Bidang studi:
Al Qur’an dan ulumul qur’an
Tafsir Al-Qur’an Juz 28 dan 29
Kode: 2A1.01 | Sarana: Ta’lim
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan:
1. Menyadari pentingnya memperbaiki bacaan al-qur’an dengan berguru kepada seorang yang ahli tilawah.
2. Menyadari pentingnya memperbaiki bacaan al-qur’an dengan menunjuk teman yang mengontrol bacaannya yang dapat mengingatkannya ketika keliru.
3. Menyadari pentingnya menghafal Al-Qur’an (khususnya bagi seorang da’i). Kompetensi dapat menghafal Al-Qur’an dapat dicapai dengan mengikuti program tahfiz yang diselenggarakan oleh lembaga tertentu atau menunjuk seorang teman yang akan menjadi tempat untuk menyetor hafalannya
4. Mendisiplinkan diri dalam mentahsin tilawah dan mentahfiz Al-Qur’an sehingga dia memiliki kadar bacaan yang baik dan jumlah hafalan yang memadai
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok Pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah: Setelah mendapatkan materi ini peserta diharapkan dapat memahami akan pentingnya memperbaiki tilawah dan menambah hafalan Al-Qur’annya.
Sebagai tambahan, perlu diberikan ilustrasi tentang kehidupan salaf yang begitu semangat dalam mempelajari Islam, khususnya dalam mempelajari Al-Qur’an dan ulumul-qur’an seperti yang terjadi pada diri sahabat Abdullah bin Mas’ud. Di samping itu, perlu juga disampaikan ancaman orang-orang yang tidak pandai membaca Al-Qur’an dan tidak mau menghafal Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh agar ada dorongan untuk lebih serius lagi berinteraksi dengan al-Qur’an
POKOK-POKOK MATERI
1. Ayat dan hadits tentang urgensi mentahsin tilawah dan mentahfiz Al-Qur’an
2. Adab dan kaifiyat menghafal Al-Qur’an
3. Adab dan kaifiyat mentahsin tilawah
4. Ancaman orang yang tidak ihsan dalam tilawah
5. Ancaman orang yang tidak mau menghafal Al-Qur’an
6. Ibrah dari kehidupan salaf tentang tahsin dan tilawah
MARAJI’
1. Abd. Aziz Abd. Rauf, Tajwid Muyassar
2. Al-Banna, Hassan, Risalah Ta’lim: Wajibat dai no. 2
3. Hasan Al-Banna, Risalah Ta’lim: Washiat sepuluh.
4. Riadlus Shalihin: Hadits no….
5. Ulumul Qur-an: Mabahits fi Ulumil Qur-an
6. CD Qur-an
Tafsir Al Qur-an Juz 28 dan 29
Kode: 2A1.02 | Sarana: Ta’lim
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan
1. Menyadari petingnya memahami tafsir ayat-ayat Al-Qur’an dengan berguru kepada seorang yang ahli tafsir atau membaca kitab tafsir mu’tabar, mentadabburinya sesuai dengan adab dan kaifiyatnya yang benar.
2. Menerapkan seluruh nilai-nilai yang ada dalam Al-Qur’an sehingga dia tidak termasuk orang-orang yang membaca dan mempelajari Al-Qur’an tetapi Al-Qur’an akan melaknatnya di hari kiamat
3. Membentuk sistem nilai pada diri dan keluarganya agar terbentuk keluarga muslim yang hidup di bawah naungan Al-Qur’an dan dapat memberikan keteladanan kepada keluarga muslim lainnya
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok Pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah: Setelah mendapatkan materi ini peserta diharapkan dapat memahami akan pentingnya mempelajari tafsir dan menjadikannya ilmu utama yang harus dipelajari karena berkaitan langsung dengan ayat-ayat Allah SWT. Sebagai seorang da’i, dia juga mampu memahami ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan kondisi kekinian yang membutuhkan tedabbur pada ayat-ayatnya sehingga dia dapat menemukan inspirasi dari kitab Allah SWT tersebut
POKOK-POKOK MATERI
1. Dalil-dalil tentang pentingnya mempelajari Al-Qur’an termasuk mentadabburinya
2. Awlawiyat dalam mempelajari surat atau ayat-ayat yang ada dalam Al-Qur’an
3. Adab dalam mempelajari dan mentadabburi Al-Qur’an
4. Tuntutan untuk mengamalkan Al-Qur’an pada Tafsir Al-Qur’an Juz 28 dan 29
5. Ibrah dari kehidupan salaf dalam mempelajari dan mentadabburi Al-Quran
STRATEGI PEMBELAJARAN
Apabila mungkin pemberiaan materi dilakukan pada acara ta’lim. Guru perlu memberikan penekanaan pada aspek pengontrolan pelaksanaan apa yang telah diketahui murid.
MARAJI’
1. Al-Banna, Risalah Ta’lim: Wajibat no. 1 dan 2
2. Al Khalidi, Ta’amul Ma’al Qur’anil Karim
3. Tafsir Ibn Katsir (Arab atau terjemahnya): Juz 28-29
4. Sayiyid Qutb, Tafsir Dzilal: Juz 28 dan 29
Bidang studi:
hadits dan ulumul hadits
Dirasah Hadits Arbain (2)
Kode: 2A2.01 | Sarana: Halaqah, ta’lim, penugasan
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan mampu:
1. Memahami kandungan hadits arbain yang ke 20-42, sehingga menambahkan wawasan berfikirnya.
2. Menghafalkan beberapa hadits yang telah dipelajari.
3. Berusaha untuk menerapkan kandungan nilai yang terdapat pada hadits-hadits Rasul yang dipelajarinya, sehingga terbentuk pada dirinya pribadi muslim yang ideal.
4. Membentuk sistem nilai pada diri dan lingkungannya dengan sama-sama mempelajari dan mengamalkan hadits-hadits Rasulullah
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok Pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah: Setelah mendapatkan materi hadits peserta dapat membina hubungan yang akrab dengan hadits-hadits Rasulullah dan mampu menghayati serta mangamalkannya dengan baik sambil membayangkan bahwa dia sedang hidup bersama Rasulullah dan sahabat beliau yang mulia.
Membayangkan kerugian yang akan dialami oleh orang yang tidak mau mempelajari hadits rasul dan tidak mengikuti petunjuknya seperti jauhnya dia dari Rahmat dan mahabbah Allah SWT
POKOK-POKOK MATERI
1. Urgensi mempelajari hadits Rasulullah SAW
2. Mahabbatullah hanya akan diraih oleh orang yang mengikuti petunjuk Rasul
3. Penjelasan hadits Arbain Nawawiyah 20-42
4. Program hafalan hadits Arbain Nawawiyah
Strategi Pembelajaran
Untuk mendapatkan tujuan pembelajaran pada topik ini, maka sarana belajar dapat melalui membaca Buku, Penugasan, Mutaba’ah dan atau Tasmi’ Hadits. Setelah guru menyampaikan atau mendiskusikan, maka yang lebih penting adalah factor pengontrolan pelaksanaan.
MARAJI’
1. Arbain Nawawiyah: hadits nomor
2. Sarah hadits arba’in an nawaawy
Dirasah Hadits Riyadlus Shalihin (2)
Kode: 2A2.01 | Sarana: Halaqah, ta’lim, penugasan
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan mampu:
1. Mempelajari Riyadhus-shalihin dan memahaminya serta menghafalnya minimal 50 hadits
2. Berusaha untuk menerapkan kandungan nilai yang terdapat pada hadits-hadits Rasul yang dipelajarinya (nomor di satu), sehingga terbentuk pada dirinya pribadi muslim yang ideal.
3. Membentuk sistem nilai pada diri dan lingkungannya dengan sama-sama mempelajari dan mengamalkan hadits-hadits Rasulullah
4. Dapat menterjemahkan dan memahami kandungan hadits yang telah dipelajari (nomor di satu) dengan baik
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok Pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah: Setelah mendapatkan materi hadits peserta dapat membina hubungan yang akrab dengan hadits-hadits Rasulullah dan mampu menghayati serta mangamalkannya dengan baik sambil membayangkan bahwa dia sedang hidup bersama Rasulullah dan sahabat beliau yang mulia. Membayangkan kerugian yang akan dialami oleh orang yang tidak mau mempelajari hadits rasul dan tidak mengikuti petunjuknya seperti jauhnya dia dari Rahmat dan mahabbah Allah SWT
POKOK-POKOK MATERI
1. Urgensi mempelajari hadits Rasulullah SAW
2. Mahabbatullah hanya akan diraih oleh orang yang mengikuti petunjuk Rasul
3. Limapuluh (50) hadits dari kitab Riyadhus-shalihin serta menghafalkannya
4. Membaca kitab Riyadlus Shalihin dari Bab Istihbab Ja’lin Nawafil fil bait sampai Karamatul Awlia wa Fadlihi.
5. Menghafal satu hadits dari setiap bab yamg paling mewakili.
Strategi Pembelajaran
Untuk mendapatkan tujuan pembelajaran pada topik ini, maka sarana belajar dapat melalui membaca Buku, Penugasan, Mutaba’ah dan atau Tasmi’ Hadits. Setelah guru menyampaikan atau mendiskusikan, maka yang lebih penting adalah factor pengontrolan pelaksanaan.
MARAJI’
1. Riyadhus-shalihin: Hadits nomor
2. Dalilul Fakhin sarah Riyadussalihin (Daftar lampiran Hadits-hadits yang harus dihafal)
Bidang studi:
aqidah
Takfir
Kode: 2A3.01 | Sarana: Halaqah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan:
1. Mengetahui patokan (dhawabith) pengkafiran
2. Menyadari bahwa takfir adalah fikrah dari harakah yang menyimpang.
3. Memahami sebab-sebab mengapa sampai mengkafirkan sesama muslim
4. Mengetahui batasan syar’i seseorang dapat dinyatakan kafir
5. Menyerahkan pernyataan kekafiran seseorang kepada institusi yang berkompeten
6. Mengupayakan Ilaj Ruhi baik kepada diri-sendiri maupun orang lain bila ada kecenderungan kepada takfir.
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah: Mengangkat latar belakang historis fenomena takfir, contoh: golongan Khawarij, dan membandingkan perilaku takfir yang terjadi di jaman sekarang. Mengkafirkan orang lain harus dengan bukti, dan argumentasi yang kuat sesuai dengan patokan syariat (Dhawabit Syar’iyah). Mengkafirkan sesama muslim adalah sikap yang ekstrem dan emosional dalam berdakwah. Salah satu yang nenyebabkab takfir adalah karena tidak sabar menanggung beban dakwah. Pernyataan Takfir tidak bisa dilakukan oleh orang perorang, melainkan harus dengan syura dan ijma’ Ulama
POKOK-POKOK MATERI
1. Pengertian dan dhawabith takfir
2. Madharat Takfir
3. Sebab-sebab pengkafiran
4. Ilaj ruhi untuk memecahkan sifat mengkafirkan
5. Menyeru persatuan, bukan membuat perpecaahan dan mengkafirkan
MARAJI’
1. Al Banna, Hassan, Risalah At-ta’lim: al-Ashlu Al 'Isyrun
2. Al-Nahjul Mubin
3. Nadzharat fi Rislah At-Ta”lim
4. Muhammad bin Said bin Salim Al-Qahthani, Al-Wala Wal Bara
5. Yusuf Qardlawi, Islam Ekstrem
6. Hasan Hudaibi, Kami Da’i bukan Teraris
Laa Yuqaddamul Makhluk ‘alal Al-Khaliq
Kode: 2A3.02 | Sarana: Ta’lim
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan mampu:
1. Memahami bahwa tidak boleh mendahulukan makhluk di atas Khalik
2. Memahami untuk mendahulukan Allah SWT dari yang lainnya (makhluk) dalam segala hal
3. Memahami bahwa Allah SWT adalah prioritas untuk dicintai dan ditaati hukum-hukumNYA
4. Memahami bahwa ketaatan kepada Makhluk diperbolehkan sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan Syariat Allah SWT
5. Melakukan ijtihad (kreatif) setelah tidak didapatinya ketentuan dan ketetapan suatu hukum dalam Al-Qur’an dan Sunnah.
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah: Keluarga, harta benda, perniagaan dan tempat tinggal adalah bagian dari makhluk. Secara thabi’i siapapun boleh mencintainya, akan tetapi cintanya tidak boleh dikedepankan diatas kecintaannnya kepada Allah SWT, Rasul-Nya dan Jihad di jalanNYA (Da’wah). Dalam hal ini dapat dicontoh sikap hidup sahabat Rasulullah SAW. Allah SWT sebagai Pencipta berkuasa penuh atas makhluknya. Makhluk harus tunduk kepada ketentuan Allah SWT, baik sunnah kauniyah maupun sunnah syar’iyah. Perlakuan kepada makhluk jangan sampai menimbulkan maksiyat dan syirik kepada Allah SWT.
POKOK-POKOK MATERI
1. Allah SWT sebagai Pencipta
2. Makhluk harus tunduk kepada ketentuan Allah SWT.
3. Ketundukan makhluk bersifat sunnah kauniyah
4. Ketundukan makhluk bersifat sunnah syar’iyah.
5. Perlakuan makhluk yang maksiyat dan syirik kepada Allah SWT.
MARAJI’
1. Al Quran Surat 49: 1, 8: 24, 9: 24
2. Hadits: Mu’adz bin Jabl ketika diutus ke Yaman.
3. Abdullah Nashih Ulwan, Ketika Merasakan Lezatnya Iman,
Hijru Ahli Al-Jahiliyah
Kode: 2A03.03 | Sarana: Halaqah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan mampu:
1. Mengingkari orang yang memperolok-olok ayat-ayat Allah SWT dan tidak bergabung ke dalam majlis mereka
2. Memahami ma’na dan hakekat jahiliyah
3. Dapat membedakan bentuk kejahiliyahan klasik dan kejahiliyahan modern.
4. Bersikap tegas terhadap segala macam bentuk kejahiliyahan dengan mengingkarinya dan menghindarinya.
TITIK TEKAN MATERI
Kejahiliyahan tidak terjadi pada masa nabi saja, tapi juga pada masa sekarang bahkan lebih parah. Kejahiliyahan dulu dan sekarang secara esensi sama meskipun substansinya berbeda. Menguingkari kejahiliyahan dapat dilakukan dengan pendekatan kekuasaan, lisan dan perasaan dan menghindarinya dengan cara yang baik.
Menjelaskan terlebih dahulu tentang zaman dimana nabi hidup dan mendakwahkan Islam, disebut dalam sejarah sebagai zamnn jahiliyah, akan tetapi jahiliyah yang dimaksud adalah bukan semata-mata kebodohan intelektual atau keterbelakangan budaya dan peradaban, buktinya Allah SWT mengabadikan kemajuan pesat perekonomian kaum Musyrikin Jahiliyah dalam surat Quraisy, disampuing itu, tokoh-tokoh mereka terkenal orang yang pintar dan memiliki intelegensia yang tinggi, seperti Abu Sufyan, Walid bin Mughirah, Abu Jahal dsb. Oleh karena itu kebodohan yang dimaksud adalah ketidakfahamannya dan penolakannya terhadap nilai-nilai aqidah, akhlak dan sistem kehidupan Islam, sehingga sampai kinipun penyakit jahiliyah masih menjadi fenomena, hal itu ditandai oleh banyaknya orang pandai, bertitel, berpangkat dan berpendidikan tetapi mereka tidak memahami konsep dan konsekwensi aqidah dan keimanan, enggan menerapkan akhlak dan sistem kehidupan Islam, sebaliknya lebih gemar condong kepada nilai-nilai moral kehidupan Barat, itulah jahiliyah Modern.
POKOK-POKOK MATERI
1. Kejahiliyahan zaman Nabi Muhammad
2. Tafsir ma’na orang-orang mengolok-olok ayat Allah SWT
3. Orang-orang yang mengolok-olok ayat-ayat Allah SWT pada zaman Nabi Muhammad SAW
4. Kejahiliyahan zaman sesudah Nabi Muhammad
5. Kejahiliyahan modern
6. Model jahiliyah modern yang mengolok-olok ayat Allah SWT
7. Ma’na pelarangan bergabung bersama dengan orang yang mengolok-olok ayat Allah SWT
MARAJI’
1. Mamarrat, jilid I hal: 75
2. Said Hawwa, Al-Islam,
3. Muhammad Qutub, Jahiliyah Abad 20
4. Kutubussiar: Kisah walid bin Mughirah
5. Muhammad Qutb, Islam di tengah pertarungan tradisi
Tauhid Al-’Uluhiyah wa Al-Rubuybiyah
Kode: 2A03.04 | Sarana: Halaqah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan mampu:
1. Mengesakan Allah SWT dalam Rububiyah dan Uluhiyah, & tidak menyekutukan Allah SWT dalam Asma, Sifat & Af’al
2. Memahami konsep Tauhid rububiyah dan Uluhiyah serta perbedaan diantara keduanya.
3. Menjalankan konsekwensi keduanya dalam kehidupan sehari-hari.
4. Menyadari wajibnya menentang dan menolak kepemimpinan, hukum dan otoritas selain Allah SWT, dan menjadikan Allah SWT saja satu satunya pemimpin, pembuat hukum dan perundang-undangan.
5. Memahami bahwa nama-nama Allah SWT hanyalah sarana untuk memahami dzat kekuasaan Allah SWT. Sedangkan sifatnya kebenaran mutlak yang ada pada Allah SWT yang patut diteladani oleh para hambaNYA.
6. Memilah dan memilih pembahasan yang bermanfaat dan berdampak pada amal ibadah di seputar Asma dan Sifat Allah SWT, dan menjauhi perdebatan dan perbedaan pendapat yang kontra praduktif.
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah: Mengawali dengan sebuah pertanyaan mengapa kalimat Tauhid menggunakan pendekatan uluhiyah bukan rububiyah? Jawabannya dengan menguraikan perbedaan kata rabb dan ilah. Orang-orang jahiliyah memahami perbedaannya, oleh karena itu mereka menerima konsep rububiyah tapi menolak konsep uluhiyah. Bandingkan dengan perilaku jahiliyah sekarang.
Asma dan Sifat Allah SWT bukanlah semata-mata simbol ketuhanan, tetapi merupakan ibrah dan pelajaran untuk diteladani bukan diskusi dan pembahasan yang melampaui logika dan akal berfikir manusia.
POKOK-POKOK MATERI
1. Rabb dan Ilah: asal kata, definisi dan perbedaan diantara keduanya
2. Tauhid Uluhiyah
3. Tauhid Rububiyah
4. Fenomena manusia yang merampas sifat uluhiyah Allah SWT
5. Hakekat menuhankan dan mengesakan Allah SWT.
6. Asma dan sifat Allah SWT yang berdampak pada salimul aqidah
MARAJI’
1. Risalah Ta’lim: Al-Aslu Al-’Asyir
2. An-Nahjul Mubin
3. Nadzhorat fi Risalah At-Ta’lim
4. Hasan Al Banna, Risalah al-Aqaid
5. Rasyad Khalil, Maqalah Hasan al Banna wa Manhajuhu fittarbiyah
Ziaratul qubur
Kode: 2A3.05 | Sarana: Halaqah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka peserta akan mampu:
1. Tidak meminta berkah dengan mengusap-gusap pada kuburan
2. Mengambil hikmah, 'ibrah, nasehat dan pelajaran dari ziarah kubur
3. Memahami ketentuan syariat tentang ziarah kubur
4. Mengetahui praktek ziarah kubur yang mengandung unsur bid”ah dan khurafat
5. Melakukan ziarah kubur sesuai dengan syariat, dan berusaha mengingatkan orang yang melakukan ziarah kubur dengan cara-cara bid’ah dan khurafat.
TITIK TEKAN MATERI
Ziarah kubur pada awalnya dilarang oleh Nabi SAW, karena khawatir akan menimbulkan mudharat lantaran aqidah ummat Islam waktu itu masih lemah, setelah dirasakan cukup Nabi menganjurkannya kembali, dengan tujuan untuk semakin memperkokoh aqidah. Artinya Ziarah kubur akan banyak manfaatnya bagi orang yang aqidahnya bersih, lurus dan kokoh, sebab ia akan semaikn kokoh keimanannya akan adanya kehidupan di alam barzakh, dan senantiasa dzikrul maut sebagai media muhasabah bagi dirinya,tetapi sebaliknya akan menimbulkan mudharat bagi orang yang aqidahnya minim dan lemah, sebab ia akan terjatuh ke dalam maksiat dan kemusyrikan. Oleh karena itu merupakan keharusan bagi ummat Islam untuk menyelamatkan aqidahnya dengan mempelajari adab ziarah kubur sesuai dengan syariat dan meninggalkan cara berziarah kubur yang penuh dengan bid’ah dan khurafat
POKOK-POKOK MATERI
1. Latar belakang dilarang dan diperintahkannya kembali ziarah kubur
2. Hikmah Ziarah kubur
3. Adab ziarah kubur
4. Praktek bid’ah dan khurafat dalam ziarah kubur
MARAJI’
1. Risalah Ta’lim: Al-Ashl al-rabiata’asyrah
2. An-Nahjul Mubin
3. Nadzhorat fi Risalah al-Ta’lim
4. Ath thawiyah
5. Mau’idzatul mu’minin
Al-madzahib Al-Islamiyah
Kode: 2A03.06 | Sarana: Bedah buku
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka peserta akan mampu:
1. Megenal pandangan teologis berbagai madzhab seperti mazhab salaf, mu’tazilah, asy’ariyah khususnya yang banyak terdapat didaerah tempat tinggalnya.
2. Membedakan berbagai aliran/mahzab dalam Islam yang membahas asma dan sifat, khususnya yang banyak terdapat didaerah tempat tinggalnya.
3. Mengikuti mazhab salaf yang benar/cenderung memelihara salimul aqidah
4. Memahami bahwa akal manusia terbatas dalam mentafakurkan dzat Allah SWT
TITIK TEKAN MATERI
Pada awalnya ummat Islam di zaman Nabi tidak banyak membahas masalah-maslah teologis yang berkenaan dengan tafsir asma wa sifat, kecenderungan ke arah perdebatan teologis terjadi ketika aqidah dan tauhid berkembang menjadi Ilmu kalam, yang banyak didasari oleh logika dan filsafat. Lalu bagaimana sesungguhnya jalan yang terbaik untuk tetap menjaga keselamatan aqidah dari persoalan tersebut di atas?
POKOK-POKOK MATERI
1. Latar belakang timbulnya Mazhab teologis dalam sejarah Islam.
2. Mengenal mazhab salaf, mu’tazilah, asy’ariyah, dan dll (khususnya yang banyak terdapat didaerah tempat tinggalnya).
3. Menghayati sikap dan pandangan teologis para sahabat nabi SAW (Mazhab salaf)
4. Perbedaan mendasar madzhab salaf dan khalaf di bidang theologi
MARAJI’
Imam Hasan Al-banna, Risaltul 'aqaid At thawiyah (digunakan untuk bedah buku) At muwafaqat
Al-wala’ wal Bara’
Kode: 2A03.07 | Sarana: Halaqah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta dapat:
1. Mengetahu ma’na wala’ dan bara’
2. Memahami bahwa wala dan bara’ adalah konsekwensi dari pengamalan Laa Ilaaha IllAllah SWT
3. Mengamalkan sikap wala dan Bara’ secara benar dan praporsional, tidak ekstrem dan emosional
4. Menguasai prinsip-prinsip wala dan bara’, baik dalam tinjauan syar’i, siasy dan da’awy
TITIK TEKAN MATERI
Al Wala adalah kecintaan kepada sesuatu karena Allah SWT dan di jalan Allah SWT. Bara’ adalah kebencian kepada sesuatu karena Allah SWT dan di jalan Allah SWT. Seseorang yang menyatakan laa ilaaha illAllah SWT, dituntut untuk bersikap wala dan Bara’. Ma’na sikap wala’, yaitu mencintai, memihak, mendukung dan membangun hal-hal yang erat hubungannya dengan masalah keimanan dan ketaqwaan. Ma’na sikap bara’, yaitu membenci, meninggalkan, menolak dan menghancurkan hal-hal yang berhubungan dengan kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan. Dalam penerapannya sifat al wala dan al barra hendaknya bersifat situasional, kondisional dan proposional. Sebagaimana dijelaskan oleh DR. Muhammad bin Saad bin Salim Al-Khatthani, bahwa wala dan bara diklasifikasikan menjadi 3 pendekatan, yaitu: Wala’ul kull (loyalitas penuh), Wala’ul ba’dh wal barra’ul ba’dh (loyalitas proporsional) dan Barra’ul kull (berlepas diri penuh)
POKOK-POKOK MATERI
1. Ma’na al wala’ dan al Bara’
2. Klasifikasi Wala dan Bara’ secara umum
3. Tiga (3) Penerapan sikap menurut DR. Muhammad bin Saad bin Salim Al-Khatthani: Wala’ul kull (loyalitas penuh), Wala’ul ba’dh wal barra’ul ba’dh (loyalitas roporsional) dan Barra’ul kull (berlepas diri penuh)
4. Penerapan dan perilaku al wala’ dan bara dalam kehidupan muslim kontemporer
MARAJI’
1. Mamarrat Jilid I hal: 61
2. Muhammad bin Said bin Salim Al-khahthani, Al-wala wal barra
3. Said Hawwa, Al wala wal barra’
Shuhbatussalihin wa Mujaalasatuhum
Kode: 2A03.8 | Sarana: Mabit dan ziarah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka peserta dapat:
1. Berteman dengan orang-orang shalih dan meneladaninya
2. Memahami jiwa, fikrah, sikap dan amalan orang-orang yang shalih
3. Meneladani kesalehan orang shaleh dalam kehidupan sehari-hari
4. Menceritakan sikap orang-orang yang shalih, yaitu sikap yang diperoleh dengan melalui membaca buku atau shuhbah dan mujalasah langsung dengan mereka
TITIK TEKAN MATERI
Teman adalah orang yang sering berinteraksi dalam kehidupan sesorang, sehingga teman sering kalai dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Celakalah orang yang berteman dan hidup dalam lingkungan buruk, sehingga jika keadaan keimanan seseorang belum kuat maka akan terwarnai. Untuk itulah, maka dalam berteman hendaknya kita dapat memilih kepada orang yang baik-baik, khususnya aqidah dan akhlaknya. Untuk itu kita perlu mengenal cirri dan sifat yang biasa dimiliki oleh orang-orang shaleh, sehingga dapat digunakan sebagai alat untuk memilih teman yang baik atau menghindari teman yang tidak baik. Untuk itu perlu setiap kita memahami dengan betul ma’na dari “manusia adalah anak lingkungan”.
