1986). 

Riadhus Shalihin: Buku I, Bandung: PT Al-Ma’arif. 

Said Hawwa, Mensucikan Jiwa

Menundukkan Pandangan

Kode: 1.A5.4 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:

1.   Mengetahui perihal menundukkan pandangan, yaitu dengan memberikan definisi menundukkan pandangan

2.   Memahami pentingnya menundukkan pandangan, yaitu dengan menguraikan berbagai hal yang berkaitan dengan menundukkan pandangan

3.   Menjaga diri dari segala bentuk kemaksiatan melalui pandangan

4.   Menggunakan pandangan seoptimal mungkin untuk menjaga ketaatan kepada Allah SWT untuk meraih ridha-Nya

TITIK TEKAN MATERI

Dengan pemberian materi tentang menundukan pandangan ini maka seseorang akan terbentuk pribadi yang memiliki matinul khuluq. (3: 15). 

Materi ini menekankan pentingnya menundukkan/menjaga pandangan, yaitu dengan menjauhi segala bentuk kemaksiatan melalui pandangan, dan menggunakan pandangan seoptimal mungkin untuk taat kepada ketentuan Allah SWT. Bentuk kemaksiatan melalui pandangan antara lain adalah melihat lawan jenis yang bukan muhrim melebihi keperluan, melihat atau membaca gambar atau tulisan porno, dan mengintip hal-hal yang diharamkan, dll. 

Pandangan mata syahwat merupakan salah satu bentuk perzinaan (zina mata) yang dapat menjadi pintu untuk masuk pada zina yang sebenarnya. Oleh karena itu hendaknya senantiasa memohon pertolongan Allah SWT dan senantiasa berusaha menghindarinya. Menggunakan mata untuk taat pada ketentuan Allah SWT antara lain melalui aktivitas membaca dan mentadabburi ayat-ayat Allah SWT, baik ayat-ayat dalam Al-Qur’an maupun yang berupa ayat-ayat kealaman, serta menggunakan pandangan sebagai sarana untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Allah SWT menghendaki menundukkan pandangan baik pada muslim maupun muslimah (QS 24: 30-31). 

Menundukkan/menahan pandangan hendaknya menjadi akhlaq muslim dan muslimah karena Allah SWT mengingatkan melalui firman-Nya bahwa neraka dijadikan untuk dipenuhi oleh manusia yang dikaruniai mata akan tetapi tidak digunakan untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah SWT (QS 7: 179)., (QS 18: 100-101) 

Menundukkan pandangan bukan berarti memejamkan mata atau memalingkan muka yang mengakibatkan orang lain tersinggung, akan tetapi adalah menggunakan mata untuk menjaga ketaatan kepada Allah SWT. Allah SWT mengingatkan pula bahwa sesungguhnya penglihatan termasuk yang akan dimitai pertanggungjawaban (QS 17: 36). 

Oleh karena itu hendaknya bersegera menggunakan pandangan/mata untuk membaca ayat-ayat Allah SWT, baik ayat-ayat Al-Qur’an maupun ayat-ayat kealaman, jangan menunggu mata rabun atau bahkan rusak. 

POKOK-POKOK MATERI

1.   Hakikat menundukkan pandangan

2.   Dalil-dalil Qur'an dan Sunnah tentang pentingnya menundukkan/menjaga pandangan, siapa yang Allah SWT kehendaki untuk menundukkan/menjaga pandangan, dan peringatan agar menundukkan/menjaga pandangan

3.   Kemaksiatan melalui pandangan dan kiat-kiat menjauhinya

4.   Kiat-kiat menggunakan pandangan untuk taat kepada Allah SWT

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Berikan pengantar bahwa topik yang dibahas adalah tentang menundukkan pandangan dan sampaikan tujuan pembelajaran materi ini. Pancing peserta mengemukakan pendapatnya tentang menundukkan pandangan. Luruskan dan lengkapi tanggapan peserta tentang menundukkan pandangan disertai dalil-dalil dalam Al-Qur'an dan Sunnahpendukungnya yang berupa perintah, peringatan ataupun ancaman. 

Kemukakan kisah Nabi Yusuf dengan Zulaikha beserta para wanita tamunya dan kisah sahabat Ali yang dipaling-kan wajahnya oleh Rasulullah ketika memandang seorang wanita dan kisah-kisah lainnya. Pancing peserta mengemukakan kiat-kiat menggunakan pandangan untuk meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT dalam upaya meraih ridha-Nya. Lengkapi tanggapan peserta tentang kiat-kiat tersebut sesuai target yang ditetapkan

MARAJI’

Al-Ghazaly (1976). Ihya ‘Ulumuddin (diterjemahkan oleh Teuku Jakub, buku 3). CV Faizan, Semarang.

Ibnul Qayyim, Raudhatul muhibbin wa nuzhatul musytaqin

‘Aidh al qarini, Ihfazhillaha yahfazhka

Tidak Berteman dengan Orang Buruk dan Sifat Imma’ah (ikut-ikutan)

Kode: 1.A5.5 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu: 

1.   Mampu untuk tidak menjadikan orang buruk sebagai teman/sahabat.

2.   Mampu tidak imma’ah yang tidak berlandaskan (memiliki idola negatif dan ditiru)

3.   Mengetahui dan memahami tentang lingkungan/bi’ah dengan menyebutkan dan menguraikan tentang orang yang baik dan yang buruk serta tidak imma’ah/tidak ikut-ikutan. Dapat menghindari/menjauhi teman yang buruk dan perilaku imma’ah dengan memahami dampak buruknya

4.   Mampu memilih aktivitas apa yang akan diikuti, yaitu aktivitas yang baik dan sesuai dengan aturan Allah SWT dan Rasul-Nya, dan tidak sekedar ikut-ikutan. Selalu mencari bi’ah yang baik dengan menjadikan orang yang baik sebagai teman/sahabat, yang akan membawa kepada taat pada Allah SWT sehingga mendapatkan dampak kebahagiaan di dunia dan di akhirat

TITIK TEKAN MATERI

Materi ini memberikan gambaran pentingnya seorang muslim/muslimah mencari bi’ah/lingkungan yang baik, yaitu dengan menjadikan orang yang baik sebagai teman dan sebaliknya tidak menjadikan orang yang buruk sebagai teman/sahabat. Di samping itu hendaknya seorangmuslim/muslimah tidak berperilaku imma’ah atau sekedar ikut-ikutan. (muwashafat 3: 2, 10). 

Allah SWT memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman mencari jalan atau wasilah yang dapat membawa mendekatkan diri kepada-Nya (QS 5: 35). Jalan tersebut salah satunya adalah tidak menjadikan orang buruk sebagai teman/sahabat. Alah SWT melarang kita menjadikan orang yang zalim sebagai teman/sahabat (QS 6: 68, 11: 113), terlebih lagi orang kafir yang nyata-nyata memusuhi Islam. Allah SWT menyuruh kita meninggalkan orang-orang menger-jakan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat (QS 25: 72). 

Allah SWT juga melarang kita bersahabat/berteman dengan orang-orang yang memusuhi karena agama dan yang mengusir kita dari negeri kita serta yang membantu orang lain untuk mengusir kita (QS 60: 9). Allah SWT mengingatkan akibat berteman dengan orang buruk yaitu kemadharatan semata. Hal tersebut karena mereka menyukai apa yang menyusahkan kita, mereka sesungguhnya membenci kita, mereka bersedih bila kita memperoleh kebaikan, dan sebaliknya mereka bergembira bila kita ditimpa bencana (QS 3: 118-120). 

Orang yang bersahabat dengan orang yang buruk, yaitu yang mengajak tidak mengambil jalan Rasul dan menyesatkan dari Al-Qur’an, sangat menyesal di akhirat (QS 25: 26-29). Kita hendaknya menjadikan orang baik sebagai teman/sahabat. Dan sebaik-baik teman adalah orang-orang dianugerahi nikmat oleh Allah SWT, yaitu para nabi, para shiddiqin yang amat teguh kepercayaannya akan kebenaran Rasul, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang shaleh (QS 4: 69). Bila kita mencari bi’ah yang baik, yaitu antara lain dengan menjadikan orang-orang baik sebagai teman, maka Insya Allah akan mendapatkan keberuntungan (QS 5: 35). 

Imma’ah, yaitu ikut-ikutan, harus dijauhi oleh tiap muslim/muslimah dalam beraktivitas dan dalam menetapkan sesuatu. Seorang muslim/muslimah harus sadar dan memahami seluruh aktivitasnya karena Allah SWT melarang mengikuti sesuatu yang kita tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya (QS 17: 36).

POKOK-POKOK MATERI

1.   Kewajiban mencari bi’ah/lingkungan yang baik

2.   Berteman dengan orang yang buruk dan akibat negatifnya

3.   Berteman dengan orang yang baik dan akibat positifnya

4.   Hakikat imma’ah dan keburukannya

5.   Kiat-kiat menghindari berteman dengan orang yang buruk

6.   Kiat-kiat menghindari/meninggalkan imma’ah

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Berikan pengantar bahwa topik yang dibahas adalah tidak menjadikan orang yangburuk sebagai teman/sahabat dan tidak imma’ah dan sampaikan tujuan pembelajaran materi ini. Pancing peserta mengemukakan pengetahuannya tentang orang yang baik dan orang yang buruk, serta keuntungan dan kerugiannya menjadikan mereka sebagai teman/sahabat. Luruskan dan lengkapi tanggapan peserta tentang hal tersebut disertai dalil-dalil dalam Qur'an dan Sunnah pendukungnya. 

Pancing peserta mengemukakan pendapatnya tentang imma’ah dan keburukannya. Luruskan dan lengkapi tanggapan peserta tentang hal tersebut disertai dalil-dalil dalam Al-Qur'an dan Sunnahpendukungnya. Kemukakan kisah sahabat-tabi’in-salafus-shaleh yang berkaitan dengan pencarian bi’ah yang baik melalui teman yang baik, dan yang berkaitan dengan imma’ah. Sampaikan kisah perjalan tobat pembunuh yang telah membunuh 99 orang, yaitu ia disuruh pergi ke suatu tempat, yang menggambarkan bahwa untuk bertobat ia memerlukan bi’ah/ling-kungan/tempat yang baik yang mendukung niatnya untuk tobat. 

Sampaikan pula kisah sahabat yang ingin selalu dekat dengan Rasulullah untuk mendapatkan bi’ah yang baik yang menjadi sebab turunnya QS 4: 69. Pancing peserta mengemukakan kiat-kiat untuk menjadikan orang yang baik sebagai teman, dan sebaliknya tidak menjadikan orang yang buruk sebagai teman/sahabat dan kiat menjauhi/menghindari imma’ah untuk meraih keridlaan Allah SWT. Lengkapi tanggapan peserta tentang kiat-kiat tersebut sesuai target yang ditetapkan. Perlu diberikan semacam konklusi/kesimpulan di akhir materi

MARAJI’

Al-Ghazaly (1976). Ihya ‘Ulumudin (diterjemahkan oleh Teuku Jakub). CV Faizan, Semarang. An-Nawawi, 

Abu Zakaria Yahya bin Syarf (1986). Riadhus Shalihin. 

Terjemahkan oleh Salim Bahreisy. PT Al-Ma’arif, Bandung. Mamarrat,...

Yusuf Qardhawi, Khutbah jum’at tentang Demokrasi (imamah dalam berpolitik tidak sama dengan demokrasi)

Bahaya Lidah

Kode: 1.A5.6 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:

1.   Mengetahui bahaya lidah yang dapat menjerumuskan ke dalam neraka dengan menyebutkan lima macam bahaya lidah

2.   Memahami bahaya lidah yang dapat menjerumuskan ke dalam neraka dengan menguraikan tiap macam bahaya lidah

3.   Menjaga atau memelihara lidah dari berbagai bentuk kemaksiatan karena takut akan ancaman Allah SWT dengan cara meninggalkan bentuk-bentuk bahaya lidah

4.   Menggunakan lidahnya sesuai dengan petunjuk Allah SWT dan Rasul-Nya sehingga senantiasa benar lisannya dan memperoleh kebahagiaan dengan cara mengoptimalkan seluruh aktivitas lisannya di jalan Allah SWT

TITIK TEKAN MATERI

Dengan materi bahaya lidah ini, maka peserta akan dapat menghindari sifat buruk yang dapat berupa dusta, ghibah, mencaci-maki, mengadu domba, mematikan omongan orang lain, sehingga dengan materi ini akan terbentuk karakter matinul khuluq pada diri seseorang. (Muwashafat 3: 3-7). 

Materi ini memberi gambaran bahwa lidah memiliki urgensi tinggi, karena lidah dapat membawa seseorang masuk ke dalam surga Allah SWT bila digunakan untuk taat kepada-Nya, sebaliknya lidah dapat menjerumuskan seseorang ke dalam neraka jika tidak digunakan untuk taat kepada Allah SWT. Rasulullah bersabda: Sesungguhnya kebanyakan dosa anak Adam berada pada lidahnya. Lidah dapat menjadikan halal yang awalnya haram –seperti pada aqad nikah– menjadikan haram yang awalnya halal, dan –seperti pada kasus perceraian– menjadikan seseorang kafir (QS 5: 72) atau kembali kepada Islam, menyebabkan permusuhan bahkan peperangan, tetapi juga dapat menjadikan damai. Lidah yang digunakan dengan cara yang tidak semestinya dalam berbicara, dapat membangkitkan keinginan orang yang ada penyakit dalam hatinya (QS 33: 32). 

Hendaknya muslim dan muslimah mengetahui penyakit-penyakit lidah yang dapat mengakibatkannya dimurkai Allah SWT sehingga dapat menjauhi dan menghindarinya. Penyakit-penyakit itu adalah: berbicara yang tidak berguna, berlebihan dalam berbicara, berbicara yang batil, berbantahan dan berdebat, bertengkar, berfasih-fasih dalam berbicara untuk menarik perhatian, berkata keji-jorok-dan mencaci, melaknati, bernyanyi dan bersyair yang membawa kepada kemaksiatan, bersenda gurau yang berlebih-lebihan, mengejek dan mencemooh, menyebarkan rahasia, berjanji palsu, berdusta dalam perkataan dan sumpah, ghibah, menghasut (namimah), munafiq, dan memberikan sanjungan yang menjerumuskan. 

Dusta merupakan perbuatan amat buruk dan aib yang keji. Rasulullah telah bersabda: Sesungguhnya dusta membawa kepada kedurhakaan, sedangkan kedurhakaan menyeret-nyeret ke neraka, dan sesungguhnya seseorang berdusta sehingga ditulis di sisi Allah SWT sebagai pendusta. Ghibah atau menggunjing, yaitu membicarakan keburukan orang lain tanpa ada maksud untuk memperbaiki, merupakan perilaku tercela sehingga Allah SWT ibaratkan sebagai memakan bangkai saudara sendiri (QS 49: 12). 

Rasulullah menyebut fasiq orang mencaci maki orang beriman dalam sabdanya: Mencaci-maki orang mukmin adalah kefasikan, sedangkan membunuhnya adalah kekafiran. Rasulullah bersabda: Tidak akan masuk sorga orang yang suka mengadu domba. Demikian buruknya perilaku hasut, sehingga Allah SWT mengancam melempar ke neraka humazah bagi pelakunya (QS 104: 1-9). Orang yang terlibat dalam berbantahan dan berdebat akan selalu berusaha mematikan omongan orang lain yang menjadi lawan bicaranya. 

Rasulullah mengingatkan bahwa perdebatan hanyalah akan membawa kepada kesesatan setelah datangnya petunjuk. Tiap orang hendaknya mengevaluasi diri tiap saat agar apa yang lepas dari lidahnya, yaitu ucapannya, terkendali. 

Harus diingat bahwa ucapan yang keluar melalui lidah akan dicatat untuk dimintai pertanggung-jawaban di yaumil akhir (QS 50: 18). Camkan firman Allah SWT berikut: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia” (QS 4: 114).

POKOK-POKOK MATERI

1. Dalil-dalil dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah tentang bahaya lidah

2.   Bentuk-bentuk bahaya lidah dan ancamannya

3.   Kiat-kiat menjauhi dan memelihara diri dari bahaya lidah

4.   Kiat-kiat menggunakan lidah untuk meraih keridhaan Allah SWT

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Berikan pengantar bahwa topik yang dibahas adalah tentang bahaya lidah dan disampaikan tujuan pembelajaran materi ini. Berikan gambaran bahwa lidah dapat menghalalkan yang awalnya haram, mengharamkan yang awalnya halal, menjadikan seseorang murtad atau kembali kepada Islam, menyebabkan permusuhan bahkan peperangan, tetapi juga dapat menjadikan damai. 

Pancing peserta mengemukakan macam-macam bahaya lidah yang diketahui beserta dalil-dalil dalam Qur'an dan Ssunnah. Luruskan dan lengkapi tanggapan peserta tentang macam-macam bahaya lisan beserta dalil-dalil Al-Qur'an dan Sunnahpendukungnya. Kemukakan kisah sahabat-tabi’in-salafus-shaleh yang berkaitan dengan menjaga lidah. Pancing peserta mengemukakan kiat-kiat untuk menjauhi dan memelihara diri dari bahaya lidah dan kiat-kiat untuk menggunakan lidah untuk meraih keridlaan Allah SWT. Lengkapi tanggapan peserta tentang kedua kiat tersebut sesuai target yang ditetapkan.

MARAJI’

Sa’id Hawwa (1999). Mensucikan Jiwa: Konsep Tazkiyatun-Nafs Terpadu (diterjemahkan oleh A.R. Shaleh Tamhid). Rabbani Press, Jakarta.

Menjauhi Akhlaq Tercela

Kode: 1.A5.7 | Sarana: Halaqah, mabit

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu: 

1.   Memiliki sikap tidak takabbur/sombong, tidak menghina, tidak meremehkan, dan tidak mencibir dengan isyarat apapun.

2.   Mengetahui hakikat kesombongan dan keburukannya dengan memberikan definisi kesombongan dan menyebutkan keburukannya

3.   Menjelaskan hal-hal yang menyebabkan kesombongan, yaitu setidaknya ada lima hal

4.   Mengetahui dan menguraikan perilaku tercela akibat kesombongan, setidaknya ada tiga hal

5.   Menjaga dan memelihara diri dari kesombongan karena takut akan ancaman Allah SWT dengan cara meninggalkan hal-hal yang menyebabkan kesombongan dan meninggalkan perilaku yang menunjukkan kesombongan

TITIK TEKAN MATERI

Dengan materi menjauhi akhlaq tercela ini, maka seseorang akan memiliki sikap tidak takabbur/sombong, tidak menghina, tidak meremehkan, dan tidak mencibir dengan isyarat apapun. Sehingga dengan materi ini akan terbentuk karakter matinul khuluq pada diri seseorang. (Muwashafat 3: 8-9). 

Dengan demikian kita akan berusaha mencapai keridhaan Allah SWT dengan menumbuhkan, meningkatkan, dan menjaga ketawadhu’an dalam menjalankan segala aktivitas dalam pergaulan. Materi ini menekankan bahwa sombong merupakan salah satu akhlaq tercela dan merupakan sifat iblis la’natullah. Iblis menganggap dirinya lebih mulia dari Nabi Adam karena iblis diciptakan dari api sedang nabi Adam diciptakan dari tanah. Rasulullah mendefinisikan sombong/kibir adalah menolak yang haq dan meremehkan orang lain. Rasulullah mengingatkan bahwa orang yang dalam hatinya ada kesombongan tidak akan pernah mencium bau syuga; bahkan dalam QS 7: 146 

Allah SWT berfirman bahwa orang yang sombong tidak akan pernah mendapatkan hidayah. Kesombongan pada umumnya muncul akibat merasa dirinya lebih baik, lebih mampu, atau lebih mulia dari orang lain karena ilmunya, hartanya, kelebihan penampakan dzahirnya (kecantikan atau keperkasaan), nasabnya, dan amal ibadahnya. Dikisahkan dalam Al-Qur’an bahwa kesombongan Fir’aun muncul karena kekuasaannya (QS 28: 38-39), dan kesombongan Qarun muncul karena harta kekayaannya yang ia klaim akibat ilmu yang dimilikinya (QS 28: 78). 

Hal sebaliknya juga dikisahkan dalam Al-Qur’an, yaitu ketawadhu’an Nabi Sulaiman yang memohon ilham pada Allah SWT agar selalu mensyukuri ni’mat (QS 27: 19) dan memohon ampunan serta anugrah pada-Nya (QS 38: 35). Kesombongan pada gilirannya akan melahirkan perilaku tercela lainnya, yaitu menghina dan meremehkan orang lain, serta mencibir dengan isyarat apapun. Perilaku tersebut hendaknya dijauhi, karena Allah SWT melarang meng-olok-olok orang atau kaum lain, karena boleh jadi yang diolok-olok lebih baik dari yang mengolok-olok (QS 49: 11), bahkan Allah SWT memberikan ancaman berat bagi orang yang suka mengejek dan mencaci-maki (QS 104: 1). 

Rasulullah mengingatkan kita melalui sabdanya: Cukup bagi seorang muslim menjadi jahat kalau ia menghinakan saudaranya sesama muslim. Hendaknya tiap orang mengevaluasi apakah terdapat gejala-gejala kesombongan dalam dirinya. Bila ditemukan gejala tersebut hendaklah memohon ampun dan segera mengikuti dengan kebaikan. Sebaliknya bila tidak ditemukan, hendaklah memuji kebesaran Allah SWT, memohon ampun serta pertolongan agar dijauhkan dari kesombongan. Hendaknya ditumbuhkan kesadaran dan semangat pada tiap diri untuk menjauhi dan meninggalkan kesom-bongan menuju ketawadhu’an. Tawadhu’ (rendah hati) merupakan karakteristik hamba Allah SWT (QS 25: 63). Untuk mencapai ketawadhu’an perlu dipaksa, dilatih, dibiasakan agar menjadi perilaku yang secara refleks muncul dalam tiap aktivitas.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Ta’rif Akhlaq

2.   Aqsamul Akhlaq

3.   Hakikat kesombongan dan keburukannya

4.   Hal-hal yang menyebabkan kesombongan

5.   Perilaku tercela yang muncul akibat kesombongan

6.   Karakteristik ketawadhu’an sebagai lawan kesombongan

7.   Kiat-kiat mengobati kesombongan menuju ketawadhu’an

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Berikan pengantar bahwa topik yang dibahas adalah menghindari akhlaq yang tercela dan sampaikan tujuan pembelajaran materi ini. Pancing peserta mengemukakan pengetahuannya tentang hakekat kesombongan dan bahayanya. Luruskan dan lengkapi tanggapan peserta tentang hakekat kesombongan dan bahayanya disertai dalil-dalil dalam Qur'an dan Sunnah pendukungnya. 

Uraikan hal-hal yang mengakibatkan kesombongan dan perilaku/akhlaq tercela lainnya yang didasari atas kesom-bongan beserta dalil-dalil pendukung dari Qur'an dan Sunnah. Kemukakan kisah sahabat-tabi’in-salafus-shaleh yang berkaitan dengan kesombongan dan perilaku tercela lainnya. Pancing peserta mengemukakan kiat-kiat untuk menjauhi dan memelihara diri dari kesombongan dan kiat-kiat untuk mencapai ketawadhu’an untuk meraih keridlaan Allah SWT. Lengkapi tanggapan peserta tentang kiat-kiat tersebut sesuai target yang ditetapkan. Perlu diberikan semacam konklusi/kesimpulan di akhir

MARAJI’

An-Nawawy, (1987). Riadhus Shalihin (diterjemahkan oleh Salim Bahreisj, buku II). Pt. Alma’arif, Bandung. 

Hawwa (1999). Mensucikan Jiwa: Konsep Tazkiyatun-Nafs Terpadu (diterjemahkan oleh A.R. Shaleh Tamhid). Rabbani Press, Jakarta Ibnu 

Qayyim Al-Jauziyah (1998). Pendakian Menuju Allah SWT (diterjemahkan oleh Kathur Suhardi). Pustaka Al-Kautsar, Jakarta.Sa’i

Menjaga Kehalalan Harta

Kode: 1.A5.8 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu: 

1.   Membedakan antara hartay ang haram dan hartayang halal

2.   Memahami dan menjauhi sumber penghasilan yang haram, riba, judi dengan segala macamnya, dan tindak penipuan, yaitu dengan memberikan batasan/definisi dan menguraikannya

3.   Memahami ancaman dan akibat buruk bila melakukan keempat tindakan tersebut, yaitu dengan menyebutkan dalilnya dalam Al-Qur’an dan Sunnah serta menguraikannya

4.   Mencari dan mengelola/menggunakan hartanya dengan cara yang mulia untuk mendapatkan ridha Allah SWT

TITIK TEKAN MATERI

Dengan materi Menjaga Kehalalan Harta yaitu dengan bersikap menjauhi Sumber Penghasilan Haram, Menjauhi Riba, Menjauhi Judi Dengan Segala Macamnya, dan Menjauhi Tindak Penipuan, maka akan terbentuk pribadi yang mampu mendapatkan maisyah (qadirun ‘alal kasab yang halal dan baik. (muwashafat 4: 1-4) 

Materi ini memberi gambaran bahwa bagian rizki yang berwujud harta bagi tiap hamba telah ditetapkan oleh Allah SWT, sebagaimana sabda Rasulullah bahwa rizki tiap hamba telah ditetapkan sejak ditiupkannya ruh ke dalam janin dalam kandungan. Tugas seorang hamba adalah berusaha maksimal guna menyongsong sampainya bagian rizki tersebut baginya. Hal tersebut berarti bahwa seorang muslim harus memiliki etos kerja yang tinggi dalam mencari rizki dengan tetap memperhatikan ketentuan Allah SWT berkaitan dengan kehalalan harta. Rasulullah dalam salah satu sabdanya mengingatkan bahwa perihal harta, akan ditanyakan kelak tentang dari mana dan bagaimana harta diperoleh dan ke mana serta bagaimana harta dibelanjakan/dikeluarkan. Seorang muslim harus menempatkan kecintaannya pada harta pada tempat yang semestinya. 

Allah SWT mengingatkan bahwa cinta harta hanyalah salah satu bentuk cinta dunia (3: 14). Sikap terhadap kecintaan dunia adalah menggunakan atau memanfaatkan apa yang dicintainya itu sebagai sarana untuk beribadah. Oleh karena itu ketentuan Allah SWT harus diperhatikan dalam kaitannya dengan harta, terutama dengan menjaga halalnya harta. Setidaknya ada empat hal yang harus diperhatikan seorang muslim dalam menjaga halalnya harta, yaitu Seorang muslim harus menjauhi dari sumber penghasilan yang haram, karena Rasulullah bersabda: Semua jasad (tubuh) yang tumbuh dari penghasilan yang haram, maka nerakalah yang lebih cocok untuknya. Sumber penghasilan yang haram contohnya adalah usaha yang bertentangan dengan aturan syara’, seperti pabrik khamr dan peternakan babi, usaha yang mengandung unsur riba, judi, dan penipuan. 

Allah SWT telah mengharamkan riba (QS 2: 275) dan melarang orang yang beriman memakan riba (QS 3: 130). Rasulullah bersadba: Allah SWT akan melaknat pemakan riba, penulisnya, dan kedua saksinya. Perihal judi, Allah SWT berfirman bahwa pada judi terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, akan tetapi dosanya lebih besar dari manfaatnya (QS 2: 219) dan memerintahkan orang-orang yang beriman agar menjauhi judi (QS 5: 90). 

Rasulullah melarang kaum muslim melakukan tindak penipuan, bahkan beliau bersabda:... barangsiapa yang menipu kami, bukanlah dari golongan kami. Oleh karena itu kaum muslim dilarang menjual sesuatu yang di dalamnya ada unsur penipuan, yaitu menjual sesuatu barang tanpa dilihat dahulu atau diperiksa dahulu bila barang itu ada di hadapannya, misalnya menjual ikan dalam air, bulu pada punggung domba, buah yang belum matang, atau menjual sesuatu tanpa menerangkan sifat, jenis, maupun kadarnya bila benda itu tidak berada di depan yang membeli. 

Berkaitan dengan perolehan dan pengelolaan/pembelajaan harta, tiap muslim harus memperhatikan hal-hal berikut: 

(i)   meluruskan niat dalam mendapatkan, meninggalkan, menginfakkan, dan menahan, 

(ii)  mengetahui tujuan harta mengapa ia diciptakan dan tidak memberikan perhatian melebihi batas yang selayaknya, 

(iii) menjaga jalur pendapatan dengan menghindari yang jelas-jelas haram, atau yang didominasi oleh yang haram, atau yang makruh, 

(iv) kuantitas yang diperoleh tidak terlalu banyak dan tidak kurang, tetapi sesuai dengan kadar yang wajib, dan ukurannya adalah kebutuhan dasar, yaitu sandang-pakaian-tempat tinggal, dan kebutuhan bagi terlaksananya dengan baik aktivitasnya di jalan Allah SWT, dan 

(v)  menjaga jalur pengeluaran dan ekonomis dalam pembelanjaan, tidak mubazir tetapi juga tidak kikir, meletakkan apa yang diperolehnya secara halal pada tempat yang berhak dan tidak meletakkannya di tempat yang tidak berhak, karena menyalurkanya secara tidak benar adalah dosa sebagaimana mendapatkannya secara tidak benar juga dosa.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Harta yang halal dan harta yang haram beserta contoh-contohnya berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah

2.   Larangan, ancaman, dan akibat memakan harta haram, melakukan judi, riba, dan tindak penipuan berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah

3.   Kiat-kiat menjauhi dan memelihara diri dari sumber penghasilan yang haram, riba, judi dengan segala macamnya, dan tindak penipuan

4.   Kiat-kiat mencari harta yang halal sesuai dengan ketentuan Allah SWT

MARAJI’

Abu Bakr Jabir Al-Jazairi (1996). Pedoman Hidup Muslim (Terjemahan: Hasanudin dan Didin Hafidhuddin). Litera Antar Nusa, Bogor-Jakarta. 

An-Nawawy, Yahya bin Syarf (1987). Riadhus Shalihin (Terjemahan: Salim Bahreisj, buku II). Pt. Alma’arif, Bandung. 

Sa’id Hawwa (1999). Mensucikan Jiwa: Konsep Tazkiyatun-Nafs Terpadu (Terjemahan A.R. Shaleh Tamhid). Rabbani Press, Jakarta 

Yusuf Qardhawi (1982). Halal dan Haram dalam Islam (diterjemahkan oleh Mu’ammal Hamidy). PT Bina Ilmu, Surabaya.

Membayar Zakat dan Menabung

Kode: 1.A5.9 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:

1.   Mengetahui dan memahami tentang zakat dan kewajiban membayarnya dengan memberikan definisi dan menguraikan ketentuannya dalam membayar zakat serta hikmah perintah membayar zakat.

2.   Memahami keutamaan menabung dengan menguraikan kemanfaatan menabung dan menguraikan keburukan tindakan boros/berlebih-lebihan dalam memanfaatkan/membelanjakan harta

3.   Menjauhi tindakan boros/berlebih-lebihan

4.   Mencari harta yang halal dan cukup sehingga mampu menjadi muzakki dan mengelola harta secara cermat dan hemat sehingga mampu menabung sebagai upaya mencapai ridha Allah SWT

TITIK TEKAN MATERI

Materi ini memberi gambaran bahwa membayar zakat dan menabung merupakan dua dari banyak cara menggu-nakan/membelanjakan harta secara hak pada jalan Allah SWT. 

Zakat merupakan kewajiban yang harus ditunaikan oleh tiap muslim yang memiliki kemampuan menunaikannya (QS 2: 267, 73: 20). Rasulullah bersabda: Islam itu didirikan atas perkara, yaitu bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah SWT dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah SWT, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa di bulan Ramadhan. 

Hikmah diwajibkannya zakat diantaranya adalah: 

(i)   mensucikan jiwa manusia dari kejinya kikir, rakus, dan tamak, 

(ii)  membantu fakir miskin dan meringankan beban mereka yang kesusahan, 

(iii) membiayai kepentingan masyarakat yang bertalian dengan kehidupan ummat dan kebahagiaan mereka, dan 

(iv) membatasi bertumpuknya kekayaan pada orang-orang tertentu saja. 

Orang yang menolak membayar zakat maka kufurlah ia, sedang yang kikir membayar zakat padahal ia tahu itu merupakan kewajiban, maka berdosalah ia. Terhadap mereka, zakat dapat dipungut secara paksa. Bahkan kalau mereka membangkang, diperbolehkan diperangi agar mereka tunduk kepada perintah Allah SWT. Rasulullah bersabda: Aku diperintahkan untuk memerangi manusia, sehingga mereka meyakini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah SWT dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah SWT, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Agar seorang muslim dapat menunaikan kewajibannya membayar zakat secara benar, hendaknya ia secara aktif mempelajari atau menanyakan kepada ahlinya perihal apa saja benda atau aktivitas yang wajib dizakati, syarat nisab jumlah dan nisab waktunya, serta kepada siapa zakat dapat disalurkan.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Kewajiban membayar zakat, hikmah diwajibkannya, dan ancaman bagi yang tidak menunaikan atau kikir membayar zakat beserta dalil-dalil dalam Al-Qur'an dan Sunnahpendukungnya

2.   Benda/harta atau aktivitas yang wajib dizakati, ketentuan perihal nisab jumlah dan nisab waktu, dan fihak-fihak yang berhak menerima zakat

3.   Perilaku boros dan keutamaan menghindarinya

4.   Kemanfaatan menabung yang dimungkinkan melalui pembelanjaan/penggunaan harta secara cermat dan hemat, sebagai lawan dari perilaku boros.

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Berikan pengantar bahwa topik yang dibahas adalah kewajiban membayar zakat dan keutamaan menabung walaupun sedikit dan sampaikan tujuan pembelajaran materi ini. Pancing peserta mengemukakan pendapat dan pengetahuannya tentang zakat, hikmah diwajibkannya, ancaman bagi yang tidak menunaikan atau kikir membayarnya, benda/harta atau aktivitas yang wajib dizakati, ketentuan perihal nisab jumlah dan nisab waktu, dan fihak-fihak yang berhak menerima zakat. 

Luruskan dan lengkapi tanggapan peserta tentang hal-hal tersebut beserta dalil-dalil Al-Qur'an dan Sunnahpendukungnya. Kemukakan kisah sahabat dll seperti kisah khalifah Abu Bakr ra. memerangi kaum muslim yang enggan membayar zakat sepeninggal Rasulullah saw. Luruskan dan lengkapi tanggapan peserta tentang hal-hal tersebut beserta dalil-dalil Al-Qur'an dan Sunnahpendukungnya. Pancing peserta mengemukakan pendapat dan pengetahuannya tentang perilaku boros, perilaku hemat, dan keutamaan menabung. 

Pancing peserta mengemukakan kiat-kiat mengelola harta dengan cermat dan hemat untuk menjauhi perilaku boros agar dapat menunaikan kewajiban berzakat dan dapat memetik kemanfaatan menabung walaupun sedikit dalam rangka meraih ridha Allah SWT. Lengkapi tanggapan peserta tentang kiat-kiat tersebut sesuai target yang ditetapkan

MARAJI’

Abu Bakr Jabir Al-Jazairi (1996). Pedoman Hidup Muslim (Terjemahan). Litera Antar Nusa, Bogor-Jakarta. 

An-Nawawy, Imam Abu Zakaria Yahya bin Syarf (1987). Riadhus Shalihin: Buku II (Terjemahkan). PT Alma’arif, Bandung. 

Husein Syahatah (1998). Ekonomi Rumah Tangga Muslim (terjemahan). Gema Insani Press, Jakarta. 

Sa’id Hawwa (1999). Mensucikan Jiwa: Konsep Tazkiyatun-Nafs Terpadu (Terjemahan). Rabbani Press, Jakarta. 

Yusuf Qardhawi (1982). Halal dan Haram dalam Islam (Terjemahan). PT Bina Ilmu, m Surabaya.

Hasan al Banna, wajibatul akh ash shadiq

tidak menunda dalam Melaksanakan Hak Orang Lain

Kode: 1.A5.10 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:

1.   Mengetahui hak orang lain yang berkaitan dengan diri kita, yaitu dengan menyebutkan setidaknya empat macam 

2.   Memahami hak orang lain yang berkaitan dengan diri kita, yaitu dengan menguraikan tiap macam hak orang lain tersebut serta madharat atau ancaman bila menunda memenuhi hak tersebut atau bahkan bila tidak memenuhinya

3.   Memenuhi hak orang lain dengan segera untuk menghindari kemurkaan Allah SWT dan memperoleh ridha-Nya.

TITIK TEKAN MATERI

Materi ini memberi gambaran bahwa dalam hubungan mu’amalah ada hak-hak orang lain yang berkaitan dengan diri kita. Hak-hak orang lain tersebut setidaknya ada empat macam, yaitu amanah atau titipan, hutang atau pinjaman dalam bentuk apapun, wasiat atau waris, dan upah dalam hubungan kerja. 

Hak orang lain hendaknya ditunaikan dengan sebaik-baiknya, karena Rasulullah telah bersabda: Siapa yang mengambil hak orang lain walau sejengkal tanah, akan dikalungkan hingga tujuh petala bumi. Rasulullah juga telah bersabda: Sungguh pasti semua hak akan dikembalikan pada yang berhak pada hari qiyamat, hingga kambing yang tidak bertanduk diberi hak (kesempatan) membalas kepada kambing yang bertanduk. 

Berkaitan dengan amanah, Allah SWT memerintahkan agar mengembalikan amanah kepada yang berhak (QS 4: 58), dan ber segera dalam menunaikan amanat tersebut (QS 2: 283). Demikian pula bila seorang muslim mendapat titipan, hendaknya segera disampaikan kepada yang berhak menerimanya. Hutang hendaknya dihindari, karena Rasulullah selalu meminta perlindungan dari berhutang, sebagaimaan munajat beliau: Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari terlanda hutang dan dalam kekuasaan orang lain. 

Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah menyamakan hutang dengan kekufuran, sedang dalam sabdanya yang lain beliau mengingatkan bahwa bila orang berhutang maka apabila berbicara berdusta dan apabila berjanji mengingkari. Bila seoarng muslim terpaksa harus berhutang karena sangat perlu, maka hendaknya bersegera membayar/mengembalikan hutang tersebut, karena Rasulullah telah bersabda: Seandainya saya mempunyai emas sebesar bukit Uhud, saya tidak akan merasa senang kalau emas itu masih ada pada saya selama tiga hari, selain dari apa yang dipersiapkan untuk membayar hutang. 

Rasulullah memasukkan sebagai penganiayaan perilaku orang berhutang yang berbelit-belit membayar hutangnya. Wasiat adalah pesan yang disampaikan seseorang pada saat ia hidup untuk ditunaikan sesudah meninggalnya. Wasiat, baik yang berkaitan dengan harta maupun tidak, hendaknya segera ditunaikan, selama wasiat tersebut tidak bertentangan dengan aturan syara’ dan tidak mengandung kemaksiatan, karena Rasulullah telah bersabda: Tidaklah hak seseorang muslim yang mempunyai wasiat dengan sesuatu perkara dapat diinapkan selama dua malam kecuali wasiat itu akan ditulis di sisi Allah SWT. 

Dalam hubungan kerja, Islam memandang pekerja sebagai mitra bagi tuannya, sebagaimana sabda Rasulullah kepada Abu Dzar: Karyawan itu adalah saudaramu. Allah SWT mentakdirkan mereka di bawah tanganmu. Beri makanlah mereka dengan apa yang kamu makan, berilah mereka pakaian dengan apa yang kamu pakai. Jangan bebani mereka dengan tugas yang memberatkan. Bila menugasi mereka, bantulah dengan fasilitas. Adalah menjadi keharusan bagi seorang majikan menyegerakan membayar upah pekerjanya, karena Rasulullah menyuruh kita membayar upah pekerja sebelum keringat mereka kering. 