Semua kebaikan seseorang perlu kita tiru, hal ini sebagai simbul dakwah Islam yang dapat melalui qudwah hasanah dan berlomba-lomba dalam hal kebaikan.
POKOK-POKOK MATERI
1. Manfaat berteman dengan orang shaleh dalam membina aqidah
2. Ciri dan sikap orang shaleh yang aqidahnya lurus (salimul aqidah)
3. Quwwatta’tsir orang shaleh dalam menularkan kebaikan
4. Al-Insan Ibnul Bi’ah
Strategi PEMBELAJARAN
Untuk mencapai tujuan pada materi ini, maka:
1. Sedapat mungkin murabbi mempunyai kualitas kesolehan melebihi mad’unya, sehingga kesalehannya dapat ditiru langsung.
2. Mengajak silaturahmi kepada orang yang shaleh yang dikenalnya.
3. Membacakan kisah-kisah orang shaleh atau mendiskusikannya.
MARAJI’
1. Riyadhussalihin wa syuruhuhu
2. Hayatussahabah
3. Risalah Ta’lim: Al Ashlu Al-Tsalitsa asyrah
Taubatan nashuha
Kode: 2A03.9 | Sarana: Mabit
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta dapat:
1. Memahami bahwa Allah SWT Maha Pengampun dan Penerima taubat
2. Mengetahui syarat-syarat taubat Nashuha
3. Meyakini terhapusnya dosa dengan taubat nashuha
4. Menyadari seluruh dosa-dosa yang telah dikerjakaannya dan termotivasi untuk taubat
5. Meneladani taubat Nasuhanya orang-orang di Zaman Rasulullah SAW dan di zaman sekarang
TITIK TEKAN MATERI
Pada dasarnya seluruh manusia lahir dalam keadan fitrah tanpa dosa, tetapi karena kelemahannya, lingkungannya dan berbagai pengaruh diluar dirinya berupa godaan syaitan, maka manusia banyak berbuat dosa. Allah SWT yang Maha Rahman Rahin memberikan fasilitas Istighfar dan Taubat, agar manusia dengan sungguh-sungguh meninggalkan perbuatan dosa dan berusaha untuk menjauhinya dan tidak mengulanginya kembali, terutama dosa-dosa besar. Itulah yang disebut dengn Taubat Nasuha. Untuk mendapatkan proses taubatan nasuha dengan baik, maka perlu diceriterakan kepada mereka kisah orang-orang yang tobat pada zaman Rasul dan zaman sekarang sekalipun, hal ini akan lebih memotivasi untuk mengikuti orang-orang yang telah berbuat salah, menyadari berbuatan shalahnya menyesali dan berusaha hidup dengan lebih baik lagi.
POKOK-POKOK MATERI
1. Hakekat dosa yang datang dari kekhilafan dan kelalaian manusia dari dirinya sendiri
2. Hakekat dosa yang datang dari godaan syaithan
3. Manusia tidak ada yang bersih dari dosa kecuali Nabi
4. Antara taubat yang sesungguhnya dengan taubat yang palsu
5. Proses thaubat nashuha: menyadari kesalahan, menyesali kesalahan, termotivasi untuk merubah diri dan pengakuan penyesalan kepada Allah SWT, memperbaiki kesalahan yang berhubungan dengan manusia lain (dosa bersifat habluminnas)
6. Kisah-kisah taubat nasuhanya di zaman Rasulullah SAW dan di zaman sekarang
Strategi Pembelajaran
Untuk mencapai tujuan materi ini maka dapat dilakukan dengan kegiatan muhasabah, baik secara individu maupun kelompok. Untuk melakukan proses pengenalan dosa dan penyesalan diri perlu dipandu oleh seorang yang shaleh, sehingga lebih termotivasi untuk merubah dirinya dari kebiasaan yang tidak baik menuju kepada kehidupan yang lebih baik. Sangat baik lagi jika digabungkan dengan pemberian materi tentang syurga dan neraka.
MARAJI’
1. Riyaadhusshalihin
2. Said Hawwa, Mustakhlash fi Tazkiatinnafs:
3. Ibnul Qayim Al Jauzy, Madarijussalikin
4. Perjalanan Wanita Muslimah Amerika, Gema Insani Press, Jakarta
5. Mau ‘idzhatul mu’min
Al-Isti’dad Liyaumirrahil
Kode: 2A03.10 | Sarana: Mabit
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka peserta akan mampu:
1. Memprediksi akan datangnya kematian manusia yang bersifat kapan saja
2. Memahami bahwa ajal ada di tangan Allah SWT tidak terikat dengn ruang dan waktu
3. Mengetahui bahwa ajal tidak dapat dipercepat atau diperlambat waktunya.
4. Mempersiapkan bekalan amal shalih dan ketaqwaan untuk menghadapinya
5. Menjadikan kematian sebagai nasihat kehidupan
TITIK TEKAN MATERI
Kematian pada hakekatnya bukanlah akhir dari sebuah kehidupan, tetapi hanyalah proses berpindahnya manusia dari alam dunia ke alam barzakh, secara Thabi’i bila manusia takut mati itu wajar, tetapi secara syari’ harus berani, yaitu dengan menyiapkan diri setiap saat dengan amal shaleh dan ketakwaan, karena tidak dapat diprediksi kapan ajal tiba. Yang demikain itu demi mencapai kematian yang husnul khatimah bukan sebalaiknya su’ul khatimah
POKOK-POKOK MATERI
1. Filosofi kematian
2. Sarana mengingat kematian
3. Khusnul khatimah dan su’ul khatimah dalam kematian
4. Cukuplah kematian sebagai pelajaran (kaffa bil mauti ‘idzuma)
5. Menyiapkan diri dalam menghadapi kematian
Strategi Pembelajaran
Untuk mencapai tujuan materi ini, maka selain dapat dilakukan melalui taujih dalam acara mabit juga dapat dilakukan kegiatan di luar rumah (outdoor class). Kegiatan outdoor class dapat seperti mengunjungi kamar mayat, mengunjungi rumah-rumah sakit melihat orang yang sedang sakit parah (khususnya yang menggugah emosinya, yaitu dipilihnya pasien yang tidak sadar atau pasien yang penuh dengan infus atau pasien dengan peralatan kedokteran lainnya). Strategi lain, yaitu apabila ada kawan kerabat atau keluarga yang habis meninggal atau sedang sakit keras, maka materi ini selain digunakan untuk menenangkan perasaan hati juga untuk mengingatkan bahwa kematian itu dapat datang kapan saja.
MARAJI’
1. Risalah Al-Mustarsyidin
2. Ihya Ulumuddin
3. Ibnul Qayim Al Jauzy, Madarijussalikin
Al-Mustaqbal li-hadzad-din
Kode: 2A03.11 | Sarana: Bedah buku
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Meyakini bahwa masa depan ada di tangan Islam
2. Meyakini bahwa Islam akan berjaya kembali di masa yang akan datang
3. Memahami bahwa manhaj Islam mampu menjadi solusi alternatif bagi problematika kontemporer
4. Memprediksikan kepemimpinan dunia harus kembali ke pangkuan Islam, dengan menganalisa peta kebangkitan dunia Islam dewasa ini.
TITIK TEKAN MATERI
Islam merupakan agama langit akhir zaman yang datang langsung dari Allah SWT. Islam secara sistem dan nilai bukan hasil produk pemikiran manusia yang cenderung bersifat lokal dan subyektif.. Ajaran Islam bersifat global dan objektif, yaitu sesuai dengan fitrah manusia. Dan Islam sebagai sistem hidup telah berhasil membuktikan bahwa 3 benua besar, Asia, Afrika dan Eropa pernah menyambut kedatangan Islam dengan baik dan damai. Itu artinya Islam sangat mungkin kembali memimpin dunia dimasa depan. Akan tetapi sayangnya, banyak ummat Islam kini masih jauh dari apa yang seharusnya ada dalam ajaran Islam. Jadi ummat Islam dapat berjaya jika mau kembali kepada ajarannya. Kini tugas dai adalah mendekatkan antara ummat Islam dengan Islam sebagai ajarannya, yaitu dengan mempelajari kembali Al Qur’an dan Hadits sebagai jalan kembali atas problem yang dihadapi manusia. Dengan pemahaman yang utuh seperti ini, maka keyakinan masa depan di tangan Islam menjadi sebuah gagasan yang hidup dan bukan mimpi belaka.
POKOK-POKOK MATERI
1. Islam adalah sistem yang rabbani, universal, lentur dan integral
2. Islam adalah sistem yang moderat dan selaras dengan fitrah manusia
3. Masa depan di tangan Islam adalah satu kemungkinan yang logis berlandaskan fakta hisoris dimana pengaruh Islam pernah melampaui tiga benua
Strategi Pembelajaran
Ajaklah peserta berdiskusi tentang kehebatan konsep ajaran Islam dengan menunjukkan contoh-contohnya dalam kehidupan yang sudah terjadi pada masa lalu. Kemudian temukan masalah-masalah yang sekarang sedang trend (cammon issues), seperti AIDS, korupsi, kualitas manusia dll. Kemudian sodorkan bahwa Islam sebenanya memiliki konsep yang belum sepenuhnya dijalankan atau diterima oleh umat
MARAJI’
1. Fathi Yakan, Madza ya’ni Intima’i lil Islam
2. Ali Guraisyah, Wajah dunia Islam kontemporer
3. Muhammad Quthb, Al-Mustaqbal li Hadzaddin
4. Syakib Arslan, Limadza ta’akharal muslimin wa taqaddama ghairuhum Buku yang akan dibedah silahkan dipilih yang mungkin tersedia
Halawatul-Iman
Kode: 2A03.12 | Sarana: Mabit, Ta’lim
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Mengetahui 3 hal yang menjadikan manisnya iman
2. Berusaha meraih rasa manisnya iman kepada Allah SWT
3. Sadar bahwa iman bukan sekedar kata tetapi harus terasa
4. Menyadari bahwa iman harus dirasakan kemanisannya
5. Memahami bahwa manisnya iman terletak pada amal yang dia lakukan
TITIK TEKAN MATERI
Agar peserta berusaha mengejar manisnya iman dengan melakukan amalan-amalan yang membuatnya beriman-dengan iman sebenarnya dan dapat merasakan manisnya iman. Manisnya iman sering kali Allah SWT berikan kepada seorang hamba dengan berbagai cobaan dan penderitaan. Ketika hambanya tetap bersabar dan ikhlas, maka manisnya iman akan dirasakannya. Seperti kisah shabat Bilal, Amr bin Yasir, Migdad bin Amr ra, dll.
POKOK-POKOK MATERI
1. Gambaran iman yang mandul dan iman yang praduktif
2. Hakekat iman
3. Tanda-tanda seseorang yang merasakan manisnya iman:
a. Allah SWT dan Rasul lebih dicintai olehnya dibanding yang lain
b. Mencintai seseorang karena Allah SWT
c. Berusaha tidak kembali kepada kekufuran
MARAJI’
1. Riyadus-Shalihin
2. Nuzhatul muttaqin
3. Dalilul falihin
4. Kutubussiar: Ketabahan para shahabat berjihad di jalan Allah SWT
Nataijul ibadah wa Halawatul Ibadah
Kode: 2A03.13 | Sarana: Ta’lim / Mabit
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Memahami hakekat beribadah kepada Allah SWT
2. Mengatahui hasil-hasil ibadah
3. Berusaha meraih rasa manisnya ibadah
4. Merasakan kekhusyuan dan kenikmatan dalam beribadah
TITIK TEKAN MATERI
Ibadah kepada Allah SWT bukan hanya praktek ritual, tetapi ketundukan dan kepasrahan kepadaNYA dalam bentuk menjalankan seluruh perintahnya dan menjauhi seluruh larangannya. Jadi boleh dikatakan orang bertakwa adalah orang yang ibadahnya baik. Sebaliknya seseorang dapat meraih rasa manisnya ibadah yang dilandasi oleh kebersihan aqidah dan ketaqwaan. Ibadah kepada Allah SWT tidak akan memperoleh kekusyukan bila hati, jiwa dan fikiran masih terkotori oleh perbuatan fasiq, maksiat dan syirik.
POKOK-POKOK MATERI
1. Hakekat beribadah kepada Allah SWT
2. Hubungan tingkat ketaqwaan dengan ibadah seseorang
3. Hasil-hasil ibadah
4. Hasil-hasil taqwa
5. Kiat ni’mat dan khusyu dalam beribadah
MARAJI’
1. E9: Nataijul ibadah
2. E10: Nataijul taqwa
3. Said Hawwa, Al-Islam
4. Imam Al Ghazali, Ihya 'Ulumuddin
5.
Risaalatul malaikah
Kode: 2A03.14 | Sarana: Ta’lim
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Meyakini adanya para malaikat mulia yang mencatat segala amalnya
2. Menyadari adanya malaikat yang mengawasi segala perbuatan manusia
3. Meyakini adanya istighfar para malaikat dan do’a mereka
4. Memahami dengan logika ilmiyah proses pencatatan maliakat terhadap amal manusia
TITIK TEKAN MATERI
Seluruh manusia nanti akan bertanggung jawab dengan amalan yang dikerjakan selama di dunia. Dalam haal ini Allah SWT menciptakan Malaikat yang berfungsi mencatat seluruh amalan manusia. Kita harus menyadari, bahwa malaikat itu ada walaupun manusia tidak dapat melihatnya. Malaikat diciptakan oleh Allah SWT dari cahaya atau sinar (nur), ada beberapa cahaya yang dapat dilihat dan ada banyak cahaya yang tidak dapat dilihat oleh manusia, yaitu contoh sinar X yang tidak dapat dilihat oleh mata manusia. Cahaya mempunyai kecepatan yang tinggi dan luar biasa, dan manusia tidak mampu melihat atau menggunakan logikanya dalam memahami gerak cahaya. Maka memahami kerja malaikat sama dengan memahami kecepatan energi cahaya. Malaikat selalu berada dalam ketaatan kepada Allah SWT, oleh karena itu istighfar dan do’a mereka hanya diberikan kepada orang-orang yang bertaqwa kepada Allah SWT.
POKOK-POKOK MATERI
1. Pertangungg jawaban amal manusia di akhirat
2. Tugas malaikat pengawas dan pencatat amal.
3. Istigfar dan doa malaikat
4. Orang-orang yang mendapatkan istighfar dan doa para malaikat
MARAJI’
1. Sayyid Sabiq, Al-Aqidah Al-Islaamiyah
2. Syaikh Abdullah Al-Qadiry, Maqalah….
Bidang studi: fiqh
Tabarruj dan Ikhtilath
Kode: 2A04.1 | Sarana: Halaqah, taujih dan penugasan
TUJUAN INTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini peserta mampu:
1. Memahami hukum tabarruj
2. Memahami bentuk-bentuk tabarruj
3. Memahami akibat-akibat yang ditimbulkan tabarruj
4. Memahami maksud ikhtilath
5. Memahami bahaya-bahaya ikhtilath.
TITIK TEKAN MATERI
Tabarruj merupakan lambang kejahiliyahan modern yang wajib dihindari setiap wanita muslimah, oleh sebab itu perlu diketahui dalil-dalil hukum yang melarangnya. Berbagai bentuk tabaruj muncul dalam dunia modern, sehingga menjadi budaya tabaruj yang tidak sesuai dengan ruh Islam, sementara disisi lain tabarruj sendiri menimbulkan akibat-akibat yang tidak baik. Situasi zaman yang mulai maju dan budaya barat yang sudah meracuni dunia Islam, menjadikan ikhtilath sebagai suatu hal yang lazim dan perlu. Untuk itu perlu diresapi arahan-arahan Rabbani tentang pelarangan ikhtilath dan hal-hal yang boleh dikatakan darurat berikhtilath. Untuk itu seorang muslim harus mengetahui masalah tabarruj dan ikhtilath ini dengan baik.
POKOK-POKOK MATERI
1. Pengertian tabarruj
2. Hukum-hukumnya
3. Bentuk-bentuk tabarruj dalam kehidupan modern
4. Bahaya-bahaya yang ditimbulkan oleh tabarruj.
5. Ikhtilath, pengertian, hukum dan ikhtilat yang diperbolehkan.
Strategi Pembelajaran
Untuk lebih dapat menggugah emosi, maka alangkah baiknya jika menyampaikan materi ini juga disiapkan kliping koran atau majalah yang aktual dan terakhir sehubungan dengan tabarruj dan ikhtilath. Sehingga dengan menampilkan data yang bersifat realitas, maka seseorang akan lebih cepat mencapai tujuan materi ini.
MARAJI’
1. Abdul Karim Zaidan., Al-Mufashshal fi Ahkamil Mar’ah
2. Kamil Muhammad Uwaidah., Al-jami’ al fiqh an-nisa’
3. Ni’mah rasyid Ridha, Tabarruj.
4. Khaulah Binti A. Kadir (Darwis), Bagaimana Muslimah Bergaul
Munakahat: Nikah.
Kode: 2A04.2 | Sarana: Halaqah, taujih dan penugasan
TUJUAN INTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini peserta mampu:
1. Memahami aturan pernikahan dalam Islam.
2. Memiliki apresiasi yang tinggi terhadap hukum pernikahan Islam sebagai pedoman dalam berbuat dan menyelesaikan masalah.
TITIK TEKAN MATERI
Nikah adalah sunnah Rasulullah SAW yang dianjurkan melakukannya bagi yang mampu dengan prosedur yang telah ditentukan oleh Islam, sehingga dapat menjadi barometer dalam melaksanakannya. Jika prosedur sudah dilaksanakan sesuai syar’i, diharapkan pernikahan tersebut menjadi basis awal dalam menegakkan dakwah (Islam), dan rumah tangga tersebut menjadi awal dari terbentuknya mujtama’ Islami.
POKOK-POKOK MATERi
1. Pengertian, hakikat, hikmah, tujuan, macam-macam.
2. Memilih jodoh konsep khitbah, kafa’ah, syarat dan rukun aqad nikah, perwalian, mahar.
3. Talaq dan Iddah, penyelesaian konflik dalam rumah tangga, akibat putusnya perkawinan.
4. Hak dan kewajiban suami istri.
5. Mahram.
6. Pernikahan yang di larang.
7. Poligami, alasan, syarat-syarat, batasan dan prosedurnya.
E. Time Institute, Daurah Thullab:
Topik ini harap dikaitkan dengan pembentukan keluarga sakinah. Dalam penyampaiannya dapat dibuat seminar dengan topik yang bergabung antara: pembentukan keluarga muslim, nikah, thalaq, pendidikan anak
MARAJI’
1. Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah Jilid: ,
2. Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid
3. Wahbah Zuhaili. Al fiqh Al Islam wa Adillatuhu
4. Abdul Karim Zaidan, Al-Mufashshal fi Ahkamil Mar’ah
5. Kamil Muhammad, Uwaidah Al-jami’ al fiqh an-nisa’
6. M. Abu Zahra., Al-ahwal asy-syakshiyah
7. Abd. Rahman al-Jaziri, Al-Fiqh 'ala Mazahib al-Arba”ah
Munakahat: Thalaq
Kode: 2A04.3 | Sarana: Halaqah, taujih dan penugasan
TUJUAN INTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini peserta mampu:
1. Memahami aturan perceraiandalam Islam sehingga memiliki apresiai yang tinggi terhadap hukum perkawinan Islam sebagai pedoman dalam berbuat dan menyelesaikan masalah..
2. Memahami bahwa perceraian adalah perbuatan halal yang di benci Allah SWT
3. Menyadari dampak dan akibat dari perceraian terhadap anak-anak, keluarga, masyarakat dan dakwah.
TITIK TEKAN MATERI
Thalaq atau perceraian atau putusnya tali pernikahan merupakan perbuatan yang dimakruhkan Allah SWT, sehingga umat Islam tidak mengutamakan hawa nafsunya demi menjaga keutuhan rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.
Dengan memahami thalaq yang mempunyai konsekwensi logis, maka setiap individu dapat berpikir lebih arif lagi dalam mengendalikan suatu rumah tangga, dan thalaq adalah kata akhir yang dilakukan jika memang jalan lain sudah tidak ada, dan tentu saja mempertimbangkan fiqhud dakwahnya. Perlu upaya maksimal untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga, sesuai dengan kaidah “Rumah tangga sakinah mawaddah wa rahmah mencerminkan keberhasilan dakwah”.
POKOK-POKOK MATERI
1. Thalaq, pengertian, macam, sifat dan kedudukan hukumnya.
2. Syarat, rukun dan akibat hukum thalaq.
3. Fasakh, khulu’, li’an, ruju’
4. Iddah, pengertian, macam, kedudukan hukum dan hikmahnya
Strategi pembelajaran
Topik ini harap dikaitkan dengan pembentukan keluarga sakinah. Dalam penyampaiannya dapat dibuat seminar dengan topik yang bergabung antara: pembentukan keluarga muslim, nikah, thalaq, pendidikan anak
MARAJI’
1. Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah Jilid: ,
2. Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid
3. Wahbah Zuhaili. Al fiqh Al Islam wa Adillatuhu
4. Abdul Karim Zaidan, Al-Mufashshal fi Ahkamil Mar’ah
5. Kamil Muhammad, Uwaidah Al-jami’ al fiqh an-nisa’
6. M. Abu Zahra., Al-ahwal asy-syakshiyah
7. Abd. Rahman al-Jaziri, Al-Fiqh 'ala Mazahib al-Arba”ah
Al-Khusyu fisshalah
Kode: 2A04.4 | Sarana: Ta’lim
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Menyadari bahwa shalat bukan hanya sekedar menggugurkan kewajiban.
2. Menjadikan shalat sebagai kebutuhan dan dikerjakan dengan kekhusyu’an.
3. Melaksanakan shalat dengan penuh penghayatan dengan bacaan dalam shalat
4. Memahami dan mempraktekan kiat-kiat mencapai kekhusyu’an dan shalat
TITIK TEKAN MATERI
Perlu disadari bahwa dalam mengerjakan shalat bukan karena rutinitas atau sekedar kewajiban saja. Shalat yang hanya sekedar menggugurkan kewajiban adalah shalat yang kering, dan hubungan kepada Allah SWT menjadi hampa, oleh karena itu setiap muslim harus berusaha menghusyu’kan shalatnya dengan melaksanakan adab-adab shalat serta kiat-kiat mencapai khusyu’ seperti apa yanmg banyak ditulis oleh Imam Al-Ghazali di dalam kitabnya Ihya Ulumuddin. Perlu difahamkan, bahwa dalam beribadah kita harus menghayati bahwa Allah SWT melihat kita, walaupun manusia tidak dapat melihat Allah SWT.
POKOK-POKOK MATERI
1. Perbedaan shalat sebagai kewajiban dengan sebagai kebutuhan
2. Shalat merupakan sarana habluminAllah SWT
3. Kekhusyu’an adalah bagian dari kesempurnaan shalat
4. Kiat khusyu’dalam shalat
trategi pembelajaran
Dalam mencapai tujuan pembelajaran ini, maka untuk melatih seseorang menjadi khusu’ dalam shalat dapat digunakan metode pelaksanaan shalat secara berjamaam atau mabit dengan membaca ayat Al Qur'an yang terlebih dahulu dibahas secara mendalam dan dapat menyentuh perasaan. Sehinga dalam melaksanakan shalat seseorang akan membuat imajinasi kreatif dan berhubungan dengan Allah SWT. Ayat-ayat syurga dan neraka umumnya lebih berkesan jika dibaca.
MARAJI’
1. Al Gazhali: Ihya ulumuddin
2. Mamarrat I hal: 9
3. Bertemu Allah SWT dalam shalat
Qiamullail marratan fil Usbu’
Kode: 2A04. 5 | Sarana: Mabit, Tadrib wal mutaba’ah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini mka peserta akan mampu:
1. Melaksanakan qiamullail minimal satu kali dalam sepekan
2. Mengetahui fadhilah-fadhilah qiyamulail
3. Menyadari bahwa qiamullail adalah kebutuhan bagi aktivitis da’wah
4. Mengupayan sebab-sebab yang memudahkan qiamullail
TITIK TEKAN MATERI
Di dalam Hadits Qudsi dijelaskan bahwa Allah SWT mencintai hamba-NYA yang melaksanakan Ibadah sunnah wabilkhusus Qiamullail,yaitu sebagai bukti kepada Allah SWT. Allah SWT senantiasa menyertai pendengarannya, penglihatannya, gerak tangan dan langkah kakinya. Qiyamulail dikerjakan pada malam hari, yaitu disaat orang tidur. Hanya seseorang yang mempunyai keinginan kuat dan memahami makna saja yang mampu mengerjakan. Pada suasana malam yang sepi, kegiatan penajaman perasaan diri dan sarana muhasabah diri melalui qiyamul lail sangat efektif. Tempaan diri inilah yang akan membuat kecerdasan emosional, dan kemampuan inilah yang sangat diperlukan oleh seorang dai.
POKOK-POKOK MATERI
1. Fadhilah qiamullail
2. Qiyamulail dalam kehidupan Rasul
3. Qiyamulail dalam kehidupan sahabat
4. Qiyamulail dalam kehidupan orang-orang shaleh dan mujahid Islam
5. Urgensi qiyamullail bagi aktifis dakwah
6. Kiat mudah bangun malam untuk qiamullail
Strategi Pembelajaran
Untuk memudahkan dalam pencapaian tujuan materi ini, maka ada beberapa strategi yang mungkin dapat diterapkan, yaitu:
- Kegiatan qiyamul lail pada awalnya dapat dilakukan dengan berjamaah yang dibuat secara khusus. Kemudian memanggil seorang imam shalat yang tahdiz atau seseorang yang bacaannya mempunyai ta’tsir ruhi agar berkesan.
- Dapat dilakukan dengan acara mabit secara rutin setiap sebulan sekali atau dua bulan sekali.
- Dilakukan pengontrolan tentang frekuensi qiyamul lailnya dengan teratur dan tetap diimbangi acar mabit.
MARAJI’
1. Tafsir QS. 74, 17: 78-79.
2. Hadits qudsi: Qiyamulail
3. Al Ghazali, Ihya Ulumuddin
Ash shaumu marrataini fi kulli syahrin
Kode: 2A04.6 | Sarana: Mabit, Tadrib wal Mutabaah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini diharapkan peserta akan mampu:
1. Melaksanakan puasa sunah minimal satu kali dalam sebulan
2. Menyadari bahwa puasa sunnah adalah kebutuhan bagi aktivis dakwah
3. Merasakan dampak positif puasa terhadap ruhiyyan,
4. Merasakan dampak positif puasa terhadap fikrian dan
5. Merasakan dampak positif puasa terhadap jasadiyyan
6. Berusaha mencapai taraf kesempurnaan puasa
TITIK TEKAN MATERI
Puasa merupakan Ibadah yang syarat dengan anisir samawi, dimana kwalitas hubungan kepada Allah SWT menjadi meningkat, emosi lebih terkendali, jiwa lebih tenang, fikiran lebih terang dan anggota badan menjadi ringan untuk dibawa bekerja dan beraktifitas. Hal ini semua menunjang produktifitas wabil khusus dalam berdakwah. Karena itu puasa adalah kebutuhan bukan beban bagi seorang Da’i. Menurut Imam Al-Ghazali, bahwa kualitas puasa dimulai dari shaumul ammah, shaumul khwas dan shaumul khawas bil khawas. Puasa yang dikerjakan secara rutin justru akan membuat badan lebih sehat, yaitu sejauh memenuhi tuntutan seperti adanya makan shahur, menyegerakan diri berbuka dan buka puasa dengan makanan yang manis-manis.