POKOK-POKOK MATERI

1.   Dalil-dalil dalam Al-Qur'an dan Sunnah tentang tidak menunda dalam melaksanakan hak orang lain

2.   Dampak dan ancaman menunda melaksanakan hak orang lain

3.   Macam hak orang lain dan keutamaan bersegera memenuhinya

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Berikan pengantar bahwa topik yang dibahas adalah tidak menunda melaksanakan hak orang lain dan sampaikan tujuan pembelajaran materi ini. Pancing peserta mengemukakan pendapat dan pengetahuannya tentang hak orang lain dan macamnya. Luruskan dan lengkapi tanggapan peserta tentang hal-hal tersebut dan keutamaan bersegera memenuhinya beserta dalil-dalil Al-Qur'an dan Sunnahpendukungnya sesuai target yang ditetapkan. Perkaya wawasan peserta dengan mengemukakan kisah sahabat-tabi’in-salafus-shaleh yang berkaitan dengan tidak menunda melaksanakan hak orang lain, diantaranya adalah kisah Rasulullah yang mengembalikan titipan milik orang lain sebelum hijrah ke Madinah

MARAJI’

Abu Bakr Jabir Al-Jazairi (1996). Pedoman Hidup Muslim (diterjemahkan oleh Hasanudin dan Didin Hafidhuddin). Litera Antar Nusa, Bogor-Jakarta. 

An-Nawawy, Imam Abu Zakaria Yahya bin Syarf (1987). Riadhus Shalihin (diterjemahkan oleh Salim Bahreisj, buku II). PT Alma’arif, Bandung. 

Yusuf Qardhawi (1982). Halal dan Haram dalam Islam (diterjemahkan oleh Mu’ammal Hamidy). PT Bina Ilmu, Surabaya.

Hasan al Banna, wajibatul akh ash shadiq

Menjauhi segala yang haram

Kode: 1.A5.11 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu: 

1.   Memahami perbedaan istilah haram, makruh, mubah, sunnah dan halal, sehingga mampu menyebutkan 5 contoh perbuatan dari masing-masing istilah.

2.   Menunjukkan kesadaran akan bahaya ancaman 7 dosa besar, sehingga ia dapat mencegah dirinya dan keluarganya dari perbuatan-perbuatan tersebut.

3.   Menunjukkan kesadaran akan kebahagiaan yang diproleh dari meninggalkan dosa-dosa, baik besar maupun kecil, sehingga ia dapat mencegah dirinya dan keluarganya dari perbuatan dosa.

4.   Mengetahui bahwa Allah SWT maha pengampun, sehingga ia mau bertaubat jika terlanjur melaksanakan dosa dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.

TITIK TEKAN MATERI

Titik tekan yang harus disampaikan dalam materi ini adalah: Peserta mengetahui dengan baik istilah; haram, makruh, mubah, sunnah dan halal berikut contoh dari masing-masing istilah, serta akibat atau efek yag ditimbulkan dari melaksanakan perbuatan masing-masing istilah. 

Bahwa perbuatan haram adalah dosa, dan dosa terbagi atas kecil dan besar. Sedang dosa besar ada tujuh macam, kesemua itu harus tersampaikan dalam meteri ini. Selanjutnya, sebagaimana manhaj Islam dalam dakwahnya senantiasa memberikan ancaman dan kabar gembira. Ancama bagi yang melakukan perbuatan dosa, berita gembira yang meninggalkannya. Manusia tidak bisa terlepas sama sekali dari dosa, karena itu, harus pula diketahui bagaiman bertaubat, beristighfar dan kaffarat dari satu dosa

POKOK-POKOK MATERI

1.   Pengertian dan contoh istilah; haram, makruh, mubah, sunnah dan halal.

2.   7 dosa besar dan ancaman bagi palakunya.

3.   Meremehkan dosa-dosa kecil sama dengan dosa besar

4.   Cara bertaubat dari 7 dosa-dosa besar.

5.   Dosa-dosa kecil, ancaman bagi pelakunya dan cara beristighfar.

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

MARAJI’

Mushthafa Al Bayanuni

Menjauhi tempat-tempat haram dan maksiyat

Kode: 1.A5.12 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu: 

1.   Menahan anggota tubuh dari segala yang haram (muwashafat 2 : 24)

2.   Memahami perbedaan tempat-tempat haram dan maksiyat dengan tempat-tempat yang baik, sehingga mampu menyebutkan 5 contoh tempat haram dan maksiyat.

3.   Menunjukkan kesadaran akan bahaya tempat-tempat haram dan maksiat yang dapat menjerumuskan pengunjungnya ke perbuatan haram, sehingga ia dapat mencegah dirinya dan keluarganya dari mengunjungi tempat-tempat tersebut

TITIK TEKAN MATERI

Titik tekan yang harus disampaikan dalam materi ini adalah: Peserta mengetahui definisi tempat-tempat haram dan maksiat. Kepentingan mengetahui definisi itu adalah karena tempat-tempat haram dan maksiat memiliki nama yang bermacam, kemudian kesulitan bagi sesorang menyatakan secara bulat bahwa tempat “A” adalah tempat maksiat atau haram, karena bercampurnya aktifitas pada tempat itu. Dengan mengetahui definisi tempat haram dan maksiat seseorang hanya melakukan analisa dan mencocokkan dengan definisi tersebut sudah dapat menyimpulkan bahwa tempat “A” adalah tempat/bukan tempat maksiat.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Dalil-dalil larangan mengunjungi tempat haram dan maksiat..

2.   Definisi dan contoh-contoh tempat haram dan maksiat.

3.   Hukuman Allah SWT jika manusia berbuat haram dan maksiat

4.   Hukuman manusia jika tertangkap berbuat haram dan maksiat.

5.   Dampak sosial seseorang yang berbuat haram dan maksiat

6.   Bahaya mengunjungi tempat haram dan maksiat.

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Untuk menggugah emosi agar menjauhi tempat maksiat, maka berikan gambaran hukuman manusia dan hukuman Allah SWT jika berbuat maksiat. Bawalah kliping korang orang yang tertangkap karena mencuri dan sejenisnya. Tunjukkan gambar orang yang terkena penyakit seksual dan korban AIDS (sejenisnya) akibat berbuat maksiat.

MARAJI’

Mushthafa Al Bayanuni

Memperbaiki Penampilan

Kode: 1.A5.13. | Sarana: Halaqah

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu: 

1.   Memahami urgensi memperbaiki penampilan, sehingga mampu menyebutkan 3 kepentingan seorang muslim memperbaiki penampilannya.

2.   Menunjukkan kesadaran akan indahnya penampilan yang dapat menarik simpati lingkungannya untuk turut beramal Islami, sehingga ia dapat selalu menjaga penampilan dirinya, keluarganya, rumahnya (karena Allah SWT) dengan mempertimbangkan muruah lingkungan di mana ia berada

TITIK TEKAN MATERI

Titik tekan yang harus disampaikan dalam materi ini adalah: Peserta mengetahui manfaat-manfat memperbaiki penampilan, bahwa penampilan dapat membuat orang lain senang atau tidak senang. Jika karena penampilan orang lain menjadi senang dan tertarik beramal Islami, pastilah yang berpenampilan itu mendapatkan pahala, asalkan hal itu dilaksanakan karena Allah SWT. Penampilan bukan hanya terkait dengan pakaian, tapi juga teknik dan cara berbicara, melayani orang lain dan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan

POKOK-POKOK MATERI

3.   Dalil-dalil perintah atau seruan berpenampilan baik.

4.   Urgensi memperbaiki penampilan.

5.   Ruang lingkup memperbaiki penampilan.

6.   Manfaat-manfaat duniawi dan ukhrawi dari memperbaiki penampilan.

7.   Kerugian-kerugian dari tiak memperbaiki penampilan.

MARAJI’

Menjauhi dosa besar

Kode: 1.A5.14. | Sarana: Taujih

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu: 

1.   Mengetahui apa saja yang termasuk kategori dosa besar dan bagaimana hukumnya dengan menyebutkan contoh-contohnya.

2.   Menjauhi dosa-dosa besar dan segera bertaubat jika pernah melakukannya.

3.   Membenci dosa-dosa besar dan mencegah orang lain untuk melakukan dosa-dosa besar.

TITIK TEKAN MATERI

Materi ini menguraikan setidaknya tentang 5 dosa besar yang disebutkan oleh Rasulullah saw. Yakni syirik, sihir, durhaka pada orang tua, sumpah palsu, dan berpaling (lari) dari medan perang. Ada sejumlah dosa lain yang juga termasuk dalam kategori dosa besar. Allah SWT memberi hukuman yang berat bagi pelaku dosa besar.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Dalil-dalil Al-Qur‘an dan hadits Nabawi tentang 5 dosa besar. 

2.   Bahaya Syirik

3.   Bahaya sihir

4.   Bahaya durhaka pada orang tua

5.   Bahaya berpaling dari medan perang

6.   Bahaya sumpah palsu

MARAJI’

Arba’in Nawawi Imam An-Nawawi Kitab Riyadhus shalihin Mushthafa Al Bayanuni30 Pembinasa Manusia, Mantik

Memenuhi Nadzar

Kode: 1.A5.15 | Sarana: Taujih, mabit

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu: 

1.   Mengetahui hukum nadzar 

2.   Membiasakan diri untuk berfikir matang jika ingin membuat nadzar

3.   Memenuhi nadzar bila telah bernadzar

TITIK TEKAN MATERI

Materi ini pada dasarnya mengajak agar kita selalu menepati janji dan tidak sembarang mengucapkan janji. Nadzar adalah janji yang diungkapkan oleh seseorang bila ia mengalami sesuatu. Janji seperti ini wajib dilakukan. Namun, bila nadzar itu akan memberi dampak negatif terhadap diri sendiri, sebaiknya tidak dilakukan.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Dalil-dalil hadits Nabawi tentang menepati janji, dan nadzar.

2.   Sikap kita terhadap nadzar yang beluim terpenuhi

3.   Kewajiban menunaikan nadzar selama bersifat positif, meskipun berat

4.   Tidak sembarang memberi janji 

5.   Perbedaan nadzar dengan janji dan sumpah

MARAJI’

Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin Imam An-Nawawi, Kitab Riiadhus shalihin Said Hawwa, Mensucikan Jiwa

Bidang studi: 
metode berfikir dan riset

Keterampilan berfikir

Kode: 1.B6.1 | Sarana: Halaqah, daurah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu: 

1.   Mengetahui potensi otak manusia

2.   Mengetahui ruang lingkup berfikir logis kritis

3.   Mengetahui ruang lingkup berfikir kreatif

4.   Mengetahui 10 keterampilan dasar akademik

5.   Menyampaikan ide dan gagasan dengan baik

TITIK TEKAN MATERI

Pokok-pokok Pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah: Dalam penelitian terakhir, ternyata otak manusia diperkirakan memiliki lebih dari 100 miliar sel otak. Setiap satu sel otak mampu membuat jaringan sebanyak 280-15.000 serabut syaraf (synapsis, denrit, neurit). Daya kecepatan hantaran antar sel otak mampu dengan kecepataan seper 150 detik. Maha luar biasa Pencipta-Nya. Kemampuan otak untuk kecerdasan banyak terdapat pada cortek otak besar, dan ini belahan sebelah kiri dan kanan memiliki sifat yang berbeda. Otak kanan cenderung mampu berfikir divergen (menyebar, kreatif). Sedangkan otak kiri cenderung berfikir linier, memfokus dan analitis. Materi ini menjelaskan tentang struktur berfikir kritis dan kreatif. Dua cara berfikir yang berbeda, dimana berfikir kritis menggunakan belahan otak kiri dan berfikir kreatif menggunakan belahan otak kanan manusia. Hasil pemahaman tersebut digunakan untuk mendorong keterampilan pribadi dalam menganalisa bacaan dan menulis, dan dapat mengemukakan ide/pemdapatnya dengan baik

POKOK-POKOK MATERI

1.   Manusia sebagai makhluk terbaik (mulia)

2.   Potensi Otak Manusia

3.   Berfikir logis, kritis dan kreatif (logical thinking)

4.   Berfikir kreatif

5.   Keterampilan dasar akademik : membaca, mendengar, mengamati, mengingat, logika matematis, imajinasi kreatif, penghayatan, berbicara, argumentasi, menulis, mengkonsep.

MARAJI’

Colin Rose (1997) Accelerated Learning for 21 century. New York: 

Delacorte Press Jean Marie (1998), Mengoptimalkan daya fikir, Jakarta: Pustaka Delapratasa 

Karl Al Bvecht (1995), Daya fikir: metode peningkatan potensi berfikir, semarang: Dahara Prize

Makna Data dan Informasi

Kode: 1.B6.2 | Sarana: Halaqah, daurah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu: 

1.   Memberi petunjuk kepada orang tersesat (muwashafat 10: 4)

2.   Menghabiskan waktu untuk belajar, dengan peka lingkungan dan kejadian (muwashafat 9: 2)

3.   Peka dengan segala kejadian dan phenomena dalam lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.

4.   memahami data dan informasi yang salah menyebabkan keputusan dan pemecahan menjadi salah

5.   Mampu mengumpulkan data dan informasi untuk pemecahan masalah

6.   Mampu mengumpulkan data dan informasi untuk pengambilan keputusan

7.   Mampu mengumpulkan data dan informasi untuk mengambil tindakan

8.   mampu mengolah data menjadi sebuah informasi yang bermanfaat

TITIK TEKAN MATERI

Pokok-pokok Pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah: Manusia adalah makhluk sosial, untuk itu kita harus dapat memberi petunjuk kepada orang tersesat, membantu memecahkan masalah yang dihadapi orang lain. Harus berkembang dalam diri kita seifat peka dengan lingkungan dan phenomena alam. Banyak cerita dalam Al-Qur'an tentang perlunya kita peka dengan alam. Berapa banyak ayat menyuruh kita melakukan perjalanan di alam ini, kemudian diakhir dengan statemen tidak kah negkau perhatian, bagaimana kamu berfikir dsb. Tapi tidak setiap data harus kita telan bulat-bulat, ingat QS. 63: 1, jika ada berita datang kita harus menganalisa data. Untuk memecahkan masalah, maka diperlukan diagnosa masalah dengan baik. Diagnosa adalah sebuah proses mencari data dan informasi yang tetap sesuai dengan keadaan sebenarnya. Kumpulan data atau informasi tersebut kemudian kita olah yang dapat menghasilkan informasi baru. Informasi inilah yang akan kita guakan memecahkan masalah atau mengambil keputusan. Disini kita harus melatih diri dengan ketrampilan mengolah data, membiasakan diri untuk mengambil asumsi-asumsi yang akurat, berfikir dengan mengembangkan hipotesa agar data menjadi bermakna, dan mengolah data menjadi mudah difahami orang.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Dan kami ceritakan kepadamu agar menjadi Ibrah (QS. 12: 111)

a.   Burung Hud-Hud yang peka dengan phenomena

b.   Putra Nabi Adam belajaar dari burung.

c.   Nabi Ibrahim belajar dari phenomena alam (bintang, bulan, matahari dll), dan pengunaan logika-logika Ibrahim tentang patung yang disembah kaumnya.

d.   Strategi hijrah Rasul SAW dari Makah ke Madinah

2.   Manusia sebagai makhluk sosial, sehingga harus berperan sifat sosialnya.

3.   Membantu orang lain.

a.   Mengidentifikasi masalah

b.   Mengumpulkan data sehubungan dengan masalah yang dihadapi.

c.   Mengolah data yang sudah terkumpul

d.   Mengelompokkan data, mengeneralisasi data, mengaitkan data dengan fakta.

e.   Menyusun hasil olahan data menjadi sebuah informasi.

f.   Membuat keputusan untuk penyelesaian masalah

MARAJI’

Colin Rose (1997) Accelerated Learning for 21 century. New York: Delacorte Press Jean Marie (1998), Mengoptimalkan daya fikir, Jakarta: Pustaka Delapratasa Karl Al Bvecht (1995), Daya fikir: metode peningkatan potensi berfikir, semarang: Dahara Prize Sistem Informasi Manajemen

Bidang studi: 
belajar mandiri

Ketrampilan hidup dan Ketrampilan Belajar

Kode: 1.B7.1 | Sarana: Halaqah, Pelatihan, Seminar

TUJUAN INTRUKSIONAL 

Mampu membaca dengan baik dan cepat. Mampu membaca di luar spesialisasinya 4 jam dalam seminggu Membantu (memecahkan masalah) kepada orang yang sedang membutuhkannya

TITIK TEKAN MATERI

Hendaknya setiap orang berbuat, bekerja dan berkarya sesuai dengan skill/ketrampilan yang dimilikinya masing-masing (QS. 17: 84: ya’malu ‘ala saakilatihii). Untuk kita dapat mencapai mu’min yang berkualitas, maka kita harus banyak belajar. Belajar akan menghantarkan kita sukses dunia dan akherat. Kita harus memiliki ketrampilan untuk hidup di dunia dan di akherat. 

Dalam Qs 28: 77, “ Maka carilah kebahagian Dunia dan Akherat”. Untuk mendapatkan kebahagian tersebut, maka manusia harus bekerja dan belajar. Untuk itu kita memerlukan dua jenis ketrampilan minimal, yaitu Ketrampilan hidup dan Ketrampilan Belajar. Membaca (input to brain) dan menulis (output from brain) merupakan keterampilan dasar yang harus dimiliki setiap muslim. Al-Qur'an diturunkan dengan sinyal: ‘iqra-membaca dan qalam-alat tulis (QS. 96: 1-5). Dua aktivitas itulah yang menjadi kunci bagi masuknya ilmu pengetahuan. Apalagi dalam Al-Qur`an dan hadits juga banyak diserukan agar setiap muslim mampu membaca dan menulis..

POKOK-POKOK MATERI

A. Ketrampilan dasar dalam Hidup

1.   Percaya diri

2.   Motivasi

3.   Berusaha dengan diri sediri (self solving)

4.   Tanggung Jawab

5.   Inisiatif, keinginan untuk melakukan sesuatu.

6.   Ketekunan, ulet dan gigih.

7.   Perhatian, serius

8.   Teamwork

9.   Penggunaan akal sehat, tidak membohongi diri.

10. Memecahkan Masaah 

B. Ketrampilan Dasar dalam Belajar 

1.   Mendengar

2.   Membaca

3.   Mengamati, observasi

4.   Mengingat

5.   Berfikir

6.   Imajinasi

7.   Matematika, logika

8.   Menulis

9.   Berbicara, public speaking

10. Membuat konsep 

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Saangat dianjurkan untuk dilakukan latihan-latihan sehubungan dengan ketrampilan dasar dalam hidup dan belajar ini. Karena ketrampilan tersebut sangat penting dalam meningkatkan kualitas SDM seorang dai dan ummat Islam. Carilah lembaga formal yang menyelenggrakan pelatihan etrsebut.

Maraji’

Colin Rose (1997) Accelerated Learning for 21 century. New York: Delacorte Press 

Jean Marie (1998), Mengoptimalkan daya fikir, Jakarta: Pustaka Delapratasa 

Karl Al Bvecht (1995), Daya fikir: metode peningkatan potensi berfikir, semarang: Dahara Prize

Belajar di luar Spesialisasi

Kode: 1.B7.2 | Sarana: Seminar, Taujih, Penugasan

TUJUAN INTRUKSIONAL

 Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Mengetahui urgensi dalam kehidupan

2.   Mengetahui urgensi memiliki wawasan yang luas untuk da’wah Islam

3.   Membaca buku yang dipilih, di luar spesialisasinya 4 jam per pekan.

4.   Tumbuh rasa ingin tahu (inquiri) kepada sesuatu yang bermanfaat, terutama dapat membantu untuk pekerjaan dakwah.

TITIK TEKAN MATERI

Perkembangan zaman menuntut seorang muslim tak berhenti menggali ilmu pengetahuan. Salah satu sarana efektif untuk mendalami ilmu pengetahuan adalah dengan membaca. Seorang muslim, tidak hanya dituntut menguasai spesialisasi dalam bidang tertentu, tapi ia harus memiliki serangkaian ilmu pengetahuan lain di luar itu dalam batas tertentu. Tanpa membaca dan terus mengembangkan wawasan, seorang muslim akan tertinggal oleh kemajuan zaman dan pada gilirannya tidak dapat bersaing dalam kompetisi hidup bersama kelompok lainnya.

POKOK-POKOK MATERI

a.   Urgensi ilmu pengetahuan dari dalil Al-Qur‘an maupun kebutuhan zaman

b.   Kebutuhan wawasan untuk dakwah

c.   Memilih bacaan tertentu

d.   Penugasan

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Untuk merangsang mempelajari diluar spesialaisasinya, maka dalam satu kelompok jika mempunyai bidang disiplin ilmu yang berbeda dibuat jadwal rutin tentang bedang keilmuannya. Dengan memberikan informasi yang menarik dan bermanfaat langsung bagi kehidupan, maka seseorang akan tergugah dan tertarik untuk mempelajari.

MARAJI’

Sa’id Hawwa, Agar Kita Tidak Dilindas Zaman

Memperluas wawasan dengan sarana-sarana baru.

Kode: 1.B7.3 | Sarana: Pelatihan atau Rihlah Ilmiyah

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Memotivasi diri untuk menambah wawasan dengan belajar mandiri.

2.   Selalu mengikuti perkembangan sosial politik melalui koran-koran

3.   Selalu menghadiri seminar-seminar kita.

4.   Mengerti bagaimana dapat memperoleh informasi lewat internet atau sejenisnya.

5.   Menghadiri pameran-pameran teknologi dan mengikuti perkembangannya

6.   Menghadiri pameran buku dan selalu rutin datang ke perpustakaan atau toko buku.

7.   Mengenal sarana-sarana teknologi.

TITIK TEKAN MATERI

Di zaman globalisasi, kemajuan tekhnologi menjadi kebutuhan setiap orang untuk mengenalnya. Penguasaan komputer, misalnya, sebagai salah satu sarana tekhnologi modern, saat ini dapat dikatakan menjadi ketrampilan yang harus dimiliki setiap orang. Selain komputer, ada pula tekhnologi internet yang juga menjadi sarana informasi modern saat ini. Masih banyak sarana lain yang harus diketahui oleh setiap muslim. Selain komputer dan internet, masih ada ketrampilan mendasar yang seharusnya dimiliki, seperti masalah kelistrikan, menjahit, dan sebagainya. Transfer ilmu keterampilan yang sederhana, bisa dilakukan dalam lingkungan terbatas, antar individu dalam halaqah

POKOK-POKOK MATERI

a.   Tantangan masa depan

b.   Motivasi diri

c.   Jurnal-jurnal ilmiah

d.   Daftar Pameran buku, pameran teknologi dll

e.   Alamat-alamat internet yang dapat di akses 

f.   dll

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

. Dalam belajar mandiri, maka ajarkan teknik besar tentang: Mulailah belajar dengan apa yang harus diketahui (how to know), kemudian mulailah belajar pada apa yang harus dikerjakan (how to do). Sesungguhnya pekerjaan lebih banyak dibandingkan dengan waktu kita miliki.

MARAJI’

Sa’id Hawwa, Agar Kita Tidak Dilindas Zaman

Bidang studi: 
rumah tangga islam

Birrul Walidain

Kode: 1.B8.1 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

1.   Mengetahui peran orang tua dalam kehidupan anak, dengan menyebutkan kebajikan dan kasih sayang mereka dari saat anak dilahirkan hingga dewasa (saat mengikuti materi ini) dan menyebutkan beberapa ayat Al-Qur’an serta Sunnah yang mewajibkan anak berbakti kepada kedua orang tua

2.   Memahami peran orang tua dan kasih sayang mereka, dengan menguraikan kedua hal tersebut dikaitkan dengan dalil dalam Al-Qur'an dan Sunnah

3.   Mengetahui dan memahami perilaku durhaka anak terhadap kedua orang tua, yaitu dengan menyebutkan dan menjelaskan macam perilaku durhaka tersebut serta menyebutkan dan menguraikan ancaman dalam Al-Qur'an dan Sunnahterhadap anak yang berperilaku durhaka

4.   Menjauhkan diri dari perilaku durhaka karena takut ancaman Allah SWT dan Rasul-Nya

5.   Meningkatkan bakti kepada kedua orang tua, yaitu dengan mengingatkan dan menjaga mereka dari murka Allah SWT serta mengajak dan mendukung mereka dalam kebaikan pada jalan Allah SWT

TITIK TEKAN MATERI

Materi ini menggambarkan betapa besar peran dan jasa kedua orang tua sehingga Allah SWT mewajibkan anak berbakti kepada keduanya, terutama kepada ibunya (QS 31: 14, 46: 15), bahkan Rasulullah mengajarkan bobot berbuat kepada ibu hingga tiga kali lipat dibanding kepada ayah. 

Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an (17: 23) mengaitkan/mele-takkan kewajiban berbuat baik kepada kedua orang tua setelah tidak mempersekutukan Allah SWT. Kewajiban berbuat baik kepada kedua orang tua bukan semata sebagai balas budi, akan tetapi lebih kepada melaksanakan perintah Allah SWT. Allah SWT memurkai anak yang durhaka, dan perilaku durhaka merupakan salah satu dosa besar. Oleh karena itu hendaknya tiap anak berusaha menghindari dan menjaga diri dari perilaku durhaka kepada kedua orang tua. 

Dalam QS 17: 23, Allah SWT melarang anak mengatakan ‘ah’ kepada orang tuanya, apalagi perlaku durhaka yang lebih dari itu, yaitu menyakiti secara fisik (memukul, melukai, mengusir, membunuh, dll.) maupun secara non-fisik (membentak, menipu, membuat tertekan, menyempitkan rizki mereka, dll.). Allah SWT memerintahkan anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Misalnya dengan bersikap tawadhu’ dengan kasih sayang pada keduanya, serta mendoakan mereka (QS 17: 24). Berusahalah menjadi anak yang soleh/-solehah sehingga dapat berbakti kepada kedua orang tua melalui dua hal. 

Pertama adalah mengingatkan, menjaga dan menjauhkan orang tua dari hal-hal atau aktivitas yang diharamkan oleh Allah SWT dan Rasulnya. 

Kedua yaitu dengan mengajak dan mendukung hal-hal atau aktivitas mereka dalam kebaikan di jalan Allah SWT. Di dalam QS 31: 15 Allah SWT mengajarkan kepada kita suatu sikap yang mulia apabila kedua orang tua memaksa anaknya untuk menyekutukan Allah SWT; hal ini hendaknya dicamkan dan dijadikan pelajaran.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Bentuk/macam perilaku perberbuatan baik dan perilaku durhaka kepada kedua orang tua

2.   Dalil-dalil dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah tentang kewajiban berbakti kepada kedua orang tua

3.   Dalil-dalil dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah tentang ancaman bagi anak yang durhaka kepada kedua orang tua

4.   Kiat-kiat mengingatkan, menjaga, dan menjauhkan orang tua dari hal/aktivitas yang mengakibatkan murka Allah SWT 

5.   Kiat-kiat mengajak dan mendukung hal/aktivitas orang tua dalam kebaikan pada jalan Allah SWT

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Berikan pengantar bahwa topik yang dibahas adalah tentang berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain) dan disampaikan tujuan pembelajaran materi ini. Pancing peserta mengemukakan pendapatnya tentang bentuk-bentuk bakti anak kepada kedua orang tua. Luruskan dan lengkapi tanggapan peserta tentang bentuk-bentuk bakti anak kepada kedua orang tua disertai dalil-dalil dalam Qur'an dan Sunnah pendukungnya. 

Kemukakan dan uraikan dalil-dalil dalam Qur'an dan Sunnah kewajiban anak berbakti kepada kedua orang tua dan ancaman bagi anak yang mendurhakai kedua orang tua. Kemukakan kisah sahabat-tabi’in-salafus-shaleh yang berkaitan dengan perilaku berbakti kepada orang tua, ceritakan kisah Alqamah yang menunjukkan bahwa ridha Allah SWT tergantung ridha orang tua. Pancing peserta mengemukakan kiat-kiat untuk mengingatkan, menjaga, dan menjauhkan orang tua dari hal/aktivitas yang mengakibatkan murka Allah SWT dan kiat-kiat mengajak dan mendukung hal/aktivitas orang tua dalam kebaikan pada jalan Allah SWT. Lengkapi tanggapan peserta tentang kiat-kiat tersebut sesuai target yang ditetapkan. Perlu diberikan semacam konklusi/kesimpulan di akhir. 

Rasmul bayan: birrulwalidain.ppt

MARAJI’

Abu Bakr Jabir Al-Jazairi (1996). Pedoman Hidup Muslim (diterjemahkan oleh Hasanudin dan Didin Hafidhuddin). Litera Antar Nusa, Bogor-Jakarta. 

Muhammad Thalib (1995). 40 Tanggung Jawab Anak terhadap orang Tua. Irsyad Baitus Salam, Bandung.

Isa ‘Asyur, Birrul Walidain

Ghirah pada Keluarga

Kode: 1.B8. 2 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:

1.   Mengetahui hakekat ghirah pada keluarga

2.   Memahami ghirah pada keluarga, yaitu dengan menguraikan kedua macam ghirah tersebut

3.   Menumbuhkan, meningkatkan, dan menjaga ghirah pada agama dan keluarga dalam aktivitas kesehariannya

TITIK TEKAN MATERI

Materi ini memberi gambaran bahwa ghirah atau cemburu merupakan sifat yang mulia dan agung asalkan ditempatkan secara benar. Rasulullah bersabda bahwa Allah SWT itu cemburu, demikian pula orang mukmin. 

Kecemburuan Allah SWT adalah jika hamba-Nya melakukan apa yang diharamkan-Nya. Adalah kecemburuan Allah SWT yang menjadikan-Nya memberi batas dinding yang tertutup di yaumil akhir antara hamba-Nya yang membaca Al-Qur’an dengan orang-orang yang tidak beriman (QS 17: 45) Cemburu pada keluarga adalah hasrat menjaga keluarga dari murka Allah SWT (QS 66: 6), baik karena melanggar larangan ataupun karena meninggalkan yang diwajibkan. Contoh ghirah pada keluarga antara lain menjaga keluarga dari fitnah, baik fitnah ruhi/dien maupun fitnah fisik, mendorong anggota keluarga untuk menahan pandangan, dan mendorong anggota keluarga yang wanita untuk menutup aurat. Hendaknya tiap diri menumbuhkan ghirah pada keluarga sebagai sifat mulia dan agung dalam upaya mencapai ridha Allah SWT.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Hakekat ghirah pada keluarga

2.   Dalil-dalil dalam Qur'an dan Sunnah tentang ghirah pada keluarga

3.   Faktor-faktor yang dapat menumbuhkan ghirah pada keluarga

4.   Kiat-kiat menjaga dan meningkatkan ghirah pada keluarga dan penerapannya dalam aktivitas keseharian

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Berikan pengantar bahwa topik yang dibahas adalah tentang ghirah (cemburu) pada agama dan keluarga dan disampaikan tujuan pembelajaran materi ini. Pancing peserta mengemukakan pendapatnya tentang bentuk-bentuk ghirah pada agama dan keluarga. 

Luruskan dan lengkapi tanggapan peserta tentang bentuk-bentuk ghirah pada agama dan keluarga disertai dalil-dalil dalam Qur'an dan Sunnah pendukungnya. Kemukakan kisah sahabat-tabi’in-salafus-shaleh yang berkaitan dengan ghirah pada agama dan keluarga. Pancing peserta mengemukakan faktor-faktor yang dapat enumbuhkan ghirah pada agama dan keluarga, serta kiat-kiat untuk menjaga dan meningkatkan ghirah pada agama dan keluarga dan penerapannya dalam aktivitas keseharian. Lengkapi tanggapan peserta tentang faktor-faktor dan kiat-kiat tersebut sesuai target yang ditetapkan.

MARAJI’

Abdullah Nashih ‘Ulwan (1990). Pengantin Islam. Adab Meminang dan Walimah Menurut Al-Qur’an dan Al-Sunnah (diterjemahkan oleh Aunur Rafiiq Shaleh). Al-Islahy Press, Jakarta 

Fathi Yakan, Arti Komitmenku dengan Islam 

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah (1998). Pendakian Menuju Allah SWT (diterjemahkan oleh Kathur Suhardi). Pustaka Al-Kautsar, Jakarta.

Kewajiban Anak Terhadap Orang Tua

Kode: 1.B8.3 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Memahami tentang kewajiban anak terhadap orang tua.

2.   Menunaikan hak-hak orang tua dengan kemampuan membedakan perintah orang tua yang harus ditaati dan tidak ditaati.

3.   Selalu mendoakan orang tua.

TITIK TEKAN MATERI

Pentingnya penekanan melaksanakan kewajiban sebagai seorang anak kepada kedua orang tuanya selagi mereka hidup atau sudah meninggal. Pentingnya ditanamkan pemahaman besarnya jasa orang tua terhadap anak. Pentingnya melibatkan orang tua dalam setiap pengambilah keputusan, khususnya hubungan orang tua dan anak.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Dalil-dalil tentang kewajiban anak terhadap orang tua.

2.   Keutamaan menunaikan hak orang tua.

3.   Akibat-akibat tidak ditunaikannya hak kedua orang tua.

4.   cara (adat) melaksanakan/menunaikan hak kedua orang tua.

5.   Kisah-kisah teladan tentang hubungan anak dan orang tua.

MARAJI’

Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyatul awlad fil Islam Berbakti kepada orang tua, Penerbit GIP

Memilih Pasangan

Kode: 1.B8.4 | Sarana: Materi halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu: 

1.   Memahami tentang memilih pasangan yang sesuai dengan tuntunan Islam

2.   Memilih/menentukan pilihan pasangan yang sesuai tuntunan Islam.

3.   Melaksanakan tata cara memilih pasangan dalam Islam.

TITIK TEKAN MATERI

Pentingnya memberi pemahaman tentang tata cara memilih pasangan dalam Islam. Pemilihan pasangan untuk hidup sangat penting, karena suami/istri hasil perkawinan tersebut akan digunakan membentuk rumah tangga. Rumah tangga Islam mempunyai tujuan untuk membentuk rumah tangga yang sakinah, mawadah dan rahmah. Maka apabila kita salah memilih pasangan yang sebagai bahan baku rumah tangga, maka kegagalan pembentukan rumah tangga akan mungkin terjadi. Untuk itu perlu mendapatkan pemahaman tentang karakter calon suami atau istri yang baik, bagaimana cara memilih serta bagaimana adab meminang dalam Islam. Pentingnya memberi pemahaman tentang adab meminang dalam Islam dan pelibatan orang tua dan dekat yang dipercaya dalam syura.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Dalil-dalil tentang sunnahnya menikah.

2.   Urgensi memilih pasangan yang tepat.

3.   Keutamaan mendapatkan pasangan yang tepat dan tuntunan Islam.

4.   Akibat tidak berhati-hati dalam memilih pasangan.

5.   Karakter calon suami/istri yang baik.

6.   Tata cara memilih pasangan.

7.   Adab meminang dalam Islam.

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Proses pemberian Madah Jika dalam kelompok tersebut sudah ada yang menikah, maka mereka dapat mengemukakan pengalamannya tentang: Bagaimana sulitnya kita membentuk rumah tangga yang baik jika istri atau suami tidak memiliki kriteria yang baik. Kesulitan apa yang akan dijumpai. Juga dapat diceritakan jika mereka beristri dari pilihan yang baik, bagaimana dampaknya untuk proses pembentukan keluarga yang Islami. Juga perlu digali pengalaman tentang proses meminang.

MARAJI’

Abdul Karim Zaidan, DR. Al Mufashshal Abdullah Nashih Ulwan, DR. Tata Cara Meminang dalam Islam,.

Bidang studi: 
manajemen

Mengelola waktu

Kode: 1.B9.1 | Sarana: Halaqah, daurah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu: 

1    Membagi waktu untuk mebiasakan diri untuk bangun sebelum fajar (bangun pagi) 

2    Membagi waktu untuk komitmen dengan olah raga 2 jam dalam satu minggu 

3    Membagi waktu untuk merutinkan membaca diluar spesialisasinya 4 jam dalam seminggu 

4    Membagi waktu untuk mengisi waktu senggangnya untuk belajar 

5    Membagi waktu untuk membiasakan diri dengan wirid-wirid harian 

6    Membagi waktu untuk membantu orang lain, amal jamai atau dalam kegembiraan. 

TITIK TEKAN MATERI

Waktu adalah pedang, jika kita lalai maka kita akan tertebasnya. Demi masa sesungguhnya manusia itu akan merugi, kecuali hamba Allah SWT yang mengerti bagaimana harus menggunakan waktu, yaitu untuk kegiatan amal shaleh dan positif (QS. 103: 1-3). Waktu ada tiga, lalu, sekarang dan akan datang (QS. 59: 18). Kita harus mampu mengelola waktu, sehingga kita dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang telah kita yakini baik. Kita harus memiliki makna kegiatan (kompas) dan teknik mengatur waktu (jam) agar manajemen waktu kegiatan kita berjalan dengan baik. (Stephen Covey) Apa yang menjadi keinginan kita harus menempati urutan teratas dalam skala prioritas, jangan sampai kita dikalahkan oleh kegiatan yang kurang begtu besar manfaatnya.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Pandangan waktu menurut masyarakat umum. 

a.   Time is money

b.   Al waqtu al kasyaif

2.   Pandangan waktu dalam Islam

3.   Penggunaan waktu dalam sejarah-sejarah orang shaleh

4.   Tugas yang tersedia lebih banyak dari waktu yang tersedia (Wasiat Al Banna)

5.   Pelung adalah emas, kesibukan adalah berkah, tidak dapat mengatur waktu adalah bencana.

6.   Teknologi mengatur waktu

a.   Memadukan teknologi kompas dan teknologi jam

b.   Tulislah jadwal anda

c.   Al hayatul munadzam

MARAJI’

Qardawi, Yusuf, Mengelola Waktu 

Covey, Stephen R, Think first think. Manajemen waktu, 

Makalah tanzhimul waqti

Komunikasi Efektif

Kode: 1.B9.2 | Sarana: Halaqah, daurah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu: 

1.   Mengemukakan pendapatnya dengan baik

2.   Menjadi pendengar yang baik dalam komunikasi

3.   Bersikap tidak mematikan omongan orang lain

4.   Berkomunikasi dengan baik dalam kelompok, khususnya dalam ikut berpartisipasi dalam kegembiraan atau kerja-kerja sosial.

TITIK TEKAN MATERI

Komunikasi adalah alat untuk menghubungkan antara seseorang dengan orang lainnya, baik itu individu maupun kelompok. Ketrampilan komunikasi dan kemampuan kita mengelola komunikasi menjadi sangat penting ketika kita harus bergabung dalam tim. 

Untuk itu diperlukan bebrapa pemahaman yang baik tentang: Pokok-pokok komunikasi. Dalam Qur'an banyak menggunakan istilah komunikasi seperti: Qaulan baligha (komunikasi yang jelas), qaulan tsaqila (komunikasi yang serius), qaulan sadida (berkata dengan tegas dan pada tempat dll). Agar komunkasi kita sukses dan efektif, maka kita perlu mengetahui seperti: Teknik mengemukakan pendapat/mengkomunikasikan, Teknik mendengarkan, Komunikasi empati, Komunikasi efektif, Komunikasi dalam kelompok dan bagaimana kita mengunakan media dalam komunakasi

POKOK-POKOK MATERI

1.   Pokok-pokok komunikasi

2.   Ucapan yang baik dalam Qur'an (qaulan baligha, qaulan taqila, qaulan sadida dll) dan peranannya dalam komunikasi

3.   Teknik mengemukakan pendapat

4.   Teknik mendengarkan

5.   Komunikasi empati

6.   Komunikasi efektif

7.   Komunikasi dalam kelompok

8.   Mengunakan media dalam komunikasi

MARAJI’

Stoner, James, et. El. 1996, Manajemen: Komunikasi dan negoisasi, Jakarta: PT Prenhallindo. 