POKOK-POKOK MATERI
1. Tingkatan puasa menurut Al Ghazali
2. Hikmah puasa secara ruhiyyan.
3. Hikmah puasa secara fikriyyan
4. Hikmah puasa secara jasadiyyan (kesehatan)
5. Hal-hal yang dapat menyempurnakan ibadah puasa
MARAJI’
Mamarrat: I hal: 19 Hembing W, Makna Puasa
Asshadaqah
Kode: 2A04.7 | Sarana: Ta’lim
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini diharapkan peserta akan mampu:
1. Menyadari bahwa didalam harta miliknya ada hak orang lain yang harus ditunaikan
2. Membiasakan gemar bersedekah walaupun sedikit
3. Membiasakan keluarga, isteri dan anak suka bersedekah
TITIK TEKAN MATERI
Sedekah dalam ajaran Islam ada yang wajib dan ada yang sunnah, yang wajib telah ditentukan aturannya oleh syariat, sedekah adalah sarana pendidikan akhlak terhadap harta benda, sedekah Juga bukti bahwa Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, karena bukan ummat Islam saja yang menikmati, tapi juga ummat lainnya
POKOK-POKOK MATERI
1. Sedekah sebagai sarana habluminAllah SWT dan hamblumminnas
2. Sedekah sebagai amal jariyah
3. Sedekah untuk membersihkan harta benda dari hak yang bukan miliknya
4. Sedekah untuk mengurangi penyakit Hubbuddunya
5. Sedekah merupakan solidaritas sosial dan kemanusiaan dalam Islam
6. Mengelola/ megorganisir sedekah untuk membangun ummat
MARAJI’
Mamarrat 2 hal: 49 Riyadussalihin: Shadaqah
Hajji
Kode: 2A04.8 | Sarana: Ta’lim & Audio Visual
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini diharapkan peserta akan mampu:
1. Menyadari sepenuhnya akan kewajiban melaksanakan Ibadah Haji jika mampu
2. Termotivasi untuk berkeinginan naik haji
3. Menapak tilasi perjuangan dan da’wah keluarga Nabi Ibrahim Alaihissalaam
4. Memahami manasik yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW
5. Mengetahui dan berusaha menghafal do’a-do’a ma’tsur ketika haji
TITIK TEKAN MATERI
Haji merupakan Ibadah jasadiyah dan maaliyah, haji adalah refleksi perjuangan dan da’wah Nabi Ibrahim Alaihissalaam beserta keluarganya, Ibadah haji mengandung filosofi dari setiap mansiknya, Rasulullah menyuruh ummatnya agar malaksanakan haji sesuai dengan manasik yang beliau praktekan. Dalam kondisi ummat Islam yang terkonsolidasi dan memimpikan khilafah Islamiyah, maka sarana haji sebagai proses penyadaran akan beberapa pemikiran seperti: Pan Islamisme untuk ukuwah Islamiyah internasional. Kekuatan ummat Islam yang terkoordinir. Ibdah haji sebagai kesatuan ibadah, kesatuan fikrah, kesatuan ruh ummat dan kesatuan langkah.
POKOK-POKOK MATERI
1. Latar belakang historis disyariatkannya Haji
2. Haji Rasulullah SAW
3. Hikmah dan pelajaran dari manasik haji (uraikan filosofi kegiatan per kegiatan)
4. Ma’na haji
a. Simbol Pan Islamisme, ukhuwah islamiyah internasional.
b. Kekuatan ummat Islam
c. Kesatuan ibadah, kesatuan fikrah dan kesatuan ruh ummat
d. Kesatuan langkah-langkah ummat.
Strategi Pembelajaran
Ibadah haji adalah ibadah yang relatif mahal, karena tidak semua orang dapat mengerjakan (khususnya di Indonesia yang jauh dari baitullah). Sehingga untuk menggambarkan proses haji agar lebih baik dan berkesan, maka dapat dilakukan simulai manasik haji atau melalui pemutaran video manasik haji.
MARAJI’
1. Imam Abu Hasan Ali An-Nadawy: Al-arkan al-arba’ah
2. Said Hawwa: Al-Islam
3. Al Ghazali: Ihya Ulumuddin
4. Said Hawwa: Mustakhlash
Al-Khusyu’ ‘inda tilawatil Qur'an
Kode: 2A04.9 | Sarana: Mabit, Tadrib wal Mutaba’ah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka diharapkan peserta akan mampu:
1. Memahami cara dan kiat membaca Al-Qur’an untuk mendapatkan kekhusyu’an
2. Membaca Al-Qur’an dan mengkhatamkannya setiap dua bulan
3. Meminimalkan jumlah halaman yang dibaca setiap harinya
4. Mengevaluasi (muhasabah) target yang telah dicapai
TITIK TEKAN MATERI
Al-Qur’an adalah kalamullah, membaca al-Qur’an berarti berdialog dengan Allah SWT, kenikmatan berdialog dan kekhusyu’annya sangat dipengaruhi oleh faktor nilai, ruang, waktu dan kondisi hati yang membacanya.Mengkhatamkan Al-Qur’an bukan hanya mengejar target kwantitas perolehan halaman, tapi yang penting adalah target kwalitas berupa kekhusyu’an dan tadabbur.
POKOK-POKOK MATERI
1. Al-Qur’an adalah kalamullah
2. Kiat khusyu’ membaca Al-Qur’an
3. Batasan waktu dalam mengkhatamkan Al Quran
4. Kesempurnaan khatam Al-Qur’an
MARAJI’
Mamarrat I hal: 85
Al-Iktsar minadzdzikri wattadharru’ waddu’a
Kode: 2A04.10 | Sarana: Ta’lim
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka diharapkan peserta akan mampu:
1. Menjadikan dzikrullah sebagai kebutuhan
2. Memperbanyak berdzikir kepada Allah SWT (dengan menghafalkan bacaan ringan)
3. Memperbanyak berdo’a dengan memperhatikan syarat dan adabnya
4. Membiasakan dzikrullah dalam setiap keadaan
5. Menghafal dzikir-dzikir tertentu dan memeliharanya
6. Melazimkan do’a-do’a ma’tsur
7. Memahami adab dan syarat berdo’a
TITIK TEKAN MATERI
Mengingat Allah SWT atau dzikrullah bukan hanya dalam ingatan dan ucapan, melainkan menyadarkan seluruh aspek dalam diri kita, hati, akal dan anggota badan untuk tunduk dan taat kepada Allah SWT. Berdo’a kepada Allah SWT adalah inti ibadah. Berdo’a harus dibarengi keyakinan bahwa Allah SWT pasti mengabulkan apa yang kita minta. Apabila yang kita minta tidak Allah SWT berikan di dunia maka kelak akan diberikan kepadanya di akhirat.
POKOK-POKOK MATERI
1. Hakekat Dzikrullah
2. Hikmah dzikrullah
3. Orang-orang yang melalaikan dzikrullah
4. Doa’doa ma’tsur
5. Adab dan syarat berdo’a
MARAJI’
1. Mamarrat II hal: 224
2. Imam Anawwawy, Kitabul Zikr
3. Mau’ idzatul mu’minin: bab fadhilatudzikr
Al-iktsar ‘anittaubah
Kode: 2A04.11 | Sarana: Ta’lim
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka diharapkan peserta akan mampu:
1. Memahami ma’na taubat dalam beribadah
2. Mengevaluasi dosa-dosa yang telah lalu baik yang kecil maupun yang besar
3. Terdorong untuk selalu ingin banyak bertaubat
4. Mengerti kiat-kiat taubat yang sesungguhnya
TITIK TEKAN MATERI
Sesungguhnya manusia lebih banyak melakukan dosa dibanding istighfar dan taubatnya kepada Allah SWT, seseorang akan terhapus segala dosanya dan tersucikan jiwa dan hatinya bila telah melakukan taubatannasuha, kehidupan orang yang bertaubat ditandai dengan perubahan 180 derajat pada diriinya, yang dapat dilihat dari citarasa, gaya dan selera hidupnya yang Islami, seperti Sayyid Qutub, Yusuf Islam, Maryam Jamilah dll.
POKOK-POKOK MATERI
1. Mengevaluasi dosa-dosa masa lalu
2. Taubat sebagai sarana penghapusan dosa
3. Taubat sebagai sarana pensucian jiwa
4. Taubat Nasuha
5. Taubat Rasul dan shalafush shaleh.
MARAJI’
Mamarrat III hal: 19 Riyadus shalihin: Babuttaubah
Al-’Ibrah min ziaratil kubur
Kode: 2A04.12 | Sarana: Ta’lim
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka diharapkan peserta akan mampu:
1. Memahami Ibrah-ibrah dan pelajaran dari ziarah kubur
2. Melakukan ziarah kubur dan mengambil Ibrahnya
3. Mempraktekan ziarah kubur sesuai dengan ketentuan syar'i
4. Memberikan contoh-contoh praktis ziarah kubur yang dapat merusak aqidah
TITIK TEKAN MATERI
Semua orang akan merasakan mati. Telah disunahkan dalam Islam untuk melakukan ziarah kubur, sehingga ziarah kubur merupakan sebuah ibdah. Setiap Ibadah senantiasa Allah SWTberikan hikmah dan pelajaran, agar dapat dirasakan manfaatnya, baik lahiriyah maupun batiniyah. Tidak jarang ziarah kubur dilakukan pada daerah yang jauh karena keluarga telah pindah rumah, pelaksanaan ziarah kubur ini dapat menyambung silaturahmi kawan kerabat lama dan meningktakan hubungan social. Dalam beribadah ada batasan dan aturan, ridak mengada-ngada dan memberikan tambahan yang bertentangan dengan syara’. Akan tetapi dalam prakteknya, banyak pelaksanaan ziarah kubur yang mengalami penyimpangan. Untuk itu diperlukan pemahaman yang Islami dari ziarah kubur dan pemahaman dari pelajaran ibdaha ziarah kubur.
POKOK-POKOK MATERI
1. Hikmah ziarah Kubur
a. Hikmah dekat dengan kematian dan melembutkan hati
b. Hikmah lahiriyah
c. Hikmah bathiniyah
d. Hikmah sosial kemasyarakatan (silaturahmi)
2. Ketentuan sunnah dalam ziarah kubur
3. Bid’ah dalam ziarah kubur
MARAJI’
1. Risalah ta’lim al-ashl 14
2. An-nahjul Mubin
3. Fiqih sunnah
Al-muwadzhabatu 'ala sunanirrawatib
Kode: 2A04.13 | Sarana: Taujih, Tadrib wal Mutaba’ah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka diharapkan peserta akan mampu:
1. Mengetahui jenis-jenis shalat sunnah rawatib
2. Memahami fadilah shalat sunnah rawatib
3. Melakuakn dengan rutinkan shalat sunnah rawatib
4. Menjadikan shalat sunnah rawatib sebuah kebiasaan yang menyenangkan dan positif
TITIK TEKAN MATERI
Shalat sunnah Rawatib dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk menambah kesempurnaan ibadah, menjalankan shalat sunnah rawatib merupakan bukti kecintaan kepada Allah SWT. Adapun mengenai waktunya ada waktu-waktu yang dianjurkan dan ada pula yang diharamkan. Untuk dapat mengerjakan kewajiban ini dengan baik, maka perlu dijelaskan fadhilah-fadhilah shalat sunnah rawatib. Dengan pemahaman yang utuh akan manfaat shalat sunnah rawatib, maka seseorang akan dapat termotivasi untuk melaksanakan dengan baik.
POKOK-POKOK MATERI
1. Jenis-jenis shalat sunnah rawatib
2. Ketentuan fiqih dalam shalat sunnah rawatib
3. Fadhilah shalat sunnah rawatib
MARAJI’
Fiqih sunnah
Hukum Zakat
Kode: 2A04.14 | Sarana:
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka diharapkan peserta akan mampu:
1. Memahami hukum zakat.
2. Menjelaskan pengertian zakat infaq dan shadaqah dan macam-macamnya.
3. Menjelaskan hukum zakat dan ketentuannya pandangan Islam.
4. Menyebutkan tiga dalil tentang hukum zakat dalam Al Qur’an dan Hadits
5. Menyebutkan tiga hikmah zakat bagi kehidupan seorang mukmin.
6. Melaksanakan kewajiban zakat pada hartanya sesuai dengan kadar yang ditetapkan ajaran Islam minimal dari penghasilannya setiap bulan.
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah: Zakat merupakan simbol penyerahan harta wujud dari penghambaan muslim pada Allah SWT. Dengan berzakat melepas kecintaan pada harta yang berlebihan. Manifestasi dari jiwa kebersamaan dan kecintaan pada sesama. Zakat akan menyuburkan harta dan memberikan keberkahan padanya.
POKOK-POKOK MATERI
1. Pengertian zakat secara bahasa dan istilah serta anjuran untuk menunaikannya.
2. Hukum zakat.
3. Jenis harta yang wajib dizakatkan a) Zakat maal b) Zakat perniagaan c) Zakat tanaman d) Zakat ternak e) Zakat rikaz f) Zakat profesi g) Zakat fitrah
4. Orang yang berhak menerima zakat.
5. Hikmah zakat dalam kehidupan orang mukmin.
a) Dibersihkan hartanya dari kotoran-kotorannya.
b) Terhindar dari tamak dan rakus pada harta benda.
c) Mempertebal jiwa sosial dan menyanyangi sesama terutama mereka yang tidak punya.
d) Mensyukuri anugerah yang diberikan Allah SWT.
e) Menguatkan keimanan pada Allah SWT dan hari akhir.
MARAJI’
1. Sayid Sabiq, Fikih Sunnah
2. DR. Yusuf Qardhawi, Fiqhuz Zakat
3. Kifayatul Akhyar
Fiqih Haji
Kode: 2A04.15 | Sarana: Talim, praktek
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka diharapkan peserta akan mampu:
1. Memahami pengertian Haji.
2. Menjelaskan hukum melasanakan ibadah haji dalam pandangan Islam.
3. Menyebutkan tiga dalil tentang hukum haji dalam Al Qur’an dan Hadits.
4. Menyebutkan tiga hikmah pelaksanaan ibadah haji.
5. Menghayati momentum sejarah dalam pelaksanaan ibadah haji.
6. Melaksanakan kewajiban ibadah haji jika mampu minimal sekali seumur hidup.
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah: Pelaksanaan ibadah haji adalah wujud penyerahan akal seorang hamba pada Allah SWT. Karena seluruh pelaksanaan ibadah haji tidak dapat diterima oleh logika manusia. Haji sebagai momentum perjalanan sejarah da’wah dalam menghadapi berbagai gopdaan dan gangguan. Dengan berhaji dapat menapak nilas perjalanan da’wah Rasulullah SAW.
POKOK-POKOK MATERI
1. Pengertian Haji, hukum dan anjuran untuk melaksanakannya.
2. Dalil-dalil yang menyuruh/menganjurkan untuk melaksanakan ibadah haji jika mampu dalam Al Qur’an dan Hadits.
3. Tata cara pelaksanaan ibadah haji dan tapak nilas nilai sejarah yang melandasinya.
4. Rahasia dan Hikmah ibadah haji
a. Menambahkan jiwa tauhid yang tinggi.
b. Melatih sikap mental yang disiplin dan taat terhadap perintah dan seruan Allah SWT.
c. Pernyataan umat Islam seluruh dunia sebagai umat yang bersatu tanpa batasan ras dan teritorial.
d. Muktamar akbar kaum muslimin seantero dunia.
Strategi Pembelajaran
Untuk memudahkan pencapaian tujuan pembelajaran, maka aakan lebih mudah dengan memviuslkan manasikh haji dengan video atau sejenisnya. Untuk menghayati sesi ini, maka peserta harus faham bacaannya, dan sesan tisa kita memotivasi untuk susatu saat jika Allah SWT menghendaki akan naik hajji.
MARAJI’
Referensi Utama:
1. Sayid Sabiq, Fiqih Sunnah
2. Risalah Haji
3. Kifayatul Akhyar
Bidang studi:
sirah, akhlaq dan kepribadian islam
Tajdidunniati wa tashhihuha
Kode: 2A05.1 | Sarana: Ta’lim
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka diharapkan peserta akan mampu:
1. Selalu memperbaharui niat dan meluruskannya
2. Memahami bahwa niat adalah asal amal perbuatan
3. Menyakini bahwa setiap amal harus dilandasi oleh niat yang kuat dan benar
4. Menyadari bahwa kekuatan dan kebenaran niat bisa mengendur karena pengaruh tertentu, oleh karena itu harus terus menerus diperbaiki.
5. Memberikan contoh perilaku orang yang lemah niat dan salah niat
TITIK TEKAN MATERI
Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya. Orang yang berhijrah juga tergantung apa yang diniatkannya. Yang membedakan antara amal yang bernilai ibadah dengan yang bukan adalah niat. Oleh karena itu dalam ibadah tertentu niat menjadi rukun. Niat juga berfungsi untuk meluruskan fikiran, menguatkan motivasi, mengokohkan kesabaran, dan memperjelas komitmen, keterikatan dan tujuan hanya kepada Allah SWT semata.
POKOK-POKOK MATERI
1. Setiap amal tergantung niatnya
2. Amal akhiarat bernilai dunia, amal dunia bernilai akhirat
3. Kiat meluruskan dan memperbaharui niat
4. Fenomena Ikhlas
MARAJI’
1. Syarah Hadits arbain Annawawy
2. Mamarrat IV hal: 117
3. Yusuf Qardlawi, Al Ikhlash,
4. Al Mustakhlas fi tadzkiratil Anfus
Al-I’tikafu lailan fi kulli syahrin
Kode: 2A05.2 | Sarana: Mabit, tadrib wal Mutaba’ah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Menjadwalkan dan mengazamkan i’tikaf satu malam pada setiap bulan
2. Membiasakan melakukan perenungan diri akan dosa yang telah diperbuat
3. Membiasakan melakukan perenungan diri akan rencana-rencana hidup
4. Memahami fadhilah i’tikaf
TITIK TEKAN MATERI
I’tikaf merupakan sarana pensucian diri dan jiwa, dengan mengonsentrasikan ibadah kepada Allah SWT, bersimpuh di haribaanNYA, membaca Al-Qur’an, beristighfar dan mohon ampun kepadNYA. Untuk dapat beristighfar dengan sempurna, maka kita harus jujur dengan diri kita, tidak ada lagi jarak antara kita dan perasaan kita guna melihat kesalahan dan dosa yang telah kita perbuat. Dengan perenungan akan dosa, maka seharusnya kita membuat rencana-rencana untuk perbaikan hidup. Sesungguhnya pengahayatan akan kesalahan dan kebiasaan perenungan diri akan menajamkan akal budi dan perasaan manusia.
POKOK-POKOK MATERI
1. Perenungan diri Nabi Muhammad SAW di Gua Hira (sebelum diangkat menjadi rasul)
2. Perenungan diri Nabi Muhammad SAW setelah menjadi Rasul
3. Fiqhul I’tikaf
4. Hikmah dan fadhilah I’tikaf
5. Manfaat pengakuan dosa-dosa kepada Allah SWT
5. Memperbaiki diri, perencanaan diri, membangun komitmen baru dalam hidup
MARAJI’
1. Kitaabusshiam wal I’tikaf
2. Yusuf Qardlawi, Fiqhus Shiam
3. Dewan Syariah, Panduan Iktikaf
Hifdzhul Jawarih ‘anidz Dzunub
Kode: 2A05.3 | Sarana: Ta’lim
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan mateti ini maka peserta akan mampu:
1. Menjaga organ tubuh dari dosa
2. Menyadari bahwa setiap anggota badan berpotensi untuk melakukan dosa
3. Menyebutkan bentuk-bentuk perbuatan dosa yang paling sering dilakukan oleh anggota badan
4. Mencari kiat dan sarana agar dapat menjaga organ tubuh dari peerbuatan dosa
TITIK TEKAN MATERI
Anggota badan adalah tentara dan prajurit, sedangkan panglimanya hati, bila yang dominan dalam hati seseorang adalah Ibadah dan dzikirnya kepada Allah SWT maka anggota badan akan terjaga dari dosa, sebaliknya bila yang dominan adalah hawa-nafsunya maka anggota badan akan cenderung melakukan dosa
POKOK-POKOK MATERI
Setelah mendapatkan mateti ini maka peserta akan mampu:
1. Kepribadian rasul dalam hal Menjaga organ tubuh dari dosa
2. Mengenal dosa-dosa yang berkaitan dengan tubuh manusia
3. Proses berbuat dosa: anggota badan dipengaruhi oleh hawa-nafsu untuk berbuat dosa
4. Ibadah dan dzikir kepada Allah SWT menghindari dosa.
5. Kiat menjauhkan anggota badan dari perbuatan dosa
MARAJI’
1. Ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi tentang Ghaddul bashar, khafdhusshaut
2. Tafsir surah An Nur dll.
3. Fiqh Shirah
Al-Hayaa’u min fi’lil Munkarat
Kode: 2A05.4 | Sarana: Ta’lim
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Memiliki rasa malu untuk berbuat kesalahan
2. Memahami bahwa rasa malu adalah bagian dari iman
3. Menempatkan sikap malu secara benar dan proporsional
4. Memberikan contoh orang-orang yang tidak punya rasa malu berbuat kesalahan dan kemaksiatan
TITIK TEKAN MATERI
Bila seseorang malu dan sungkan berbuat maksiat, maka hal itu pertanda ada kontrol iman atau sensor motorik keimanan, itulah yang disebut dengan rasa malu bagian dari iman. Malu yang dimaksud bukan malu berbicara, malu bertanya, malu berterus terang, tetapi malu mengerjakan kemaksiatan. Secara thabi’i setiap manusia punya rasa malu, dan itu tidak perlu bimbingan, didikan dan arahan, tetapi secar syar’i rasa malu harus dilatih menjadi akhlak dan kebiasaan melalui pendidikan dan pembinaan yang berkesinambungan.
POKOK-POKOK MATERI
1. Kepribadian Rasul dalam hal malu
2. Al-hayaa’u syu’batul iman
3. Kiat menumbuhkan rasa malu
4. Rasa malu Thabi’i dan syar’i
MARAJI’
Ihya ‘Ulumuddin, Fiqh Shirah
Aafaatul hadits wal mizahi wannajwaa
Kode: 2A05.5 | Sarana: Ta’lim
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Menghindari banyak mengobrol, sedikit bercanda dan tidak membisikkan tentang sesuatu yang bathil
2. Memahami bahwa syahwatukalam cenderung kepada sikap yang banyak menimbulkan mudharat ketimbang manfaat
3. Mengingatkan diri sendiri dan orang lain agar tidak terjerumus kepada syahwatul kalam
4. Dapat memberikan contoh-contoh kongkrit tentang syahwatul kalam
TITIK TEKAN MATERI
Ngobrol adalah kegiatan komunikasi yang tidak ada niat khususnya, sehingga memungkinkan seseorang melakukan sesuatu yang tidak ada manfaatnya dan membuang waktu. Bercanda dan tertawa yang berlebihan adalah kegiatan yang tidak banyak manfaatnya, sehingga bercanda pun harus yang positif. Rasul bersabda, “Seandainya engkau mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya engkau sedikit tertawa dan banyak menangis.”
Ada tiga hawa nafsu (syahwat) yang senantiasa mempengaruhi manusia untuk cenderung kepada kerusakan jiwa maupun fisik, salah satu diantaranya adalah syahwatul kalam, yang paling tidak terasa sering diperturutkan oleh manusia, dan dianggapnya sebagai sesuatu yang sepele, padahal dampaknya pada jiwa dan hati sangatlah buruk, sehingga menimbulkan sifat-sifat seperti dengki benci, hasad dsb. Untuk merubah kebiasaan ini, maka fikiran harus diberikan pemahaman dan disibukkan dengan tugas yang positif dan mempunyai kemampuan untuk berfikir positif.
POKOK-POKOK MATERI
1. Waktu yang hampa: ngobrol, bercanda dan membicarakan yang bathil
2. Sikap dan kepribadian Rasul sehubungan dengan kebiasaan: ngobrol, bercanda dan membicarakan yang bathil
3. Syahwatul kalam dan dampak yang ditimbulkannya
2. Kiat mengurangi syahwatul kalam
3. Pelajaran dari haditsul ifki
MARAJI’
1. Mau’idzhotul Mu’minin
2. Ihya 'Uluumuddin
3. Sirah Nabawiyah
'Adamul hiqdi wal Hasadi
Kode: 2A05.6 | Sarana: Ta’lim
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Untuk tidak mempunyai sifat hiqd (menyimpan kemarahan)
2. Untuk tidak mempunyai sifat hasad
3. Menyadari bahwa hiqd dan hasad adalah penyakit hati yang dapat merusak sillaturrahmi dan persaudaraan
4. Menyadari bahwa Hiqd dan Hasad adalah bentuk hawa nafsu yang diperturutkan
5. Mengetahui cara dan kiat untuk mengurangi dan menghindari perasaan hiqd dan hasad
TITIK TEKAN MATERI
Rasa marah adalah sesuatu yang wajar dan menuasiawi, tetapi yang tidak wajar dan manusiawi adalah menyimpan kemarahan (hiqd) yang terus menerus, sehingga tetap menjadi ganjalan (gil) dan sukar mema’afkan orang lain. Sifat hiqd yang dibiarkan lama akan menjadi sifat dendam. Sedangkan hasad mutlak menjadi sifat yang tercela, karena menyimpan rasa tidak senang dan tidak ridha dengan apa yang telah didapat oleh orang lain, seperti harta benda, kedudukan, hadiah dsb.
POKOK-POKOK MATERI
1. Ma’na Hiqd
2. Ma’na Hasad
3. Kepribdaian Rasul sehubungan dengan sifat hiqd dan hasad
4. Contoh sikap hiqd dan hasad
5. Kiat menghindari Hiqd dan Hasad
MARAJI’
Aafatun 'alatthariq Ihya Ulumuddin Figh shirah
'Adamul 'Inad
Kode: 2A05.7 | Sarana: Halaqah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Menjauhkan dari sifat Tidak 'Inad (membangkang) yang tidak beralasan.