Komunikasi Profesional 

Komunikasi efektif

Bidang studi: 
bahasa arab

Menulis Al-Qur'an Juz 30

Kode: 1.B10.1 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu: 

1.   Menulis dengan benar ayat-ayat Al-Qur'an Juz 30

2.   Menulis Rasmul bayan dengan baik.

3.   memahami ma’na dari kosa kata yang dirulis dengan baik

TITIK TEKAN MATERI

Peserta disiapkan untuk mampu menulis dengan tulisan arab. Hal ini disiapkan, yaitu agar nantinya mereka dapat menulis dan berbicara secara lancar dengan bahasa arab. Hal yang paling ditekankan adalah perlunya banyak latihan dan latihan untuk untuk membuat tangan terbiasa menulis. Peserta terbiasa menulis naskah-naskah berbahasa arab dengan memperhatikan benar-salahnya tulisan.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Al-Qur'an juz 30

2.   Rasmul bayan (yang telah diberikan)

3.   Sumber lain

Tekonologi Pembelajaran

1.   Meminta kepada peserta menulis Al Qur-an juz 30.Satu halaman, satu pekan

2.   Periksa tulisan hasilnya pada setiap pekan. Berikan penilain (pujilah)

3.   Tujuan pembelajaran ini juga dapat disinkronkan dengan ayat apa yang harus dihafalkan. Jadi menulis, menghafal dan memahami ma’na (kosa kata) dalam satu program yang terintegrasi. Manfaat program ini sangat penting jika ingin mengisi ceramah sejenisnya.

4.   Program ini dapat berjalan terus, sehingga mereka menulis arab dengan baik.

5.   Hindari sesuatu yang monoton atau pekerjaan yang tidak konsisten sebelum mencapai hasil

MARAJI’

Al-Qur'an 

Hadits arba’in annawawiyah 

Hadits Riyadhusshalihin

Membaca Naskah bahasa Arab

Kode: 1.B10.2 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu: 

4.   Mengucapkan bahasa Arab dengan baik

5.   Menggunakan bahasa Arab sebagai alat komunikasi

6.   Mempunyai ghirah dan semangat untuk berbahasa Arab

7.   Membentuk kebiasaan diri dalam membaca naskah-naskah berbahasa Arab hingga lancar.

TITIK TEKAN MATERI

Membiasakan peserta membaca naskah-naskah berbahasa Arab. Membaca naskah dilakukan melalui beberapa tahap

1.   Membaca naskah dengan suara keras, dengan memperhatikan baris fathah, kasrah, dhammah, sukun, tasdidi dan mad. Tanpa memperhatikan maksud dan arti bacaan

2.   Membaca naskah (seperti diatas) dengan berusahama memahami maksud bacaan

3.   Membaca naskah tanpa suara (dalam hati) dengan berusaha memahami maksud bacaan

4.   Membaca naskah tanpa suara dengan kemampuan menjelaskan bacaan kepada orang lain

POKOK-POKOK MATERI

Membaca teks Arab, seperti juz amma, hadits yang dihafal, materi tarbawi, doa-doa dsb 

Berkomunikasi ringan bahasa Arab 

Pada level ini yang menjadi penekanan adalah tahap I 

Untuk memudahkan murabbi, maka naskah dipilihkan dari hadits-hadits pilihan yang dihafal dalam level ini Hadits-hadits yang dihafal

Tekonologi Pngajaran

1.   Murabbi memilih hadits yang akan dihafal pada pekan berikutnya. Ia menulis hadits tersebut di atas plastik OHP atau karton manila atau di papan tulis dengan huruf besar. Kemudian membacakan naskah hadits tersebut di depan peserta dengan suara keras dan pelan. Setelah itu murabbi meminta peserta satu-persatu membaca hadits tersebut.

2.   Biarkan peserta membaca sampai selesai, jika terdapat kesalahan jangan diperbaiki dulu. Pada saat membaca. Setelah selesai minta kepada peserta yang bersangkutan memperbaiki kesalahan dengan dituntun oleh murabbi.

3.   Murabbi memperhatikan kesalahan umum dari peserta. Sebelum selesai pelajaran ini, murabbbi menjelaskan kesalahan umum itu didepan peserta.

MARAJI’

Hadits arba’in annawawiyah 

Hadits Riyadhusshalihin

Bidang studi: 
kesehatan dan kekuatan fisik

Hidup Bersih dan Sehat

Kode: 1.B11.1 | Sarana: Seminar, Halaqah dan atau Mukhayyam

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu: 

1.   Urgensi kesehatan dalam kehidupan manusia (tinjauan ilmiah dan Islam)

2.   Hidup bersih dan sehat dalam prespektif shalfush shaleh dan pemikir Islam

3.   Menjaga Kebersihan Badan dengan baik sesuai dengan ilmu dan tuntutan agama

4.   Menjaga Kebersihan Pakaian dengan baik sesuai dengan ilmu dan tuntutan agama

5.   Menjaga Tempat tinggal dan Lingkungan yang sehat sesuai dengan ilmu dan tuntutan agama

6.   menghindari tempat-tempat kotor dan polusi.

7.   Menghindarkan diri dari tempat-tempat yang berbahaya

TITIK TEKAN MATERI

Dalam hidup kita memerlukan badan yang sehat, agar kita dapat beraktivitas dengan baik. Untuk itu kita perlu membiasakan hidup sehat pada badan, pakaian, tempat tinggal. Untuk sehat kita perlu membiasakan hidup sehat seperti berolah raga dengan rutin dan tidak terlalu berlebihan dalam bergadang. (muwashafat 6: 1-3, 10-11 

Materi ini akan menjelaskan urgensi hidup sehat dalam Islam, yaitu khususnya melalui hidup dalam lingkungan yang bersih. Hidup sehat dapat dicapai dengan selalu menjaga kebersihan badan, kebersihan pakaian dan kebersihan tempat tinggal dan lingkungan (fisik, biologik, kimia). Melalui pemahaman yang baik akan kebersihan, maka akan mampu merubah cara pandang dan pola hidup (life style) seseorang. Dalam manhaj dan syariat Islam, serta pemikiran para salafush shaleh kaya akan tuntutan bagaimana seorang muslim harus hidup sehat.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Urgensi kesehatan dalam kehidupan manusia (tinjauan ilmiah dan Islam)

2.   Hidup bersih dan sehat dalam prespektif shalafush shaleh dan pemikir Islam

3.   Menjaga Kebersihan Badan

4.   Menjaga Kebersihan Pakaian

5.   Menjaga Kebersihan Lingkungan

6.   Polusi udara dan lingkungan

7.   Menjaga tempat tinggal, membersihkan tempat tinggal, tempat-tempat berbahaya.

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Berikan contoh-contoh terlebih dahulu tentang penyakit-penyakit yang menyadarkan kita untuk perlu memerhatikan aspek kebersihan guna memperoleh derajat kesehatan yang baik. Gambarkan betapa biaya kuratif akan besar, jika seseorang tidak memperhatikan pola hidup bersih dalam kehidupannya. Ini berarti bahwa pencegahan itu lebih baik dan lebih murah biayanya dibanding pengobatan.

Makan dan minum

Kode: 1.B11.2 | Sarana: Seminar, Halaqah, Diskusi dalam halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Menahan anggota tubuh dari segala (makanan) yang haram (muwashafat 2: 24)

2.   Mengetahui dalil adab-adab makan dan minum dalam Qur'an dan Sunnah 

3.   Mengetahui makan yang baik menurut Kedokteran dan penelitian masalah makan dan minum

4.   Mengetahui hubungan antara pola makan dan minum dengan kesehatan.

5.   Menjelaskan hubungan makan dan minum dengan berbagai pendekatan (ibadah, sosial, masyarakat dll).

TITIK TEKAN MATERI

Makan dan minum adalah aktifitas penting makhluk hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir 50% penderita sakit disebabkan karena bersumber dari kebiasaan makan dan minum yang tidak sehat. Pola makan, jenis makanan dan kondisi tubuh seseorang sangat menentukan untuk kesehatan seseorang. 

Perlu pemahaman yang utuh, bahwa Islam mempunyai syareat termasuk bagaiman adab makan dan minum yang baik. Secara global makan yang baik memenuhi criteria halal/tidak haram dan thayib. Halal dari sisi cara memperolehnya harus baik, tidak bathil atau makanan haram. Makna Thayib dilihat dari sisi kandungan gizi dan zat makanan, cara memakan dan kapan harus makan (food technology and life style in eat). Materi ini akan menjelaskan tentang dalil-dalil makan dan minum dalam Al-Qur'an dan hadits. Dengan pemahaman dalil-dalil tersebut, maka mampu menjabarkan keutamaannya menurut pandangan selain ibadah ritual, yaitu menjelaskan keuntungan adab makan dan minum menurut pendekatan nilai-nilai ekonomi, sosial dan kemasyarakatan.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Dalil adab-adab makan dan minum dalam Qur'an dan Sunnah 

2.   Makan yang baik menurut Kedokteran 

3.   Pelitian dampak masalah makan dan minum terhadap kesehatan

4.   Mengetahui hubungan antara pola makan dan minum dengan kesehatan.

5.   Menjelaskan hubungan makan dan minum dengan berbagai pendekatan (ibadah, sosial, masyarakat dll).

6.   Hal-hal apakah yang perlu diperbaiki dalam kebiasaan diri

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Proses pemberian Madah Tunjuklah salah seorang diantara peserta untuk memberikan kultum pada minggu depan dengan topik: Membuat komitmen dengan adab makan dan minum sesuai sunnah. Suruhlah seseorang yang ditunjuk untuk membuka maraji’ atau pokok-pokok materi tersebut di atas. Setelah diberikan taujih, maka berikan kesempatan mereka untuk membuat diskusi sejenak untuk pengendapan pemahaman dan proses perubahan mental. Setelah mereka diskusi, maka suruhlah mereka menulis apa yang akan diperbaiki dalam hidupnya sehubungan dengan adab makan dan minumnya.

MARAJI’

Riyadlus Shalihin 

Hidup Sehat

Pola hidup sehat dan seimbang

Kode: 1.B11.3 | Sarana: Seminar. Halaqah, mukhayam

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

a.   Membiasakan diri untuk tidak berlebihan dalam bergadang

b.   Komitmen dengan olah raga secara rutin

c.   Membiasakan diri untuk bangun sebelum fajar

d.   Meninggalkan dan menjauhkan diri dari kebiasaan merokok dan kebiasaan buruk lainnya.

e.   Mnghentikan kebiasaan rokok, jika yang masih merokok.

f.    Hubungan Olah raga dengan kesehatan dengan baik sesuai dengan ilmu dan tuntutan agama.

g.   Hidup dengan seimbang dan tidak bergadang berlebihan

TITIK TEKAN MATERI

Materi ini akan menjabarkan tentang urgensi pola hidup sehat dan seimbang. Pola hidup sehat dan seimbang dapat dicapai dengan cara membiasakan diri dengan kebiasaan yang positif, yaitu: tidak berlebihan dalam bergadang, untuk bangun sebelum fajar, olah raga secara rutin dan meninggalkan dan menjauhkan diri dari kebiasaan merokok dan kebiasaan buruk lainnya. Secara global hidup sehat dapat dicapai dengan menjauhi dan meninggalkan hal-hal yang merusak tubuh serta menguatkan dan memelihara kesehatan badan dengan berolah raga. Untuk mendapatkan kualitas hidup yang baik, maka kaitkan materi ini secara global dengan kebiasaan makan dan minum yang halal dan toyib.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Hubungan Olah raga dengan kesehatan.

2.   Itirahat dan bergadang

3.   Manfaat bangun sebelum fajar.

4.   Kiat, pola dan gaya hidup menuju kehidupan pribadi yang sehat

5.   Siklus hidup yang seimbang antara bekerja dan istirahat

6.   Fadilah bangun sebelum fajar

7.   Membangun dan memelihara kesegaran dan kebugaran badan dengan berolah raga secara rutin

8.   Kebiasaan buruk dan merusak badan: merokok, minum khamar, penggunaan zat aditif (NAZA)

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Proses pemberian Madah Sebelum memberikan materi, maka untuk merangsang proses transformasi pemahaman ini, maka tanyakanlah kepada para peserta tentang: apakah mereka pernah merasakan sakit badan, apakah mereka pernah tidak shalat subuh atau bangun kesiangan? Setelah mereka memberikan jawaban, maka tanyakannlah kira-kira penyebab masalah-masalah tersebut. Setelah adanya proses penyadaran diri, maka baru kemudian berikan materi tentang siklus hidup yang seimbang antara bekerja (berjaga) dan istirahat, fadilah bangun sebelum fajar, membina kekuatan fisik dan meninggalkan kebiasaan buruk dan merusak badan.

Tata cara membaca dan Kesehatan mata

Kode: 1.B11.4 | Sarana: kultum (diberikan dalam daurah membaca cepat)

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Memahami tata cara membaca yang baik untuk kesehatan mata

2.   Menyebutkan dampak cara membaca tidak baik untuk kesehatan mata

3.   Merawat mata

TITIK TEKAN MATERI

Membaca adalah kebiasaan yang sangat baik. Tetapi jika kebiasaan baik tersebut tidak dikelola dengan baik, maka akan menjadi buruk. Untuk itu perlu mendapatkan yang utuh bagaimana hubungan membaca dan tata cara baca yang sehat dan baik dalam pandangan kesehatan. 

Mata adalah organ tubuh yang sangat penting sebagai indera yang digunakan untuk melihat. Membaca adalah sesuatu yang sangat dianjurkan untuk menambah wawasan. Apabila mata kita tidak dirawat dan kita tidak mengikuti tata cara membaca yang baik, maka kita akan cepat lelah dan pekerjaan membaca menjadi membosankan. Tata cara membaca hendaknya mengikuti kaidah kesehatan sehingga tidak merusak organ mata kita dan kita harus mengetahui cara merawat mata.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Tata cara membaca yang baik dan sehat

2.   Merawat mata

3.   Mengenal penyakit mata: Buta warna, mata minus dll

4.   Mengetes kesehatan mata

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Proses pemberian Madah Kalau diberikan pada kultum, maka tekankan bahwa membaca dan merawat organ yang digunakan untuk membaca adalah hal yang sangat penting. Kalau dibuat daurah membaca, maka dapat disisipkan pada acara tersebut.

MARAJI’

Bidang studi: 
kependidikan dan keguruan

Ghirah Agama

Kode: 1B12.1 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

1.   Memiliki ghirah (rasa cemburu) pada agamanya.

2.   Tumbuh motivasinya untuk membela agamanya

3.   Tumbuh keinginan untuk menyebar luaskan ajaran Islam

4.   Tumbuh keinginan untuk mencegah kemungkaran dan menyeru kepada ma;ruf

5.   menyebar luaskan salam

TITIK TEKAN MATERI

Materi ini memberi gambaran bahwa ghirah atau cemburu merupakan sifat yang mulia dan agung asalkan ditempatkan secara benar. Rasulullah bersabda bahwa Allah SWT itu cemburu, demikian pula orang mukmin. Kecemburuan Allah SWT adalah jika hamba-Nya melakukan apa yang diharamkan-Nya. Adalah kecemburuan Allah SWT yang menjadikan-Nya memberi batas dinding yang tertutup di yaumil akhir antara hamba-Nya yang membaca Al-Qur’an dengan orang-orang yang tidak beriman (QS 17: 45) 

Cemburu pada agama ialah hasrat yang menggebu pada agama, hasrat membela dan menolong agama Allah SWT (QS 47: 7, 61: 14) sehingga ia senantiasa siap menghadapi siapapun yang melecehkan agama, dan hasrat bagi tegaknya aturan agama pada dirinya, pada seluruh aktivitasnya, pada keluarga, dan pada masyarakat karena kesadaran bahwa dengan itulah ia dapat meraih ridha Allah SWT (QS 89: 27-30). Hendaknya tiap diri menumbuhkan ghirah pada agama sebagai sifat mulia dan agung dalam upaya mencapai ridha Allah SWT.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Hakekat ghirah dan ghirah pada agama

2.   Dalil-dalil dalam Qur'an dan Sunnah tentang ghirah pada agama

3.   Faktor-faktor yang dapat menumbuhkan ghirah pada agama

4.   Kiat-kiat menjaga dan meningkatkan ghirah pada agama dan penerapannya dalam aktivitas keseharian

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Berikan pengantar bahwa topik yang dibahas adalah tentang ghirah (cemburu) pada agama dan keluarga dan disampaikan tujuan pembelajaran materi ini. Pancing peserta mengemukakan pendapatnya tentang bentuk-bentuk ghirah pada agama dan keluarga. Luruskan dan lengkapi tanggapan peserta tentang bentuk-bentuk ghirah pada agama dan keluarga disertai dalil-dalil dalam Qur'an dan Sunnah pendukungnya. Kemukakan kisah sahabat/tabi’in/salafus-shaleh yang berkaitan dengan ghirah pada agama dan keluarga. Pancing peserta mengemukakan faktor-faktor yang dapat enumbuhkan ghirah pada agama dan keluarga, serta kiat-kiat untuk menjaga dan meningkatkan ghirah pada agama dan keluarga dan penerapannya dalam aktivitas keseharian. Lengkapi tanggapan peserta tentang faktor-faktor dan kiat-kiat tersebut sesuai target yang ditetapkan.

MARAJI’

Abdullah Nashih ‘Ulwan (1990). Pengantin Islam. Adab Meminang dan Walimah Menurut Al-Qur’an dan Al-Sunnah (diterjemahkan oleh Aunur Rafiiq Shaleh). Al-Islahy Press, Jakarta 

Fathi Yakan, Arti Komitmenku dengan Islam 

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah (1998). Pendakian Menuju Allah SWT (diterjemahkan oleh Kathur Suhardi). Pustaka Al-Kautsar, Jakarta.

Ahammiyatut Tarbiyah (Urgensi Kaderisasi)

Kode: 1B12.2 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Memahami urgensi tarbiyah dalam kehidupan seorang muslim, agar dapat menerangkan mengapa dia perlu mengikuti pembinaan yang intensif.

2.   Memahami bahwa tarbiyah adalah bahagian dari solusi menyelesaikan problematika umat dalam bidang SDM dan strategi, sehingga ia dapat menyebutkan beberapa kegiatan dalam tarbiyah yang menjadi upaya solusi problematika umat.

3.   Membentuk sistem nilai akan kelebihan sistem tarbiyah dalam mempersiapkan kader untuk beramal jamai’, sehingga ia selalu terdorong untuk beraktifitas dalam kerja-kerja jamai

TITIK TEKAN MATERI

Ahammiyatut tarbiyah adalah satu materi yang diberikan kepada pemula untuk menyadarkan akan pentingnya pembinaan dalam memperbaiki diri, keluarga dan umat Islam, dalam rangka membangun kekuatan umat Islam dalam menghadapi musuh-musuhnya.

POKOK-POKOK MATERI

A. Alasan perlunya tarbiyyah dari aspek internal ajaran Islam

1.   Arrasul sebagai Murabbi dan da’iyah, membimbing umat manusia untuk keluar dari jahiliyah. Ciri-ciri jahiliyah adalah:

a.   Jahl (kebodohan)

b.   Dzillah (kehinaan)

c.   Faqr (kefaqiran)

d.   Tanafur (perpecahan)

2.   Inti dari jahiliyah adalah ‘Dhalalun mubin’ (Kesesatan yang nyata) (3: 164)

3.   Jalan keluar dari kesesatan adalah ‘tarbiyah’ atau pembinaan yang didalamnya diajarkan (2: 151):

a.   Tilawah (membaca atau dibacakan).

b.   Tazkiyah (pembersihan diri).

c.   Ta’limul kitab wal hikmah/sunnah (pengajaran Qur’an dan Hadits).

4.   Dengan tarbiyah kita memperoleh nikmat yang dapat mengantar kita menuju ‘khairu ummah’ (3: 110) dengan ciri-ciri:

a.   ‘Ilmu (berpengetahuan)

b.   ‘Izzah (terhormat)

c.   Ghina (kekayaan)

d.   Ukhuwwah (persaudaraan). 

B. Alasan perlunya tarbiyyah dari aspek individu. 

Urgensi tarbiyah terdiri atas dua: (1) Hakikat jiwa yang membutuhkan pembinaan (91: 8-10), (2) Waqi’ul ummah (Kenyataan umat dewasa ini). 

C. Hakikat jiwa menghadapi dua persoalan:

a.   Internal: Fitrah jiwa (91: 8-9) yang pada dirinya terdapat kecenderungan kepada taqwa dan kecenderungan kepada kesesatan. 

(1) Kecenderungan kepada taqwa, hanya membutuhkan pembimbingan kepada Qur’an. 

(2) Sedang kecenderungan kepada kesesatan mendapatkan godaan syaitan, kecintaan dunia dan nafsu syhawat. Agar dapat terhindar dari hal itu semua maka memerlukan tarbiyah yang berfungsi mengarahkan, membangun, menjaga dan memelihara jiwa untuk senatiasa berhubungan dengan Qur’an.

b.   Eksternal: Adanya musuh bebuyutan (2: 168-169) yang tidak hanya membuat perencanaan yang matang, (lihat: Materi GF) tapi juga merealisasikan (5: 82). Yang keduanya adalah bagian dari langkah-langkah syaitan (35: 6). Untuk menangkal serangan musuh, diperlukan ‘amal jama’i. Tapi ‘amal jama’i dikalangan kaum muslimin tak akan terjadi, kecuali jika didahului dengan tarbiyah. 

Kenyataan umat: Umat dewasa ini terserang sebuah ‘virus’ mematikan, namanya virus buih (gutsai), yang meringankan timbangan umat dan membuat umat tidak punya arus. Yang menjadi penyebab virus gutsai ini adalah sukanya kaum muslim kepada dunia sekaligus membenci kematian. Virus gutsa’i menyebabkan kaum muslimin menjadi santapan yang nikmat bagi para thagut (musuh-musuh Allah SWT). Untuk menterapi virus tsb, kita membutukan terapi yang namanya tarbiyah. Yang insya’ Allah SWT akan menambah berat timbangan, mendatangkan arus. Dan kita mampu menghancurkan thagut.

MARAJI’

Said Hawwa Al Madkhal, Yusuf Qardlawi, DR. Tsaqafatud Da’iyah, Wasailut Tarbiyah ‘Indal Ikhwan

Bidang studi: 
fiqh da’wah

Bahaya Pembatasan Kelahiran

Kode: 1.C13.1 | Sarana: Taujih dan Diskusi

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: Mengetahui strategi musuh Islam untuk membatasi populasi kaum muslimin

TITIK TEKAN MATERI

Cara lain yang dilakukan musuh Islam untuk menyingkirkan eksistensi umat Islam, adalah dengan membatasi jumlah kelahiran umat Islam. Sementara para pemimpin agama non Islam justru menyerukan gencar penambahan populasi mereka. Pembatasan jumlah kelahiran, atau yang dikenal dengan program keluarga Berencana, sepintas memang ditujukan untuk membina keluarga sejahtera. Namun Islam menolaknya secara syari’at, hal ini juga bukan berarti umat Islam diperintahkan memperbanyak keturunan sebanyak-banyaknya tanpa mempertimbangkan kualitas mereka. Islam menghendaki keturunan yang banyak dan berkualitas.

POKOK-POKOK MATERI

a.   Memperbanyak keturunan dalam pandangan syari’at Islam

b.   Strategi musuh Islam untuk menekan angka pertumbuhan umat Islam 

c.   Menghindari umat yang banyak tapi berkualitas buih

d.   Diskusi tentang masalah pembatasan kelahiran

MARAJI’

Ghazwul Fikri Hasan al Banna & Al Maududi, Tahdidun Nasl,. Makalah-makalah Cairo 7 Beijing, Khadijah Centre ?

Menyikapi isu negatif tentang aktifis da’wah

Kode: 1.C13.2 | Sarana: Diskusi/Taujih

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

a.   Membangun suatu keyakinan mengenai adanya berbagai macam isu sinis terhadap aktifis Islam

b.   Membangun sikap mental yang teguh dalam berhadapan dengan isu-isu sinis dan destruktif

c.   Menanamkan suatu keyakinan bahwa Yahudi, Nasrani, Musyrikin dan Munafiqin sebagai pelaku-pelaku penyebaran isu tersebut di tingkat alami dan agen-agen mereka (muslim bermasalah) di tingkat lokal.

d.   Meningkatkan wawasan mengenai model-model isu negatif tersebut baik yang ada dalam sejarah kaum muslimin maupun model kontemporer

e.   Melatih daya kritis dan daya berargumentasi dalam menghadapi suara-suara negatif tentang Islam dan kelompok yang memperjuangkan Islam.

TITIK TEKAN MATERI

Kebencian musuh-musuh Islam dan kaum muslimin merupakan suatu aksioma dalam sejarah umat. Segala daya dan upaya mereka kerahkan untuk menghancurkan kaum muslimin. Diantara bentuknya adalah-selain makar pembunuhan-penyebaran isu-isu negatif dan sinis terhadap aktifis Islam. Serangan tersebut bukan hanya menimpa kalangan aktifis Islam saja-dengan isu yang menyudutkan seperti teroris, fundamentalis-melainkan juga kaum muslimin agar mereka menjaga jarak terhadap aktifis Islam. Di satu sisi ini merupakan ujian untuk para aktifis, disisi lain ini adalah persoalan yang harus dituntaskan. 

Oleh karena itu persiapan melahirkan generasi yang tangguh dan mampu berargumentasi dengan baik dalam rangka mematahkan isu tersebut menjadi hal yang penting. Perjuangan menegakkan Islam selalu menghadapi fitnah. Antara lain adalah informasi yang tidak didasari oleh kebenaran. Zaman Rasulullah dahulu, informasi dusta ini dilontarkan oleh kelompok munafiqin untuk memecah belah barisan kaum muslimin. Sekarang, cukup banyak informasi tanpa dasar yang ditiupkan oleh orang-orang yang tidak tahu, atau musuh Islam, tentang berbagai fenomena umat Islam. Juga diperlukan pembukaan wawasan akan perlunya bermasyarakat dengan baik.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Taujih tentang permusuhan antara haq dan bathil yang masing-masing diwakili oleh para aktifisnya (dari zaman dahulu sampai sekarang).

2.   Taujih tentang sabar dalam berkomitmen dengan iman dan Islam, khususnya ketika menghadapi ujian dan tantangan dalam berusaha menegakkan risalah Islam.

3.   Diskusi tentang beberapa masalah yang dianggap sebagai suara negatif terhadap Islam dan fenomena kelompok yang memperjuangkan Islam

MARAJI’

Hasan al Hudhaibi, Kami Da’i Bukan Hakim

Yusuf al Qardhawi, 70 Tahun al ikhwan al muslimun

Marhalah Makkiyah dan Karakteristiknya

Kode: 1.C13.3 | Sarana: Taujih dan Diskusi

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Mengetahui sejarah global sirah perjuangan dan perkembangan Islam yang terbagi pada marhalah Makkiyah dan Madaniyah.

2.   Memahami karakteristik Marhalah Makkiyah

3.   Mengetahui korelasi Marhalah Makkiyah dari sudut Fiqhu Da’wah

TITIK TEKAN MATERI

Sirah perjuangan Rasulullah merupakan sunnah (peninggalan) yang harus dijadikan rujukan bagi perjuangan da’wah Islam. Pembagian fase perkembangan Islam dalam fase Makkiyah dan Madaniyah, merupakan salah satu tonggak perkembangan Islam yang patut dicermati. Kedua fase ini, sudah banyak di bahas dalam kategori perkembangan hukum syari’at, namun masih sedikit yang memahaminya dari sudut fiqhu da’wah. Kedua-duanya, baik dari sudut perkembangan hukum syari’at, maupun fiqhu da’wah, penting diketahui oleh setiap muslim. 

Fase makkiyah: 

a.   Prioritas aqidah

b.   Sirriyatud da’wah jika belum banyak pendukung

c.   Dukungan Abu Thalib terhadap Nabi; figur/tokoh masyarakat/politik/militer.

d.   Dukungan da’wah boleh dari non Muslim

e.   Ke Thaif setelah da’wah di Mekkah

f.   Prioritas objek da’wah Al azrab fal azrab dan kegigihan berda’wah

g.   Tawaran da’wah Rasul kepada setiap pendatang di musim haji, da’wah harus kepada seluruh lapisan

h.   Markaz da’wah Al Arqam; tempat yang aman.

i.    Sabar dalam cobaan. 

 

Fase madinah: 

a.   Membangun masjid sebagai pusat semua aktifitas

b.   Peperangan terjadi pada fase madinah

c.   Sebagai pelajaran: Da’wah dengan tegas setelah banyak pendukung

d.   Peperangan bukan untuk membantu orang namun untuk menyelamatkan

e.   Kekalahan pada perang Uhud antara lain karena tidak Taat, jadi tidak taat penyebab kegagalan.

f.   Membuat perjanjian yang umum.

g.   Persaudaraan diformalkan.

h.   Pengembangan ekonomi.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Uraian global tentang pembagian fase Makkiyah dan Madaniyah

2.   Fase Makkiyah dari sudut perkembangan hukum syari’at

3.   Fase Makkiyah dari sudut perkembangan fiqhu da’wah

4.   Karakteristik fase Makkiyah

MARAJI’

Musthafa Munir Ghadban, Manhaj Haraky Munawwar Khalil, Kelengkapan Tarikh Ramadhan Al-Buthy, Sirah Nabawiyah, 

Bidang studi: 
sirah dan sejarah islam

10 Sahabat dijamin Masuk Surga

Kode: 1.C14.1 | Sarana: Taujih dan Penugasan

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Memahami karakteristik 10 sahabat yang dijamin masuk surga (sifat-sifat utama)

2.   Mengenal kepribadian 10 orang sahabat yang dijamin masuk surga

3.   Termotivasi memiliki semangat juang sebagaimana para sahabat yang dijamin masuk surga dan berkorban dalam amal Islam

TITIK TEKAN MATERI

Memaparkan sejauh kehidupan masing-masing para ahabat dari kehidupan awalnya hingga akhir kehidupan mereka. Penjelasan mengenai perilaku utama, sifat-sifat mulia/terpuji yang melatarbelakangi mereka sebagai penghuni surga. Memberikan motivasi (semangat mewujudkan sifat utama para sahabat tersebut dalam kehidupannya saat ini.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Sejarah hidup 10 orang sahabat yang dijamin masuk surga

2.   Sifat dari masing-masing kehidupan sahabat

3.   Ibrah dari mereka pada kehidupan sekarang

4.   10 orang sahabat: Abu Bakar As Siddiq, Umar Bin Khattob, Utsman Bin Affan, Ali Bin Abi thalib, Abdur Rahman Bin Auf, Zubair Bin Awwam, Amru Bin Ash, Sa’ad Bin Abi Waqash, Abdullah Bin Rawahah, Thalhah Bin Ubaidillah.

MARAJI’

Al-Kandahlawi, Hayatu Shahabah 

Khalid Muhammad Khalid, Kisah 60 sahabat Nabi, K

halid Muhammad Khalid, Sepuluh Sahabat dijamin Masuk Surga, 

Bidang studi: 
dunia Islam kontemporer

Ahwalul muslimin (Kelemahan Muslimin Dewasa Ini)

Kode: 1.C15.1 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat:

1.          Memahami faktor-faktor kelemahan muslimin dewasa ini dan berusaha mengatasinya.

2.          Memahami peranan tarbiyah dan harakah dalam mengatasi kelemahan tersebut.

3.          Memahami bahwa jalan satu-satunya untuk memperbaiki kondisi umat adalah menjadikan dirinya layak bergabung dengan Hizbul-Lah.

TITIK TEKAN MATERI

Keadaan muslimin sekarang ini memanglah hina dan berada di bawah kekuasaan musuh-musuh Islam. Muslim sebagai ummat yang terbaik dan mulia ternyata tidak lagi nampak kemuliaannya di tengah-tengah manusia lain, bahkan nampak semakin terpuruk sebagai hasil keadaan jahiliyah yang semakin meraja lela saat ini. Secara umum kondisi kaum muslimin hari ini mempunyai kelemahan-kelemahan diantaranya aqidah, tarbiyyah, tsaqafah, dakwah manajemen oraganisasi, akhlaq. Keadaan ini berlaku disebahagian besar negeri Islam. Untuk memperbaiki ini semua, maka diperlukan dakwah harakiyah yang mengacu kepada nilai-nilai asasi, yaitu: Rabbaniyyah, Minhajiyah, Marhaliyah (bertahap), Uawiyah (prioritas), Sesuai dengan realita, Seimbang, 

POKOK-POKOK MATERI

1. Kelemahan Muslimin Dewasa ini:

a.   Aqidah

b.   Tarbiyah

c.   Tsaqafah

d.   Da’wah

e.   Organisasi

f.   Akhlaq

 

2. Perbaikan melalui Da’wah Harakah yang Integral yang bersifat:

a.   Rabbaniyyah

b.   Minhajiyah

c.   Marhaliyah (bertahap)

d.   Aulawiyah (prioritas)

e.   Sesuai dengan realita

f.   Seimbang

MARAJI’

1.   Perang Urat Syaraf

2.   Abd. Marzuq Shabrur, Invasi pemikiran

3.   Abdus Sattar, DR. Al Ghazwul Fikri,.

4.   Anwar Jundi, Al Ghazwul Fikri,.

5.   Muhammad Al Bahi, Al fikrul Gharbi Washilatuhu bil Alamil islami, 

Bidang studi: 
pemikiran, gerakan dan organisasi pembaruan islam

Perjalanan Gerakan Dakwah Pemuda

Kode: 1.C16.1 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Memahami bahwa pemikiran dakwah untuk menegakkan kebenaran dikalangan pemuda

2.   Memahami sejarah masa lampau di Indonesia tentang sejarah pergerakan mahasiswa.

3.   Mengenal konsep perjuangan berbagai gerakan dakwah pemudaa 

4.   Tumbuh keinginan untuk meniru semangat dan memperjuangkan kebenaran.

5.   Tidak menerima suara-suara miring (memojokkan) tentang dakwah kita

TITIK TEKAN MATERI

Problematika ummat dalam sepanjang sejarah bervariasi, sehingga manusia yang hidup pada zamannya selalu saja ada yang tergugah untuk memperbaiki problem tersebut. Dan pemuda adalah sosok manusia yang banyak berperan dalam berbagai kegiatan pemecahan problem ummat. Untuk pengantar materi dapat diceritakan tentang sejarah sekilas dari pemuda gua kahfi dan dakwah nabi Ibrahim, dimana cerita itu memiliki kesamaan tentang karakter pemuda yang mempunyai semangat untuk membela kebenaran. 

Titik tekan materi ini, yaitu dengan mereka mendapatkan gambaran pemuda yang bangkit untuk menegakkan kebenaran dan mengenal pemikirannya, maka hatinya akan terbuka bahwa ada orang yang dalam hidupnya mau memikirkan pemecahan ummat dan menegakkan kebenaran. Jelaskan tentang kilas balik pemikiran dan pergerakan untuk menegakkan kebenaran dikalangan pemuda di Indonesia. Secara global berikan materi tentang:

1.   Pergerakan pemuda Indonesia Pra-Kemerdekaan: KH Agus Salim, Dr. Hatta, Pokok-pokok pikiran perjalanan pergerakan pemuda Indonesia Paca-Kemerdekaan: Angkatan 66, Peristiwa malari.

2.   Perjalanan pergerakan pemuda Indonesia Paca-Kemerdekaan: Angkatan 66, Peristiwa malari.

3.   Dakwah pemuda kontemporer: PII, HMI, KAMMI. Untuk mengenal pokok-pokok pemikiran pergerakan dakwah, maka perlu dijelaskan masalah yang melatar belakangi timbulnya pergerakan pemikiran, tokoh atau orang penting yang terlibat, pokok-pokok pemikiran yang diperjuangkan, manhajnya dan pengaruhnya kepada masyarakat, mengevaluasi atau membandingkan pemikiran dakwanya secara objektif dengan manhaj Rasul SAW dengan dakwah secara objektif dll. Akan menjadi menarik jika dapat menampilan pergerakan perjuangan pemuda yang bervariasi dan membandingkan kelebihan dan kekurangannya. Dengan memahami materi perjalanan gerakan dakwah pemuda, khususnya di Indoensia seseorang kan terdorong untuk mau bergabung dalam barisan penegak kebernaran.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Sekilas pemuda al kaffi.

2.   Sekilas dakwah pemuda Ibrahim

3.   Pokok-pokok pikiran perjalanan pergerakan pemuda Indonesia Pra-Kemerdekaan: KH Agus Salim, Dr. Hatta dll

4.   Pergerakan pemuda Indonesia Paca-Kemerdekaan: Pokok-pokok pikiran perjalanan Angkatan 66, Peristiwa malari dll.

5.   Dakwah pemuda kontemporer: Pokok-pokok pemikiran pergerakan PII, HMI, Dakwah Kampus, KAMMI dll.

MARAJI’

Sejarah Indonesia Kompas, 1 Januari 2000 Tempo, Januari 2000

Dakwah di negeri-negeri muslim

Kode: 1.C16.2 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini maka akan dapat: 

1.   Mengenal berbagai gerakan dakwah di dalam negeri pada sebelum pra kemerdekaan

2.   Mengenal gerakan dakwah dan tokokh dakwah prakemerdekaan

3.   Mengenal berbagai gerakan dakwah di negeri-negeri muslim

4.   Menganal pola gerakan dan fikrah geraakan dakwah 

5.   Tidak menerima suara-suara miring (memojokkan) tentang dakwah kita

TITIK TEKAN MATERI

Problematika ummat dalam sepanjang sejarah bervariasi, sehingga manusia yang hidup pada zamannya selalu saja ada yang tergugah untuk memperbaiki problem tersebut. Dalam memecahkan problem ummat, pemikiran pergerakan dakwah ada yang menonjol secara individu dan ada yang menonjol dari nama lembaganya. Setelah kita mengenal problem ummat, khususnya di Indonesia ternyata dalam sejarah ada seseorang atau sekelompok orang yang bangkit untuk menyelesaikan problem tersebut. Untuk itu perlu kita mengenal sejarah pemikiran pergerakan dakwah di dalam negeri maupun di luar negeri. 

Materi yang perlu dijelaskan yaitu mengenal pemikiran pergerakan Islam di dalam negeri seperti muhammadiyah, NU, Persis, dll dan luar negeri. Untuk mengenal pokok-pokok pemikiran pergerakan dakwah, maka perlu dijelaskan masalah yang melatar belakangi timbulnya pergeraka pemikiran, tokoh atau orang penting yang terlibat, pokok-pokok pemikiran yang diperjuangkan, manhajnya dan pengaruhnya kepada masyarakat, mengevaluasi atau membandingkan pemikiran dakwanya secara objektif dengan manhaj Rasul SAW dengan dakwah secara objektif dll.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Gerakan dakwah dalam negeri (pokok-pokok pemikiran dakwah)

a.   Sejarah ringkas Islam masuk di Indonesia

b.   Pahlawan Islam sebelum Prakemerdekaan: Diponegoro, Imam Bonjol, Jut Nyak Dien

c.   Sekilas beridirinya SDI, SI, Muhammadiyah, NU, Masyumi dll

d.   Dakwah Islama pasca kemerdekaan: Partai Islam, Gerakan dakwah non formal.