2. Memahami bahwa 'Inad (membangkang) terhadap kebenaran adalah sifat syaithan
3. Memahami bahwa Islam melarang bersikap 'Inad terhadap apa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya
4. Menyadari bahwa 'Inad kepada pimpinan yang tidak bertentangan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya dapat digolongkan sebagai perbuatan maksiat.
TITIK TEKAN MATERI
Syaitan berasal dari kata “syatana”, yang artinya “tamarroda” (menentang/membangkang), contoh pembangkangan syaitan yang paling nyata adalah tidak mau tunduk kepada perintah Allah SWT untuk sujud kepada Adam, sebagai pengharmatan atas penciptaan Allah SWT, sikap syaitan seperti itu disebut 'Inad.
POKOK-POKOK MATERI
1. Ta’riful Inad
2. Sikap 'inad pada masa Rasul
3. Sikap 'Inad salah satu sifat syaitan
4. Dampak 'inad terhadap soliditas tim
5. Masalah saat sekarang
a. 'Inad kepada Allah SWT
b. 'Inad kepada Rasul-Nya
c. 'Inad kepada Pemimpin
MARAJI’
1. Ayat Al-Qur’an tentang 'Inad
2. Al-”Inad fi Tarikh al-ummah al-Islamiyah (Khawarij)
3. Fiqh Shirah
At-tawaddhu’
Kode: 2A05.8 | Sarana: Mabit
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Bersikap tawaddhu’ tanpa merendahkan diri
2. Memahami dan menempatkan sikap tawaddhu’ secara benar dan proporsional
3. Bersikap untuk tidak menjadikan tawaddhu’ sebagai alasan untuk menghindar dari tugas dan kewajiban
4. Memahami bahwa tawaddhu’ adalah sikap rendah hati bukan rendah diri dengan memberikan beberapa contoh kongkritnya
TITIK TEKAN MATERI
Tawaddhu adalah sifat untuk menjauhkan diri dari rasa sombong dan takabbur, serta merasa diri lebih baik dari yang lain. Tawaddhu yang benar dan pada tempatnya akan menimbulkan respek pada orang lain, tawaddhu’ adalah akhlak yang terpuji yang harus disikapi oleh setiap muslim. Dalam konflik yang terdapat unsur interest atau kepentingan (contoh memperebutkan sesuatu). Maka sikap tawaddhu dalam artian menerima realitas dan tidak “ngoyo” akan mudah menyelesaikan permasalahan. Akan tetapi dalam perdebatan yang memerlukan pemikiran, aatau suasana mencari pemecahan dan ide (brainstorming), maka sikap tawaddhu dalam artian tidak mau memberikan ide atau sumbang saran adalaah sikap yang tidak baik.
POKOK-POKOK MATERI
1. Sikap tawaddhu Rasul dan Shahabat.
2. Hakekat tawaddhu’
3. Menyalahgunakan sikap tawaddhu
4. “Hikmah Tawaddhu”
MARAJI’
Figh Shirah Mamarrat II hal: 191
Asy-Syaja’ah
Kode: 2A05.9 | Sarana: Mukhayyam
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Memahami bahwa keberanian adalah bagian dari akhlak Islam
2. Memahami bahwa keberanian dapat ditumbuhkan melalui latihan dan pembinaan
3. Mempraktekan keberanian dalam menghadapi segala tantangan dan rintangan
4. Membiasakan diri untuk selalu berani mengambil resiko dengan matang
TITIK TEKAN MATERI
Rasulullah SAW dan para Sahabat adalah orang-orang yang pemberani. Keberanian mereka ditunjukan dalam rangka membela kebenaran. Keberanian dapat menumbuhkan kebesaran jiwa, rasa percaya diri dan kemampuan mengatasi berbagai hambatan dan rintangan. Dalam hidup untuk mendapatkan sukses memerlukan sikap yang mengandung resiko, sehingga untuk sukses seseorang harus memiliki sikap keberanian. Penerapan keberanian yang benar tidak digunakan untuk membela jalan yang bathil atau mengerjakan pekerjaan yang bathil. Dalam dunia sekarang yang penuh kompetitif, maka sikap berani untuk mengambil resiko menjadi lebih penting. Sikap mengambil resiko sedang sebagai ciri orang yang memiliki motivasi berpersetasi yang tinggi.
POKOK-POKOK MATERI
1. Hakekat keberanian
2. Keberanian Rasulullah
3. Kiat menumbuhkan keberanian
4. Praktek keberanian
5. Hubungan kesuksesan dengan sifat keberanian
MARAJI’
Fiqh Shirah Mamarrat III hal: 177
As-syafaqah
Kode: 2A05.10 | Sarana: Mabit
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Memahami bahwa perasaan yang halus adalah ciri hati seoarang mu’min
2. Menempatkan kehalusan perasaan dalam sikap yang positif, seperti menyayangi anak, santun dalam bicara, dan peka terhadap kesulitan dan perasaan orang lain.
3. Menghindari kehalusan perasaan dalam sikap yang negatif, seperti mudah tersinggung, cepat marah, mudah kecewa dll.
TITIK TEKAN MATERI
Perasaan yang halus dapat membuahkan sikap yang santun, lemah lembut dan kasih sayang. Perasaan yang halus dapat dibentiuk melalui nilai, sarana dan lingkungan pendidikan dan pembinaan, sebagaimana Rasulullah dididik dalam nilai dan lingkungan yang membuat beliau memiliki kehalusan jiwa dan perasaan.
POKOK-POKOK MATERI
1. Perasaan yang lembut dan halus
2. Kelembuatan dan kehalusan hati Rasulullah SAW
3. Kiat menghaluskan perasaan
4. Hikmah bersikap halus
MARAJI’
1. Surah At-Thur ; 52-57
2. Fiqh Shirah
3. Al-Ahadits An-Nabawiyah
4. Khalid Muhammad Khalid, Insaniyat Muhammad,
'Iadatul Maridh
Kode: 2A05.11 | Sarana: Ta’lim
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Memahami bahwa menjenguk orang sakit adalah hak dan kewajiban sesama muslim
2. Memahami bahwa dalam menjenguk orang sakit harus memperhatikan adab dan tata cara sesuai petunjuk sunnah Rasulullah SAW
3. Mengambik hikmah, ibrah dan pelajaran, dan menjadikannya sebagai sarana muhasabah
TITIK TEKAN MATERI
Islam adalah agama yang menjunjung tinggi rasa kemanusiaan. Islam senantiasa mengajak ummatnya untuk saling berbagi rasa, baik dikala suka maupun duka.
Orang yang sedang sakit sebenarnya tidak saja badannya yang sakit, akan tetapi hati dan perasaannya juga sakit. Ada beberapa orang yang takut mati ketika sakit, dan fikiran yang semakin cemas biasanya tidak membantu proses penyembuhan penyakitnya. Sehingga dengan dijenguk, maka akan terjadi proses terapi yang efektif.
Menjenguk orang sakit disamping merupakan ibadah, juga amal kemanusiaan.
Menjenguk orang sakit memiliki adab dan tatacara yang telah diatur oleh syariat. Banyak ibrah dan pelajaran yang dapat diambil ketika sedang menjenguk orang sakit.
Menjenguk orang yang sakit parah juga dapat membuat menjadi lembut hatinya.
POKOK-POKOK MATERI
1. Hubungan antara sakit fisik dan sakit badan
2. Hak da n kewajiban sesama muslim
3. Adab menjenguk orang sakit
4. Hikmah menjenguk orang sakit
MARAJI’
Al-Ahadits An nabawiyah Fiqh Sirah
Adab Al-isti’dzan
Kode: 2A05.12 | Sarana: Halaqah, Taujih khafifah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Komitmen dengan adab meminta idzin
2. Memahami bahwa meminta idzin adalah bagian dari suluk tandzhimi
3. Membiasakn meminta idzin dalam segala hal
TITIK TEKAN MATERI
Meminta idzin sekilas tampaknya sepele, padahal sangat penting pengaruhnya bagi kedisiplinan, keteraturan, kejelasan kabar dan informasi dsb. Hal itu sangat diperlukan dalam kehidupan berjamaah, agar kegiatan dakwah dapat berjalan dengan lancar, terevaluasi dan efektif.
Minta izin adalah simbul komunikasi yang efektif, sementara komunikasi adalah alat yang penting dalam bekerja secara kelompok. Kelompok yang membiasakan minta izin terlebih dahulu, menunjukan pribadi dan kelompok yang solid dan memiliki aturan main.
POKOK-POKOK MATERI
1. Meminta idzin dalam Islam
2. Akhlak para sahabat dalam meminta idzin
3. Ayat Al-Qur’an yang menjelaskan adab meminta idzin
4. Minta izin sebagai skill komunikasi
5. Hubungan minta izin dengan didiplin berjamaah, system dan aturan jamaah dan ketatan pada pemimpin
MARAJI’
Surat At-taubah: 83
2. Surat An-nur ; 62-63
3. Fiqh Shirah
“Irfanul Jamil
Kode: 2A05.13 | Sarana: Taujih & Ta’lim
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Berterima kasih kepada orang yang berbuat baik
2. Membiasakan berterima kasih sekecil apapun kebaikan yang telah diberikan oleh orang lain
3. Menyadari bahwa berterima kasih bukan hanya sekedar dalam ucapan, tapi juga ditunjukan dalam sikap dan perilaku yang menyenangkan orang yang telah berbuat baik kepadanya
4. Memahami bahwa berterima kasih merupakan bentuk penghargaan kepada orang lain
TITIK TEKAN MATERI
Berterima kasih adalah sikap yang menunjukan rasa butuh kepada orang lain dan menjauhkan diri dari rasa angkuh dan sombong. Berterimakasih kepada orang lain seringkali hanya menyangkut kebaikan material duniawi, padahal kebaikan orang yang menyebabkan kita mendapatkan hidayah dari Allah SWT adalah kebaikan moral ukhrawi yang jauh lebih berharga, dan kita patut lebih berterima kasih kepadanya.
Membiasakan berterima kasih sekecil apapun kebaikan yang telah diberikan oleh orang lain. Berterima kasih bukan hanya sekedar dalam ucapan, tapi juga ditunjukan dalam sikap dan perilaku yang menyenangkan orang yang telah berbuat baik kepadanya. Berterima kasih merupakan bentuk penghargaan kepada orang lain
POKOK-POKOK MATERI
1. Makna terima kasih sebagai wujud syukur
2. Sikap dan kebiasaan “mengucapkan terima kasih” pada Rasul SAW dan sahabat.
3. Menghargai kebaikan orang lain
4. Hakekat berterimakasih
5. Hubungan saling mengekspresikan terima kasih dengan kesatuan barisan hubungan antar manusia dalam kelompok atau masyarakat.
MARAJI’
Hayaatusshahabah (kisah Abu Ayyub RA) Fiqh Shirah
Khafdhusshauth
Kode: 2A05.14 | Sarana: Mabit
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Membiasakan diri untuk merendahkan suara
2. Memahmi bahwa Islam mengajarkan adab bersuara, baik dalam berbicara, bercengkrama dan memanggil orang lain
3. Memahami bahwa wanita muslimah dalam bersuara, dibatasi oleh adab dan ketentuan yang ada dalam al-Qur’an
TITIK TEKAN MATERI
Islam sebagai sistim moral menerapkan satu ajaran yang bersifat preventif dalam adab bersuara, yaitu dengan tidak boleh seseorang membiasakan diri bersuara secara berlebihan. Jadi dalam memilih suara kita harus proposianal dimana kita bicara, dengan siapa kita bicara dan apa tujuan bicara kita.
Merendahkan suara untuk memelihara jiwa dan perasaan, serta menjauhkan diri dari fitnah dan syahwat yang ditimbulkannya. Merendahkan suara untuk memberikan kesan tidak emosional. Merendahkan suara memberikan kesan pengharmatan kepada orang yang diaajak bicara. Suara yang terlalu keras tidak dapat didengar dengan baik, jika yang diajak bicara berada di dekatkanya.
POKOK-POKOK MATERI
1. Ma’na merendahkan suara dalam Al Quran
2. Mana tinggi rendahnya suara dalam komunikasi
3. Adab bersuara
4. Perilaku Rasul SAW dalam komunikasi dalam menggunakan suara
5. Suara wanita
MARAJI’
Al-Washaya Al-Ashr Fiqh Shirah
Adab At-tahadduts wal Istima’
Kode: 2A05.15 | Sarana: Mabit / Ta’lim
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Mempunyai kepekaan dalam mendengar
2. Mempunyai kemampuan dalam berbicara
3. Memahami bahwa dalam mendengar dan berbicara ada adab dan tatacaranya dalam Islam
4. Menyadari bahwa mendengar berarti menghargai pembicaraan orang lain
5. Menyadari bahwa berbicara berarti menghargai perasaan orang lain
TITIK TEKAN MATERI
Mendengar dan berbicara adalah alat komunikasi. Pada saatnya kita berbicara, dan pada saat lain kita harus mendengar. Allah SWTmenciptakan manusia dengan dua telinga dan satu mulut agar manusia lebih banyak mendengar daripada berbicara, berbicara sedikit tapi mengena, berkwalitas dan bermakna.
Adab mendengar dan berbicara sangat penting untuk efisiensi dan efektifitas syura. Dalam berakwah sebelum kita berbicara, maka kita harus mendengar terlebih dahulu kondisi realitas lapangan dan masalah-masalah lapangan.
Dalam aplikasinya, mendengar tidak harus dengan telinga, tapi pandai melihat data dan memperhatikan keluh kesah dan saran orang lain. Pada akhirnya ketrampilan mendengar dan berbicara sangat penting dalam berdakwah dan bergaul dengan orang lain.
POKOK-POKOK MATERI
1. Sifat Rasul SAW dalam hal mendengar dan berbicara
2. Adab mendengar
3. Adab berbicara
4. Ketrampilan mendengar
5. Ketrampilan berbicara
MARAJI’
1. Mamarrat I hal: 177
2. Fiqh Shirah
3. Riyadlus Shalihin
Ikramuddhaif
Kode: 2A05.16 | Sarana: Ta’lim
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Memuliakan tamu yang datang ke tempatnya
2. Memahami bahwa memuliakan tamu adalah bagian dari iman kepada Allah SWT dan hari akhir
3. Menyadari bahwa menyenangkan orang lain (memuliakan tamu) itu shadaqah
TITIK TEKAN MATERI
Memuliakan tamu bagi ummat Islam akan membuahkan pahala, karena hal itu merupakan ibadah dan upaya menghidupkan sunnah Rasul, memuliakn tamu dapat dilakukan dengan berbagai cara, menyambutnya dengan penuh riang gembira, mempersilahkan masuk dan duduk, melontarkan senyum, memberinya minum dan menjamunya bila ada keluasan rizki
POKOK-POKOK MATERI
1. Makna memuliakan tamu
2. Tamu-tamu Rasul SAW
3. Sikap Rasul SAW ketika menerima tamu
4. Adab memuliakan tamu
5. Hikmah memuliakan tamu
MARAJI’
1. Fiqh Shirah
2. Ihya Ulumuddin
3. Riyadlus Shalihin
At-Tabassum
Kode: 2A05.17 | Sarana: Taujih / Ta’lim
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Memahami bahwa senyuman adalah shadaqah bila tidak ada unsur maksiatnya.
2. Menyadari meski senyum tampaknya sepele, tapi sangat besar pengaruhnya dalam hati
3. Merasakan bahwa senyum adalah cermin ketulusan hati
4. Membiasakan diri untuk murah senyum (ramah) didepan orang lain
TITIK TEKAN MATERI
Rasulullah Saw senantisa menampikan wajah yang ceria dan mengumbar senyumnya, oleh karena itu banyak orang yang senang dan simpatik kepadanya.
Dalam berdakwah kita harus meyakini bahwa diri kita yang terlihat melalui sikap dan penampilan harus bisa terlebih dahulu diterima oleh orang lain sebelum nilai dan ajaran da’wah kita sampaikan. Sehingga sebelum kita berdakwah maka sikap ramah dan murah senyum sangat penting. Orang yang senyum menunjukkan hatinya sehat, dan tidak mudah stress. Orang yang sress biasanya susah untuk dapat tersenyum. Senyum juga bermanfaat untuk menjaga kesehatan jiwa kita.
POKOK-POKOK MATERI
1. Senyum itu shadaqah
2. Dampak senyum terhadap jiwa dan perasaan
3. Senyum sebagai sarana da’wah
4. Senyum dan kesehatan jiwa
MARAJI’
1. Fiqh Shirah
2. Mamarrat II hal: 103
3. Al-Ahadits An-nabawiyah
4. Riyadlush Shalihin
Raddussalaam (menjawab salam)
Kode: 2A05.18 | Sarana: Taujih, Ta’lim
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Memahami bahwa menjawab salam sesama saudara muslim hukumnya wajib
2. Menyadari bahwa salam bukan sekedar alat sapa melainkan do’a
3. Memahami bahwa menjawab dan mengucapkan salam merupakan sarana hubungan bathin
4. Berusaha untuk mengucapkan salam jika bertemu dengan seorang muslim
5. Selalu menjawab salam jika diucapkan salam kepadanya
TITIK TEKAN MATERI
Ucapan salam dalam Islam berbeda dengan alat tegur sapa lainnya, ucapan salam mengandung do’a keselamatan dan keberkahan. Ucapan sal;am hanya diperuntukkan kepada sesama mu’min dan muslim. Salam juga berfungsi sebagai sarana hubungan hati seseorang. Jika hati sudah berhubungan, maka komunikasi dan urusan akan lancar.
Oleh karena itu, kita harus membiasakan mengucapkan dan menjawab salam tidak bersifat basa-basi atau tradisi. Kita harus menjawab dan mengucap salam harus dengan makna dan dorangan emosi yang dalam. Salam juga dapat digunakan menyambung silaturahmi yang retak. Orang yang tidak bertegur sapa lebih dari tiga hari sangat buruk. Katakan salam dengan: ucapan, jabatan tangan, jabatan tangan yang penuh kemesraan, sentuhan pipi, pelukan yang penuh keikhlasan, dan salam yang diekspresikan “Ada sesuatu yang bisa saya bantu saudaraku?”
Tangan di atas lebih baik dari pada tangan yang dibawah. Menjawab salam hukumnya wajib. Memberikan salam terlebih dahulu menjadi penting dan lebih menunjukkan hati yang bersih.
POKOK-POKOK MATERI
1. Hukum mengucapkan dan menjawab salam
2. Hakikat salam dalam kehidupan
3. Salam sebagai sarana hubungan hati dan ukhuwah
4. Peranan salam dalam menyebarkan budaya Islam
5. Ekspresi salam: ucapan, jabatan tangan, pelukan dan saling memberi dengan sepenuhnya.
MARAJI’
1. Fiqh Shirah
2. Al-Ahadits An-Nabawiyah
3. Riyadlus Shalihin
Mujahadatun Nafs
Kode: 2A05.19 | Sarana: Ta’lim
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Memahami bahwa dorongan hawa nafsu timbul akibat pengaruh anasir material
2. Memahami cara mengendalikan dorongan hawa nafsu
3. Menyadari bahwa hawa nafsu itu seperti anak kecil yang menyusui
4. Mengetahui kedudukan nafsu dalam tubuh diri manusia
5. Memerangi dorongan-dorongan nafsu
TITIK TEKAN MATERI
Hawa nafsu yang ada pada diri manusia adalah qadrat yang hendaknya disalurkan sesuai dengan syariat, hawa nafsu bukan untuk dibebaskan semaunya, tapi untuk dikendalikan dan ditundukan oleh akal dengan bimbingan ruh Islam.
Dorongan hawa nafsu timbul akibat pengaruh anasir material (anasir ardhi) seperti makanan, daya tarik lawan jenis. Untuk mengendalikan dorongan hawa nafsu harus dengan memperkokoh anasir spiritual (anasir samawy) seperti puasa, dzikir. Hawa nafsu itu seperti anak kecil yang menyusui (an nafsu kaaana tiflun). Jika dibiarkan ia akan tetap menyusu, dan jika berhenti ia akan menangis dan kemudian kita tidak tega. Nafsu bila dipaksa berhenti maka ia akan berhenti, oleh karena itu kita harus tegas dengan nafsu. Jangan kita diperbudak dengan nafsu.
Jangan kita jadikan nafsu kita sebagai tuhan kita (QS. 45: 23)
POKOK-POKOK MATERI
1. Hakekat manusia dan nafsu
2. Hawa nafsu dan anasir material
3. Hawa nafsu dan anasir spiritual
4. Pribadi Rasul SAW dalam mengendalikan nafsu
5. Karakter nafsu (an nafsu kana tiflun)
6. Kiat meredam gejolak hawa nafsu
MARAJI’
1. Fiqh Shirah
2. Mamarrat II hal: 133
3. Siid Hawwa, Mensucikan jiwa
Adamul Isyraf: Istihlak al-Mubahat
Kode: 2A05.20 | Sarana: Mabit
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Memahami bahwa dalam hal yang mubah ada batas-batasnya
2. Menyadari bahwa dorongan hawa nafsu bukan hanya kepada yang haram juga kepada yang mubah
3. Membiasakan tidak berlebihan dalam mengkonsumsi yang mubah
TITIK TEKAN MATERI
Ujian bagi orang yang beriman tidak hanya terhadap hal-hal yang haram bagaiman harus dihindari dan ditinggalkan, tatapi juga kepada hal-hal yang mubah bagaimana agar tidak berlebihan, seperti: makan, tidur, bergurau dll. Awalnya kita suka yang mubah. Apabila kita melakukan hal yang mubah secara berlebihan, kemudian tidak mampu mengendalikan maka tidak jarang akan terjebak kepada sesuatu yang melalaikan. Jika manusia sudah lalai, maka syaithan akan mudah untuk menggoda manusia.
POKOK-POKOK MATERI
1. Pengertian mubah
2. Mensikapi hal-hal yang mubah
3. Tidak berlebihan dalam hal mubah
4. Melakukan hal-hal yang mubah akan mendekatkan kelalaian
5. Jiwa yang lalai dan godaan syaithan
MARAJI’
1. Fiqh Shirah
2. AL-Ayat AL-Qur’Aniyah wal ahaadits annabawiyah
3. Sayyid Muhammad Nuh, Al Afaat Ala Thariq,
Ishtishhabu niyyatil jihad
Kode: 2A05.21 | Sarana: Halaqah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Memahami bahwa niat dapat memperteguh kemauan (azam)
2. Meyakin bahwa niat yang sungguh-sungguh akan tetap berpahala meski belum terlaksana
3. Membarengi niat dengan segala persiapannya
4. Selalu menyertakan niat jihad pada setiap amalnya
TITIK TEKAN MATERI
Keinginan seseorang terhadap sesuatu tergantung sejauh mana kemantapan hatinya untuk memperoleh sesuatu itu, itulah yang disebut niat. Niat akan mempengaruhi semangat, kemauan, keteguhan, ketabahan dan optimisme. Niat yang baik harus selalu diiringi karena Allah SWT semata dan keinginan untuk berbuat kebaikan. Niat adalah dasar berpijak (platform), oleh karena itu niat harus kuat, keinginan harus tinggi, kemauan harus idealis. Dalam mencapai keberhasilan yang kita inginkan, maka tidak cukup kita hanya berbekal niat. Niat harus diiringi dengan matangnya manajemen perencana dan manajemen strategi. Untuk itu harus membiasakan berniat, berfikir dan beramal.
POKOK-POKOK MATERI
1. Fiqhunniyah
2. Pahala dari niat
3. Kesempurnaan niat
4. Merapikan niat dengan perencanaan dan strategi pelaksanaan.
MARAJI’
Fiqh Shirah Syarah hadits arbain Annawawy
Ittiba’ sabililmu’minin
Kode: 2A05.22 | Sarana: Halaqah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Berusaha untuk menjadikan dirinya bersama orang-orang yang baik
2. Memahami manfaat dan hikmah bergaul bersama orang-orang yang baik.
3. Menyadari bahwa kepribadian seseorang banyak dibentuk oleh lingkungannya
TITIK TEKAN MATERI
Rasulullah SAW dalam sabdanya menjelaskan bahwa orang yang baik itu seperti penjual minyak wangi yang dapat menularkan semerbak harum kepada orang lain, sedangkan orang yang buruk seperti peniup bara yang hanya menyebarkan abu kotoran kepada orang lain. Rasulullah SAW sewaktu kecil dibesarkan dalam lingkungan yang bersih belum terpolusi oleh pemikiran yang kotor. Kepribadian seseorang banyak dibentuk oleh lingkungannya, oleh karena itu kita harus mampu memilih teman yang baik agar diri kita menjadi baik. Dakwah Islam memberikan warna budaya yang dapat membentuk kepribadian seseorang.
POKOK-POKOK MATERI
1. Hikmah masa kecil Rasul SAW hidup di pedesaan
2. Definisi orang yang baik dalam pandangan Islam
3. Ma’na bergaul dengan orang shaleh
4. Lingkungan sosial membentuk kepribadian seseorang
5. Hikmah berada di lingkungan orang yang baik
6. Dakwah Islam membentuk bi’ah (lingkungan) hasanah
MARAJI’
Fiqh Shirah Risalah at-ta’lim: Alashl 13
Arridha bimaa quddima min at-tha’am
Kode: 2A05.23 | Sarana: Ta’lim
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Menerima dan memakan apa yang disuguhkan dengan penuh keridhaan
2. Memahami bahwa orang yang paling menikmati makan adalah orang yang qana’ah dan ridha
3. Menyadari bahwa makanan apapun asal baik dan halal adalah rizqi dari Allah SWT yang tidak patut dicela
TITIK TEKAN MATERI
Makan adalah ibadah dan berpahala, bila dimaksudkan untuk menguatkan badan agar dapat senantiasa menjalankan ibadah yang lainnya, makan akan membawa keberkahan bila dibarengi dengan rasa qana’ah dan ridha dan disertai dengan do’a sebelum dan sesudahnya
POKOK-POKOK MATERI
1. Sifat qanaah dan ridha
2. Kiat menumbuhkan sifat qana’ah dan ridha
3. Sikap terhadap makanan
4. Sikap qana’ah dan rodha Rasul SAW
MARAJI’
Al-Ahadits an-nabawiyah Fiqh Shirah
Al-Infaq (Quwatul maal)
Kode: 2A05.24 | Sarana: Ta’lim
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Menyumbangkan sebagian hartanya untuk amal Islami
2. Memahami bahwa berinfaq adalah salah satu ibadah maliyah
3. Menyadari besarnya peranan infaq dalam mensukseskan amal Islamy
4. Meyakini fadhilah infaq
TITIK TEKAN MATERI
Infaq dalam ajaran Islam adalah sarana untuk mensucikan jiwa dari hubbudunya. Dengan berinfak seseorang tidak hanya menghabiskan hartanya untuk dirinya sendiri, melainkan direlakan sebagian untuk kepentingan Allah SWT, Rasul-Nya dan jihad di jalanNYA.
Dalam memutar roda dakwah, maka memerlukan biaya. Dalam hidup bersosial kemasyarakatan, karena keperluan dan hajat yang berbeda diperlukan infaq untuk keseimbangan. Infaq untuk menolong seseorang juga merupakan simbul kuatnya ikatan sosial.
Dakwah harus tetap berjalan dan hidup terus. Dalam tubuh diperlukan darah, dalam dakwah ma’na darah adalah uang. Kas dakwah adalah kantong kita sendiri. Ingat, sesungguhnya Allah SWT telah membeli jiwa dan harta orang mu’min, kemudian Allah SWT akan mengganti dengan syurga. 9: 111
Ingat, sukakah kamu aku tunjukkan sebuah perniagaan yang dapat menyelamatkan seseorang dari azab api neraka? Maka berimanlah kamu kepada Allah SWT dan Rasul SAW dan berjuanglah di jalan Allah SWT dengan harta dan jiwamu (QS. 61: 10-11)
POKOK-POKOK MATERI
1. Ma’na quwatul maal dalam Islam
2. Anjuran berinfaq
3. Fadhilah berinfaq
4. Peran infaq dalam amal Islami
5. Quwatul maal dan keseimbangan sosial
MARAJI’
Mamarrat II hal: 49 Fiqh Shirah
Asshabru 'alal musibah
Kode: 2A05.25 | Sarana: Ta’lim
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Bersikap sabar atas segala musibah dan bencana yang menimpanya
2. Memahami bahwa musibah itu datangnya dari Allah SWT
3. Memahami bahwa musibah bagi orang bertaqwa adalah ujian, tetapi bagi orang yang kufur dan fasik musibah adalah teguran dan kemurkaan
4. Mensikapi sabar dengan ikhtiar dan tawakkal, bukan berdiam diri tanpa usaha
TITIK TEKAN MATERI
Ujian, musibah dan cobaan adalah sunnah Allah SWT (al ibtila’ min sunatillah), dan tidak ada perubahan dari sunnah Allah SWT. Dengan ujian Allah SWT akan melihat mana hambanya yang sabar dan mana hambanya yang ingkar.
Sabar adalah sikap hidup yang seimbang, realistis dalam menghadapi masalah tidak bersikap emosional. Sabar yang benar adalah ketika musibah itu terjadi bukan ketika musibah sedah berlalu. Sikap positif seorang mu’min memandang musibah itu datangnya dari Allah SWT. Musibah bagi orang bertaqwa adalah ujian, tetapi bagi orang yang kufur dan fasik musibah adalah teguran dan kemurkaan. Seorang mu’min harus mensikapi ujian, musibah dan cobaan dari Allah SWT dengan sikap sabar dengan ikhtiar dan tawakkal, bukan berdiam diri tanpa usaha.
POKOK-POKOK MATERI
1. Definisi sabar
2. Hakekat sabar
3. Hikmah sabar
4. Hakekat musibah
5. Mensikapi musibah dengan sabar
6. Kesabaran atas musibah dan ujian diri Rasul SAW
MARAJI’
Ibnul Qayyim, 'Uddatusshabirin lil Imam
7. Mamarrat hal: 153-163
8. Fiqh Shirah
Muwaafaqatul aqwaal bil af’al
Kode: 2A05.26 | Sarana: Ta’lim
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu: Menyesuaikan antara perbuatan dengan ucapannya Memahami bahwa perkataan tanpa perbuatan sangat dibenci oleh Allah SWT Mengevaluasi perkataan diri sendiri yang belum sesuai dengan perbuatan
TITIK TEKAN MATERI
Perkataan tanpa perbuatan itu mudah. Ada pribahasa mengatakan lidah tak bertulang, tetapi menindak lanjuti perkataan dengan perbuatan membutuhkan mujahadah. Mujahadah yang tinggi adalah untuk menyatukan apa yang diucap dengan apa yang dilakukan akan melawan berbagai macam godaan dan rintangan, melawan hawa nafsu sendiri. Ulama salafussalih seperti Al-Imam Hasan al-Bashri tidak mau berbicara satu masalah sebelum beliau mengamalkannya. Tetapi ingat, Allah SWT menjanjikan syurga bagi hambanya yang mampu menyatukan antara iman, ucapan dan amalnya. Sehingga semangat untuk terus meningkatkan diri harus selalu dibangun.
POKOK-POKOK MATERI
1. Hubungan antara iman, ucapan dan amal
2. Lisanul maqal
3. Lisanul hal
4. Kemampuan Rasul SAW dalam menyatukan antara iman, ucapan dan amal
5. Kisah Hasan al-Bashri
MARAJI’
1. Ayat Al-Qur’an surat asshaf: 2
2. Dan Al-ahadits an-nabawiyah
3. Fiqh Shirah
Al-quwwatu wal-Amanah
Kode: 2A05.27 | Sarana: Halaqah & Mukhayyam
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Mampu untuk menerima dan memikul beban da’wah
3.
2. Memahami bahwa kekuatan dan amanah merupakan modal untuk istiqamah di jalan da’wah.
4.
3. Bersikap tabah dalam menerima dan memikul segala beban dakwah dan kebaikan
4. Mempersiapkan kekuatan dan amanah dalam segala situasi dan kondisi
TITIK TEKAN MATERI
Pekerjaan untuk berdakwah bukanlah perjalanan di jalan tol yang menggunakan mobil BMW yang ber AC. Perjalanan dakwah penuh dengan tribulasi dan muqtadhayat. Nabi Musa AS mendapat sebutan di dalam al-qur’an sebagai Al-Qawiyyul Amin. Sebutan itu selaras dengan sikapnya dalam menerima dan memikul beban da’wah, khususnya dalam menghadapi kedzhaliman fir’aun, hingga beliau lari ke telaga madyan dan hidup sebatangkara. Dengan kekutan dan amanahnya beliau tetap menyampaikan risalah Allah SWT. Seorang mu’min harus mampu memikul tanggung jawabnya dalam mengemban misi dakwah dan kebajikan umum. Kekuatan dan amanah meruapakan modal untuk istiqamah di jalan da’wah.
POKOK-POKOK MATERI
1. Dinamika dakwah bagi seorang dai
2. Hakekat kekuatan
3. Hakekat amanah
4. Kiat menumbuhkan kekuatan dan sikap amanah
MARAJI’
1. Mamarrat II hal: 49
2. A. Syurbashi, Al Akhlaqul Karimah,
3. Fiqh Shirah
Adab Berkunjung
Kode: 2A05.28 | Sarana: Taujih
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan mampu:
1. Menjelaskan adab berkunjung dalam Islam
2. Memahami ma’na mempersingkat waktu sesuai kebutuhan saat berkunjung
3. Menjelaskan cara berkunjung yang menyenangkan dan berkesan
TITIK TEKAN MATERI
Manusia hidup di dunia ini tidak sendirian. Sering kali manusia saling bersilaturahmi dalam kehidupannya, oleh karena itu sangat perlu kita mengetahui adab berkunjung dalam Islam. Berkunjung yang baik harus mengerti situasi dan kondisi, yaitu khususnya yang berhubungan dengan orang yang dikunjungi. Hal ini agar jangan sampai kunjungan kita membuat tuan rumah tidak dapat menerima sepenuh hati karena timing yang tidak tepat dan kita tidak mengetahu adab berkunjung. Pokok-pokok Pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah: QS 24: 27, 29 ; 33: 53
POKOK-POKOK MATERI
1. Manfaat silaturrahmi
2. Yang harus diperhatikan ketika akan berkunjung
3. Adab berkunjung yang Islami
4. Pengertian dari “Wala musta”nisina li hadits’
MARAJI’
1. Fiqh Shirah
2. Imam Nawawi, Riyadlus Shalihin,
3. Abu Bakar Al Jazairi, Minhajul Muslim,
4. Hasan Ayyub, sSuluk Ijtimaiy,
Memelihara Janji
Kode: 2A05.29 | Sarana: Taujih, ta’lim
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan
1. Memahami kedudukan janji dalam pergaulan manusia
2. Memelihara janji umum dan khusus
3. Memahami karakter orang munafik yang suka ingkar janji
4. Menjelaskan antara nadzar, janji dan komitmen
TITIK TEKAN MATERI
Sering kita berjanji dengan diri kita sendiri atau kita sebut nadzar. Dalam pergaulan antar maanusia sering kali kita memberikan asuransi diri berupa janji atau ikatan-ikatan lain, baik dalam bentuk sederhana maupun yang spesifik. Model janji dapat berupa lisan, tulisan, kontrak kerja dan kesanggupan. Orang yang telah diberikan janji biasanya akan mengharap apa yang telah dijanjikan, sehingga orang yang ingkar janji akan membawa dampak retaknya hubungan dan hilangnya kepercayaan. Oleh karena itu seorang muslim haruslah dapat memenuhi janji dan komitmen-komitmennya dengan orang lain. Janji adalah bentuk muamalah yang penting. Karakter orang munafik yang suka ingkar janji QS 5: 2; 61: 2-3, Hadits tentang 3 ciri orang munafik
POKOK-POKOK MATERI
1. Janji, sumpah, komitmen
2. Bentuk-bentuk janji: ucapan (lisan), tertulis, kontrak kerja yang disepakati bersama dll
3. Kewajiban menepati janji
4. Menepati janji adalah ciri orang muslim
5. Dampak ingkar janji terhadap citra diri
6. Dampak ingkar janji dalam sosial kemasyarakatan dan da’wah
7. Ingkar janji adalah sifat inheren pada diri orang munafik
MARAJI’
1. Fiqh Shirah
2. Ibn Qayyim, Madarijus Salikin,
3. Said Hawwa, Ihya Ulumuddin,
4. Abdur Rahman Hanbalah, Al Akhlaq Al Islami,
Bidang studi:
metode berfikir dn riset
Dawaamut tafakkur
Kode: 2B06.1 | Sarana: Ta’lim
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Senantiasa bertafakkur karena Allah SWT
2. Menjadikan tafakkur sebagai sarana meningkatkan iman dan taqwa
3. Dapat menyebutkan sarana dan media untuk bertafakkur
4. Mengambil 'ibrah dari kegiatan tafakkur, kemudian menuangkannya ke dalam tulisan
TITIK TEKAN MATERI
Dalam surat 3: 191 kedudukan dzikir dan fikir Allah SWT dekatkan. Aktifitas dzikir identik dengan negri akhirat, sedang aktifitas fikir identik dengan negri dunia. Akan tetapi negeri akhirat tidak dapat dipisahkan dengan negeri dunia. Tafakkur adalah potensi berfikir yang Allah SWT berikan kepada manusia untuk dipergunakan dalam rangka meningktakan iman dan taqwa. Tafakkur senantiasa diarahkan untuk tujuan dan kepentingan beribadah kepada Allah SWT, bukan untuk kepentingan hawa nafsu dan bisikan syaitan.
Hasil dari tafakur diharapkan selalu menghasilkan keimanan yang semakin baik, yaitu sebagaimana akhir dari ayat 3: 191, yaitu ekspresi: “Ya Allah SWT tidaklah Engkau ciptakan segala sesuatu itu dalam kondisi yang sia-sia, maha Suci Allah SWT dan jauhkan kami dari api neraka”.
POKOK-POKOK MATERI
1. Hubungan antara dzikir dan fikir
2. Urgensi Tafakkur dalam kemakmuran dan kesuksesan dunia
3. Media dan sarana Tafakkur
4. 'Ibrah Tafakkur
MARAJI’
Manhajuttarbiyah fil qur’an Al Mustakhlas fi Tadzkiratil Anfus
Metode berfikir
Kode: 2B06.2 | Sarana: Halaqah, Pelatihan
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan
1. Dapat mengidentifikasikan permasalahan
2. Mampu menginventarisir ide-ide dan pemikirannya
3. Mampu memformulasikan ide-ide dan pemikirannya
4. Dapat berfikir obyektif (kritis) dan kreatif
TITIK TEKAN MATERI
Manusia adalah makhluk yang paling mulia. Allah SWT memberkahi manusia dengan otak manusia yang luar biasa potensinya. Otak mempunyai dua fungsi utama, yaitu berfikir divergen (kreatif) dan konvergen (kritis atau objektif). Seringkali kita mampu berfikir kesana kemari dan berfikir nglantur untuk mendapatkan ide. Akan tetapi jika kita tidak memiliki ketrampilan untuk memformulasikan ide dalam bentuk kata-kata yang tersusun rapi, tulisan atau konsep yang dapat difahami orang lain maka ide kita kurang baik, dan itu sebuah kegagalan.
Hidup di dunia ini banyak masalah. Kita harus dapat mengidentifikasi apa masalah yang kita hadapi, baru kemudian kita berfikir bagaimana menyelesaikan masalah itu. Pepatah mengatakan fahmu sual nisfu jawab (paham permasalahan adalah separoh dari pemecahan) atau identik dengan the clear of problem is half solution.Kita harus mulai berlatih untuk mampu melakukan brainstorming (curah pendapat). Kegiatan brainstorming merupakan kegiatan mental fikiran untuk menginventarisir ide-ide kita yang berserakan. Ide-ide yang telah dikumpulkan dapat diolah untuk dirumuskan (diformulakan) menjadi gagasan yang lebih baik.
POKOK-POKOK MATERI
1. Otak manusia: Just like sleeping giant (seperti raksasa yang sedang tidur)
2. Mengidentifikasi permasalahan
3. Menginventarisir ide (brainstorming)
4. Memformulasikan ide-ide dan pemikiran: kata-kata, tulisan daan konsep (take note)
5. Memilih ide yang baik
6. Berfikir kritis analitis dan kreatif
MARAJI’
Bibbi DePorter, 1992, Quantum learning Colin Rose, 1997, Accelerated learning for 21st century Karl Albrecht, 1999, Brain power Norman W. Edmund, 1994, Metode Ilmiah SM 14: Agar dapat berhasil dalam kehidupan maupun dalam usaha anda di segala bidang, formula emas untuk pengetahuan abad emas. Solo: Dabara Publishers.
Bidang studi:
belajar mandiri
Membaca cepat (reading speed)
Kode: 2B07.1 | Sarana: Daurah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, seorang peserta dapat:
1. Mengetahui informasi baru dan problematika kontemporer..
2. Membedakan manfaat cara membaca cepat.
3. Menyebutkan tiga manfaat cara membaca cepat.
4. Memenuhi kewajiban membaca minimal 7 jam sehari terutama pada bidang diluar spesialisasinya.
5. Memahami pentingnya membaca
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah: Perintah membaca adalah wahyu yang pertama turun dalam Al Qur'an. Membaca merupakan langkah awal untuk medapatkan informasi dan meningkatkan pengetahuan bagi manusia.
Melalui membaca manusia dapat mengambil analisa atas suatu permasalahan yang ada. Kemampuan membaca yang cepat dapat mencerna banyak informasi dan manfaat lainnya. Karena itu perlu memiliki kamampuan membaca cepat dan tepat dengan metode dan cara membaca yang benar. Titik tekan materi ini ada tiga:
Pertama ; Seseorang harus membaca 7 jam di luar spesialisasinya dalam satu minggu. Waktu 7 jam dalam seminggu mempunyai ma’na tentang berapa banyaknya buku yang telah dibaca akan berbeda setiap orang. Jika ada seseorang yang memiliki ketrampilan membaca cepat, maka waktu tujuh jam sudah menyelesaikan banyak judul buku, demikian juga sebaliknya jika seseorang tidak memiliki ketrampilan membaca maka 7 jam seminggu akan mendapatkan sedikit informasi.
Kedua ; Ma’na 7 jam seminggu juga berarti kita harus merutinkan membaca 1 jam dalam seharinya. Disini diperlukan kebiasaan untuk membaca, yaitu dari reading speed menuju reading habit.
Ketiga ; Membaca diluar spesialisasinya bertujuan untuk memperluas wawasan atau tsaqafah yang dimilikinya. Bagi seorang dai keluasan tsaqafah merupakan kemampuan yang sangat penting sekali. Sedangkan kebutuhan membaca untuk bidang spesialisasinya, maka harus disesuaikan dengan kebutuhan. Bagi mahasiswa tentu berbeda dengan pekerja dalam membaca untuk bidang spesialisasinya.
Dalam membaca ada beberapa hambatan yang menyebabkan kecepatan membaca menjadi lambat. Hambatan membaca cepat seperti: mengeja dalam mulut dan mengeja dalam hati, mata melihat satu persartu huruf dll. Sehingga untuk mempunyai kecepatan membaca yang tinggi maka kita harus menghilangkan kebiasan-kebiasaan buruk dalam membaca.
Kecepatan membaca memang sangat tergantung dengan jenis bacaan yang sedang kita baca.
POKOK-POKOK MATERI
1. Perintah membaca dalam Al Quran
2. Membaca adalah sifat belajar mandiri
3. Membaca untuk peningkatan wawasan
4. Kebiasaan buruk dalam membaca
5. Membaca cepat (reading speed).
MARAJI’
Kathryn Redway, 1994, Membaca Cepat. Jakarta: PT. Pustaka Binaman Pressindo. Laurie Rozakis, 1995. Power Reading In Just 15 Minutes a Day!, USA: Macmillan. Selalu membaca Koran (harian) atau majalah (mingguan atau bulanan) ; khususnya majalah Islam untuk mengetahui informasi terbaru dan problematika kontemporer
Mengisi waktu
Kode: 2A07.2 | Sarana: Daurah, halaqah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan
1. Mengetahui bahwa waktu adalah kesempatan
2. Mengetahui bahwa waktu adalah pedang
3. Mengetahui bahwa hidup adalah proses belajar (learning process)
4. Mengetahui bahwa al waqtu juz’un minal 'ilaj
5. Mampu mengisi waktu-waktunya dengan hal-hal yang bermanfaat
6. Kepekaan lingkungan sosial dan lingkungan fisik
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok Pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah: Makna waktu dalam hidup di dunia adalah kesempatan emas untuk mempersiapkan hari akhir. Sehingga jangan sampai ada sedikitpun waktu yang kita miliki berlalu begitu saja tanpa ada manfaat yang jelas. Oleh karena itu kita harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.
Dengan memahami waktu adalah pedang, maka kita akan lebih berhati-hati dalam memanfaatkan waktu. Hidup adalah proses belajar (learning process), dengan belajar maka kita akan mengetahui banyak hal. Dengan belajar kita akan mampu menyelesaikan problem hidup. Pada akhirnya kita harus mampu secara mandiri untuk mengisi hidup kita kepada hal-hal positif, proses berfikir ini harus secara sadar dari diri sendiri dilakukan untuk hari akhirat, penuh dengan keikhlasan dan penghayatan yang dalam.
Belajar membuat kepekaan lingkungan sosial dan lingkungan fisik, itulah pendidikan yang sebenarnya. QS Al Ashr, QS 18: 103-104, QS 94: 7-8, QS 99: 7-8
POKOK-POKOK MATERI
1. Urgensi waktu dalam Islam
2. Sebab sebab manusia gagal dalam mengelola waktu
3. Hal-hal yang membuat manusia dapat memanfaatkan waktunya
4. Waktu adalah kesempatan
5. Waktu adalah pedang
7. Hidup adalah proses belajar (learning process)
8. Al waqtu juz’un minal 'ilaj
MARAJI’
1. Yusuf Qardlawi, Al Waktu fi hayatil Muslim,
2. Jasim Al Muhalhil, Al Waktu Ammar au Dammar,
Pertemuan Ilmiah
Kode: 2B07.3 | Sarana: Seminar, halaqah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan
1. Memahami pentingnya menambah wawasan keilmuwan melalui pertemuan ilmiah
2. Mengetahui saran pembelajaran mandiri seperti diskusi, seminar, simposium, konferensi dll.
3. Menghadiri seminar serta konferensi yang diselenggarakan oleh ikhwah baik bersifat dakwah, ilmiah daan social.
4. Membentuk tradisi positif pada dirinya berupa cinta ilmu dan sarana untuk memprolehnya
5. Membangun iklim keilmuan dilingkungannya sebagai wasilah untuk meningkatkan kualitas amal dan khidmahnya bagi Islam
6. Mampu menyelenggarakan sebuah pertemuan ilmiah
TITIK TEKAN MATERI
Orang Islam harus maju dan sukses, baik itu sukses dunia maupun sukses akhirat. Setiap ada masalah harus kita selesaikan dengan baik (just in time curicullum), kita harus mampu mengembangkan kurikulum untuk belajar mandiri kita. Ingat, nasib sebuah kaum akan berubah kecuaali kauam itu mau merubaah nasibnya sendiri.
Kita harus mulai mampu mencari sendiri sumber sumber belajar yang mungkin, baik itu melalui: Buku, internet, majalah, jurnal, yang bisa dimanfaatkan. Kita harus mampu memilih sarana belajar mana yang paling efektif untuk mencapai apa yang kita inginkan, yaitu melalui: kuliah formal, pelatihan, diskusi, seminar, simposium, kongres dll.
Kita sudah harus mulai memilih spesialisasi sesuai dengan minat kita. Spesialisasi ini sangat penting untuk kemandirian pemikiran dan kemandirian sikap, pada akhirnya akan membuat kita lebih mandiri dari ekonomi. Dengan belajar mandiri, maka kita akan mendekatkan apa kata teori dengan aplikasi dan manfaatnya
POKOK-POKOK MATERI
1. Urgensi mencari ilmu menurut Islam
2. Sarana pembelajaran: Diskusi, seminar, simposium, kongres dll
3. Sumber belajar: Buku, internet, majalah, jurnal, yang bisa dimanfaatkan
4. Pertemuan Ilmiah: sesuai dengan profesinya dan non profesi.
MARAJI’
Bibbi DePorter, 1992, Quantum learning Colin Rose, 1997, Accelerated learning for 21st century Karl Albrecht, 1999, Brain power Norman W. Edmund, 1994, Metode Ilmiah SM 14: Agar dapat berhasil dalam kehidupan maupun dalam usaha anda di segala bidang, formula emas untuk pengetahuan abad emas. Solo: Dabara Publishers. Wibowo, Bambang, 1999, Learning how to learn: Bahan workshap LMT TRUSTCO.
Bidang studi:
rumah tangga muslim
Hak-hak suami, istri dan anak.
Kode: 2A08.1 | Sarana:
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan mampu:
1. Memahami kewajibannya terhadap orang lain, khususnya keluarga terdekat, dengan senantiasa menekankan kewajiban pada dirinya dan bukan hak.
2. Menerapkan kewajiban-kewajiban rumah tangga dan menjadi teladan bagi anggota keluarga yang lain
3. Menerapkan disiplin, pelayanan dan lapang dada bagi anggota keluarga yang berbuat salah dengan tetap memberikan nasehat dan kasih-sayang.
4. Membiasakan syura dan dialog dalam menyelesaikan masalah rumah tangga dengan tetap berpegang kepada asas kepatutan dan kesopanan.
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok Pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah: Pentingnya penekanan terhadap kewajiban rumah tangga, sehingga setiap anggota keluarga siap menjadi pelayan bagi yang lain. Setiap hak yang diperoleh, seringkali, berbanding lurus dengan kewajiban yang dilaksanakan.
Rumah tangga yang diisi oleh orang-orang yang hanya mementingkan hak-haknya akan mengalami goncangan serta prahara yang sangat fatal. Rasa cinta dalam berkhidmat (melayani) akan melahirkan rumah tangga yang penuh sakinah, mawaddah dan rahmah.
POKOK-POKOK MATERI
1. Dalil-dalil umum tentang hak dan kewajiban berumah tangga
2. Hak-hak suami, istri dan anak
3. Sifat-sifat yang hendaknya dimiliki oleh suami, istri dan anak:
a) Berprasangka baik terhadap anggota keluarga, kerabat dan masyarakat
b) Saling mendoakan (e.g: saat bersin)
c) Berbuat baik dengan urutan sbb.: Adab Islam, Mendekati orang lain, Menolong, Membantu, Memberi, Hadiah, Melayani
4. Urgensi syura dan dialog antara anggota keluarga
MARAJI’
1. Adnan Hasan Shaleh, Masuliyatul-Ab Al-Muslim, Daarul-Mujtama’
2. Abdurahman Habannakah, Al-Akhlaq Al-Islamiyah:: Juz 2, Darul Qalam
3. Sayyid Sabiq, Fiqhussunnah: Juz 2
4. Muhammad Mahdi Istambuli, Tuhfatul-Arus, Al-Maktabul-Islami
Menata rumah dan Bekerja cekatan
Kode: 2A08.2 | Sarana: Materi Halaqah (1) & Pelatihan / Training (4)
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan mampu:
1. Menata rumah dengan baik dan teratur
2. Memahami tentang perlunya hidup teratur
3. Membiasakan diri hidup teratur
4. Membiasakan diri untuk bekerja cekatan
5. Menata rumah dan tempat kerja sesuai dengan adab-adab Islam
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok Pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah: Rumah tangga tempat tinggal harus nyaman dan membuat penghuninya betah untuk istirahat. Bagi suami yang sibuk, maka datang ke rumah dalam kondisi yang rapi adalah menyenangkan. Suami istri dan seluruh keluarga mempuyai andil yang sama besarnya untuk membuat suasana rumah rapi dan teratur.
Bila kehidupan rumah teratur, maka akan dapat meningkatkan kinerja kita. Ketika kita tidak disiplin meletakan barang; kaos kaki atau kunci, maka ketika membutuhkannya kita memerlukan waktu yang lama untuk mencarinya. Ini membuang waktu yang banyak. Jangan sampai karena rumah tidak teratur, berantakan dan anak tidak terawat menjadikan citra seorang dai jadi jelek. Memahami sunnatullah dalam penciptaan alam semesta yang serba teratur ditambah dalil-dalil Al Qur-an dan Hadits seperti; QS Al Ashr dll.
Penataan rumah dan tempat kerja yang Islami memerlukan keteraturan sebagaimana Allah SWT mengajarkan kepada kita bekerja secara teratur dan konsisten. Membudayakan hidup teratur dan bekerja dengan cekatan dengan konsep 5S, yaitu: Pemilahan, penataan, pembersihan, pemantapan dan disiplin (seiri, seiton, sieso, seiketsu dan shitsuke). Bekerja dengan cekatan diperlukan kebiasaan yang baik dan konsisten.