2.   Gerakan dakwah negeri-negeri muslim

a.   Gerakan dakwah di negeri: Bosnia, Aljasair, Patani, Kasmir dll.

b.   Gerakan jamaah dakwah: Ikhwanul Muslimin Mesir, Jamiat Islami Pakistan, FIS dll

MARAJI’

Bidang studi: 
perbandingan agama dan aliran keagamaan

Ghazwul Fikri

Kode: 1.C17.1 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Menyadari tipu muslihat yang sangat halus dari kelompok anti Islam terhadap umat Islam

2.   Mengetahui berbagai bentuk proyek mereka dalam memperdaya dan merusak umat Islam

3.   Memelihara diri agar tidak terjerumus terhadap perang urat syaraf yang dilancarkan kelompok anti Islam

TITIK TEKAN MATERI

Peperangan secara fisik yang dilakukan musuh-musuh Islam selalu gagal. Perang fisik justru menambah kobaran semangat umat Islam untuk tidak tunduk terhadap kemauan mereka. Karena itu, musuh-musuh Islam merubah cara peperangan fisik itu menjadi serangan yang sangat halus, namun hasilnya mematikan. Mereka melancarkan serangannya, baik secara ekonomi, politik, budaya, untuk mempengaruhi umat Islam agar pada akhirnya dapat tunduk pada mereka. Serangan-serangan tersebut dikemas dengan berbagai konsep-konsep yang telah diimplementasikan dalam kehidupan nyata serta disosialisasikan dengan begitu profesional. Maka kebusukan-kebusukan tersebut akhirnya seperti barang-barang indah bagi mereka yang melihatnya tanpa kacamata Islam..

POKOK-POKOK MATERI

1.   Difinisi Ghazwul Fikri

2.   Metode-metode Ghazwul Fikri

3.   Ghazwul Fikri dalam sejarah 

4.   Diskusi dan Pemecahan masalah

 

 

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Proses pemberian Madah Ketika mengisi topik ini, maka sedapat mungkin bawakan buku-buku yang telah membahas topik ini. Tunjukan kliping Koran yang berhubungan dengan dampak negatif dan bukti-bukti nyata di lapangan. Dengan memberikan data yang nyata, maka akan dapat menggugah emosi dan menimbulkan kepercayaan. Lakukan diskusi untuk membahas realitas kehidupan dan masalah yang ada.

MARAJI’

Perang Urat Syaraf Abd. Marzuq Shabrur, Invasi pemikiran 

Abdus Sattar, DR. Al Ghazwul Fikri,. 

Anwar Jundi, Al Ghazwul Fikri,. 

Muhammad Al Bahi, Al fikrul Gharbi Washilatuhu bil Alamil islami, 

Zionisme Internasional

Kode: 1.C17.2 | Sarana: Taujih

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Mengetahui adanya konspirasi global yang dilancarkan musuh-musuh Islam

2.   Mengetahui strategi Zionisme terhadap Islam 

3.   Mengetahui Israel sebagai negara zionis

4.   Mengetahui bagaimana Islam/umat Islam mengatasi kedua hal di muka

TITIK TEKAN MATERI

Pertarungan (shira’) antara haq dan bathil berlaku sepanjang masa. Al-Qur‘an telah menegaskan bahwa kelompok Yahudi tidak akan rela sampai kaum muslimin mau mengikuti millah mereka (QS. al-Baqarah: 120). Salah satu kelompok yang gencar melakukan perang terhadap Islam adalah Zionisme yang organisasinya tersebar ke seluruh dunia. 

Proyek utama Zionisme adalah mendirikan negara Israel Raya di atas tanah jajahan Palestina. Strategi global Zionisme dapat dilihat pada Protocol of Zions dan tetap saja pada akhirnya Al haq dapat mengalahkan yang batil sekalipun bernama zionisme Israel sebagai negara zionis, selintas tentang sejarah hitam berdirinya, konspirasi yang menyertainya, kejahatannya terhadap Palestina, negara-negara tetangga maupun dunia international (PBB)

POKOK-POKOK MATERI

1.   Taujih tentang pertarungan abadi antara haq dan bathil

2.   Zionisme sebagai organisasi internasional yang memerangi Islam

3.   Beberapa butir-butir protocol of Zionis

4.   Kejahatan-kejahatan Israel dan terorisnya Israel terhadap bangsa Palestina, Masjid Al Aqsha serta kemanusiaan umumnya.

5.   Penyebaran zionisme di Indonesia serta bahayanya

6.   Dalil serta cara mengcounter/membongkar hakikat zionisme

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Proses pemberian Madah Ketika mengisi topik ini, maka sedapat mungkin bawakan buku-buku yang telah membahas topik ini. Tunjukan kliping Koran yang berhubungan dengan dampak negatif dan bukti-bukti nyata di lapangan. Dengan memberikan data yang nyata, maka akan dapat menggugah emosi dan menimbulkan kepercayaan

MARAJI’

Protokolat Zionisme Ensiklopedia gerakan & aliran WAMY

Gerakan Terselubung yang memusuhi Islam

Kode: 1.C17.3 | Sarana: Taujih

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

a.   Mengetahui bahaya terselubung yang mengancam kaum muslimin 

b.   Mengetahui peta komunisme dan sekularisme sebagai kelompok yang memusuhi Islam

TITIK TEKAN MATERI

Berbagai cara dilakukan musuh Islam untuk menundukkan umat Islam. Salah satunya dengan cara mendirikan muassasah (yayasan, lembaga, institusi, LSM) yang intinya ingin merusak dan menyingkirkan eksistensi Islam dan umatnya. Demikian juga mereka menciptakan gerakan komunisme dan sekularisme yang kadang tampil secara tegas memusuhi Islam dan umat Islam. Secara lahir, mereka tidak mengidentifikasikan dirinya sebagai kelompok yang berlawanan dengan Islam. Keberadaan lembaga-lembaga ini terus berkembang di setiap periode, dan harus diketahui oleh kaum muslimin agar mereka terhindar dari tipu muslihatnya.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Komunisme sebagai gerakan yang anti Islam

2.   Sekularisme sebagai gerakan yang anti Islam

3.   Counter Islam terhadap mereka

4.   Pandangan Pemikir Islam terhadap gerakan yang anti Islam

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Ketika mengisi topik ini, maka sedapat mungkin bawakan buku-buku yang telah membahas topik ini. Tunjukan kliping Koran yang berhubungan dengan dampak negatif dan bukti-bukti nyata di lapangan. Dengan memberikan data yang nyata, maka akan dapat menggugah emosi dan menimbulkan kepercayaan

MARAJI’

Ensiklopedia Gerakan dan Aliran, WAMY

Lembaga-lembaga yang menentang Islam

Kode: 1.C17.4 | Sarana: Halaqah, seminar, Penugasan

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah menjalankan tugas ini peserta dapat: 

1.   Mengetahui jenis-jenis lembaga yang memusihi Islam, sehingga mampu menulis sebuah makalah kecil tentang lembaga yang sangat keras permusuhannya terhadap Islam.

2.   Menganalisa makar-makar lembaga-lembaga tersebut terhadap Islam dan hubungan antar lembaga, agar dapat menghubungkan antar peristiwa yang merugikan pihak kaum muslimin (dapat terungkap melalui diskusi).

3.   Memahami akan bahaya menjalin hubungan dengan lembaga-lembaga yang memusuhi Islam, sehingga ia mengintegrasikan diri dengan lembaga-lembaga Islam den tidak menjalin hubungan dengan lembaga-lembaga yang memusuhi Islam.

TITIK TEKAN MATERI

Titik tekan yang harus diketahui dalam materi ini adalah: Jenis-jenis lembaga yang memusuhi Islam dan program-programnya, sebagai wawasan bagi peserta dan menjadi pertimbangan imunitas agar senantiasa wasapada dan tidak menjalin hubungan dengan lembaga-lembaga tersebut. Bukan hanya dirinya tapi juga ia menyampaikan kepada yang lain, keluarga, handai tauland, teman kerja, teman sekolah, kuliah dsb.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Identitas lembaga: nama, tokoh (pendiri, lokal, regional, nasional, internasional), Program, cakupan (regional-internasional), sejarahnya, sasaran-sasaran utama serta nama-nama lain yang dipakainya.

2.   Jaringan kelembagaan, pola dan bentuk, lobby, pressure, antarnegara.

3.   Program lembaga yang paling berbahaya bagi Islam.

4.   Sikap yang tepat menghadapi problema yang ditimbulkan lembaga tersebut.

5.   Penutup.

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Ketika mengisi topik ini, maka sedapat mungkin bawakan buku-buku yang telah membahas topik ini. Tunjukan kliping Koran yang berhubungan dengan dampak negatif dan bukti-bukti nyata di lapangan. Dengan memberikan data yang nyata, maka akan dapat menggugah emosi dan menimbulkan kepercayaan

MARAJI’

Gerakan Da’wah, WAMY.

Bidang studi: 
tata sosial kemasyarakatan

Menyebarluaskan Salam

Kode: 1.D18.1 | Sarana: Taujih

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Mengetahui dalil-dalil dari hadits tentang perintah menyebarkan salam, serta kisah-kisah para sahabat yang menyangkut dengan penyebaran salam.

2.   Mengetahui hukum dan adab memberi salam dan menjawab salam (termasuk terhadap non muslim)

3.   Mengetahui makna dan kandungan salam

TITIK TEKAN MATERI

Materi ini menguraikan tentang anjuran menyebarluaskan salam. Salam yang salah satu maknanya adalah mengucapkan “Assalamu’alaikum” merupakan do’a yang sangat baik diberikan kepada sesama muslim. Salam juga menjadi salah satu simbol dan syiar Islam. Lebih jauh, salam tidak hanya berbentuk perkataan “assalamu’alaikum”, tapi juga upaya untuk mewujudkan salam (kedamaian) kepada seluruh makhluk Allah SWT. Salam untuk orang lapar adalah, bagaimana menjadikannya tidak lapar, dan sebagainya..

POKOK-POKOK MATERI

1.   Dalil-dalil Al-Qur‘an dan hadits Nabawi tentang salam 

2.   Urgensi dan fadhilah Salam 

3.   Adab-adab salam

4.   Kandungan dan makna salam

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Buatkan cek list tentang kegiatan untuk selalu menyebarkan salam, sehingga membuat disiplin mereka untuk selalu mengucapkan salam.

MARAJI’

Hassan Ayyub, Assulukul Ijtima’i 

Imam An-Nawawi, Kitab Riyadhus shalihin 

Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah 

Berpartisipasi dalam kerja-kerja Jama’i

Kode: 1.D.18.2 | Sarana: Pelatihan, halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Peka dengan masalah sosial masyarakat 

2.   Mengetahui urgensi amal jama’i.

3.   Memahami pokok-pokok amal jama’I

4.   Membentuk kepanitiaan kegiatan sosial

5.   Berpartisipasi dalam kerja-kerja jama’I, khususnya dalam kegiatan sosial masyarakat

TITIK TEKAN MATERI

Berikan masalah sosial masyarakat yang ada disekitar, agar tumbuh kepekaan sosial dan berfikir realistis untuk mau menolong dan terlibat dalam pekerjaan sosial masyarakat. Perlu diberikan penyadaran, bahwa manusia adalah makhluk sosial. Tak satupun pekerjaan yang dihasilkan dari satu orang. 

Dalam rangka da’wah Islam, kerja kelompok atau amal jama’i lebih penting lagi. Selain sebagai sunnatullah fil alam, sunnatul basyar, juga sebagai tuntutan kerja menghadapi berbagai makar musuh-musuh Islam. Bentuk kerja jama’i bisa dibina melalui proyek-proyek kecil sampai pada penanganan proyek-proyek besar yang membutuhkan keterlibatan masing-masing anggota. Bisa dalam bentuk kepanitiaan majlis ta’lim, rihlah, pernikahan, badan usaha, dan sebagainya. 

Amal jama’i harus dibuatkan ke dalam peta aktifitas (da’wah, ekonomi, politik, sosial, budaya, pertahanan keamanan). Kerja amal jama’i ditempuh melalui berbagai jalur (swasta, pemerintahan, LSM-LSm kepartaian).

POKOK-POKOK MATERI

1.   Masalah sosial masyarakat (terdekat di daerahnya yang realistis)

2.   Urgensi Amal jama’I

3.   Pokok-pokok amal jama’I

4.   Membentuk kepanitiaan kerja sosial

5.   Melaksanakan kerja sosial

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Proses pemberian Madah Evaluasi pencapaian materi dibuat latihan kerja (tadribul ‘amal), sehingga seseorang akan menjadi terbiasa dengan pekejaan jama’I pada kegaiatan sosial masyarakat. Kegiatan yang mungkin dibuat seperti: Kerja bakti membersihkan masjid dan mushala, membantu dalam penanggulangan bencana alam, membuat kegiatan bakti sosial dan pengajaran kepada keluarga prasejahtera, membantu secara jamai pada acara pernikahan dll

MARAJI’

Musthafa Masyhur, Amal Jama’i 

Sa’id Hawwa, Urgensi Amal Jama’i 

Fathi Yakin, Abjadiyat tashawwur amal Islami

Shalat berjamaah di masjid

Kode: 1.D18.3 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Mengetahui fadhilah (keutamaan) shalat berjamaah

2.   Bersemangat dan termotivasi untuk selalu shalat berjama’ah 

3.   Bersemangat dan termotivasi untuk selalu shalat berjama’ah di masjid

4.   Melakukan shalat berjamaah di masjid, minimal shalat subuh dan ‘isya

TITIK TEKAN MATERI

Dengan bersemangat untuk shalat berjamaah baik di rumah dan di masjid maka akan mampu membentuk pribadi yang memiliki shahihul ibadah (2: 3 dan 2: 4) 

Materi ini menguraikan tentang berbagai keutamaan yang diperoleh dari shalat berjamaah. Antara lain, shalat di awal waktu, shalat berjamaah memiliki nilai pahala yang berlipat ganda, menumbuhkan jiwa disiplin dalam segala urusan yang benar, menjalin silaturahmi dengan masyarakat, dapat memberi pelajaran tentang kepemimpinan dan sebagainya. Dalam sejumlah hadits, perintah melakukan shalat berjamaah sangat ditekankan, meskipun dalam kondisi yang sangat sulit. 

Bagi wanita, shalat berjamaah juga ditekankan. Sedangkan masalah tempat untuk shalat berjamaah, disesuaikan dengan situasi dan kondisinya. Dr. Yusuf Qardhawi misalnya, menganjurkan bagi mahasiswi untuk shalat berjamaah di masjid kampus, karena lebih utama, untuk syi’ar dan terjamin keamanannya.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Dalil Al-Qur‘an dan hadits tentang shalat berjamaah

2.   Urgensi dan fadhilah shalat berjamaah

3.   Hikmah shalat berjamaah

4.   Shalat berjamaah yang benar dari sudut fiqh.

5.   membaca kitab Riyadushshalihin bab: 

a.   Fadlu al masyi ilal maasajid

b.   Fadlu Al lintizharush Shalat

c.   fadlu Shalat Al jama’ah

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Berikan prolog tentang keutamaan shalat berjamaah dalam al-Qur‘an dan hadits Rasulullah. Bagaimana Rasulullah sangat menekankan shalat berjamaah di masjid, terutama subuh dan isya. Sampaikan pula nilai pahala yang sangat besar, diberikan Allah SWT bagi orang yang melakukan shalat berjamaah. 

Di samping itu, sampaikan kisah-kisah para sahabat yang berusaha keras melakukan shalat berjamaah. Hasan Al-banna juga telah menggaris bawahi masalah ini dalam risalatu ta’lim. Baru dijelakan aspek fiqh dalam shalat berjamaah. Misalnya, siapa yang lebih berhak menjadi imam, bagaimana bacaan makmum, bagaimana cara masbuk, bagaimana posisi imam dan makmum, termasuk yang terkait dengan makmum wanita. Masalah fiqih ini, disampaikan secara sekilas saja. Materi ini bisa dikembangkan dengan diskusi.

MARAJI’

Imam An-Nawawi Kitab Riyadhus shalihin, Imam Ghazali Ihya Ulumiddin, 

Sayyid Sabiq Fiqhus Sunnah, Taqrib, 

Qardhawi, Yusuf, Fatwa Kontemporer, 

Qardhawi, Yusuf, Al ibadah fil Islam, 

Bidang studi: 
perundang-undangan

Menjaga Kepemilikan Umum dan Kepemilikan Khusus

Kode: 1.D19.1 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

1.   Mengetahui perihal kepemilikan umum dan kepemilikan khusus dengan memberikan batasan serta contoh-contoh

2.   Memahami manfaat kepemilikan umum dan kepemilikan khusus, yaitu dengan memberikan uraian manfaatnya 

3.   Tidak merusak kepemilikan umum maupun kepemilikan khusus

4.   Menjaga dan memelihara kepemilikan umum guna memperoleh manfaat sebesar-besarnya, baik bagi dirinya maupun bagi orang lain/masyarakat, sebagai wujud rahmatan lil ‘alamin

5.   Menjaga dan memelihara kepemilikan khusus guna memperoleh kemanfaatan sebesar-besarnya bagi dirinya maupun pihak-pihak tertentu yang secara khusus turut memanfaatkan kepemilikan khusus tersebut dalam rangka ibadah kepada Allah SWT

TITIK TEKAN MATERI

Materi ini menjelaskan bahwa kepemilikan umum dan kepemilikan khusus hendaknya dijaga dan dipelihara agar berfungsi optimal untuk mendukung aktivitas kaum muslim maupun masyarakat luas pada jalan yang haq. 

Kepemilikan umum adalah segala fasilitas yang tidak menjadi hak milik pribadi dan kemanfaatannya diperuntukkan bagi masyarakat luas; Contohnya: jalan, sungai, hutan, danau, sumber air, jembatan, terminal, ruang terbuka hijau atau taman, sarana telepon umum, rumah sakit, sekolah, masjid, perpustakaan, dsb. 

Kepemilikan khusus adalah segala fasilitas yang merupakan hak milik pribadi, baik milik kita maupun milik orang lain, yang kemanfaatannya terutama bagi pemilik fasilitas tersebut, contohnya: rumah, sebidang tanah garapan, kendaraan pribadi, perlengkapan rumah tangga, pohon atau tanaman yang tumbuh di halaman rumah, buku-buku koleksi pribadi, dsb. Terhadap kepemilikan umum, kita dilarang mebuat kerusakan atau melakukan tindakan yang menimbulkan ketidaknyamanan pengguna lainnya. Allah SWT melarang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (QS 28: 77). 

Rasulullah bersabda kepada Abu Hurairah: Awaslah kamu dari dua tempat kutukan orang-orang. Ditanya: Apakah dua tempat yang dikutuk itu? Jawab Nabi saw.: Orang yang buang air di jalan atau di tempat berteduh mereka. Salah satu hikmah Rasulullah melarang melakukan hal tersebut karena menimbulkan ketidaknyamanan bagi masyarakat pengguna kedua fasilitas umum tersebut. Jabir ra. berkata: Rasulullah saw telah melarang buang air kecil dalam air yang berhenti tidak mengalir. Salah satu hikmah larangan tersebut adalah karena dapat mengganggu orang lain akibat bau yang ditimbulkan maupun kemungkinan sebagai sarang penyebab penyakit. 

Rasulullah juga telah bersabda: Meludah di masjid itu dosa, dan tebusannya adalah mengubur (menanam/membersihkan) ludah itu. Pada kesempatan lain Anas ra. mengatakan bahwa Rasulullah bersabda: Sesungguhnya masjid ini tidak layak untuk tempat kencing dan lain-lain kotoran., hanya semata-mata untuk dzikrullah dan bacaan Al-Qur’an. Selain tidak merusak, kita berkewajiban menjaga dan memelihara agar fasilitas tersebut dapat berfungsi dengan baik sehingga kemanfaatannya optimal bagi semua orang sebagai wujud rahmatan lil ‘alamin. Aisyah ra. menyatakan: Rasulullah saw melihat ingus di tembok kiblat, maka dikoreknya. Sebagaimana terhadap kepemilikan umum, terhadap kepemilikan khusus kita berkewajiban menjaga dan memeliharanya agar fasilitas tersebut dapat berfungsi maksimal sehingga kemanfaatannya optimal dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. 