POKOK-POKOK MATERI
1. Managemen rumah tangga
2. Rumah tangga yang Islami serta Penataan rumah dan tempat kerja yang Islami
3. Rumah dan tempat kerja sebagai cerminan budaya Islam
4. Kiat-kiat menata rumah tangga dan tempat kerja yang teratur
5. Kiat bekerja cekatan
6. Konsep kerja 5S, yaitu: Pemilahan, penataan, pembersihan, pemantapan dan disiplin
MARAJI’
Triguno, 1996, Budaya Kerja: Menciptakan lingkugan yang konusive untuk meningkatkan produktivitas kerja. Jakarta: PT Golden Terayon Press.
RUMAH TANGGA MUSLIM
Kode: 2A08.3
Sarana:
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka peserta dapat:
1. Memahami adab-adab Islam di dalam rumah dengan menyebutkan minimal tiga buah contoh.
2. Menerapkan adab-adab Islam di rumah.
3. Memberi contoh secara bijak kepada orang lain yang belum memahami dan menerapkan adab-adab Islami.
4. Membentuk sistem kehidupan rumah tangga yang Islami dengan senantiasa menegakkan amar ma’ruf dan nahy munkar.
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah: Islam ajarannya membawa budaya dan peradaban. Salah satu adab-adab yang terdapat dalam Islam adalah adab di rumah tangga. Beberapa adab Islam di rumah seperti: Anak yang sudah akil baligh dipisahkan tidurnya antara laki-laki dan perempuan dan juga dipisahkan tidurnya dengan orang tuanya. Selain itu seperti adab dari cara berpakaian, makan dan berbicara.
Adab mengharmati orang tua, menyayangi yang muda dan mengasihi yang kecil. Pembahasan tentang pentingnya adab-adab Islam dalam rumah, yaitu agar semua anggota keluarga merasakan kenyamanan, kedamaian dan ketertiban yang akan membuat mereka betah serta terjalin hubungan yang harmonis.
Sebaliknya, apabila adab-adab Islam tersebut tidak dihormati, maka akan berakibat kepada hubungan yang kurang harmonis dan tidak ada kenyamanan dan kedamaian di rumah.
POKOK-POKOK MATERI
1. Definisi Adab Islami dan keutamaannya
2. Beberapa adab Islam: adab makan, bicara, berpakaian, tidur, menonton televisi dll.
3. Bahaya yang timbul jika tidak mengindahkan adab-adab Islami
4. Dalil-dalil atau atsar tentang adab-adab Islami.
MARAJI’
1. Al-Banna, Risalah Ta’lim/: Kewajiban no. 5
2. Riyadlus Shalihin: bab Adab
3. Abu Bakar Al Jazairi, Manhajul Muslim,
Dakwah Keluarga
Kode: 2A08.4 | Sarana:
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta mampu:
1. Termotivasi untuk mendakwahi istri, anak-anak dan kerabatnya
2. Mewarnai rumahnya dengan dakwah Islam
3. Mengajak anaknya untuk berdakwah di jalan Allah SWT
4. Menjaga keluarga dari api neraka
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah: Anak dan istri dapat menjadi teman dan pembela kita di akhirat jika mereka beriman dengan baik, akan tetapi dapat menjadi fitnah atau musuh jika mereka tidak terwarnai oleh dakwah.
Oleh karena itu: “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. Salah satu cara menjaga mereka dari api neraka dengan cara mengajak mereka untuk kearah kebaikan dan menghindari hal-hal yang tidak baik menurut syariat Islam. Untuk tujuan ini maka kita harus selalu semangat melakukan dakwah di rumah tanga kita. Selain di rumah kita harus aktif juga berdakwah di kantor, tetangga dan kerabat kita.
POKOK-POKOK MATERI
Makna keluarga: anak dan istri dapat menjadi musuh dan dapat menjadi penolong.
Menjaga anak, istri dan kerabat dari api neraka
Dak wah keluarga: bil hal
Dakwah keluarga: billisan
Dakwah keluarga: bilquwwah
Ibrah dakwah keluarga Ibrahim
Ibrah dakwah keluarga Imran
Ibrah dakwah keluarga rasul SAW
MARAJI’
Al-Banna, Risalah Ta’lim/ Riyadlus Shalihin Abu Bakar Al Jazairi,
Bidang studi:
manajemen
Shalat dan penataan waktu
Kode: 2B09.1
Sarana:
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan
1. Memahami shalat sebagai penata waktu pribadi muslim
2. Memahami pentingnya shalat dalam kehidupan muslim
3. Membiasakan mendirikan shalat di awal waktu
4. Membiasakan diri tepat waktu
5. Tidak menyia-nyiakan waktu/memanagemen waktu
6. Membuat jadwal harian, pekanan, bulanan dan tahunan
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok Pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah:
1. Shalat adalah pekerjaan yang wajib bagi seorang muslim. Shalat merupakan pekerjaan yang berulang. Sehingga seorang muslim harus mampu mengelola kewajiban ini, sehingga tidak menjadikan shalat sebagai sesuatu kegiatan rutin yang membosankan. Sehingga jadwal shalaat harus dikelola dengan baik. Pelaksanaan shalat harus tepat waktu.
2. Seorang mu’min harus mampu memahami dan menyadari pentingnya dan keutamaan shalat di awal waktu. Dengan kita terdorong mengerjakan shalat dengan baik, maka kegiatan lain juga akan menjadi baik. Dengan shalat yang baik, maka akan melatih diri untuk: tepat waktu, hidup disiplin (al hayatul munadzam).
3. Untuk kedisiplinan dan pengharmatan, maka hendaknya dapat menghentikan kerja/kegiatan ketika azan dikumandangkan
POKOK-POKOK MATERI
1. Disiplinnya shalat Rasul SAW
2. Keutamaan shalat di awal waktu
3. Rahasia ditentukannya waktu-waktu shalat
4. Rahasia diulang-ulangnya shalat
5. Ma’na shalat: tepat waktu, hidup disiplin (al hayatul munadzam).
MARAJI’
1. Fiqh Shirah
2. DR. Yusuf Qardhawi, Al-ibadah fil-Islam
3. Imam Nawawi, Riyadhus-shalihin
4. Imam Al-Mundziri, Targhib wa tarhib
5. Hasan Ayyub, Suluk Ijtima’iy,
Al-indhibat
Kode: 2B09.2
Sarana Halaqah, daurah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan
1. Memahami dan menyadari akan pentingnya disiplin dalam bekerja
2. Membiasakan diri cekatan dalam bekerja, baik di rumah, di kantor dan dalam dakwah.
3. Membiasakan dan melatih diri untuk disiplin, baik di rumah, di kantor dan dalam dakwah.
4. Menjadi contoh dalam kedisiplinan di tempat kerjanya
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok Pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah: Jika kita sudah sadar akan bekerja, apalagi itu pekerjaan bersifat sosial, maka kita akan memahami wasiat yang mengatakan: “Sesungguhnya pekerjaan lebih banyak dari waktu yang tersedia”. Sehingga seorang dai harus dapat bekerja dengan cekatan agar dapat meraih perestasi sebaik-baiknya. Kunci kesuksesan dalam bekerja adalah bekerja dengan terampil (cekatan) dan disiplin untuk selalu mengerjakan pekerjaan kita. Penjelasan tentang urgensi disiplin di segala bidang Memahami bahwa Islam mengharuskan umatnya berdisiplin Kedisiplinan dalam bekerja adalah suatu kewajiban dan akhlaq Islami serta sebagai kiat menyampaikan da’wah Islamiyah dengan amal (bil-hal)
POKOK-POKOK MATERI
1. Arti indhibat (disiplin)
2. Urgensi disiplin
3. Disiplin bagian dari akhlaq Islam
4. Muslim harus disiplin di segala hal dan disegala bidang
MARAJI’
1. Al-iltizam/ Risalah ain
2. Risalah pergerakan/ Hasan Al-Banna
3. Madza ya’ni intimai lil-Islam/ Fathi Yakan
4. Syakhsiyah Muslim, Al Hasyimi
Bidang studi:
bahasa arab
Menulis Al Qur-an Juz 28 dan 29
Kode: 2B10.1 | Sarana: Penugasan
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, seorang peserta dapat:
1. Mampu menulis dengan benar ayat-ayat Al Quran juz 28 dan 29
2. Menulis rasmul bayan dengan baik
3. Memahami ma’na dari kosa kata yang ditulis.
TITIK TEKAN MATERI
Peserta disiapkan untuk mampu menulis dengan tulisan arab. Hal ini disiapkan untuk nantinya dapat berbicara dan menulis arab dengan lancar. Hal yang paling ditekankan adalah perlunya banyak latihan dan latihan untuk membuat tangan terbiasa menulis. Peserta terbiasa menulis naskah-naskah berbahasa Arab dengan memperhatikan benar-salahnya tulisan.
POKOK-POKOK MATERI
Al Quran juz 28 dan 29 Rasul bayan (yang sudah diberikan) Sumber lain
TEKNOLOGI PEMBELAJARAN
1. Meminta kepada peserta menulis Al Qur-an juz 28 dan 29.Satu halaman, satu pekan
2. Periksa tulisan hasilnya pada setiap pekan. Berikan penilain (pujilah)
3. Tujuan pembelajaran ini juga dapat disinkronkan dengan ayat apa yang harus dihafalkan. Jadi menulis, menghafal dan memahami ma’na (kosa kata) dalam satu program yang terintegrasi. Manfaat program ini sangat penting jika ingin mengisi ceramah sejenisnya.
4. Program ini dapat berjalan terus, sehingga mereka menulis arab dengan baik.
5. Hindari sesuatu yang monoton atau pekerjaan yang tidak konsisten sebelum mencapai hasil
MARAJI’
Al Qur-an al Karim Sumber lain (teks arab) yang disiapkan sendiri
Percakapan Sehari-hari
Kode: 2B10.2 | Sarana: Halaqah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, seorang peserta dapat: Membentuk kebiasaan diri peserta untuk bercakap dengan bahasa Arab
TITIK TEKAN MATERI
Percakapan sehari-hari yang mudah dihafal dan di praktikkan misalnya ungkapan basa-basi orang Arab. Sampai dengan ungkapan menyatukan keadaan dan keinginan Dalam pelajaran ini peserta tidak perlu diajarkan grammer tapi diajarkan langsung kalimat dan maksudnya yang berinti pada hafalan
POKOK-POKOK MATERI
1. Percakapan sehari-hari
2. Percakapan dengan teman
3. Kosa kata
4. Latihan
E. TEKNOLOGI PEMBELAJARAN
1. Instruktur membacakan naskah percakapan (peserta menyimak)
2. Instruktur membacakan naskah percakapan (semua peserta mengikuti secar serentak)
3. Instruktur membacakan naskah percakapan (peserta mengikuti satu-persatu) sampai lancara
4. Instruktur menerangkan maksud percakapan
5. Peserta mempraktekkan percakapan
6. Latihan: Luangkan 10-15 menit setiap pertemuan
MARAJI’
1. Al 'arabiyatu linnasiin jilid I dan II
2. Muhadatsah, Jakarta: Al Manar
Bidang studi:
kesehatan dan kekuatan fisik
Polah hidup sehat: fisik
Kode: 2B11.1 | Sarana: Halaqah, seminar atau daurah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini peserta mampu:
1. Melakukan tidur 6-8 jam setiap hari dan bangun sebelum fajar.
2. Melakukan latihan fisik dengan teratur 10-15 menit setiap hari
3. Melakuakn latihan fisik dengan berjalan 2-3 jam setiap pekan
TITIK TEKAN MATERI
Dai adalah pekerja dakwah. Agar bisa melakukan pekerjaannya maka badanya harus sehat. Sehat badan adalah nikmat dan karunia Allah SWT yang luar biasa diberikan kepada hambanya. Untuk itu kita harus bisa mensyukuri agar semakin banyak nikmat itu diberikan kepada manusia. Untuk itu seorang dai harus menjaga kesehatannya dengan penuh kesadaran dan kedisiplinan.
Salah satu upaya menjaga agar sehat yaitu dengan memelihara badan dengan disiplin olah raga. Olah raga pada prinsipnya untuk merenggangkan otot dan memasukkan oksigen yang banyak kepada system peredaran darah. Hasil penelitian menujukkan orang yang sakit umumnya kurangnya kandungan oksigen dalam darah.
Orang akan sehat jika sitem limpatik berfungsi dengan baik. Sistem limpatik akan mampu membuang kotoran (zat kimia) dari dalam tubuh. Sistem limpatik akan berfungsi baik jika kita sering melakukan pernafasan dalam (dengan olah raga dan sejenisnya) dan melakukan gerakan otot. Untuk itu seorang dai harus disiplin melakukan olah raga dan kebiasan hidup seperti: Melakukan tidur 6-8 jam setiap hari dan bangun sebelum fajar, Melakukan latihan fisik dengan teratur 10-15 menit setiap hari dan Melakuakn latihan fisik dengan berjalan 2-3 jam setiap pekan.
Rasakan nafas anda setelah olah raga. Adakah kenikmatan hidup yang berbeda. Sering kali manusia gagal dalam mempertahankan pekerjan yang baik, termasuk olah raga, walaupun dia tahu olah raga itu penting. Kaitkan topik ini dengan pembentukan bidang studi pribadi muslim yang istiqamah dan disiplin. Dalam kuantum learning, belajar akan efektif jika didukung oleh badan yang sehat. Pada pendidikan anak, semua bayi dan anak akan mudah belajar kecuali dia sedang menangis (sakit emosi) dan sakit badan.
POKOK-POKOK MATERI
1. Manfaat sehat bagi seorang dai
2. Manfaat olah raga teratur
3. Manfaat istirahat teratur
4. Latihan olah raga
Strategi pembelajaran
Untuk merangsang bahwa olah raga dan pernafasan dalam itu sangat enak memberikan dampak kebahagian dunia dan keharmonisan hidup:
1. Ambilah anda pasang-pasangan dengan teman dalam kelompok.
2. Kemudian salah seorang tidur terlentang dengan badan lurus (wajah menghadap ke langit). Atur jangan sampai bertabrakan dengan yang lain.
3. Buatlah senyaman mungkin suasana, agar dapat menikmati latihan sederhana ini.
4. Angkat dada yang tidur terlentang dan turunkan. Sewaktu diangkat dada tarik nafas dalam dan sebelum diturunkan nafas harus ditahan. Setelah diturunkan menyentuh lantai nafas baru boleh dikeluarkan.
5. Lakukan kegiatan nomor (4) berulang-ulang, yaitu dengan variasi semakin menambah ketinggian pengangkatan dan waktu menahan saat pengangkatan pada pengangkatan berikutnya. Dan untuk angkatan yang terakhir lakukan agak lama sambil melentur-lenturkan dadanya. (Tarik nafas dari hidung, keluar melalui mulut)
6. Setelah itu ucapkan dalam mulut anda (ekspresikan dalam oral), bagaimana rasanya jika memiliki nafas panjang, adakah perubahan. Nyamankah dan bahagiakah hidup ini.
MARAJI’
Udin Bahaudin, 1999, Brainware Management.
Mengobati Sakit
Kode: 2B11.2 | Sarana: Halaqah, seminar atau daurah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini peserta mampu:
1. Mengobati diri sendiri pada penyakit yang ringan.
2. Bersikap untuk tidak mempergunakan obat tanpa meminta petunjuk
3. Memahami pencegahan itu lebih baik dari pengobatan.
TITIK TEKAN MATERI
Paradigma sehat lebih menekankan pada aspek mencegah daripada mengobati. Pencegahan tersebut dengan cara melakukan olah raga secara teratur, menerapkan gaya hidup sehat dan menghindari gaya hidup yang merusak (termasuk mengkonsumsi obat-obatan sembarangan).
Tetapi jika sudah terjangkit penyakit, maka seseorang harus berobat. Untuk itu seseorang harus mengenal badannya dengan baik. Mengenali tanda-tanda kalau akan datangnya sakit. Kita yang lebih tahu tentang rasanya badan kita. Tingkatkan kepekaan tersebut.
Saat mengobati, jika penyakit itu sederhana maka kita harus mandiri untuk mengobati diri kita, misalnya mengobati dengan istirahat yang cukup atau obat-obat yang telah kita kenal dan sudah direkomendaikan oleh ahlinya. Akan tetapi jika penyakit kita tidak kita kenali, maka mintalah obat pada ahlinya, sambil berdoa kepada Allah SWT untuk kesembuhan penyakit kita.
POKOK-POKOK MATERI
1. Memahami makna paradigma sehat dalam kehidupan sehari-hari.
2. Mengenali tubuh sendiri (nafas, denyut nadi, suhu badan, nyeri dan hal lainnya)
3. Dokter pribadi: Mengenal pengobatan ringan
4. Berobat ke dokter: apa yang harus anda sampaikan, kenali hak anda, mengenal mal praktek
5. Meninggalkan hal-hal yang merusak tubuh.
MARAJI’
Pola Hidup Sehat. Dokter pribadi
Pola makan sehat
Kode: 2B11.3 | Sarana: Halaqah/ pelatihan
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini peserta mampu:
1. Mengerjakan secara rutin untuk membersihkan peralatan makan dan minum sebelum makan
2. Menjauhi makanan yang diawetkan dan mengkonsumsi minuman alami
3. Mengatur waktu-waktu makan dengan baik
4. Menyediakan makanan sehat
5. Dengan penuh kesadaran tidak berlebihan dalam mengkonsumsi makanan: berlemak,garam, gula
6. Selektif dalam memilih produk makanan
TITIK TEKAN MATERI
Rasulullah sewaktu di Madinah dikirimi (hadiah) seorang dokter dari Mesir. Akan tetapi setelah beberapa saat dokter (thabib) tersebut tinggal di Madinah ternyata jarang menjumpai orang sakit. Akhirnya dokter tersebut minta pulang ke Mesir kembali. Namum sebelum kembali ke Mesir dokter tersebut bertanya kepada Rasul SAW: “Wahai Muhammad kenapa orang Islam jarang sakit, dan apa rahasianya?”
Kemudian rasul SAW menjawab: “Adalah ummat ku dia tidak akan makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang.” Rahasia ini menujukkan pola makan yang sehat akan dapat mengindari orang dari sakit. Saat ini hasil penelitian menujukkan angka paling tinggi penyakit yang umum dijumpai adalah:
1- ISPA (infeksi saluran nafas bagian atas),
2- Pencernaan makanan dan
3- Saluran pembuluh darah
Catatan: angka nomor dua dan nomor tiga digabung menjadi paling besar (75)
Dari informasi sederhana di atas, penyebab penyakit paling banyak karena makanan. Sehingga dengan memperbaiki pola makan dan bahan yang kita makan kita akan sehat. Kesehatan yang kita anut bersifat preventif secara makro dan melalui kebiasaan makan. Biaya sehat akan murah bagi yang disiplin memenuhi aturan Rasul SAW. Puasa yang teratur (tidak puasa perut) merupakan alat yang efektif menjaga kesehatan.
Salah satu faktor yang penting untuk membantu dan memelihara kesehatan seseorang adalah makanan bergizi. Gizi makanan sangat menentukan kualitas kesehatan seseorang.
Makanan yang bergizi itu tidak identik dengan makanan yanng mahal. Banyak bahan makanan yang murah tapi mempunyai nilai gizi yang baik. Sehingga menjadi hal yang utama bagi seorang akh untuk mengetahui dan cara menerapkan gizi makanan dalam kehidupan sehari-harinya.
POKOK-POKOK MATERI
1 Pengaruh membersihkan peralatan makan dan minum sebelum makan dengan kesehatan
2- Makanan yang diawetkan
3- Mengatur waktu-waktu makan dengan baik
4- Makanan sehat
5- Bahaya kelebihan makanan yang mengandung: lemak, garam dan gula 6-Selektif dalam memilih produk makanan
MARAJI’
Ilmu Gizi I & II. Pengaruh makanan dalam kesehatan Prof. Hembing W, Makna puasa terhadap kesehatan
Bidang studi:
kependidikan dan keguruan
Motivasi da’wah
Kode materi 2B12.1 | Sarana: Halaqah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Memahami dengan baik, bahwa dakwah pada hakekatnya merupakan dorongan internal dalam jiwa manusia
2. Memiliki mas’uliyah Amal Islamy
3. Termotivasi untuk menyampaikan apa yang dimiliknya kepada orang lain
4. Termotivasi untuk mengajak orang lain kepada kebaikan
TITIK TEKAN MATERI
Manusia pada hakekatnya memiliki “Naz”ah Da’wiyah” kepada ideologi yang diyakini, karenanya da’wah merupakan « motivasi intra personal » dalam diri manusia
Aktifitas da’wah juga didorong oleh faktor eksternal yakni adanya manfat yang diraih baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana aktifitas da’wah dilandasi dengan keyakinan « Fardhiyah Sayr’iyah »
POKOK-POKOK MATERI
1. Manusia dan fitrah
2. Kecenderungan positif negatif pada manusia
3. Hakekat da’wah
4. Fadhail da’wah di dunia dan akhirat
5. Da’wah sebagai Fardhiyah Syar’iyah dan Dharurah Basyariyah
MARAJI’
1. Dr. Abdul karim Zaidan, Prinsip-prinsip da’wah,
2. Dr. Abdullah Yusuf Syadzili, Ad-Da’wah wal Ihsan,
Ketrampilan berdakwah
Kode: 2B12.2 | Sarana: Halaqah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka diharapkan peserta akan mampu:
1. Menjadi dai untuk melakukan Dakwah Al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu anil Munkar (AMNM)
2. Memahami amar ma’ruf dan nahi munkar sebagai tiang penyangga dinul Islam
3. Memiliki ketrampilan dakwah di keluarga dan masyarakat
4. Mengaplikasikan AMNM dengan pendekatan yang efisien, sisitimatis dan efektif
5. Mengetahui kebutuhan topik dakwah
TITIK TEKAN MATERI
Kewajiban seorang muslim yang luar biasa adalah sebagai dai. Pekerjan ini bergengsi karena “titisan” pekerjaan nabi dan Rasul. Untuk mampu berdakwah maka diperlukan ketrampilan berdakwah yang baik. Kegiatan ‘Amal Ma’ruf Nahi Munkar’ adalah salah satu ank panah dari sekian banyak anak panah dinul Islam. Setiap muslim hendaknya memiliki semangat AMNM sebagai bukti komitmennya kepada Islam. AMNM tidak boleh dilakukan secara serampangan, melainkan harus memperhatikan kaidah-kaidah fiqhudda’wah yang baik, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasululoh SAW.
POKOK-POKOK MATERI
1. Menjadi dai untuk melakukan Dakwah AMNM
2. Tujuan (kurikulum) dakwah: Tiang penyangga dinul Islam
3. Ketrampilan dakwah di keluarga dan masyarakat
4. Berdakwah: Pendekatan yang efisien, sistematis dan efektif
5. Ketrampilan berdakwah massa, tabligh dan formal
6. Ketrampilan berdakwah individu dan non formal
7. Analisa kebutuhan topik dakwah
MARAJI’
1. Sayyid Nuh, Taujihat At-tarbawiyah
2. Materi Hadis takwin
3. Jum’ah Amin, Ad Da’wah Qawaid wa Usul,
4. Teknik berpidato
5. Public speaking
6. Panduan untuk juru dakwah: Pelatiahn untuk pelatih
7. Basic training for Trainer
Bidang studi:
fiqh da’wah
Syumuliyyatul Islam
Kode: 2C13.1 | Sarana: Halaqah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, seorang peserta mampu:
1. Memahami pengertian syumuliyatul Islam baik zaman, minhaj dan makani..
2. Mamahami gambaran Islam yang utuh dan lengkap sebagai risalah akhir zaman.
3. Menyebutkan tiga dalil tentang kesempurnaan ajaran Islam dalam Al Qur’an dan Hadits.
4. Menyadari bahwa Islam sistem yang lengkap dan sempurna yang diturunkan Allah SWT sebagai pedoman hidup dan kehidupan manusia sehingga termotivasi untuk memasukinya secara kaffah.
5. Mengamalkan nilai ajaran Islam secara keseluruhan dalam setiap aktifitas kehidupannya minimal sesuai dengan kemampuannya dalam amal harian di rumahnya.
6. Menyadari bahwa Islam adalah risalah da’wah atau missi, berarti ia senantiasa menyiapkan dirinya sebagai da’i dan pembawa misi.
7. Meyakini bahwa Islam adalah agama risalah bagi seluruh NabiNya (mursalin), yang untuk terakhir kalinya dibebankan atas Rasul akhir zaman, Muhammad SAW guna disampaikan kepada semua umat manusia
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah: Islam sebagai risalah yang diemban Nabi Muhammad SAW. menyempurnakan ajaran masa lalu yang dibawa oleh para Nabi. Risalah yang meliputi masa lalu, sekarang dan akan datang yang mencakup seluruh persoalan hidup manusia. Diharapkan peserta dapat meningkatkan wawasan pandangannya bahwa Islam sebagai jawaban atas problematika manusia.
POKOK-POKOK MATERI
Bangunan Islam yang kaffah (QS. 2: 208, 5: 3) Syumuliyatuz Zaman, bagi waktu masa lalu, sekarang atau akan datang (QS. 22: 78, 5: 3) karena Islam sebagai risalah yang satu sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhmmad yang berlaku sepanjang masa (QS 21: 107, 21: 90, 34: 28, 33: 42) Syumuliyatul Minhaj, sebagai aturan hidup yang sempurna, azasnya aqidah(syahadatain dan arkanul iman), bangunannya arkanul Islam, akhlak dan ibadah, penopangnya jihad (QS. 29: 6, 69, 47: 31) dan da’wah/menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar (QS 16: 125, 41: 33) Syumuliyatul makani,(QS 22: 40) karena Sang Pencipta menurunkan risalahnya satu yakni Allah SWT. (QS. 2: 163-164)dan alam semestanya juga satu (QS. 2: 29, 67: 15)
MARAJI’
Referensi Utama:
1. Time Institute, Daurah Thullab: D3 Syumuliyyatul Islam
2. Sa’id Hawwa, Al Islam
3. DR. Yusuf Qardlawi, Menuju Kesatuan Fikrah
4. DR. Yusuf Qardlawi, Karakteristik Umum,
Khilafah
Kode: 2C13.2 | Sarana:
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, seorang peserta dapat:
1. Memahami pengertian khilafah dan kedudukannya bagi kaum muslimin.
2. Menyadari bahwa kehilangan kekhilafahan kaum muslimin berdampak buruk dalam kehidupan kaum muslimin.
3. Menyadari peranan khilafah dalam menegakkan ajaran Islam.
4. Berupaya untuk berperan aktif berda’wah dalam rangka ikut menegakan khilafah.
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah: Kedudukan khilafah sangat penting dalam menunaikan amanah yang diberikan Allah SWT. Sebagai ri’asah dan ri’ayah tegaknya ajaran Islam. Maka dengan hilangnya kekhilafahan berdampak buruk dalam penunaian amanah yang diberikan Allah SWT. Kepemimpinan umat yang hilang ini harus diraih kembali dengan menegakkan unsur-unsur berdirinya kekhilafahan.
POKOK-POKOK MATERI
1. Pengertian khilafah secara bahasa dan istilah serta kedudukannya dalam ajaran Islam.
2. Khilafah sebagai tugas (amanah) kepemimpinan manusia di muka bumi.
3. Peranan khilafah dalam menegakkan ajaran Islam.
4. Unsur-unsur tegaknya kekhilafahan.
5. Khilafah dan persatuan ummat
MARAJI’
1. Hadits babul umara
2. Abul 'Ala Al Maududi, Khilafah.
3. Ibn Taymiyah, Siyasah Syar'iah,
4. Abul hasan Ali An Nadawi Apa Yang Diderita Dunia akibat Jatuhnya Kaum Muslimin,
Marhalah Madaniyah
Kode: 2C13.3 | Sarana:
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, seorang peserta dapat:
1. Memahami marhalah da’wah pada fase madaniyah dengan berbagai karakteristiknya sebagai perjuangan Rasulullah dalam menegakkan dienullah.
2. Menyebutkan lima karakteristik marhalah madaniyah yang berkaitan dengan nilai perkembangan da’wah.
3. Memahami hubungan pola sosial kemasyarakatan sekarang dengan marhalah da’wah tersebut.
4. Membedakan antara marhalah madaniyah dengan marhalah lainnya minimal dua perbedaan yang mendasar.
5. Mengemukakan tiga-contoh sirah dan kehidupan para sahabat mengenai penegakan da’wah yang terjadi dalam fase marhalah tersebut.
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah: Pelaksanaan da’wah memiliki marhalahnya yang setiap marhalah mempunyai karakteristiknya masing-masing. Adapun marhalah madaniyah adalah fase tamkinud da’wah. Fase pengokohan da’wah bagi umat manusia. Fase tersebut bercirikan pada penegakan kaedah bermasyarakat hingga terpolanya tatanan masyarakat yang lebih tinggi lagi. Adapun realisasi marhalahnya adalah dengan mengoptimalkan azas-azas marhalah madaniyah untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang lebih solid.
POKOK-POKOK MATERI
Marhalah Madaniyah dalam da’wah Islam sebagai fase pengokohan da’wah (Tamkinud da’wah) yang dilandasi azasnya adalah:
1. Pembangunan Mesjid sebagai sebuah lembaga sosial dan memfungsikannya dengan optimal sebagai wadah pembinaan umat.
2. Mengokohkan ikatan persatuan dan persaudaraan sesama muslim untuk mewujudkan umat atau bangsa yang bersatu dan kuat.
3. Menetapkan strategi politik ketatanegaraan dengan mengikat semua komponen bangsa sebagai potensi yang memajukan umat dengan melihat azas persamaan hak dan kewajiban sebagai anggota masyarakat
4. Membangun basis sosial umat dan menata hubungan antar komponen masyarakat yang berbeda agamanya kabilah serta jenisnya
5. Pembangunan basis ekonomi, pasar Madinah.
6. Strategi pengokohan ummat: -Defensif-Ofensif-Jihad-Tadlhiyah-Ibadah
Sebagaimana marhalah-harhalah da’wah lainnya, marhalah madaniyah juga mempunyai karakteristiknya, yakni:
1. Pembentukan dan pengokohan kaedah-kaedah kemasyarakatan.
2. Penentuan kaedah teritorial yang kuat dan berwibawa.
3. Memperkuat kemampuan pertahanan, perlindungan dan pengayoman masyarakat untuk memelihara kemashlahatan orang banyak.
4. Penataan pilar-pilar negara yang kokoh.
5. Menyebarluaskan dan menyemarakan nilai-nilai secara sempurna, pola komunikasi dan publikasi.
MARAJI’
1. Time Institute, Daurah Thullab: : M-10 Iqamatuddien
2. Said Ramadhan, Sirah Nabawiyah
3. Munir Ghadhban, Manhaj Haraky
4. Sayyid qutb., Ma’alim Fit Thariq,
Taat kepada qiyadah
Kode: 2C13.4 | Sarana:
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan
1. Siap mendengar dan taat kepada qiyadah, jamaah dan murabbi
2. Selalu meminta pendapat murabbi sebelum melakukan sesuatu yang strategis
3. Mengadukan / memberitahuakan masalah pribadi dan masalah dakwah kepada murabbi
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok Pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah:
1. Memahami arti taat kepada qiyadah (murabbi) dan batasan-batasannya
2. Memahami konsekwensi taat kepada murabbi
3. Membiasakan konsultasi/istisyarah kepada murabbi Semua hendaknya dibuat kondisi logis dan uraian logis:
1. Athi’ullah-Syar’iyyat Tha’ah
2. Athiurrasul-Minhajiatut Tha’ah
3. Ulil amri minkum-Nizhomiyatul Wala’ Dan diisyaratkan tentang keharusan adanya jama’ah (dalam hal ini partai) yang dipimpin oleh qiyadah dan murabbi adalah bagian dari rangkaian qiyadah pada tingkat tertentu (atau murabbi adalah penghubung antara qiyadah dengan junud). Jundi muthiah juga bermakna selalu memberi tahukan masalah dakwah dan pribadi, baik diminta maupun tidak diminta. Sehingga dengan masalah diketahui sejak dini, maka akan mudah terselesaikan dan tidak berdampak luas.
POKOK-POKOK MATERI
1. Mafhum taat
2. Hukum taat kepada Allah SWT, Rasul dan ulul-amri
3. Ciri-ciri taat
4. Jundi muthiah: Selalau memberi tahukan masalah dakwah dan pribadi.
5. Hubungan ketaatan dalam keberhasilan dakwah
6. Keuntungan thaat
MARAJI’
1. Musthafa Masyhur, Bainal-qiyadah wal-jundiyah,
2. Muhammad Sayyid Nuh, Taujihat nabawiyah
3. Sayyid Muhammad, Al-Wakil Bainal qiyadah wal jundiyah
4. Hasan Al-Banna, Risalah pergerakan/
5. Said hawwa, sFushul fil Imrah wal Amir,
Sikap Keberagaman Ummat Islam di Indonesia
Kode: 2C13.5 | Sarana: Halaqah, Seminar
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Memahami corak keberagaman ummat Islam di Indonesia, secara kultural maupun struktural (keorganisasian).
2. Mengaplikasikan Fiqh Da’wah, sesuai dengan segmentasi sikap keberagaman ummat Islam di Indonesia.
3. Menjadi tali perekat berbagai unsur di kalangan ummat Islam dengan prinsip 'bersatu dalam aqidah toleransi dalam masalah khilafiah”.
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah: Di Indonesia terdapat berbagai organisasi kemasyarakatan seperti NU, Muhammadiyah, Persish, Hidayatullah, Persatuan Umat islam (PUI), dll. Dari segi usia ormas-ormas tersebut sudah cukup lama berdiri dengan sejumlah pengikut yang sedemikian banyak bagi seorang da’i. Berbagai macam unsur di atas adalah asset da’wah yang harus didekati dengan cara-cara hikmah dan mauidhatul hasanah, dengan upaya semakin memperbesar persamaan esensial dan memperkecil perbedaan substansial.
POKOK-POKOK MATERI
1. Latar belakang sejarah berdirinya ormas Islam di Indonesia.
2. Perbedaan dan persamaan antar ormas Islam di Indonesia.
3. Fiqhudda’wah dalam mensikapi perbedaan.
MARAJI’
Bidang studi: sirah, sejarah dan pemikiran islam
Mengenal 20 shahabat yang syahid
Kode: 2C14.1 | Sarana: Ta’lim, Halaqah, baca buku.
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan
1. Menguasai beberapa cuplikan dari kehidupan 20 orang sahabat dengan mengetahui perjuangan dan pengorbanannya untuk Islam
2. Meneladani kehidupan para shahabat khususnya yang berkaitan dengan keimanan, loyalitas serta pengorbanan yang mereka berikan untuk Allah SWT dan Rasul-Nya.
3. Membentuk sistem nilai pada dirinya agar terbentuk sebuah pribadi yang istiqamah dan bertaqwa sehingga dapat bersama-sama shahabat mendapat sorga yang dijanjikan Allah SWT
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok Pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah: Setelah mendapatkan matri ini peserta diharapkan mampu meneladani kehidupan para shahabat dan membayangkan kebahagiaan yang akan diperolehnya berupa ni’mat yang besar dan sebaliknya apabila dia tidak mampu mencontoh mereka berarti dia akan tertinggal dan sulit untuk meraih apa-apa yang dijanjikan Allah SWT kepada mereka. Kita perlu mengenal 20 shahabat yang mati syahid melalui 5 hal penting, yaitu: Masa muda (sebelum Islam), Kisah masuk Islamnya, Perjuangan dan pengorbanannya, Kisah kematiannya, Mutiara hikmah yang mereka sampaikan
POKOK-POKOK MATERI
Mengenal lebih dekat 20 Sahabat yang syahid, yaitu dari aspek:
1. Masa muda (sebelum Islam)
2. Kisah masuk Islamnya
3. Perjuangan dan pengorbanannya
4. Kisah kematiannya
5. Mutiara hikmah yang mereka sampaikan Daftar nama shahabat yang dikaji:
1. Shuhaib bin Sinan,
2. Hamzah bin Abdul Muthalib,
3. Khabbab bi Irts,
4. Ja’far bin Abi Thalib,
5. A Zubair bin Al Awwam,
6. Ubad bin Bisyir,
7. Tsabit bin Qais, 8. Suhail bin Amr,
9. Al Bara’ bin Malik,
10. Al Miqdad bin Amr,
11. Mus’ab bin Umair,
12. Sumayah
13. Amar bin Yasir,
14. Zaid bin Haritsah,
15. Zaid bin Khatab,
16. Abdullah bin Zubair
17. Abu Ayyub Al Anshari,
18. Amr bin Jamuh,
19. Abdullah bin Amr bin haram
20. Habib bin zaid
MARAJI’
1. Abd. Rahman Basya.Suarun min hayatis-shahabah,
2. Khalid Muhammad Khalid, Rijal haular Rasul,
3. Shifatus-shafwah
4. Hilyatul-Auliya
5. Siar A’lamun-Nubala
Bidang studi:
dunia islam kontemporer
Probematika kaum muslimin nasional dan internasional;
Kode: 2C15.1 | Sarana: Halaqah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, seorang peserta dapat:
1. Memahami problematika yang dihadapi kaum muslimin nasional dan internasional dan penyebab-penyebabnya.
2. Memahami kendala yang menjadikan kemunduran dunia Islam dan kaum muslimin.
3. Menyadari bahwa menyelesaikan problamatika tersebut melalui pembinaan syakhsyiyah Islamiyah dan kaum muslimin.
4. Menyadari peranan komitmen dengan akhlak, tsaqafah dan risalah Islam dalam membentuk umat Islam yang tangguh.
5. Berupaya mencari solusi atas problema yang dihadapi kaum muslimin.
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah: Problematika yang dihadapi kaum muslimin nasional dan internasional dikarenakan kelemahan dan keterbelakangan kaum muslimin baik dari sisi keilmuan ataupun sisi kejiwaannya. Pembinaan syakhshiyah Islamiyah serta komitmen dengan nilai-nilai Islam merupakan langkah efektik untuk menyelesaikan problematika kaum muslimin. Karena itu tidak ada kata lain kecuali senantiasa bersama-sama melaksanakan pembinaan diri agar terbentuk syakhsyiyah Islamiyah yang kokoh.
POKOK-POKOK MATERI
1. Problematika yang dihadapi kaum muslimin sekala nasional:
a. Eksternal: Peran politiknya yang termarginal, Usaha kristenisasi., Kejumudan dan kejahilan, Kemiskinan & kebodohan.
b. internal: Pertikaian dan perpecahan. Tidak adanya kepemimpinan umat yang menjadi panutan semua, kalangan. Pengangguran, Distribusi ekonomi yang tidak merata Korupsi di kalangan elit pejabat, Militer yang represif, dwi fungsi TNI dll Kembangkan pada topik yang paling actual.
2. Problematika kaum muslimin scala internasional:
Masalah Palestina., Zionisme internasioanal., Tekanan barat pada, Dunia Islam, sehingga melemahkan ekonomi, sosial politik dan lainnya., Hilangnya kekhilafahan kaum muslimin., Perpecahan dan pertikaian., Intervensi pemikiran. Kembangkan pada topik yang paling actual.
MARAJI’
1. Derita kemunduran dunia Islam.
2. Ali Juraisah Ghazwul fikri
3. Yusuf Qardlawi,Agenda permasalahan Ummat
4. Yusuf Qardlawi, Fiqhul Ikhtilaf,
5. Ali Juraisah, Wajah Dunia Islam Kontemporer,
Bidang studi: pemikiran, gerakan dan organisasi pembaruan
Al Afkarul Mu’ashirah
Kode: 2C16.1 | Sarana: Halaqah, seminar, bedah buku.
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, seorang peserta dapat:
1. Memahami pemikiran-pemikiran Islam kontemporer yang baik dan lurus (sejalan) fikrahnya
2. Memahami pemikiran-pemikiran Islam kontemporer yang buruk dan menyimpang fikrahnya
3. Menyadari bahwa pemikiran-pemikiran kontemporer yang negatif yang berupaya untuk mengaburkan ajaran Islam (dilakukan para musuh Islam).
4. Menyadari dampak pemikiran-pemikiran Islam kontemporer yang negatif yang dipropagandakan oleh berbagai sarana.
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah: Peserta difahamkan bahwa arus pemikiran Islam kontemporer. Pemikiran tersebut ada yang baik dan ada yang tidak baik. Ada mereka yang tumbuh sendiri karena gerakan sosial dan semangat keagamaan dan ada yang karena rekayasa untuk mengaburkan nilai-nilai Islam.
Upaya musuh-musuh Islam dengan berbagai sarana yang mereka miliki untuk mengaburkan nilai ajaran Islam yang diemban oleh para nabi. Akibat ketidakpengetahuan kuam muslimin tentang arus pemikiran tersebut berdampak buruk dalam menjalankan ajaran Dienil Islam. Kaum muslimin hendaknya berperan aktif meningkatkan kefahamannya sehingga tidak terjerumus pada pemikiran yang keliru.
Dengan mengenal wawasan ini, maka kita mengenal fikrah mana yang baik dan perlu didukung dan fikrah mana yang perlu dikounter perkembangannnya. Ini semua mempunyai misi dalam rangka izzul Islam wal muslimin. Untuk itu setiap pergerakan harus dikenali dari 6 buah aspek-aspek penting berikut:
1. Macam-macam pemikiran-pemikiran kontemporer yang terjadi di dunia dan dalam negeri.
2. Latar belakang munculnya pemikiran-pemikiran tersebut.
3. Sarana-sarana yang digunakan untuk memprapagandakan pemikiran tersebut.
4. Dampak pemikiran tersebut bagi kaum muslimin.
5. Upaya yang kita lakukan untuk mengkounter pemikiran negatif tersebut.
6. Langkah-langkah konkret untuk bekerjasama antar pemikiran Islam kontemporer yang positif
POKOK-POKOK MATERI
NU, Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad, Syi’ah, Jamaah tabligh, Masyumi, Pergerakan Kartosuwiryo dll
MARAJI’
1. Gerakan Keagamaan dan Pemikiran (WAMY).
Studi empat risalah
Kode: 2C16.2 | Sarana: Bedah buku, halaqah, daurah/workshap
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan
1. Memahami risalah yang dipelajari dan mampu menjabarkannya dengan baik dengan menyebutkan point-point yang penting di dalam risalah
2. Menerapkan kandungan risalah dalam aktifitas kesehariannya, khususnya yang menyangkut da’wah dan pemikiran
3. Membentuk sistem nilai pada dirinya sehingga mampu mengembangkan nilai-nilai yang ada pada risalah tersebut sesuai dengan hajat waqi’
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok Pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah: Hasan Al-Banna tokoh di balik Ikhwanul muslimi. Pada akhir perjalanan dakwahnya beliau menemui RabbNya dengan syahid melalui tembakan. Beberapa cuplikan risalahnya menjawab problematika ummai Islam kala itu. Pada materei ini akan dibahas tentang risalah Dengan materi ini diharapakan seseorang akan termotifasi untuk membaca risalah yang lain dan mempelajari biogra fi imam Hasan Al-Banna.
POKOK-POKOK MATERI
1. Ila ayyi syaiin nad’un-nas (sessi 1)
2. Ilas-syabab (sessi 2)
3. Al-ikhwanul muslimun tahta rayatil qur’an (sessi 3)
4. Al-’aqaid (sessi 4)
Teknologi pembelajaran
Sebagaimana dia dituntut untuk dapat memahami dan menjabarkan risalah yang dipelajarinya melalui da’wah bil-lisan atau bil-hal. Maka penyampaian materi ini hendaknya dilakukan dengan:
1 Membaca seluruh isi risalah,
2 Memfokuskan poin-poin penting yang ada di dalam risalah,
3 Membuat resume dari setiap materi Materi ini dapat dijadikan satu topik satu pertemuan, atau dengan acara daurah, sehingga semua selesai secara bersamaan agar lebih berkesan.
MARAJI’
Imam Hasan Al-Banna, Majmuah Rosail Imam Hasan Al-Banna, 1997, Risalah Pergerakan (terjemahan Majmuah Rasail) jilid I Bab: Kepada Apa Kita Mengajak manusia?Solo: Intermedia
Bidang studi:
perbandingan agama dan aliran keagamaan
Sejarah berdirinya negara israel
Kode: 2C17.1 | Sarana: Seminar, bedah buku, halaqah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan
1. Mengetahui proses berdirinya negara israel dengan menyebutkan poin-poin penting yang melatar-belakangi pendiriannya
2. Membangun permusuhan didalam dirinya kepada orang-orang yang memusuhi Allah SWT, Islam dan kaum muslimin, khususnya bangsa Israel
3. Melakukan perlawanan kepada negara Israel melalui tulisan, ceramah dan membantu bangsa palestina dengan harta dan do’a.
4. Menyadari bahaya yang dilakukan oleh yahudi melalui peperangan bersenjata, media serta sarana lainnya yang akan merusak dan menghancurkan kekuatan umat
TITIK TEKAN MATERI
Kejahatan bangsa yahudi direkam dalam QS Al Baqarah dengan panjang lebar. Yahudi mempunyai sifat yang buruk, hingga kini selalu membuat permusuhan dengan ummat manusia. Yahudi yang selalu bangga dengan ummat pilihan, padahal Allah SWT telah menghinakan beberapa kaum Yahudi menjadi monyet.
Yahudi telah menindas bangsa Palestina dan mengusir bangsa Palestina dari kampung halamannya. Yahudi ingin merebut tanah suci milik ummat Islam, dan berkeinginan merebut masjid Ummat Islam-masjidil Aqsha. Untuk itu kita perlu membangun permusuhan didalam diri kita dengan orang-orang yang memusuhi Allah SWT, Islam dan kaum muslimin, khususnya bangsa Israel. Kita harus melakukan perlawanan kepada negara Israel melalui tulisan, ceramah dan membantu bangsa palestina dengan harta dan do’a. Kita harus menyadari bahaya yang dilakukan oleh Yahudi melalui peperangan bersenjata, media serta sarana lainnya yang akan merusak dan menghancurkan kekuatan umat
POKOK-POKOK MATERI
1. Latar belakang berdirinya negara Israel
2. Sejarah berdirinya negara Israel
3. Tokoh-tokoh penting di balik berdirinya negara Israel
4. Kejahatan bangsa Yahudi terhadap Ummat Islam
5. Rencana bangsa Yahudi untuk menguasai dunia
MARAJI’
1. Habannakah Makayid Yahudiyah, hal. 238
2. M.Nasir, Masalah Palestina, Hudaya
3. Gerakan keagamaan dan pemikiran: Zionisme, WAMY
Kristnisasi
Kode: 2C17.2 | Sarana: Seminar, bedah buku dan Taujih
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan
1. Mengenal sejarah kristiani
2. Mengetahui sejarah terjadinya perang salib
3. Menganalisa bentuk lanjutan perang salib jadida
4. Mengetahui ma’na, target dan sasaran kristenisasi
5. Mengetahui strategi kristenisasi lokal, nasional dan internasional
6. Mengetahui bagaimana Islam dan umat Islam mengatasi masalah kristenisasi
TITIK TEKAN MATERI
Saat ini persoalan kristenisasi menjadi sesuatu yang serius bagi ummat Islam, khususnya di Indonesia. Orang kristiani telah menerapkan berbagai cara untuk memurtadkan ummat Islam. Untuk lebih mengetahui tentang krestenisasi, maka kita harus mengetahui sejarah lahirnya kristiani dan perang salib (hurubus salibiyah).
Dalam perjalannanya perang salib telah berubah dari perang fisik menjadi perang urat saraf dan perang strategi, untuk itu kita perlu mempelajari bentuk perang salib modern. Kita perlu mengetahui ma’na krestenisasi, target dan sasasarannya. Kristenisasi sebagai gerakan anti Islam dan pemurtadan
Setelah mendapat materi ini, peserta akan menyadari adanya permusuhan dari kalangan nashara terhadap Islam dan umat Islam diantaranya melalui kristenisasi.
POKOK-POKOK MATERI
Pertarungan (shira’) antara haq dan batil berlaku sepanjang masa. Al Qur-an telah menegaskan bahwa kelompok nashrani tidak akan rela sampai kaum muslimin mengikuti millah mereka (QS 2: 120) Salah satu sarana yang digunakan oleh mereka untuk maksud ini adalah melalui kristenisasi
1. Sejarah kristiani
2. Sejarah terjadinya perang salib
3. Perang salib modern
4. Ma’na, target, strategi dan sasaran kristenisasi kristenisasi lokal, nasional dan internasional
5. Mengetahui strategi Taujih tentang pertarungan antara haq dan batil
6. Dalil serta langkah-langkah kongkret mengkounter / membongkar kristenisasi
MARAJI’
1. Ensiklopedi gerakan, aliran WAMY
2. Dewan Dakwah Islam Indoensia (DDII), Fakta dan Data kristenisasi di Indonesia
Bidang studi:
tata sosial kemasyarakatan
Memberi hadiah kepada tetangga
Kode: 2D18.1
Sarana:
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan
1. Memahami kemuliaan posisi tetangga dan kewajiban berbuat baik kepadanya dengan mengindahkan wasiat Rasulullah SAW.
2. Memperhatikan tetangganya dengan memberi hadiah dan membantunya ketika menghadapi kesulitan
3. Membangun lingkungan yang sehat dan harmonis dengan saling berkunjung dan bertemu antara tetangga dan bekerja sama dalam menghadapi masalah-masalah sosial
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok Pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah: Indahnya ajaran Islam ketika mengatur kehidupan antara tetangga. Setiap anggota masyarakat memiliki perhatian dan kasih sayang terhadap tetangganya dengan memberikan hadiah, membantu ketika susah, memberikan ucapan selamat pada momen-momen tertentu dan kegiatan lainnya yang positif dan konstruktif. Ancaman Islam serta bencana yang akan dialami oleh orang yang tidak mempedulikan atau menyakiti tetangganya, baik di dunia ataupun di akhirat.
POKOK-POKOK MATERI
1. Dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Hadits tentang keutamaan tetangga
2. Hak-hak tetangga
3. Ancaman bagi yang menyakiti tetangga.
4. Membangun hubungan sosial kemasyarakatan dengan tradisi hadiah
MARAJI’
1. Abdurrahman Habannakah: Al-Akhlaq Al-Islamiyah: Juz 2 hal. 59-64
2. Al-Banna Risalah Ta’lim: Kewajiban no. 13
3. Hasan Ayyub Suluk Ijtimaiy,
Sillaturrahmi
Kode: 2D18.2 | Sarana: Ta’lim
TUJUAN INSTRUKSIONAL
1. Menyambung persaudaraan (Sillaturrahmi)
2. Memahami bahwa persaudaran adalah kebutuhan fitrah manusia
3. Membagi persaudaraab dalam beberapa aspek, seperti senasab seketurunan, sebangsa setanah air dan seiman seperjuangan
6. Meyakini bahwa silaturrahmi dapat membuka pintu kebaikan dan keberkahan
TITIK TEKAN MATERI
Tanpa saudara kehidupan manusia terasa kurang sempurna, fitrah manusia menyukai persaudaraan, jalinan persaudaraan ada yang terbentuk oleh ikatan kemanusiaan dan kebangsaan, ada juga yang terbentuk oleh ikatan iman, itulah persaudaraan Islam yang bertumpu pada sillaturrahmi, hubungan kasih sayang yang dilandasi saling mencintai karena Allah SWT.
POKOK-POKOK MATERI
1. Bersaudara adalah fitrah manusia
2. Macam-macam persaudaraan
3. Hikmah sillaturrahmi
MARAJI’
1. Abdurrahman Habanakah, Al-Akhlak al-Islamiyah
2. Ihya 'Ulumuddin
Husnul Jiwar
Kode: 2D18.3 | Sarana: Ta’lim & halaqah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini maka peserta akan mampu:
1. Menjalin hubungan baik dengan tetangga Memahami hak dan kewajiban bertetangga
2. Mengerti arti pentingnya menjalin hubungan bertetangga bagi kelancaran dakwah Mempraktekan hubungan baik dengan tetangga, melalui tegur sapa, ta’aruf, saling memberi hadiah, saling menolong dsb.
TITIK TEKAN MATERI
Allah SWTdalam firman-Nya mrnyatakan bahwa ummat Islam adalah sebaik-baik ummat, yang diperuntukkan bagi seluruh manusia, tidak pandang ras, golongan maupun agama, sehingga keberadaannya selalu bermanfaat bagi orang lain, dalam skala mikro manfaat itu diwujudakan dalam jalinan hidup bertetangga, baik tetangga muslim maupun non muslim.
POKOK-POKOK MATERI
1. Hablun minannas
2. Islam sebagai rahmatan lil 'Alamin
3. Hak dan kewajiban tetangga muslim dan non muslim
MARAJI’
Hadits Arbain no 15, Ihya 'Ulumuddin
Pelayanan Umum
Kode: 2D18.4
Sarana:
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan
1. Memahami urgensi membantu orang lain baik dalam melaksanakan kebaikan atau menjauhi keburukan
2. Menjadi teladan dengan berinisiatif melakukan berbagai kebaikan yang berguna bagi orang lain
3. Membentuk citra diri yang positif sehingga setiap orang yang melihatnya akan teringat akan sikap serta perilakunya yang baik.