Disamping menjaga dan memelihara, dalam memanfaatkannya hendaknya menjauhkan diri dari tindakan eksploitasi maupun pemubadziran. Eksploitasi akan menimbulkan kerusakan, sebaliknya pemubaziran terjadi bila kepemilikan khusus tersebut tidak dimanfaatkan secara optimal, misalnya hanya disimpan atau dipajang saja tanpa difungsikan.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Batasan kepemilikan umum dan kepemilikan khusus beserta contoh-contohnya

2.   Manfaat kepemilikan umum dan kepemilikan khusus 

3.   Larangam merusak kepemilikan umum dan kepemilikan khusus dan kerugian yang dtimbulkan akibat tidak berfungsinya kedua fasilitas tersebut

4.   Kiat-kiat menjaga dan memelihara kepemilikan umum dan kepemilikan khusus, serta kiat-kiat mengoptimalkan fungsinya dalam rangka mencapai ridha Allah SWT

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Berikan pengantar bahwa topik yang dibahas adalah tentang menjaga kepemilikan umum dan kepemilikan khusus dan sampaikan tujuan pembelajaran materi ini. Pancing peserta mengemukakan kedua macam kepemilikan tersebut beserta contoh-contohnya, dan pendapat serta pengetahuan mereka tentang keharusan bersikap terhadap kedua macam kepemilikan umum tersebut. 

Lengkapi dan luruskan tanggapan peserta tentang hal tersebut, dan kewajiban tidak merusak, menjaga, memelihara, dan mengotimalkan fungsi kedua macam kepemilikan tersebut disertai dalil-dalil Al-Qur'an dan Sunnah pendukungnya. Pancing peserta mengemukakan kerugian akibat tindakan pengrusakan kepemilikan umum atau kepemilikan khusus tertentu, misalnya: kerugian bila telepon umum rusak; akibat tindakan merusak buku perpustakaan atau meminjam tetapi tidak dimanfaatkan, atau terlambat mengembalikannya; membendung dengan sengaja aliran sungai untuk kepentingan dirinya, dsb. Luruskan dan lengkapi tanggapan peserta, dan kemukakan kisah dalam sejarah Islam, agar tumbuh motivasi peserta untuk tidak merusak sekaligus menjaga dan memelihara.

MARAJI’

An-Nawawy (1987). Riadhus Shalihin (diterjemahkan oleh Salim Bahreisj, buku II). PT Alma’arif, Bandung.

Bidang studi: 
sistem politik dan hubungan ienternasional

Hak-hak Manusia

Kode: 1.D20.1 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta mampu: 

1.   Mengetahui hak-hak manusia menurut pandangan Islam dengan benar

2.   Menggunakan hak-hak manusia dalam kehidupannya

3.   Mengetahui kepemilikan khusus manusia menurut ilmu politik

4.   Mengetahui kepemilikan umum menurut ilmu politik

TITIK TEKAN MATERI

Manusia hidup pada prinsipnya hanya menghambakan diri kepada Allah SWT semata. Boleh manusia memberikan kethaatan kepada makhluk selagi ketatan itu dalam rangka ketaatan kepada Allah SWT. Allah SWT telah memberikan hak-hak kemanusiaan sejak lahir, sehingga manusia dapat dengan bebes memenuhi kebutuhan hidupnya untuk beraktualisasi diri sebagaimana manusia lainnya. Tanpa adanya pemahaman ha-hak manusia dengan baik, maka kita akan tertindas dengan alasan sesuatu hal. Untuk itu perlu kita memehami hak-hak manusia menurut Islam, UU formal dan dalam pandangan polotik. Apabila kita mengerti akan hak-hak kita dengan baik, maka pengabdian kepada Allah SWT akan semakin baik pula dan tidak ada makhluk yang menghalangi.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Hak –hak manusia dalam Islam

2.   Hak azasi manusia menurut ilmu politik

3.   UU HAM formal

4.   Kepemilikan khusus dalam Islam

5.   Kepemilikan khusus menurut Ilmu politik

6.   Kepemilikan umum

Bidang studi: 
ekonomi

Dasar-dasar kekuatan perekonomian

Kode: 1.D21.1 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

1.   1. Mengetahui dasar-dasar kekuatan perekonomian

2.   2. Memahami urgensi kekuatan ekonomi dalam Islam

3.   3. Mengetahui landasan-landasan Islam dalam pengembangan usaha

TITIK TEKAN MATERI

Mengembangkan kekuatan ekonomi ummat merupakan bagian dari jihad. Saat ini kaum muslimin belum memiliki kemapanan dalam ekonomi, untuk itu seluruh kaum muslimin harus memiliki proyek-proyek ekonomi. Penguasaan ekonomi yang dilakukan orang non muslim mengakibatkan krisis ekonomi. Hal ini disebabkan mereka tidak menggunakan landasan Islam dalam berusaha/mengembangkan ekonomi. RIBA. 

Hikmah diharamkannya riba antara lain adalah: 

(i)   memelihara harta kaum muslim agar tidak dimakan dengan cara yang batil, 

(ii)  mengarahkan kaum muslim mengembangkan hartanya dengan usaha yang bersih, 

(iii) menutup kemungkinan timbulnya kesulitan dan kebencian diantara sesama muslim, 

(iv) menjauhkan kaum muslim dari semua yang menyebabkan kehancuran, dan 

(v)  membuka pintu-pintu kebaikan kaum muslim untuk memperoleh bekal di akhirat. 

MENABUNG. Membelanjakan harta secara cermat dan hemat sehingga dapat menabung walaupun sedikit, merupakan lawan dari sikap boros. Allah SWT berfirman bahwa pemboros adalah saudara syaitan, dan memerintahkan kita berpaling dari para pemboros untuk memperoleh ridha-Nya (QS 17: 27, 28). Allah SWT membenci tindakan memboroskan harta, sebagaimana sabda Rasulullah: Sesungguhnya Allah SWT Ta’ala suka bagimu tiga perkara dan membenci bagimu tiga perkara. Suka kalau kamu menyembah kepada-Nya dan tidak menyekutukan Dia dengan sesuatu apapun. Dan supaya kamu berpegang teguh dengan Qur’an tali ikatan Allah SWT dengan kamu semuanya. Dan jangan bercerai berai. Dan membenci daripadamu banyak bicara dan banyak bertanya serta memboros harta. 

Menabung bukanlah menimbun harta, karena menabung dimaksudkan untuk menahan harta menghadapi kebutuhan sewaktu-waktu dan menanti saat-saat yang baik untuk mengeluarkannya. Rasulullah telah bersabda: Allah SWT akan memberikan rahmat kepada seseorang yang berusaha dari yang baik, membelanjakan uang secara sederhana, dan dapat menyisihkan kelebihan untuk menjaga saat dia miskin dan membutuhkannya. Hendaknya tiap muslim menumbuhkan etos kerja yang tinggi dalam upaya memperoleh harta yang halal agar dapat menunaikan kewajiban membayar zakat dengan sebaik-baiknya. Hendaknya pula tipa muslim mengelola/mem-belajakan hartanya dengan cermat dan hemat, serta menjauhi tindakan boros, sehingga dapat menabung walaupun sedikit.

POKOK-POKOK MATERI

Prinsip-prinsip yang harus digunakan dalam mangembangkan usaha: 

1.   Menjauhi sumber penghasilan yang haram.

2.   Menjauhi riba.

3.   Menjauhi judi dengan segala macamnya.

4.   Menjauhi penipuan.

5.   Membayar zakat.

6.   Menabung meskipun sedikit.

7.   Tidak menunda dalam melaksanakan hak orang lain.

8.   Menjaga kepemilikan orang lain.

9.   Menjaga kepemilikan khusus.

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Proses pemberian Madah Alat untuk mengevaluasi pencapaian materi ini, yaitu dengan keterlibatannya mereka dalam mengurus kegiatan zakat di masjid tempat tinggalnya. Dan mau berinfaq semampunya untuk kegiatan dakwah.

MARAJI’

Yusuf Qardlawi, DR. Peran Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam

Dasar-dasar Ekonomi

Kode: 1.D21.2 | Sarana: Daurah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan: 

1.   Memahami dan meyakini bahwa risalah Islam mencakup dan meliputi seluruh kehidupan dan keberadaan manusia, dimana ekonomi merupakan bagian dari kehidupan tersebut, serta meyakini bahwa Islam mempunyai konsep tentang ekonomi; 

2.   Memahami bahwa Islam mempunyai konsep ekonomi yang berbeda dengan konsep ekonomi yang ada (konvensional);

3.   Memahami bahwa rizki itu datang dari Allah SWT dengan syarat diupayakan melalui kerja yang halal dan thayib; 

4.   Mempunyai keinginan yang kuat untuk menjadi pembayar zakat yang besar;

5.   Memahami bahwa bunga bank adalah riba dan mempunyai kemauan untuk menghindarinya.

TITIK TEKAN MATERI

Pokok-pokok pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah: 

1.   Pemahaman tentang risalah Islam yang komprehensif dan komplit, mencakup seluruh bidang kehidupan;

2.   Ekonomi merupakan salah satu bagian dari kehidupan yang tidak bisa dipisahkan dari seluruh kompleksitas keberadaan manusia, sehingga tidak melihat ekonomi secara terpisah dari risalah Islamiah (tidak juz’iah/partial);

3.   Perlunya pemahaman tentang pentingnya fungsi ekonomi yang menentukan dalam membangun rumah tangga individu dan masyarakat yang kuat (qawi);

4.   Pemahaman secara mendalam, baik secara i’tiqadi maupun fikrah, bahwa bunga bank adalah riba.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Risalah Islamiah yang syamil, mutakamil, komplit dan lengkap terhadap kehidupan;

2.   Faktor dan aktifitas ekonomi yang utama adalah kerja, dan manusia adalah faktor produksi utama; 

3.   Peranan ekonomi dalam membangun rumah tangga dan masyarakat Islami;

4.   Hukum, pengertian, dan jenis-jenis riba;

5.   Konsep dan pengertian zakat sebagai tiang perekonomian individu dan masyarakat.

MARAJI’

HS. Zuardin Azzaino, SE Ekonomi Ilahiah, Pustaka Al-Hidayah, 1992; 

Malik Bin Nabi Membangun Dunia Baru Islam, Mizan, 1994; 

Mohammad Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf, UI Press, 1988 

Yusuf Qardhawi, Hukum Zakat, Litera Antar Nusa, 1993; 

Yusuf Qardhawi, Karakteristik Islam, Risalah Gusti, 1995; 

Yusuf Qardhawi, DR. Peran Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam, Rabbani Press, 1997;

Bidang studi: 
seni dan budaya

Seni Islami

Kode: 1.D22.1 | Sarana: Daurah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini, maka peserta akan dapat: 

1.   Mengetahui batasan seni Islam

2.   Mampu membedakan antara seni yang diharamkan dalam Islam dan seni yang diizinkan.

3.   Membedakan produk seni saat ini (film, Sinetron dll) anatar yang Islami dan yang tidak Islami.

4.   Menyalurkan hobinya pada seni yang islami

5.   Mengenal nasyid sebagai alternatif penyaluran seni islami

TITIK TEKAN MATERI

Manusia dilahirkan ke dunia diilhamkan sifat fujur dan taqwa. Apabila kita tidak mampu mengenali kebaikan, maka niscaya akan tersesat ke dalam keburukan dan kemaksiatan. Seni salah satu adalah produk budaya manusia. Produk seni ada yang baik ada yang buruk, walaupun jenisnya sama. Contohnya film, dia adalah sesuatu yang netral, tetapi muatan film (pesan) u\ yang disampaikanlah yang membuat film itu jadi baik atau burukk untuk ditonton. Untuk itu perlu seseorang dapat membedah produk seni kontemporer, terutama dapat menegenali seni yang merusak akhlaq, moral dan mendekatkan diri pada neraka dan menjauhkan diri dari mengingat Allah SWT. 

Apabila seseorang memiliki kecenderungan seni yang kuat, maka perlu memilih alternatif seni yang ditolerir oleh akhlaq islami. Saat ini untuk seni jenis audio telah banyak jenis nasyid, sehingga seorang muslim minimal menjadikan nasyid sebagai alternatuf seni yang dapat disebar luaskan. Sedangkan isi nasyid (pean/massage) yang disampaikan dapat diubah-ubah sesuai dengan kebutuhan dan semangat Islam, dan tetap menjaga akhlaq islami.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Batasan seni dalam Islam (yang boleh dan yang tidak boleh)

2.   Perbedaan seni Islam dan Seni non Islam.

3.   Membedah Produk seni kontemporer.

4.   Menyalurkan bakat seni

5.   Nasyid: Sebuah alternatif seni Islam untuk meningkatkan hamazah dan kebersihan hati

Bidang studi: 
iptek dan lingkungan

Al Qur-an dan Sunnah berbicara tentang lingkungan

Kode: 1.D23.1 | Sarana: Daurah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini, maka kader dapat: 

1.   Memahami ayat-ayat dan hadits tentang lingkungan

2.   Memiliki gambaran pembangunan lingkungan sesuai dengan al Qur-an dan Sunnah 

3.   Membaca problematika lingkungan saat ini dan solusinya

4.   Mengenal kerusakan alam yang disebabkan oleh ulah tangan manusia

TITIK TEKAN MATERI

Pokok-pokok pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah: Menyampaikan ayat-ayat tentang lingkungan, Menyampaikan hadits-hadits tentang lingkungan, dan Diskusi tentang problematika lingkungan saat ini: erosi, banjir, lahan kritis, sumber air bersih menipis, temperatur meningkat, polutan kimia, dll.

Pembahasan materi ini dapat mengacu berlandaskan ayat dan hadits diberikan contoh solusi problematika lingkungan. Uraian Ringkas Materi: QS 16: 14, 66, QS 21: 107: tidaklah aku utus engkau kecuali sebagai rahmatan lil ‘alamin dan QS 30: 41: Telah nyata kerusakan di daratan dan di lautan akibat tangan manusia… Barangsiapa diantara orang Islam yang menanam tanaman maka hasil tanamannya yang dimakan akan menjadi sedekahnya, dan hasil tanaman yang dicuri akan menjadi sedekah. Dan tidaklah seorang pun mendermakan tanamannya, maka akan menjadi sedekahnya sampai hari kiamat (HR Muslim). 

Ingat beberapa statemen dalam Islam berikut: Rasul melarang melarang menggunakan air wudhu secara boros, dilarang kencing pada air yang tidak mengalir, kerusakan alam ini disebabkan ulah tangan manusia, mubadzir adalah teman syaithan, Kalau besok mau kiamat dan anda mempunyai sebuah biji tanaman, maka tanamlah. Dll. Wacana: tunjukkan keruskan alam berupa terendamnya jalan karena banjir, tanaah longsor karena penggalian lira, melambungnya haarga minyak, kebakaran hutan menyebabkan naiknya penyakit ISPA dll Penerapan ilmu: jangan boros air, matikan listrik dan air jika tidak digunakan, matikan listrik jika tidka dipakai, matikana lampu yang tidak berguna pada malam hari. Tidak melakukan aktifitas yang menggunakan bahan bakar (mobil, motor dll) yang tidak ada manfaatkan.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Jenis-jenis lingkungan yang fital dalam pandangan Islam (air, udara, tanah)

2.   Al Qur-an dan lingkungan

3.   As Sunnah dan Lingkungan

4.   Hemat air dan penggunaan sumber daya lain dalam pandangan Islam: Sifat mubadzir adalah sifat syaithan.

5.   Kerusakan alam factor manusia.

6.   Diskusi pemecahan

MARAJI’

Al Qur-anul Karim Riyadhushshalihin Yusuf Qardhawi, As Sunnah sebagai sumber ipetk dan peradaban, Pustaka Al Kautsar, 1998

Ilmu Allah SWT

Kode: 1.D23.2 | Sarana: Daurah

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini, maka kader dapat: Memahami bahwa Allah SWT adalah sumber ilmu dan pengetahuan Menyadari bahwa Allah SWT memberikan ilmu melalui dua jalan resmi dan tidka resmi Mengetahui fungsi ilmu Allah SWT yang tidak resmi sebagai wasailul hayah Mengetahui fungsi ilmu Allah SWT yang resmi sebagai minhajul hayah

TITIK TEKAN MATERI

Allah SWT telah menciptakan dan menjadikan alam ini seluruhnya lengkap dengan system yang menyeluruh. Antara satu sama lain ada perakitan dan manfaatnya sendiri. Allah SWT yang menjadi semua isi alam ini dari yang sekecil-kecilnya hingga yang paling besar, yang nyata dan yang ghaib. Dari sifat pengetahuan Allah SWT yang Maha Mengetahui inilah, sehingga Allah SWT menjadi sumber ilmu. 

Dengan ilmu Allah SWT tersebut, kemudia Dia mengajar manusia terhadap apa-apa yang tidak diketahui menjadi diketahuinya. Ada ilmu Allah SWT yang diturunkan secara resmi kepada Rasulnya, dan ini kemudian menjadi pedoman hidup (minhajul hayah). Ada ilmu Allah SWT yang diturunkan secara tidak resmi, dan ini kemudian menjadi sarana hidup (wasailul hayah). Kedua ilmu tadi semua sangat bermanfaat untuk memperoleh kebahagian di dunia dan di akherat. Islam mendorong kaumnya untuk menguasai ilmu dunia dan ilmu akherat. Hadits: barang siapa menginginkan dunia, maka ada ilmunya. Barang siapa menginginkan akherat maka ada ilmunya. Barang siapa menginginkan kedua-duanya, maka diperlukan ilmu kedua-duanya pula.

POKOK-POKOK MATERI

 

1.   Sifat Allah SWT: Maha Pencipta, Maha Mengetahui dan Mengajarakan kepada manusia.

2.   Ilmu Allah SWT yang Resmi: Rasul

3.   Ilmu Allah SWT yang tidak resmi: Teknokrat.

4.   Ayat-ayat Iptek dalam Al-Qur'an: sebuah wacana untuk lebih kritis.

5.   Dorongan Islam untuk menggali ilmu pengetahuan dan teknologi.

MARAJI’

Al Qur-anul Karim Riyadhushshalihin 

Yusuf Qardhawi, As Sunnah sebagai sumber ipetk dan peradaban, Pustaka Al Kautsar, 1998

Bidang studi: 
sosial politik kontemporer

Saluran Politik

Kode: 1.D24.1 | Sarana: Halaqah

TUJUAN INTRUKSIONAL

Setelah mendapatkan materi ini peserta dapat: 

1.   Mengetahui hak-hak sosialnya dalam dunia politik

2.   Membandingkan beberapa saluran politik untuk melihat kelebihan, kesamaan dan kekuarangannya dengan objektif

3.   Mememilih saluran politik dengan benar yang sesuai dengan aspirasinya

4.   Terlibat aktif untuk menyalurkana ide-idenya dalam memperbaiki masyarakat pada saluran politik yang dipilihnya.

TITIK TEKAN MATERI

Seseorang hidup tidak terlepas dari kehidupan sosial dan bermasyarakat dengan orang lain. seseorang hidup tidak akan terlepas dengan strategi atau siasat. Siasat atau siyasi dalam istilah yang melembaga disebut politik. Dalam kehidupan seseorang pada akhirnya akan terikat dengan kegiatan sosial politik. Kegiatan sosial politik ada yang bersifat mikro dan ada yang bersifat makro. Kegaitan sosial poltik yang bersifat makro pada beberapa negara terdapat mekanisme yang berbeda-beda. Salah satu aktivitas sosial politik yang bersifat makro adalah kegiatan kepartaian. Salah satu fikrah dakwah kita adalah bersifat siyasi, sehingga seseorang muslim harus bersiyasi (bersiasat) untuk memperoleh keemenangan. Penerapan siasat dalam konteks kontemporer, maka seorang muslim harus dapat memilih partai atau jamaah yang sesuai dengan ajaran Islam dan sesuai dengan fikrahnya. Untuk itu kemampuan membandingkan antar partai Islam dengan objektif sanagat penting, sehingga keeikut sertaanya bukan taqlid dan hanya mengekor.

POKOK-POKOK MATERI

1.   Hak-hak sosial politik seseorang

2.   Kegiatan-kegiatan sosial politik (Pemilu dll)

3.   Wadah-wadah politik

4.   Perbandingan partai-parati Islam

5.   Menyalurkan aspirasi dan kegiatan politik 

6.   Isu-isu politik kontemporer

Blog Post

Related Post

Back to Top

Cari Artikel

Label