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok Pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah:
Peserta ditumbuhkan semangat berkorban dan memberi kepada semua orang. Karena orang yang senantiasa berfikir untuk memberi akan memiliki hubungan yang luas dan dicintai oleh banyak orang. Sebaliknya apabila seseorang hanya berfikir untuk menerima maka dia akan sering mengalami kekecewaan dalam hidupnya.
Sesuatu yang diberikan kepada orang lain tidak mesti berupa barang atau sesuatu yang berbentuk materi. Dia bisa juga berupa ide, gagasan, tenaga atau do’a.
POKOK-POKOK MATERI
1. Dalil-dalil tentang urgensi serta fadlilah memberi dan melayani
2. Memberikan sesuatu yang dimiliki berupa uang, barang, fikiran, tenaga atau do’a, khususnya kepada yang membutuhkan.
3. Mendorong orang lain berbuat baik dan mencegah mereka berbuat jahat
MARAJI’
1. Abdurrahman Habanakah, Al-Akhlak al-Islamiyah: Juz 2 hal. 371-455
2. Al-Banna, Risalah Ta’lim: Kewajiban no. 12
3. Hasan Ayyub, Suluk Ijtimaiy,
Bidang studi:
perundang-undangan
Al Khashaisul Amal Syar’iyah.
Kode: 2D19.1 | Sarana: Seminar, ta’lim, halaqah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, seorang peserta dapat:
1. Membentuk orientasi yang positif bahwa syariah Islam memiliki karakter yang transendental namun tetap bercirikan logis (rasional), moralitas, realitas dan universalitas.
2. Menumbuhkan keberanian dan percaya diri dalam menanamkan konsep tatanan Islam secara universal dan integral pada tataran peraturan-peraturan formal maupun bidang sosial masyarakat.
TITIK TEKAN MATERI
Materi ini menekankan terhadap 6 aspek yang merupakan karakter dan ciri-ciri umum syariah Islam; bahwa Syariat Islam transendental oleh karenanya agar tidak terjadi kesenjangan dengan kehidupan, ia harus mempertimbangkan aspek-aspek sbb.: Aspek kemanusiaan, Aspek moralitas, Aspek universalitas, Aspek kesesuaian-keserasian dan Aspek realitas.
POKOK-POKOK MATERI
1. Karakteristik dan ciri-ciri Syariat Islam.
2. Ciri moralitas dari syariat Islam.
3. Ciri realitas dari syariat Islam.
4. Ciri kemanusiaan dari syariat Islam.
5. Ciri universalitas dan keserasian dari syariat Islam.
MARAJI’
Yusuf Qardlawi, Pengantar Study Syariat Islam (Madkhal lidirasatil Syariatil Islam),
Bidang studi:
sistim politik dan hubungan internasional
Sistem Politik
Kode: 2D20.1 | Sarana: Halaqah, seminar, diskusi
TUJUAN INSTRUKSIONAL
1. Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan:
1. Memahami pengertian politik sebagai sebuah sistem
2. Menguasai unsur-unsur yang membangun sistem politik
3. Membedakan sistem politik yang fungsional dan disfungsional.
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah: Materi ini menekankan pada pemahaman politik sebagai sebuah sistem yang hidupnya tergantung pada fungsi analisasi unsur-unsurnya.
POKOK-POKOK MATERI
1- Pengertian sistem politik. 2- Unsur-unsur sistem politik 3- Sistem fungsional 4- Peranan sistem politik dalam mebangun sistem sosial
MARAJI’
1. Abdul Qadir Abu Faris, Sistem Politik Islam,
2. Abul A’la Al Maududy, Sistem Politik Islam,
3. David Eston, Sistem Politik,
4. Varma, Politik modern,
Pengertian dan Ruang Lingkup Politik: Hak-hak manusia dan Politik
Kode: 2D20.2 | Sarana: Halaqah, seminar, baca buku
TUJUAN INSTRUKSIONAL
1. Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan mampu:
1. Memahami hak-hak asasi manusia ; khususnya yang datang dari Allah SWT
2. Membedakan beberapa pemahaman tentang HAM.
3. Mengetahui garis besar undang-undang tentang HAM
4. Menguasai upaya-upaya yang harus dilakukan dalam memperjuangkan dan mempertahankan HAM
TITIK TEKAN MATERI
Hak asasi manusia atau HAM adalah hak seseorang yang dimiliki sejak lahir. Oleh karena itu hak tersebut sudah dibawa sejak lahir. Hak tersebut tidak boleh direbut begitu saja. Sedangkan hak khusus yang datang dari Allah SWT adalah manusia mengabdiakan diri dan beribadah. Akan tetapi dalam implemetasi pemahaman HAM mengalami perbedaan cara pandang dan definisi, oleh karena itu perlu memiliki wawasan tentang berbagai definisi HAM. Di Inddoensia sendiri telah terbit UU yang mengatur tentang HAM.
POKOK-POKOK MATERI
1- Beberapa hak azazi manusia.
2- Beberapa pemahaman atas HAM.
3- Perjuangan merebut dan memperjuangkan HAM
4- Garis besar isi Undang-Undang tentang HAM di Indonesia.
MARAJI’
1. Yusuf Qardhawi, Fiqhud Daulah-.
2. Deliar Noor, Pemikiran-pemikiran Politik,.
3. Miriam Budiarjo.Pengantar Ilmu politik,
Bidang studi:
ekonomi
Memperbaiki produk dan membangun pasar
Kode: 2D21.1 | Sarana: Halaqah, daurah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan
1. Memahami pentingnya menjaga dan meningkatkan kualitas sebuah produk dengan selalu membaca kebutuhan pasar dan selera masyarakat yang menjadi konsumen
2. Memahami pentingnya membangun pasar yang kuat, di antaranya, dengan menjaga harga yang ideal, tidak terlalu murah yang berakibat rusaknya pasar dan tidak terlalu mahal yang berakibat sepinya pembeli
3. Menerapkan etika Islam dalam memproduksi barang dengan mengandalkan kualitas bukan harga.
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok Pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah:
Peserta dapat mehahami dengan baik akan pentingnya menjaga mutu barang yang diproduksi (dan dipasarkan). Penekanan ini sangat sesuai dengan arahan Islam yang senantiasa menekankan umatnya pada amal yang mutqin dibanding memperhatikan hasil.
Untuk menjaga produksi agar tetap bekerja diperlukan pendukung lain berupa pemasaran. Di antara kesuksesan pemasaran, harga barang yang ditawarkan dapat dijangkau oleh konsumen. Makanya, setiap kader perlu diingatkan akan hadits Rasul yang artinya kira-kira, “Semoga Allah SWT merahmati seseorang yang samhan (toleran) ketika menjual (barangnya) dan samhan ketika membeli”.
POKOK-POKOK MATERI
1. Urgensi memproduksi barang, khususnya yang berkaitan dengan hajat orang banyak
2. Kiat-kiat meningkatkan kualitas barang yang diproduksi
3. Beberapa kebutuhan masyarakat yang mendesak diproduksi oleh kalangan umat
4. Menentukan harga yang ideal dan rasional
5. Peesan-pesan Islam yang berkaitan dengan produksi dan perdagangan
MARAJI’
1. Al-Banna, Risalah ta’lim: Wajibat no. 17, 21
2. Al-Banna, Nizham iqtishadi: hal. 260, 264, 265, 267
Bekerja dan berpenghasilan
Kode: 2D21.2 | Sarana: Halaqah, daurah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan
1. Menyadari kewajiban bekerja dan berpenghasilan dengan memilih pekerjaan yang sesuai dengan kecenderungan dan spesialisasinya.
2. Melaksanakan pekerjaannya dengan penuh amanah serta ridha dengan penghasilan yang sedikit
3. Menjadi teladan yang baik dalam bekerja dangan menerapkan disiplin dan profesionalisme
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok Pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah: Tumbuhnya kesadaran peserta akan pentingnya bekerja yang menghasilkan uang agar tidak keliru dalam memahami ma’na tawakkal serta tidak patalis. Juga mengutamakan pekerjaan yang tidak mengikat dan sebisa mungkin tidak berambisi menjadi pegawai negeri. Pentingnya amanah serta profesionalitas dalam bekerja sehingga memberikan dampak positif bagi da’wah dan orang-orang yang trlibat dalam da’wah.
POKOK-POKOK MATERI
1. Dalil-dalil tentang kewajiban bekerja dan berusaha
2. Mendahulukan pekerjaan yang tidak terikat
3. Tidak berambisi menjadi pegawai negeri
4. Menjaga amanah, disiplin serta profesionalitas dalam bekerj
MARAJI’
1. Al-Banna, Risalah Ta’lim: Kewajiban no. 15-16-17
2. Al-Banna, An-Nizham Al-Iqtishadi: Al-amal 'ala kulli qadir
3. Ekonomi Rumah Tangga
Spesialisasi pada bidang tertentu
Kode: 2D21.3 | Sarana: Halaqah, daurah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan
1. Memahami luasnya bidang kerja dan pentingnya spesialisasi pada bidang tertentu dengan mendalami kecenderungan yang ada pada dirinya atau meminta masukan kepada wajihah yang bertanggung jawab tentang bidang-bidang yang masih kering dan penting
2. Menerapkan spesialisasi yang dimilikinya dalam upaya mendukung kerja da’wah serta tanggung jawab rumah tangga dengan menjalaninya secara serius dan tekun
3. Membentuk karakter diri yang berdisiplin dan profesional dengan senantiasa mementingkan kewajibannya dan meminta hak-haknya secara bijaksana.
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok Pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah:
Setelah mendapatkan materi ini peserta diharapkan mampu mendeteksi kecendrungan diri serta kemampuan ilmiyah dan iqtishadiyahnya sehingga dapat berkiprah bagi da’wah, masyarakat dan keluarganya dengan baik. Dia perlu diingatkan tentang strategi Rasulullah yang sangat memperhatikan spesialisasi pada setiap sahabatnya dengan menunjuk sebagian mereka untuk mendalami bahasa asing (Zaid bin Tsabit belajar bahasa Suryaniyah) dan bidang lainnya.
Kondisi sekarang ini sangat membutuhkan Spesialisasi di berbagai bidang, apatahlagi ketika da’wah ini sudah terang-terangan berkiprah di masyarakat, baik melalui lembaga partai atau lembaga sosial dan keagamaan.
POKOK-POKOK MATERI
1. Realitas masyarakat dan tuntutan berkiprah di berbagai bidang kehidupan
2. Disiplin ilmu yang harus dikuasai oleh jama’ah sebagai sebuah lembaga
3. Bidang-bidang kerja yang masih langka dan penting
4. Spesialisasi sebagai sebuah tuntutan dan kebutuhan
5. Beberapa kiat menjadi seorang spesialis
MARAJI’
Al-Banna, Risalah ta’im: Wajibat no. 14, 17, 18 dan 21
Etika membelanjakan harta
Kode: 2D21.4 | Sarana: Halaqah, daurah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan
1. Memahami cara mengelola harta yang benar. Dia tidak boros serta konsumtif. Tidak sering membelanjakannya untuk kebutuhan sekunder apalagi tertier. Begitu pula tidak kikir dan terlalu mengirit. Dia hanya membelanjakannya untuk urusan yang benar dan tidak menyalahi syariat.
2. Mengutamakan produk-produk Islam ketika berbelanja dan tidak membelinya di toko-toko non muslim meskipun harganya lebih murah.
3. Mengkondisikan diri dan lingkungannya untuk konsisten dengan adab-adab Islam dalam mengelola harta dan membelanjakannya
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok Pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah:
Peserta menyadari pentingnya masalah ekonomi dalam kehidupan umat dan di antara realisasinya dia harus berlaku hemat dengan tidak melakukan pemborosan atau kikir. Di samping itu, setiap uang yang berpindah tangan harus dihindari jatuhnya ke tangan kalangan non muslim. Di samping itu, untuk mendukung basis ekonomi umat, setiap produk yang dikonsumsinya benar-benar diproduksi oleh umat Islam.
Untuk menambah ilustrasi dalam masalah ini, ada baiknya menurunkan kisah umar bin Abdul Aziz yang ketika ditanya oleh mertuanya tentang nafkah yang dia berikan kepada istrinya, beliau berkata bahwa nafkahnya berupa kebaikan yang berada antara dua keburukan
POKOK-POKOK MATERI
1. Mengelola harta secara efisien dan produktif
2. Kebutuhan hidup manusia, primer, skunder, tersier
3. Mengutamakan produk umat Islam
4. Tidak berbelanja kepada non muslim
MARAJI’
1. Al-Banna, Risalah Ta’lim: /wajibat no. 4, 19, 20, 22, 23
2. Al-Banna, Nizham iqtishadi:: hal. 268
3. Ekonomi Rumah Tangga
Mengetahui Urgensi Khilafah dan Kesatuan Kaum Muslimin untuk Membangun ekonomi
Kode: 2D21.5 | Sarana: Halaqah, daurah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan
1. Memahami kejayaan dan kemunduran khilafah.
2. Memahami upaya-upaya untuk menegakkan khilafah.
3. Memahami peranan khilafah terhadap perbaikan sector ekonomi ummat
4. Memunduran umat setelah khilafah (ekonomi)
5. Peran khilafah dalam mengatasi krisis ekonomi global.
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok Pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah:
Problema ekonomi disebabkan ketidak adilan dalam tata ekonomi internasional. Problem ini muncul karena tidak adanya persatuan kaum muslimin / khilafah. Kerjasama-kerjasama ekonomi telah dirintis seperti OPEC, OIC. Usaha tersebut telah dimulai tetapi menunjukkan dampak yang cukup berarti, khilafah perlu diupayakan untuk mengatasi krisis konomi.
POKOK-POKOK MATERI
1. Kejayaan dan kemunduran khilafah: Kemunduran umat setelah khilafah (ekonomi)
2. Peran khilafah dalam mengatasi krisis ekonomi global.
3. Menegakkan khilafah kembali: Membangun kekuatan ekonomi internasional
MARAJI’
Menuju... Ide-ide Partai Refah, Gerakan Negara D7
Problematika Ekonomi Kaum Muslimin Nasional dan Internasional
Kode: 2D21.6 | Sarana: Halaqah, daurah
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan
1. Memahami problematika kaum muslimin nasional maupun internasional.
2. Memiliki gambaran tentang visi pembangunan umat Islam.
3. Memulai langkah-langkah untuk melakukan perbaikan di kalangan internasional
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok Pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah:
Peserta memahami problematika umat itu sangat kompleks baik dalam bidang pemahaman keagamaan, sosial, budaya, ekonomi, politik dan militer. Problem ini tidak hanya berskala nasionall tetapi juga internasional. Untuk manyalesaikan problem ini berbagai penekatan telah digunakan oleh masing-masing pergerakan Islam. Ada yang bersifat struktural dan konfrehensif.
POKOK-POKOK MATERI
Problematika kaum muslimin nasional maupun internasional. Visi pembangunan umat Islam. Langkah-langkah perbaikan ekonomi di kalangan internasional
MARAJI’
1. Fiqhul Waqi’
2. Perangkat-perangkat Tarbiyah Ikhwanul Mslimin
3. Krisis Ekonomi Indonesia
4. Platform dakwah (hizbi)
Etos Kerja Muslim dan da’wah
Kode: 2D21.7 | Sarana: Daurah /seminar
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan
1. Memahami bahwa ekonomi rumah tangga sebagai pilar da’wah
2. Memahami bahwa kuatnya iman berhubungan erat dengan kemauan bekerja;
3. Memahami bahwa salah satu penyokong kekuatan kepribadian individu dan masyarakat Islami adalah dengan melalui kuatnya perekonomian yang sesuai dengan risalah Islam;
4. Mempunyai etos kerja yang tinggi dan kemauan mencari peluang pekerjaan dan usaha (tidak malu kerja apapun yang halal);
5. Memahami bahwa Islam memerintahkan umatnya untuk bekerja secara prefesional (adil dan ihsan);
6. Mempunyai pemahaman bahwa kuatnya perekonomian besar pengaruhnya terhadap tingkat kemajuan peradaban individu dan masyarakat;
7. Mempunyai pemahaman bahwa kuatnya perkekonomian merupakan salah satu sarana pernunjang kesuksesan da’wah.
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok Pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah:
1. Memberikan pemahaman bahwa kuatnya iman harus ditunjukkan dengan kemauan untuk bekerja atau berprofesi;
2. Memberikan wawasan dan pemahaman tentang pentingnya peningkatan kemampuan dan wawasan diri;
3. Memberikan wawasan dan pemahaman tentang pentingnya peranan ekonomi dalam rumah tangga, masyarakat, dan da’wah;
4. Memberikan motivasi untuk selalu meningkatkan kualitas pekerjaaan dan kamampuannya bekerja;
5. Memberikan pemahaman tentang pentingnya ekonomi yang kuat dalam diri dan masyarakat, serta sebagai salah satu wasilah dan penunjang da’wah..
POKOK-POKOK MATERI
1. Kewirausahaan (entrepreneurship);
2. Etos kerja dan kemajuan masyarakat;
3. Ekonomi rumah tangga dan da’wah;
4. Perhitungan keuangan rumah tangga muslim;.
MARAJI’
1. DR. Husein, Syahatah Ekonomi Rumah Tangga Muslim,, GIP, 1998;
2. DR. Yusuf Qardhawi, Peran nilai dan moral dalam perekonomian Islam,, Rabbani Press, 1997;
3. Hasan Al-Banna, Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin,, Intermedia, 1997.
Bidang studi:
seni dan budaya
Perbandingan Sejarah Seni (Barat, Timur dan Islam)
Kode: 2D22.1 | Sarana: Apresiasi Seni
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan:
1. Menumbuhkan dan mengembangkan Seni Islam
2. Memahami sejarah dan perkembangan seni (Barat, timur dan Islam)
3. Memahami visi, misi dan orientasi seni barat yang berpusat pada aku (kehebatan manusia) yang tak lain adalah makhluk ciptaan Allah SWT.
4. Memahami visi, misi dan orientasi seni timur yang berpusat pada alam (kedahsyatan alam) yang tak lain juga makhluk ciptaan Allah SWT.
5. Memahami visi, misi dan orientasi seni Islam yang berpusat pada penciptaan manusia dan alam seisinya yaitu Allah SWT.
6. Memahami pengaruh seni dalam masyarakat, seni sebagai ujung tombak serbuan budaya.
7. Mampu memberikan gambaran dan pandangan kemana Seni Islam harus dikembangkan.
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah:
1. Sejarah seni Yunani dan Romawi beserta tahap-tahap perkembangannya.
2. Sejarah seni barat, awal perkembangannya.
3. Seni barat modern, lahirnya aliran-aliran seni, pengaruhnya di masyarakat.
4. Sejarah seni timur, seni pemujaan, India sebagai pusat seni timur.
5. Sejarah seni Islam, seni Islam semi realitas
6. Kenapa seni sufi nampak begitu mendominasi seni Islam, hubungannya dengan Gozwul Fikri.
7. Ghazwul Fikri, Moral dalam dunia seni.
8. Contoh-contoh tragedi hidup dan meninggalnya para seniman barat, banyak tokoh-tokoh seni barat yang mati bunuh diri.
9. Contoh-contoh kemuliaan hidup dan meninggalnya seniman Islam, banyak tokoh-tokoh seniman Islam yang hidupnya mulia dan mati sebagai syahid.
POKOK-POKOK MATERI
Sama seperti yang terdapat pada titik tekan materi (cukup jelas)
MARAJI’
1. DR. Mustafa As Siba’i.Peradaban Islam Dulu, Kini dan Esok,
2. Jakob Sumardjo.Ihtisar Sejarah Teater Barat,
3. Jamil Ahmad Seratus Muslim Terkemuka, (atau dicari lagi sejarah hidup seniman muslim yang lain yang lebih representatif penulisannya).
4. Ghazwul Fikri,
5. Muhammad Qutb, Jahiliyah Modern,.
6. Alija Ali Izetbegovic, Membangun Jalan Tengah,.
7. Kasim Ahmad Seni Tradis, (stensilan),
8. Ismail Raji Al Faruqi, Seni Tauhid,
Proses Kreatif (Bagi yang berminat mengembangkan Seni Islam)
Kode: 2D22.2 | Sarana: Klub Pengkajian dan Workshap.
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan mampu:
1. Mencari Alternatif dan Mengembangkan Seni Islam
2. Memahami latar belakang seni Islam yang ada di masyarakat yang kini sudah menjadi seni tradisi.
3. Mampu mengaktualkan kembali seni tradisi yang Islami.
4. Mampu mencari alternatif dan mengembangkan seni Islam di tengah masyarakat.
5. Memahami seni sebagai sebagai sebuah pergerakan, seni sebagai sarana pendidikan, seni sebagai monument (jejak-jejak) sejarah Islam yang nyata.
6. Mampu menggagas dan menghidupkan kesenian di lingkungan sekolah, pesantren, keluarga dan RT/RW.
TITIK TEKAN MATERI
Perkenalkan kepada masyarakat dan peserta akan sejarah lahirnya seni tradisi di masyarakat. Dan jelaskan apa peran seni tradisi dalam masyarakat.
Ajaklah masyarakat atau peserta untuk mengkaji kembali seni tutur yang ada di masyarakat, hubungannya da’wah Islam di masa lampau. Kemudian sebutkan jenis-jenis seni tradisi yang ada di berbagai daerah. Seni sebagai sebuah pergerakan. Kita perlu mengkaji langkah-langkah yang ditempuh seniman-seniman non muslim, baik yang liberal maupun sosialis. Dengan membandingkan dan mempelajari seni di luar Islam, maka kita akan mampu mengambil ibrahnya. Lakukan workshap seni tradisi yang Islami. Penyampaian tarikh secara lisan adalah bagian dari seni tutur yang paling efektif pada zamannya.
POKOK-POKOK MATERI
Pokok-pokok pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah:
1. Sejarah lahirnya seni tradisi di masyarakat.
2. Peran seni tradisi dalam masyarakat.
3. Mengkaji kembali seni tutur yang ada di masyarakat, hubungannya da’wah Islam di masa lampau.
4. Jenis-jenis seni tradisi yang ada di berbagai daerah.
5. Seni sebagai sebuah pergerakan.
6. Mengkaji langkah-langkah yang ditempuh seniman-seniman non muslim, baik yang liberal maupun sosialis.
7. Workshap seni tradisi yang Islami. Penyampaian tarikh secara lisan adalah bagian dari seni tutur yang paling efektif pada zamannya.
MARAJI’
1. Gagasan-gagasan Teater Garda Depan, Taman Budaya Yogyakarta.
2. Pramana Padmodarmoyo, Pendidikan Seni Teater Sekolah Dasar,.
3. MH Ainun Nadjib. Terus Mencoba Budaya Tanding,
4. Studiklub Teater Bandung. Teater untuk dilakoni,
5. Taufik Ismail. Prahara Budaya,
6. Panitia Dialog Refleksi Kebudayan. Refleksi Kebudayaan,
7. Rendra. Seni Drama Untuk Remaja,
Bidang studi:
ilmu pengetahuan dan teknologi
Aplikasi Komputer
Kode: 2D23.1 | Sarana: Daurah, kursus, magang
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan mampu:
1- Memanfaatkan Teknologi Modern dalam pengolahan kata dan data
2- Memahami program-program dasar yang harus dikuasainya
3- Menggunakan komputer khususnya program-program MS-Office
4- Mengembangkan ketrampilan aplikasi komputer sesuai dengan perkembangan teknologi software yang ada.
TITIK TEKAN MATERI
Pokok-pokok pikiran dan titik tekan materi yang harus disampaikan adalah:
1. Pengenalan program-program dasar pengolahan file, seperti membuat folder, membuat duplikat, mengcopy, dan lain-lain yang terkait dengan file manager.
2. Pengenalan program-program aplikasi seperti MS Office dan cara pengoperasionalan-nya secara standard, seperti membuat narasi, tabel, grafik, slide presentasi dan lain-lain.
3. Penugasan membuat dokumen yang lengkap dalam berbagai tampilan.
POKOK-POKOK MATERI
1. Mengapa harus menggunakan teknologi komputer
2. Pengenalan komputer
3. Metode manipulasi dengan file manager
4. Mengenal dan mengaplikasi program MS Office (Ms Word, Ms Excel, Ms Power Point)
5. Latihan membuat dokumen-dokumen standard.
Strategi Pembelajaran
Belajar komputer disini tidak disarankan untuk teori. Teori diperbolehkan hanya untuk memotivasi peserta agar mau memanfaatkan komputer untuk kepentingan dakwah dan kelancaran pekerjaan.
MARAJI’
Buku-buku tentang MS Office
Bidang studi:
sosial politik kontemporer
Dakwah Partai
Kode: 2D24.1 | Sarana:
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah mendapatkan materi ini, maka kader akan mampu:
1. Menjelaskan struktur masyarakat
2. Menjelaskan system social politik dan kenegaraan.
3. Menguaraikan kelebihan dan kekuarangan perubahan masyarakat melalui pendekatan kepartaian
4. Menjelaskan landasan syar’i dakwah melalui partai
5. Menjelaskan karateristik partai dakwah (hizbullah) menurut quran dan sunnah
6. Analisa social politik sehubungan dengan kegiatan kepartaian
TITIK TEKAN MATERI
Kondisi social politik setiap negara mempunyai cirri yang berbeda, sementara dakwah bagaimanapun kondisinya akan terus berjalan sesuai dengan perintah Allah SWT. Rasul SAW mengharapkan kita dapat berdakwah dengan bahasa kaumnya. Bahasa dalama arti harfian adalah alat komunikasi, akan tetapi bahasa merupakan simbul dan alat komunikasi peradaban manusia. Untuk itu seorang dai dalam berdakwah harus mengerti betul suasana budaya yang sedang berlangsung pada sebuah bangsa atau kaum yang sedang didakwahi. tersebut. Dalam konteks masyarakat, bahwa negara ini telah diatur mekanisme perubahannya melalui jalur budaya konstitusional yang telah formal. Kegiatan partai adalah salah satu sarana untuk membuat dinamika perubahan yang sangat bermakna salam kehidupan social masyarakat, sehingga ikut berpartai adalah salah satu sarana yang efektif untuk merubah budaya masyarakat ke arah Islami. Untuk itu perlu pemahaman yang utuh tentang kepartaian ini, yaitu melalui: pendekatan landasan syari berparati, analisa social politik kontemporer sehubungan dengan kepartaian dll.
POKOK-POKOK MATERI
1. Struktur masyarakat
2. System social politik dan kenegaraan.
3. Landasan syar’i dakwah melalui partai
4. Analisa SWOT kelebihan dan kekuarangan perubahan masyarakat melalui pendekatan kepartaian
5. Karateristik partai dakwah (hizbullah) menurut quran dan sunnah
6. Analisa social politik (sehubungan dengan kegiatan kepartaian)
7. Current issue sosial politik
MARAJI’